Newest Post

Holiday with Family

| Minggu, 11 Agustus 2013
Baca selengkapnya »
Belakangan ini aku jadi orang yang merasa terserang penyakit homesick walau aku berada di house. Mungkin karena aku kangen ama suasana rumah di liburan kalik ya. Yap hari Jumat kemarin bertepatan dengan hari kedua Lebaran aku sekeluarga, yaitu seorang ayah, seorang ibu, seorang 'aku', dan seorang adik perempuanku. Liburan kemarin, kami sekeluarga pergi ke Kampung Gajah. Terbesit dalam pikiranku ketika sampai di sana akan disambut gajah-gajah atau ya setidaknya aku bisa melihat gajah. Kami perginya pakai motor. Jadi ayahku dengan ibuku, dan aku dengan adikku. Perjalanan pun dimulai sekitar jam 10 pagi.

Jalanan pagi itu sepi, hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang di jalan Cibeureum. Jelaslah wong  orang-orang lagi pada mudik jadi aja sepi jalannya, tapi sayang gak bisa buat tidur-tiduran karena masih ada kendaraan walau tak sebanyak hari biasa. Keadaan jalan seperti itu masih sama sampai dekat lokasi Istana Plasa. Nah baru deh, ketika sampai di persimpangan Paskal, dan flyover, mulai deh kerasa macetnya. Jalanan yang tadi sepi jadi penuh dengan mobil. Ya banyak banget mobilnya, ditambah dengan motor-motor. Kebanyakan motor yang aku lihat adalah motor matic. Kendaraan itu aku kira-kira semuanya akan pergi berliburan ke Lembang. Bagaimana aku bisa ambil kesimpulan itu? Karena di sepanjang jalan yang aku lihat, mobilnya berplat B semua, hampir semua mobil berplat B yang memenuhi jalan. Nyaris tak ada yang plat D. Kebanyakan plat D dikuasai oleh sepeda motor. Karena macet, sampai di Kampung Gajah sekitar jam 12 siang. Nah ketika sampai di sana, di pagarnya ada banyak patung gajah dan ketika masuk ke dalam ada patung gajah raksasa dengan air mancur.

Setelah sampai di sana, aku lihat-lihat wahana yang ada di sana. Aku lihat memang banyak dan harganya kalau bayar sendiri emang mahal dan nguras dompet. Emang bener ya kalau liburan di luar rumah, dompet kudu tebal. hehehe....Setelah berpikir-pikir akhirnya pergi ke wahana Water Boom. Nah untuk ke Water Boom ternyata pakai kendaraan khusus dan rupanya kalau jalan kaki cukup jauh juga dan bagusnya nih, gratis tumpangannya. Hehehe...setelah sampai dan beli tiketnya, aku liat-liat dulu wahana di sana, dan yah memang gak banyak wahana, hanya ada Kiddy Pool, Wave Pool. Tornado, Octpous Racer dan Moto Golf. Memang tidak terlalu luas juga sih lahanya, jadinya ya gak banyak juga.

Aku baru ingat kalau aku gak bawa celana pendek, yang ada pun celana jeans. Ya sudahlah pada akhirnya aku masuk wahana air pun dengan celana pendek jeans dan kaos. Lengkap deh karena aku lupa gak pakai sunblock. Wahana pertama yang aku dan adikku coba adalah Octopus Racer. Pusing juga karena dibawa muter dulu dalam pipa baru deh meluncur di trak lurus, dan seketika, byuurr....langsung basah deh dalam hitungan beberapa detik seluruh tubuhku. Ahayy....

