Newest Post

Ku Genggam Tangan Mu

| Selasa, 20 Oktober 2015
Baca selengkapnya »
Sudah selama ini kita bersama. Melewati banyak suka dan duka. Menghadapi berbagi rintangan dan melalui berbagai perjuangan yang panjang. Tangan kita masih tergenggam erat. Kita memang dari dua dunia yang berbeda. Kita berada di kutub-kutub ekstrem. Tampaknya memang seperti itulah apa yang dilihat orang-orang kebanyakn dari luar. Tapi kita tidak peduli dengan mereka, atau tepatnya kita bilang ‘siapa mereka?’.

Ya. Kamu adalah seseorang yang kini kugenggam tangannya. Tak pernah lelah aku menggenggamnya. Dua puluh empat bulan itu sama dengan dua tahun. Selama itulah aku menggenggam tanganmu, menggenggam hatimu.

Aku tahu segala tangismu, segala sedihmu, segala sukarmu. Aku tahu segala senangmu, kegembiraanmu dan keceriaanmu. Setiap kita berpandangan, aku selalu menatapmu lurus. Menatap ke dalam matamu. Menatap ke dalam isi batok kepalamu. Menatap jauh ke dalam hatimu. Setiap kita bicara, kudengar suaramu dari mulutmu. Kudengar lenguhan nafasmu. Kudengar isakan tangismu. Kudengan nada bicaramu. Kudengar kata demi kata.

Kini tetaplah disampingku. Biarlah aku tetap menggenggammu erat. Penuh dengan kehangatan. Penuh dengan cinta. Penuh dengan kepastian. Aku tak bisa menjamin ke depannya akan lebih mudah, tapi aku bisa menjamin kalau genggaman tangan ini takkan pernah aku lepaskan sekalipun. Bahkan hanya untuk sedetik pun.



Ku Genggam Tangan Mu

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 20 Oktober 2015
With 0komentar

Smart Phone and Idiot People

| Jumat, 17 April 2015
Baca selengkapnya »


Luangkan waktumu sejenak untuk melihat video ini. Setelah melihat video ini, lihatlah pada diri sendiri dan renungkanlah, apakah kita seperti itu. Terkadang aku juga berpikir apakah kita sudah berubah?

Aku berpikir akan menulis dalam bentuk tulisan tangan kembali dan sedikit mengurangi menggunakan internet sepertinya.

LEPASKAN SMARTPHONE MU dan JADILAH SMARTPEOPLE


Smart Phone and Idiot People

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 17 April 2015
With 0komentar

Belajar Seperti Gunung Api

| Sabtu, 11 April 2015
Baca selengkapnya »
Halo-halo...teman-teman baca semuanya! Apa kabarnya nih? Biasa banget kah atau ya biasa ajalah keadaannya? Kalau aku sih biasa banget di luar tapi luar biasa di dalam. Hahahahaha.....
Tulisanku kali ini akan bercerita tentang gunung api lho. Kalau ada yang takut buat bacanya, boleh kok gak ngelanjutin. Tapi pasti nyesel deh kalo gak ngelanjutin bacanya karena kalian hanya akan menyia-nyiakan waktu kalian untuk mengklik link ini. Jadi saranku sih terusin aja ya bacanya, kalau boleh dishare juga. Hehehehe......(ngarep)


Kalau melihat gambar gunung berapi itu, apa sih yang teman-teman pikirkan pertama kali? Pasti yang pertama adalah bencana alam, lalu selanjutnya awan panas atau orang Jawa bilang wedush gembel dan selanjutnya pasti tentang hujan abu, lahar dingin dan kekeringan. Ya aku bilang benar sih, dan tidak ada yang salah. Tapi, terkadang aku suka berkhayal andai gunung berapi tersebut adalah sesosok manusia, maka manusia seperti apakah dia?

Aku pun mulai berkhayal bahwa gunung berapi itu diibaratkan sesosok manusia. Jika dilihat perilakunya, dia selalu menyemburkan segala sesuatu dari lubang kawahnya. Semuanya dia berikan, baik itu adalah lahar, lava, batuan panas, abu vulkanik, awan panas dan api tentunya. Kalau aku perhatikan maka sifat dari gunung berapi adalah memiliki totalitas dalam tindakannya. Dia selalu memberi dan bahkan memberi semua yang ada dalam isi perutnya. Dari hal ini aku belajar bahwa seharusnya manusia bisa belajar seperti gunung berapi. Belajar apa? Yaitu belajar untuk memberi tanpa menunggu-nunggu, memberi dengan kemampuan maksimal dan dengan sungguh-sungguh. Pernah lihat gak gunung berapi yang udah mau meletus, eh yang keluar cuman awan panas tanpa ada yang lainnya? Gak pernah kan. Sekalipun diawali dengan awan panas, tapi pasti selalu ada rentetan kejadian selanjutnya seperti adanya lahar.

