Filosofi Kesendirian

| Minggu, 09 Juni 2013
Kesendirian, kesepian, dan kesunyian rasanya menjadi temanku sehari-hari. Belakangan ini aku memang merindukan ketiga temanku itu. Kerjaan yang penuh menumpuk baru selesai, semua telepon yang berdering tak ada habisnya bahkan nyaris 24 jam, dan tuntutan-tuntutan lainnya membuatku ingin menghilang dalam sekejap waktu  dari duniaku saat ini. Aku ingin seperti di film-film terjebak dalam suatu dunia paralel secara tiba-tiba atau masuk dalam suatu lorong waktu yang membawaku ke suatu tempat entah apa namanya atau mungkin imajinasi yang sederhana aja deh, pergi ke suatu tempat dimana kebisingan kota, polusi suara, polusi cahaya tidak ada, tak ada mobil yang bersemerawutan bahkan suaru sepeda motor pun jarang, dimana setiap rumah punya halaman yang luas, pepohonan, dan kalaupun ada suara, itu adalah suara bel sepeda ontel yang mengajakku bersepeda di pagi hari, menikmati alam dan menghargainya, menikmati alam dalam kesendirian, menuangkannya dalam lukisan dan ketika malam menyapa aku dapat bertemu dengan bintang-bintang dan rembulan dan kehangatan dari minuman hangat bahkan sampai larut. Hmmm....rasanya nyaman, sejuk dan indah suasana itu ketika aku membayangkannya, namun masih adakah tempat seperti itu? Aku rasa itu hanyalah mimpi belaka.

Dalam beberapa hal aku menyukai kesendirian, kesepian dan kesunyian terutama saat menjelang tidur. Aku termasuk orang yang 3S (Sunyi, Sepi, Senyap) saat menuju alam tidur. Selain itu ketiga temanku, K-Family (jadi inget sebuah novel) yaitu, kesendirian, kesepian dan kesunyian, aku perlukan dalam berpikir dan merenung. Memang tidak baik jika sendirian terus, tapi tidak baik juga dalam keriuhan juga. Aku baru bisa menemukan ide-ide cemerlang, solusi jika aku dalam kondisi itu.

Seorang penulis pernah berkata padaku bahwa menjadi natural dalam menulis adalah syarat utama menjadi penulis. Maksudnya jadilah apa adanya dalam hidup. Percuma berusaha menjadi orang lain karena toh yang terkenal orang lain, bukan diri sendiri. Dalam kesendirian itu aku suka merenungkan apakah aku sudah mendapatkan diriku yang sesungguhnya karena sebenarnya sampai hari ini aku masih galau tentang diriku. Namun galau di sini bukan karena masalah cinta, aku galau karena belum menemukan diriku. Masih banyak yang belum aku mengerti dalam dunia ini. Kalau kata temanku, kita dalam masa labil menuju kedewasaan. Aku masih belum menemukan jati diriku sesungguhnya. Aku teringat sebuah film yaitu Kungfu Panda 2. Film itu mengangkat tema tentang kedamaian hati. Saat itu Po ragu tentang dirinya, dan dia mencari tahu tentang dirinya sampai dia sampai di desa yang dulunya merupakan tempat dia lahir dan dia menemukan siapa dirinya. Satu hal yang aku suka dari film itu adalah pesannya berkata bahwa 'tak peduli siapa dirimu dahulu, yang penting adalah siapa dirimu hari ini'. Masa lalu ada bukan untuk menghambat masa depan, namun sebagai anak tangga tambahan menuju masa depan. Masa lalu ada untuk dilupakan, dan masa depan ada untuk dijangkau.

Ya dalam kesendirian ini aku mendapatkan pelajaran bahkan aku lebih banyak belajar ketika aku duduk tenang sambil tidak melakukan apapun. Kedamaian hati itulah yang pertama diperlukan agar dapat menyelesaikan masalah. Tapi betul juga apa kata temanku, janganlah sampai terjebak dalam kesendirian. Kesendirian mirip pedang bermata dua, di satu sisi menguntungkan, di sisi lain merugikan. Pergunakanlah dengan bijaksana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tunjukkan apresiasimu, karena tulisan ada untuk diapresiasi

Next Prev
▲Top▲