Nah ini aku dan adikku, Mo pacaran ama
adikku, hadapi dulu kakaknya. Wkakakakk

Nah setelah cukup basah kuyup aku mau naik Tornado. Kali ini aku naik bareng ama ayahku. Berdua saja, walau sebenarnya bisa berempat. Tempat wahananya tinggi sekali, maksudku tinggi dalam arti harafiah yaitu mendaki tangga ke atas. Ketika sampai di sana, lalu aku dan ayahku ambil pelampungnya dan rupanya cukup berat juga untuk dibawa. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi naik ke wahananya. Nah setelah sampai di sana, rupanya pertama kali masuk ke terowongan setelah mantap posisinya, lalu diluncurkan masuk ke terowongan. Rupanya ketika aku dalam tornadonya bentuknya seperti corong dan aku merasa terlempar jauh, aku pun berteriak histeris biar gak takut juga. Badanku hampir melayang, ayahku terlihat lucu. Pelampung kami pun bergerak zig-zag sambil turun karena mengalami osilasi (jadi inget pelajaran Fisika nih, tapi tenang gak bakal ngebahas Fisika di sini). Nah kemudian tentu saja meluncur keluar dari corong tersebut. Ketika aku lihat wajah ayahku, aku lihat dia kayak kaget dan lantas beliau bilang gak akan naik lagi  wahan itu. Hahaha...aku pun tertawa karena merasa permainannya biasa saja, walau memang menegangkan karena dibawa bolak-balik seperti bandul dan nyaris aja aku loncat tapi aku ketawa. Oh ya ini ayahku
Nah yang sebelah tuh ayahku habis naik Tornado

Selanjutnya bermain deh di Wave Pool. Kebetulan Wave Pool-nya tiap 15 menit akan memunculkan ombak dan bertepatan itu aku dan adikku langsung terjun dalam arti harafiah menggunakan ban sewaan. Ombaknya sih gak besar, tapi gelombangnya beruntun. Badanku yang ringan kayak tulang besi pun terangkat-angkat ombak walaupun tak berpegangan dengan bannya. Nah mau lihat kayak gimana? Kebetulan ada fotonya nih, tapi entar ya.

Kami sekeluarga bermain sepuasnya di Water Boom sampai sekitar jam 3 sore. Nah setelah cape bermain, kami makan baso ceker. Satu hal yang aku gak suka adalah kenapa harus ada ceker? Memang sih nikmat tapi aku gak bisa makannya mana cekernya banyak lagi jadi ya sudahlah kusruput saja cekernya sebisa aku. Setelah puas makan ceker dan basonya tentunya, Aku langsung ganti baja dan mengeringkan badan. Gak sempet mandi karena pertama aku gak bawa alat mandi dan memang mepet. Setelah semua urusan beres, kami keluar dari Water Boom dan naik mobil lagi kemudian dibawalah ke atas lagi. Nah selanjutnya kami pun mencoba menaiki buggy untuk berkeliling sekitar Kampung Gajah. Buggy cukup besar dan anehnya kecepatannya lambat, tapi ketika lihat buggy orang lain malah cepat. Ayahku yang menyetir lalu aku tanya kok lambat, terus ayahku bilang emang segitu. Ya sudahlah kunikmati saja. Nah inilah fotonya

Duh keluarga bahagia, ayah, ibu, aku dan adikku
naik buggy car dan di foto deh. Say kejuuu...hehehe

Ya liburan kupikir berakhir setelah itu. Sebelum pulang kami foto-foto dulu di monumen gajah. Sebetulnya ada satu hal yang aku kecewakan. Namanya saja Kampung Gajah tapi tak ada seekor pun gajah yang kulihat. Aku pikir bakal ketemu ama gajah ternyata tidak ada. Tapi aku cukup terhibur dengan berfoto di monumen gajah. Say cheese...




Yap berakhirlah semua liburan hari ini di Kampung Gajah dan sebagai penutup, kami meluncur menyusuri jalan dan berakhir di Warung Ampera dan makan di sana sampai puas. Begitulah liburanku kali ini dengan keluargaku yang kucintai yaitu ayah, ibu dan adik perempuanku.

Holiday with Family

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 11 Agustus 2013
With 0komentar
Tag :

Just Let It Flow

| Senin, 22 Juli 2013
Baca selengkapnya »
Seorang bijak pernah mengatakan bahwa jika suatu masalah terlalu berat untuk dilawan, cobalah dengan mengikuti arusnya karena sesungguh kau akan tahu langkah selanjutnya. Dalam hidup ini selalu ada bermacam-macam masalah dimulai dari masalah kecil hingga yang besar. Masalah besar pada umumnya dikarenakan masalah-masalah kecil yang dibiarkan menumpuk tanpa tersentuh sama sekali yang pada akhirnya karena sudah overload, tidak mampu menahan bebannya, akhirnya meledak seperti ledakan nuklir yang mengalami overload proton sehingga terjadi fision berantai dan meledak menjadi seperti bom.