Pelajaran lainnya adalah gunung berapi itu sifatnya selalu memberi dan tak pernah menuntut untuk mendapat balasan. Iya 'kan? Itu artinya sama juga dengan mengasihi dengan tulus, tidak hitung-hitungan untung ruginya. Coba bandingkan dengan kita sendiri deh, apakah kita sudah seperti gunung berapi itu dalam hal memberi? Jangan bilang aku menggurui kalian ya, tapi aku juga belajar kok bareng-bareng ama kalian karena aku juga baru menemukan ini ketika melihat gunung berapi lho.

Pelajaran terakhir yang aku bisa ambil dari gunung berapi adalah selalu menerima tanpa mengeluh. Ketika hujan turun, kawahnya pasti terisi air, dan tidak mungkin gunung berapi mengelaknya. Selain itu ketika ada orang melemparkan sesuatu ke dalam kawahnya, ia hanya bisa menerima dan tidak menolaknya. Pelajaran berikutnya adalah bersabar dalam setiap keadaan. Jangan cepat bereaksi karena lingkungan sekitar. Selain itu jangan mengingat-ingat kesalahan yang dilakukan orang lain hingga akhirnya malah menjadi dendam tetapi biarkanlah itu menjadi 'terbakar' di dalam 'kawah'-mu dan lanjutkanlah hidup.

Itulah tiga buah pelajaran yang aku ambil dari gunung berapi. Mungkin inilah mengapa kita perlu kembali belajar pada alam, karena dari alamlah segala ilmu berasal. Semoga tulisanku kali ini benar-benar berbobot ya buat teman-teman baca semua. Selamat belajar!

Belajar Seperti Gunung Api

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 11 April 2015
With 1 komentar:

Ketika "Deadline" Menghadang....

| Kamis, 02 April 2015
Baca selengkapnya »
Walau badai menghadang....
Ingatlah kukan selalu setia menjagamu....

Aaaah...itukan kata lagu.

Hai...hai...hai...teman-teman baca semua. Sudah sebulan rasanya daku sudah tidak menulis lagi. Kali ini di hari yang baru, daku mau menulis lagi.Sebelum hari ini berlalu, dan sudah masuk ke tanggal yang baru, daku mau mengucapkan....

FOOLS in APRIL
Yah, walau sebetulnya daku pun tidak ikut melaksanakan 'ritual' April Mop sih tapi bolehlah ya daku mengucapkan itu?

Akhir-akhir ini kalau teman-teman baca semua sedang bertanya-tanya kenapa daku tak pernah nongol lagi, ini karena daku sedang dikejar-kejar deadline. Siapa deadline? Anak tetangga mana itu? Tenang, tenang teman-teman bacaku. Deadline itu 'hanya' sebuah istilah. Tapi sekalipun itu sebuah istilah, tapi setiap orang yang dengernya pasti bakal alergi, bakal batuk-batuk, sakit kepala dari yang sakit biasa sampai migrain, terus berujung pada batuk pilek, batuk berdahak dan sesak napas (eeh bentar, kok malah jadi ngomongin penyakit ya? Balik lagi yuk maree....). Jadi ada tugas yang sedang bersiap-siap 'muntah' karena tugasnya harus dikumpulkan besok. Dimulai dari laporan, presentasi hingga pembuatan dokumen.