Setiap masalah yang dihadapi perlu caranya tersendiri untuk dihadapi. Sangat disarankan untuk masalah-masalah kecil segera diselesaikan sebelum menumpuk. Namun tidak setiap masalah mudah untuk diselesaikan apalagi masalah yang menyangkut pihak lain, karena perspektif tiap orang berbeda. Ingat tentunya dengan tulisanku sebelumnya kalau tiap manusia itu unik berbeda, bahkan untuk wanita dan pria saja berbeda dari susunan otaknya. Terkadang itulah yang menyebabkan konflik panas karena di antara salah satunya tak ada yang mau mengalah.

Manusia adalah mahluk sosial dan memang sudah kodratnya seperti itu. Mungkin kita suka melihat ada yang sepertinya berlagak ansos namun sebetulnya dia juga punya lingkungan tersendiri. Nah dalam lingkungan sosial pasti ada yang namanya konflik antar sesama individu. Konflik itu sebenarnya adalah bagian dari sosialisasi, sebab tanpa konflik takkan ada yang namanya interaksi, namun interaksi sendiri tak perlu dibangun berdasarkan konflik.

Mengatasi konflik sebetulnya ada satu kunci penting yaitu komunikasi dan komunikasi yang bagus adalah komunikasi saat kedua orang tersebut dalam keadaan yang tenang, dengan kepala dingin sehingga dapat memadamkan api konflik. Namun jika salah satu subjek masih panas, sebaiknya komunikasi dihindari terlebih dahulu karena justru akan menyulut masalah kecil menjadi masalah yang lebih besar dan membuat konflik yang akan diselesaikan menjadi lebih kompleks. Untuk beberapa konflik memang perlu untuk dibiarkan dahulu beberapa saat sampai kedua pihak tenang dan tentunya pada kondisi yang terbaik dalam menyelesaikannya.

Jadi saat kau menghadapi masalah dengan temanmu atau siapapun, janganlah terlalu terburu-buru menyelesaikannya, namun lihatlah situasi, biarkan dulu mengalir. Setelah tenang barulah komunikasikan dan masalah setidaknya terselesaikan dengan baik.

Just Let It Flow

Posted by : Unknown
Date :Senin, 22 Juli 2013
With 0komentar

Di Bawah Jembatan Pasupati

| Minggu, 21 Juli 2013
Baca selengkapnya »
Hari itu pukul 16.25 WIB
Sudah sore, langit tampak cerah
Sesekali tertutup oleh awan mukulus nimbus
Aku telah meregangkan otot-otot yang kaku
Mengeluarkan keringat
Menggerakkan tubuhku dengan cepat
Memperkuat otot-ototku

Bersama Tornado aku menyusuri jalan pulang
Sembari mencoba menikmati indahnya senja
Di antara mobil-mobil
Di antara kemacetan
Di antara asap-asap knalpot yang mengepul

Di persimpangan, di perapatan jalan
Di bawah jembatan Pasupati
Sekali lagi ia menjadi saksi bisu terhadap kacaunya bangsa ini
Kulihat seorang bocah
Berumur 10 tahun
Seharusnya ia sedang bermain di Minggu sore bersama temannya
Seharusnya ia sedang menikmati Minggu sore
Namun aku lihat dia mengamen
Dengan dibantu si Kumang ia mengais rejeki
Atraksi si Kumang di tengah keriuhan kendaraan
Kendaraan melaju cepat, tak menghiraukan si Kumang maupun bocah itu

Si bocah memohon belas kasihan
Bajunya kumal dan kulit mukanya berdebu
Topi hitam menutupi kepalanya
Wajahnya yang polos tetap terlihat

Saat ia memohon belas kasihan
Dianggapnya hanya angin lalu saja
Tak kulihat ada yang menanggapinya
Mereka fokus pada lampu merah
Saat lampu hijau menyala
Semua pun berlalu
Meninggalkan bocah kecil itu sendirian
Sendirian dengan perut laparnya
Sendirian dengan si Kumang yang juga kelaparan

Inilah salah satu lagi potret
Potret dari bangsaku
Bangsa yang katanya berbudi luhur
Bangsa yang murah hati
Namun di bawah Jembatan Pasupati
Aku tak melihat itu semua

Adakah semua jargon, stempel maupun ucapan kata orang hanyalah sebatas ucapan saja?
Aku tak tahu
Siapa yang kusalahkan?
Aku juga tak tahu
Hanya 'mereka' yang tahu

Di Bawah Jembatan Pasupati

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 21 Juli 2013
With 0komentar

Learning From Nature : Ular

| Senin, 15 Juli 2013
Baca selengkapnya »

Hai, hai, hai! Ketemu lagi nih. Cukup lama aku gak menulis lagi karena ada beberapa masalah yaitu, ide yang biasa nongol malam-malam tiba-tiba munculnya siang-siang sedangkan siang-siang barang yang biasa aku pakai ini -sebut saja laptop- dipakai main ama adikku. Dipakai apa? Dipakai main secara harafiah. Tulisanku kali ini bakal ngebahas tentang seekor binatang yang pernah singgah dalam hidupku yaitu tidak lain dan tidak bukan, mahluk tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa bulu yaitu ular. Hehehe...yap seekor ular tepatnya ular piton pernah bertandang ke kehidupanku atau tepatnya aku yang mengundangnya untuk datang ke kehidupanku. Aku jadi inget waktu pertama kali aku berkenalan dengan ular adalah di Kebun Binatang Bandung dan saat itu umurku 5 tahun. Aku menyentuh seekor ular piton yang memang saat itu ada pawangnya. Waktu aku menyentuh ular piton itu, yang terbersit dalam pikiran kanak-kanakku adalah kok ular kulitnya kayak ikan ya? Soalnya punya sisik.

Ular itu adalah binatang yang cerdik makanya ada kata-kata bijak seperti ini "Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati." Ular di dunia ini dibagi dalam beberapa genre (halah kayak musik aja) dan yang paling umum adalah berbisa dan tak berbisa. Untuk ular-ular berukuran besar pada umumnya tak berbisa seperti piton, sedangkan untuk ular-ular yang berukuran kecil pada umumnya berbisa seperti ular viper, dan kobra. Bicara tentang ular, aku punya pengalaman dengan ular piton dan dari pengalaman itu aku bisa simpulkan seperti ini, supaya dideketin cewe, rangkulah seekor piton. Aku sebut filosofi ular. Gak percaya? Ini nih buktinya
Nah terbuktikan filosofi ularku. Hehehe...ini foto waktu SMA studi tour ke Bali waktu lagi ke teluk penyu. kebetulan ada ular piton, terus aku minta temenku mengambil fotonya.

Ular adalah binatang yang cerdik bahkan saking cerdiknya, ular ini pada awal penciptaan dimanfaatkan oleh Iblis untuk mencobai manusia pertama dan ternyata percobaan itu berhasil. Karena itu Iblis dilambangkan oleh ular karena sifatnya licik dan cerdik. Dalam dunia nyata pun hal itu berlaku. Seekor ular dalam berburu mangsanya akan melakukan dua hal. Ketika mangsanya kecil, dia akan langsung menerkam, tapi kalau mangsanya besar, dia akan berpura-pura mati nah saat mangsanya lemah, baru dia menyerang.

Ular akan sangat agresif saat dia ganti kulit maupun saat menjaga sarangnya. Namun sebenarnya dia agresif seperti itu karena ketakutan. Sama kayak kita juga, karena takut terkadang kita punya power yang mungkin gak kita sadari sebelumnya.

Nah apa yang bisa kita pelajari dari ular? Aku rasa adalah kecerdikannya. Ular dalam berburu mangsanya tahu harus menggunakan strategi yang mana. Kita juga saat menghadapi kesulitan kita harus tahu bagaimana kita harus bertindak agar masalah tersebut teratasi. Jangan sampai malah bertindak gegabah. Kalau gegabah, masalah itu malah tampak lebih berat lagi. Sama kayak ular, kalau berhadapan dengan mangsa yang berani dengannya, dia tidak akan menunjukkan amarahnya, tapi dia akan pura-pura mati sampai mangsanya lemah baru deh santapan lezat disantap saat mangsanya lemah. Tapi ada satu hal juga, berhati-hatilah. Ingat Iblis juga adalah ular, dia picik dengan segala idenya, jadi kita harus lebih cerdik dalam menjalani hidup ini. Tetaplah berpegang pada Tuhan selalu.