Beruntung dua diantaranya sudah kelar, bahkan sekarang pun, sebelum daku mulai mencorat-coret laman ini (baca : menulis), sudah beres juga. Nah tadi sambil aku membuat dokumen, dan laporan, kebetulan daku mampir ke suatu kafe. Kafe yang biasa daku kunjungi itu lho, teman-teman baca. Tempat minum kopi dan teh. Dan karena kebetulan aku lagi dikejar deadline, daku jadi sedikit ngelembur di sana sambil ditemani cemilan hangat. Seperti ini nih

Ini Vanilla late dan Salt & Pepper Tofu yang
menemaniku mengejar deadline
Sambil menikmati cemilan dan suguhan latte panas, daku membuat tugas yang deadlinenya besok. Nah kebetulan suasana di kafe lagi ramai dan ramainya bener-bener ramai dengan anak-anak kostan begitu. Soalnya aku lihat mereka datang bergerombol sambil membawa laptop dan mengerjakan sesuatu di sana. Wah, rupanya bukan daku doang ya yang sedang dikejar deadline, begitu pikirku sambil menyomot tofu di atas piring dengan garpu sampai habis tak bersisa dan tersadar kalau tugasku masih belum beres. Hingga akhirnya baru daku bereskan sampai jam sepuluh tadi.

Sebenernya pesan daku dengan tulisan ini adalah, jangan pernah melakukan sistem sks sendirian. Nah lho, apa itu sistem sks? Sks itu bukan artinya satuan kredit semester yang biasa diambil oleh anak-anak kuliahan, tapi maknanya adalah sistem kebut semalam. Nah kalau mau pakai sistem sks jangan sendirian, tapi ramai-ramailah supaya ada yang saling menyemangati dalam melakukan dan menyelesaikan tugas kalian. Kan jadi enak ngerjainnya kalau bareng-bareng. Tul gak? Selain itu sasran lainku, jangan lupakan cemilan untuk menemani dan musik. Cemilan akan membantu kita berpikir dan memberi energi tambahan dan musik akan menolong kita menenangkan jiwa raga asal musik yang dipasang bukan musik sendu macam lagu "Aku Ra Bobo" atau "Sakitnya Tuh Di Jidat". Jangan setel musik itu, soalnya nanti yang ada malah baper deh. Eeh ntar lagi ya. Udahan dulu. Waktunya mengistirahatkan kepalaku dan pikiranku.

Selamat malam dan selamat tidur teman-teman baca.

Ketika "Deadline" Menghadang....

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 02 April 2015
With 0komentar
Tag :

Celotehku Pada Keluargaku, GGBI

| Minggu, 15 Maret 2015
Baca selengkapnya »
Halo..halo...halo...
Kalau di sini, selamat malam semuaya. Kabarnya luar biasa aja kan? Eh, maksudnya luar biasa baikkan? Setelah melanglang buana menyelami lautan bebas yang membuatku tenggelam di dalamnya dan tak bisa keluar lagi karena aku begitu menikmati kedalaman dan keindahan lautan (#halah) kini aku kembali muncul ke permukaan untuk kembali menemui para penggemarku (#tsah) yang menungguku (#apaansih) untuk kembali mengungkapkan kedalaman (#sumurkalidalem) hatiku yang sedalam sumur katanya.

Malam ini aku mendapat semacam 'ilham' atau inspirasi bahasa kerennya untuk menulis dan ide tulisanku ini aku peroleh ketika aku belajar di sekolah minggu di gerejaku. Nah bagaimana hal itu bisa terjadi? Begini awalnya.

Jadi awalnya ketika Minggu pagi ini aku ikut ibadah (baca: kebaktian) di gerejaku, nah kebetulan aku bergereja (baca: berjemaat) di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Maleber yang ada di Bandung. Tapi aku percaya bukan suatu kebetulan aku ada di sini. Nah, jadi tadi ceritanya ada presentasi soal Kongres X GGBI yang ada di Surabaya. Ya aku sendiri gak terlalu ngerti sih, cuman sekadar tahu aja begitu. Awalnya pagi itu pandanganku soal kongres itu ya biasa aja. Toh aku pun gak ngerti yang dibahas apa dan gak terlibat di dalamnya. Namun semua itu berubah ketika negera api menyerang,

Eeeh,...bukan deng, bukan negara api yang nyerang tapi begini yang sebenarnya. Nah kalau di gerejaku, ada namanya sekolah minggu untuk pemuda, pemudi dan profesi. Pokoknya sekolah minggu itu diperuntukkan untuk yang kuliah dan bekerja dan belum menikah. Jadwalnya itu hari Minggu yaitu hari ini dan jamnya adalah jam 18.00 atau 6 sore. Sekolah minggu ini sebetulnya selain utnuk pemuda, digunakan untuk guru-guru sekolah minggu juga, cuman yang berminat hanyalah anak-anak muda dan itu pun belum semuanya. Eeh balik ke inti cerita aja yuk.