Learning From Nature : Ular

Posted by : Unknown
Date :Senin, 15 Juli 2013
With 0komentar

I'm So Special

| Jumat, 12 Juli 2013
Baca selengkapnya »
Semalam, ketika semua mahluk sedang terlelap kecuali aku, salah satu mahluk nokturnal, dikejutkan dengan sebuah pesan yang nongol di ponselku. Sebuah pesan dari seorang teman jauh yang berasal dari provinsi tetangga. Karena pesan yang aku terima itulah, aku terinspirasi untuk menulis lagi. Pesan itu menggelitik aku yang selama ini seperti orang kebingungan, dan kini aku dengan mantap berdiri mengatakan aku spesial.

Setiap manusia di bumi ini, mau seperti apapun bentuknya, mau bagaimana pun keadaannya, setiap manusia itu pasti berbeda, unik, dan spesial. Bahkan segala hal dari setiap manusia itu unik, gak pernah ada yang sama dari sejak Adam ada sampai manusia terakhir nanti. Bahkan sekalipun itu anak kembar, tetap akan berbeda. Dimulai dari sidik jari, sampai pemikirannya yang berbeda. Tuhan menciptakan setiap kita itu berbeda, makanya terkadang kita suka bergesekan dengan teman kita karena kita memang berbeda, tapi itulah yang membuat hidup menjadi lebih indah yaitu keanekaragaman. Jadi sudah sepantasnya kita masing-masing harus bangga dengan diri kita sendiri karena kita itu unik, cuman satu-satunya.

Namun anehnya walau manusia itu berbeda, tapi kita kadang suka mengeneralisasikannya misalnya kayak bikin grup yang punya hobi samalah, atau berasal dari institusi yang samalah atau karena kesukuan, ras dan agama. Dalam beberapa kasus sih itu ok, biar kalau mau ngobrol kan nyambung, masa iya tukang ojeg ngobrol masalah ojeg ke pengusaha? Gak bakal nyambung donk ya. Tapi dalam beberapa hal justru pengeneralisasi seperti ini tuh bikin ribet, jadi kalau mau masuk ke suatu komunitas harus kudu punya sesuatu yang gak dimiliki. Padahal pada dasarnya setiap manusia itu unik, spesial, punya kemampuannya masing-masing. punya keahliannya. Tak bisa dipaksakan melakukan perubahan. Memang perubahan itu jika baik tentu harus dilakukan, namun bila menentang prinsip-prinsip dasar tentunya tak perlulah berubah. 

Hari-hari ini aku suka lihat ada orang yang pengen jadi orang lain. Waduh, dalam batinku aku berkata, dasar gak tahu terima kasih. Memang susah menjadi diri sendiri daripada menjadi orang lain, karena untuk menjadi diri sendiri, pasti akan ada tukang kritik yang selalu mengkritisi kita, tapi setelah kita menjadi diri sendiri, dijamin si tukang kritik itu akan bungkam mulutnya melihat diri kita, dan bahkan malu. Jadi teman-teman semua memang benar apa kata para pendahulu, lebih sulit jadi diri sendiri daripada menjadi orang lain.

So bersyukurlah jika kamu menjadi dirimu sekarang ini, karena kamu itu spesial, bukan copy-cat. Banggalah dengan dirimu sendiri, karena yang tahu tentang dirimu hanyalah Tuhan dan kamu.