Sekolah Minggu Pemuda di gerejaku kali ini sedang membahas tentang sebuah buku yang sangat bagus yaitu Purpose Driven Life karangan Pastor Rick Warren. Itu lho pastor yang dari Gereja Saddleback di Amerika sono. Nah kebetulan minggu ini aku dapat giliran untuk mempresentasikan Bab 16 dari buku itu. Nah tema besarnya adalah " Anda Dibentuk Untuk Keluarga Allah" sedangkan judul dari Bab 16 ini adalah "Hal Yang Paling Penting". Kalau kalian penasaran dengan hasil diskusinya ini aku ada linknya. Klik aja di sini tapi kalau penasaran dengan isi bukunya keseluruhan silahkan cari sendiri ya. Secara garis besar inti dari bab yang dibahas adalah kasih merupakan hal yang terpenting. Kasih harus ditunjukkan melalui tindakan.

Bahasan secara sekilasnya adalah, kita orang-orang percaya sudah masuk dalam keanggotaan sebuah keluarga dan nama keluarganya adalah keluarga Allah. Oleh sebab kita adalah keluarga, maka kita punya hak-hak dalam keluarga dan memiliki kewajiban serta tanggungjawab juga. Saya yakin bahwa setiap orang yang mengaku percaya Yesus dan dibaptiskan, entah itu dibaptis selam, percik, atau banjur, merupakan satu saudara dalam Kristus. Yesus Kristus adalah kakak sulung saya dan saya beserta orang-orang percaya lainnya adalah saudara iman saya. Secara umum, setiap orang percaya adalah saudara seiman saya, tetapi secara khusus saya punya keluarga 'kecil' saya yaitu GGBI. Itulah keluarga 'kecil' saya dan keluarga 'lokal' saya adalah BPD Jawa Barat, sedangkan keluarga 'inti' saya adalah GBI Maleber Bandung.

Sebagai anggota keluarga, kita harus dapat saling mengasihi. Itu sebabnya kasih adalah hal yang terpenting dan seharusnya menjadi hal yang diprioritaskan dalam hidup kita yang singkat ini, terutama untuk mengasihi saudara seiman kita, saudara dalam keluarga Kristen. Cara yang benar yang menunjukkan kita mengasihi adalah dengan adanya hubungan yang kita lakukan dengan anggota saudara seiman kita yang lain seperti entah itu menyapa, mengajak ngobrol, diskusi, atau melakukan suatu kegiatan bersama seperti halnya interaksi yang kita lakukan pada keluarga fisik kita, kita lakukan juga pada keluarga rohani kita. Nah kasih yang benar adalah kasih yang dilakukan, bukan yang dikatakan. Dan waktu yang benar untuk melakukan kasih itu adalah sekarang, bukan nanti atau besok karena kita tak tahu kalau besok masih hidup atau tidak.

Lalu sangkut pautnya dengan GGBI apa ya? Pasti ada yang berpikir seperti itu. Sebelumnya anggap aku anak kemarin sore aja ya yang tiba-tiba nongol dan berteriak "bapak mana, bapak mana, dimanaaaa...." (mirip siapa ya?). Sebagai anggota keluarga tentu kita pengen dong keluarga kita baik dan bahkan harus bertumbuh. Melihat hasil kongres yang dipaparkan dan penjabarannya serta diskusinya, saya melihat kalau sepertinya GGBI tidak ada yang berbeda. Lho kenapa aku bilang begitu? Kalau boleh saya bilang, coba lihat pengurusnya deh. Apakah ada anak-anak muda yang ikut ambil bagian di sana? Atau pada kongres kemarin apakah ada generasi penerus yang ikut ambil bagian di sana dalam kongres? Aku merasa tidak ada sepertinya. Nah kalau aku lihat sekilas sepertinya dalam kepengurusannya tidak ada regenerasi deh soalnya gak ada pemuda yang ikut ambil bagian di sana. Aku sih memang tidak mengenalnya dan bahkan bapak-bapakku yang ikut kongres pun tidak terlalu mengenal mereka semua. Yang aku kenal atau tepatnya aku tahu paling-paling Pdt Timotius Kabul. Itu pun hanya beberapa kali aku tahu karena aku ikut KKMBi dan KKNPBI beberapa waktu lalu.