I'm So Special

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 12 Juli 2013
With 0komentar
Tag :

Darwin "Nyaris" Benar

| Kamis, 04 Juli 2013
Baca selengkapnya »
Tulisan ini aku buat karena terinspirasi dari sebuah evolusi yaitu evolusi anjing. Penemu dari evolusi anjing ini adalah Mas Bano (bukan nama asli dong, masa iya pake nama asli). Lewat teori evolusi anjing ini, Mas Bano menjelaskan bahwa bayi anjing kampung akan mengalami evolusi. Saat masih bayi, anjing kampung akan terlihat lucu, imut-imut dan moncongnya pendek, namun ketika dewasa, moncongnya mengalami evolusi yaitu makin panjang dan tentunya tidak imut lagi. Kalau kalian bisa melihat wajahnya Mas Bano, mungkin kalian akan paham mengapa Mas Bano bisa mengungkapkan teori evolusi anjing.

Kali ini aku tidak akan membahas teori evolusi anjing lebih detail, biarlah penemunya yang membahasnya. Kali ini aku mau membahas teori evolusi Darwin, itu loh ilmuwan yang sempat menggemparkan dan mengguncangkan dunia ilmu pengetahuan karena dia membuat teori evolusi manusia. Teori evolusi ini diambil dari teori evolusi sebelumnya yaitu teori evolusi Mendel, seorang biarawan yang meneliti keanekaragaman dari kacang apa ya namanya, tapi Mendel menjelaskan bahwa untuk setiap spesies yang baru akan ada pencampuran gen dari orang tuanya. Bisa kita lihat kok dalam keluarga kita, misalnya golongan darah deh yang paling gampang. Misalkan keluargamu ada 4 orang yaitu ayah, ibu, kamu dan adik kamu. Kalau ayahmu golongan darahnya A murni dan ibumu golongan darahnya B murni, maka golongan darah kamu dan adikmu bisa  A murni, atau B murni atau AB, tapi kalau kedua orang tuamu bukan A murni dan B murni, maka kamu dan adikmu bisa punya golongan darah A heterogen, atau B heterogen, atau AB atau golongan darah O. Kok bisa sih? Nah coba deh nanti tanya guru Biologi kok bisa ya kayak gitu soalnya kalau dibahas di sini juga percuma, panjang banget ceritanya.

Evolusi adalah sifat-sifat yang terwariskan dari sebuah generasi dari suatu populasi ke generasi berikutnya pada populasi yang dapat menghasilkan keturunan fertil. Evolusi terjadi karena tiga hal yaitu, kombinasi gen dari kedua orangtuanya, mutasi gen maupun karena seleksi alam. Teori Evolusi dikembangkan oleh Charles Darwin dan dilanjutkan oleh Alfred Russel Wallace (kalau dulu belajar geografi tentang penyebaran biota di Indonesia pasti tahu garis Weber dan Wallace kan?). Penjelasan gampangnya tentang seleksi alam tuh gini, anggap murid SMA kelas 12 itu suatu populasi dan UN itu selektornya. Nah setiap murid yang lolos UN itu berarti spesies yang berhasil melewati seleksi alam, yang artinya dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan, yang gagal UN itu yang gak bisa lolos dari seleksi alam yang akhitnya kalau di alam akan mati. (Sorry nih ngebahas UN lagi, tapi ini yang paling gampang sebagai analogi).

Nah dari teori itulah kini kita bisa lihat keadaan sekitar kita dan pasti akan memiliki pemikiran yang sama denganku kalau ternyata Darwin benar selama ini dengan teorinya. Lho kok bisa? Lihat deh bangsa ini sebagai contoh kongkretnya. Budaya korupsi itu semacam antigen yang menular dengan cepat pada setiap spesies pejabat di pemerintahan. Karena udah terbiasa, maka sekarang ada istilah bukan pejabat kalau gak korup. Lihat aja KKN merajalela sekarang ini dibandingkan dulu sebelum reformasi. Memang waktu orde baru juga banyak yang korupsi tapi toh masyarakat sejahtera, aman-aman saja. Kalau sekarang udah beda, sekali korupsi, ribuan rakyat miskin jatuh bergelimpangan karena tidak lolos seleksi alam. Faktor seleksi alam di sini adalah KKN. Tapi ada juga yang gak ikut KKN malah lolos seleksi alam (maksudnya dapat bertahan hidup) selanjutnya yang menggunakan KKN sekarang malah terjerembab dalam lumpur walau gak lama (lumpur di sini maksudnya hukum). Namanya juga di sini, lumpur pun bisa diperlicin kayak air asalkan ada uang.