Selain masalah itu, aku pun sebetulnya agak bingung dengan STTB Bandung? Ada apa dengan sekolah teologia ini? Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena aku dengar katanya mau di merger jadi tidak ada STT Baptis lagi di Bandung dan sebagai akibatnya teman-temanku yang kuliah di sana yang melakukan pelayanan di gerejaku jadi pulang kampung semua seperti Cia, Lily dan David. Untuk Cia, aku tahu dia kembali sekolah di STT yang ada di Manado, cuman kabar dari Lily maupun David aku kurang tahu. Selain itu juga aku kasihan ama mereka bertiga, karena mereka kan perantau, jauh-jauh ke Bandung, untuk dipersiapkan sebagai hamba Tuhan, entah guru atau pendeta, tapi belum beres sudah harus pergi dengan ilmu yang belum banyak mereka nikmati. Ada apa ini dengan GGBI?

Bapak dan ibu yang kini ada di GGBI, tolong jawablah pertanyaanku. Mengapa seperti ini? Ingatlah bapak dan ibu yang mengurus GGBI, kalau boleh lihatlah, ada banyak anggota GGBI, maksudku banyak pemuda di seluruh Indonesia yang masuk ke keluarga inti GBI mereka masing-masing dan banyak daerah. Tapi kenapa yang mengurus GGBI sepertinya hanya orang tertentu saja dan orang yang sama? Ya memang aku ini gak punya pengetahuan, tapi sikap kritisku menunyuruhku mempertanyakannya dan bahkan seperti ada dorongan juga dari Tuhan untuk menulis ini. Bapak, ibu di GGBI, lihat kami pemudamu. Diantara kami umurnya ada yang 17 tahun sampai 22 tahun. Lima tahun lagi kami semua akan berumur 22 tahun sampai 27 tahun. Waktu akan berjalan terus dan bapak, ibu akan menua, sama seperti kami juga akan menua. Jika bapak, dan ibu GGBI tidak memerhatikan kami dan tidak peduli dengan kami serta tidak memberi kami kesempatan, sepertinya nasib dari GGBI tidak akan membaik dan malah menurun. Siapakah yang selanjutnya akan mengisi kursi yang bapak dan ibu duduki sekarang ini?

Kalau sekarang bapak dan ibu dari GGBI menganggap aku lancang, silahkan nilai aku seperti itu, tapi sebagai anggota keluarga, atas dasar dorongan kasih maka aku berbicara seperti ini. Kalau tidak punya kasih dan tidak terbeban, mungkin aku hanya akan diam-diam saja dan mengatakan semuanya baik-baik saja padahal ada masalah di sana. Mungkin aku tidak tahu dengan pasti apa masalahnya seperti apa, tapi kalau bapak dan ibu mau memakai kami, anak-anak muda yang telah Tuhan anugerahkan pada GGBI, pasti kami mau membantu menyelesaikannya karena kami adalah anggota keluarga GGBI. Mungkin bapak dan ibu GGBI berpikir kami belum berpengalaman. Oleh sebab itu berilah kami pengalaman itu dengan cara memberikan kaim kesempatan untuk terjun.

Ucapanku selanjutnya adalah untuk saudara-saudaraku yang ada di GGBI. Halo saudara-saudaraku yang seumuran, apakah kalian tahu masalah yang terjadi di Kongres X GGBI? Bagaimana caranya kalian bisa bilang kalian keluarga GGBI tapi masalah di GGBI pun kalian tak tahu. Jangan bilang kalian mengasihi GGBI kalau kalian tidak melakukan apapun untuk GGBI. Kemanakah kalian selama ini? Aku sebetulnya rindu banget kita bisa lakukan suatu persekutuan bareng. Ya mungkin gak se Indonesia juga, tapi ya setidaknya adalah beberapa kali dalam 3 bulan untuk tiap region saling bersekutu bersama biar kita bisa saling mengenal. Kan ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Ayo saudara-saudaraku seiman, tunjukkan dong kalau kalian mengasihi saudara seiman kalian apalagi mengasihi keluarga GGBI.

Nah begitu aja sih yang aku mau omongin. Sebetulnya ini lebih seperti unek-unek aja ya, tapi ya lebih baik aku jujur daripada aku berdiam diri membisu karena awal dari perubahan adalah keterbukaan. Semoga bapak, ibu dan saudara-saudaraku di GGBI bisa memahami maksudku menulis celotehanku ini. Dan tak lupa juga untuk keluarga intiku, GBI Maleber yang mengajarkanku untuk berpikir kritis. Terima kasih buat didikannya. Disitulah aku merasa kalian mengasihiku dan aku mau mengasihi keluarga kritisku ini. Selamat malam dan terima kasih


dari anak yang suka berceloteh ngawur

Celotehku Pada Keluargaku, GGBI

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 15 Maret 2015
With 0komentar

Catatan di Akhir Februari

| Sabtu, 28 Februari 2015
Baca selengkapnya »
Halo semuanya! Gimana kabarnya? Baik semuanya kan? Pasti udah kangen deh karena selama sebulan ini aku belum meluncurkan (mobil kali diluncurin) satu buah karya tanganku. Aku sebetulnya sudah lama ingin menulis lagi kalau bukan karena tugas proyek yang menyita banyak waktuku, mungkin udah dari kemarin aku menuliskannya. Tapi dari kemarin aku mencoba mengira kapan kira-kira tanggal yang tepat untuk menerbitkan tulisan ini dan pilihannya jatuh pada tanggal 28 Februari 2015, tanggal paling bontot di bulan ini.

Tulisanku ini sebetulnya lebih seperti sebuah cerita, atau sebuah karangan dengan berbagai tema karena aku mau menceritakan kisah-kisah yang sampai saat ini masih aku ingat selama bulan Februari ini yang kata orang sih bulan penuh cinta. Hemm...aku sendiri gak tahu kenapa dibilang begitu apakah ada sangkut pautnya sama hari Valentine? Ya bisa jadi. Tapi kali ini aku gak akan bahas soal Valentine seperti sejarahnya atau asal-usulnya. Kalau kalian netizen sejati (baca: penduduk internet) kalian pasti tahu dong kisruh soal Valentine sampai ada acara larang-laranganlah, haram-haramanlah dan sebagainya dan seterusnya. Tapi aku gak ambil pusing toh, untuk mengungkapkan rasa sayang gak musti di hari Valentine, tapi setiap hari bisa. Cuman mungkin karena ada kisah spesial makanya diadain tuh harinya. Beruntungnya adalah Hari Valentine gak dijadiin hari libur nasional. Kalau sampai dijadiin hari libut nasional, pasti yang demo nolak Hari Valentine pada mikir nanti gak ada lagi hari liburnya. Wkwkwkwk :P (kidding mode : on)

Bicara soal Bulan Valentine, bulan ini begitu berkesan buatku. Kenapa aku bisa bilang begitu? Karena di bulan ini aku kembali meneguhkan cintaku dengan Lusi. Iya Lusi. Cewe hitam manis yang saking manisnya disemutin mulu. Hahahaha..... Disitu juga aku belajar bahwa komunikasi itu penting apalagi buat aku yang menjalani hubungan LDR-an. Sedikit miskom aja masalah bisa panjang. Yang namanya menjalin suatu hubungan, pasti ada masa romantisnya, ada saatnya kecewa, bahagia, patah hati, gembira, sukacita, speechless, dan lainnya itu sebagai satu paket dalam hubungan. Jadi kalau memang sudah memilih untuk melakukan hubungan yang lebih serius ya musti dipikirin dulu ya kawan-kawan. Jangan sampai menyesal.

Selain tentang itu, di bulan Februari ini, tepatnya minggu lalu, aku baru kali ini merasakan berkemah di pantai. Wuih, kebayang gak malem-malem di pinggir pantai, tidur di dalam tenda. Suasana hening dan yang terdengar hanyalah suara gulungan ombak yang saling susul menyusul menyentuh bibir pantai, ditambah pemandangan langit malam yang bersinar karena bintang-bintang sambil ditemani hangatnya api unggun. Enak ya rasanya damai adem gitu. Cuman kondisinya waktu kemarin aku kemah langit hitam gelap karena mendung dan api unggun cuman sebentar nyalanya. Tapi itu menjadi kenangan terindah yang tak pernah aku lupakan. Namun yang aku sayangkan memang aku menikmatinya seorang diri karena aku lagi LDR-an. Tapi setidaknya kami sedang memandang langit yang sama dan mendengar suara ombak yang sama.

Nah itulah beberapa catatanku di bulan Februari ini, dan aku mau minta maaf ya buat teman-temanku yang sudah menunggu tulisanku. Nah kali ini aku persembahkan tulisan ini untuk kalian yang selalu menginspirasiku, para pembaca setiaku. Sampai jumpa di bulan Maret.

Catatan di Akhir Februari

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 28 Februari 2015
With 0komentar
Tag :

Perjalanan Bersama Teman

| Sabtu, 17 Januari 2015
Baca selengkapnya »
Akhir-akhir ini saya sedang dilanda kegalauan yang masif. Untuk memungkas semuanya saya berjalan keluar mencari suatu pemandangan. Apapun itu asalkan dapat mengalihkan perhatian saya. Tak berhasil menemukan pemandangan yang dirasa dapat mengalihkan ataupun menyalurkan semua yang saya rasakan, saya beralih kembali ke dunia maya, tempat biasanya saya 'nangkring' atau sekedar 'minum kopi' atau berbual-bual di sosial media.

Saya mengetikkan sembarang kata saja di search engine dan kata yang saya tuliskan pertama kali adalah 'trotoar'. Kebetulan saya memilih utnuk mencari gambar dan berjubel gambar trotoar atau pinggiran jalan. Tak tahu mengapa pilihan saya jatuh pada sebuah gambar di samping ini. Sebetulnya kalau diperhatikan tidak ada yang menarik dengan gambar trotoar ini. Desainnya sudah umum. Selain itu tidak ada keramaian orang yang sedang berlalu-lalang di atasnya.

Melihat gambar trotoar itu pikiranku mulai melayang dan berkhayal di alam pikiranku sendiri. Gambar itu mengingatkanku pada sebuah perjalanan pertemananku dengan beberapa temanku. Aku dan beberapa temanku itu begitu klop bahkan dalam beberapa hal kami memiliki kesamaan. Kami selalu menghabiskan waktu hampir bersamaan dengan cara sekedar ngopi, ngemil maupun makan. Saking akrabnya karena segala-galanya hampir dilakukan bareng-bareng (kecuali bertapa di toilet), kami sempat bikin kelompok gitu.

Tapi bagai petir di siang bolong, dan memang tadi siang langitnya bolong karena petir beneran nyambar dan ada awan hujan. Ibaratnya ketika menghadapi sebuah persimpangan, rakitmu terbelah menjadi dua. Jadi tadi siang sebetulnya sudah direncanakan akan main tapi aku sedang ada dalam masalah yaitu uang. Kayaknya ini tanggal tua aku deh kali ya. Nah teman-temanku ngajak main. Tapi apa mau dikata keuangan lagi seret nih dan lagian mainnya cukup jauh juga jadi aku memutuskan untuk gak ikut. Namun apa dikata tiba-tiba temanku marah dan bete berat. Ini nih maksudku petir di siang bolong.

Aku gak tahu sampai kapan kondisi seperti ini akan terus bertahan padahal aku merasa ini adalah hal yang kecil. Namun aku belajar satu hal dan sebenarnya bukankah begitu dalam hidup? Kita pasti akan mengalami yang namanya gesekan-gesekan kecil ketika kita bersosialisasi dengan yang lain. Namun bukan berarti setiap gesekan itu adalah penghalang kita dengan teman kita, namun sebagai salah satu pembentuk karakter kita.

Pertemanan bukanlah pertemanan jika hal itu terjadi berdasarkan perjanjian, bukan karena ketulusan

Perjalanan Bersama Teman

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 17 Januari 2015
With 0komentar
Tag :

Hening

| Senin, 12 Januari 2015
Baca selengkapnya »
tik           tok          tik            tok
       tik            tok          tik
tok          tik           tok           tik
       tok           tik           tok
tik           tok          tik            tok
       tik            tok          tik
tok          tik           tok           tik
       tok           tik           tok
tik           tok          tik            tok
       tik            tok          tik
tok          tik           tok           tik
       tok           tik           tok
tik           tok          tik            tok
       tik            tok          tik
tok          tik           tok           tik
       tok           tik           tok
tik           tok          tik            tok

tik           tik                   tik                                    tik
     
             tik                      tik                        tik

          tik                              tik                             tik

tik                          tik                              tik

                      tik

 tik
     
                                                 tik









- seketika kala energinya habis
- yang tersisa hanyalah

ke - he - ni -ngan

Hening

Posted by : Unknown
Date :Senin, 12 Januari 2015
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