Kalau Darwin masih hidup sampai sekarang dan melihat negara ini, pasti dia akan bilang, tuh kan bener apa kata saya tentang teori evolusi


Jadi dapat dikatakan Teori Evolusi Darwin "nyaris" benar untuk bangsa ini. Mungkin Darwin awalnya berpikir bahwa ia ingin tahu dulunya seperti apa keadaan bumi ini karena itu bukunya judulnya "The Origin of Species". tapi Darwin gak akan nyangka kalau ilmunya bisa menjalar ke berbagai hal contohnya ya KKN di negeri ini lah. Akankah gen "KKN" akan menyebar lebih luas lagi di kemudian hari? Aku tak tahu, yang bisa jawab ya dirimu sendiri tentunya.

Darwin "Nyaris" Benar

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 04 Juli 2013
With 0komentar

Kisah Di Balik Rp 300.000,-

| Senin, 01 Juli 2013
Baca selengkapnya »
Hari ini 1 Juli 2013. Ehm, sudah sebulan nih aku liburan. Tak ada kegiatan yang menarik karena aku liburan sendiri sedangkan teman-temanku yang lain masih ada kuliah. Kegiatan sore hari yang rutin aku lakukan untuk melepas penat adalah membuat segelas susu vanila hangat ditambah roti atau cemilan kecil sambil menonton televisi. Acara televisi hari ini tidak ada yang menarik. Sinetron semuanya. Aku pindah-pindah channel tv dengan menggunakan remote dan ketika aku tekan-tekan tombol di remote, aku melihat sebuah berita tentang BLSM yaitu Bantuan Langsung Sekarat Mas, eh Bantuan Langsung Sementara Masyarakat.

Yup sebagai kompensasi dari kenaikan harga BBM yang melambung tinggi,pemerintah mau ngasih duit Rp. 300.000,- buat warga miskin. Wuih lumayan aja itu sih. Buat mahasiswa kayak aku gini, duit segede gitu tuh udah cukup buat makan sehari minimal sekali karena harga makanan di kampus biar kenyang minimal sepuluh ribu. Kayaknya sekarang pemerintah bisa tenang-tenang nih, bisa nyante lagi soalnya rakyat miskinnya udah dapet duit, udah gak demo, udah gak ada keributan bakar-bakar ban lagi. Ok sampai di situ aman, tapi apa pemerintah gak punya tv ya? Kasian banget sih nih pemerintah gak punya tv. Duit hasil korupsinya buat beli apa sih sampai-sampai beli tv aja gak bisa?

Tadi sore aku lihat pemberitaan di tv tentang penyaluran BLSM banyak yang gak tepat sasaran, misalnya ada tuh di satu daerah masa yang terima BLSM tuh pada bawa motor semua bahkan platnya aja ada yang plat khusus gitu. Udah gitu kok bisa data-data penerimanya gak valid? Masa ada anak kecil yang terima BLSM, bahkan yang udah mati malah dapet? Emangnya duitnya dipake gitu buat yang udah mati? Udah gitu ada lagi keributan di tempat pengambilan dana BLSM sampai dorong-dorongan ama TNI, terus orang-orang lanjut usia ada yang sekarat bahkan kepanasan nungguinnya. Emang sih tadi ada yang bilang seneng. Iya sih seneng, soalnya dapet duit, tapi kasian juga mereka kok mau ya dibodo-bodoin ama pemerintah? Berarti emang bener tuh BLSM tuh singkatan dari Bantuan Langsung Sekarat Man, dan emang pembodohan  publik juga.

Pemerintah sekarang emang udah kayak pemerintah boneka. OK yang duduk tuh Bapak $(0d)& tapi yang ngegerakinnya tuh orang-orang di belakang yang mau enaknya sendiri. Kasian aku lihat pemerintah sekarang tapi sekaligus marah soalnya kok ngurus rakyatnya kayak gak ada bedanya. OK alasannya banyak, tapi toh Cina aja yang banyak bisa tuh produknya ke sini. Emang susah sih klo mainnya di kandang sendiri, jadinya gak pernah maju. Aku juga heran apa pemerintah gak punya internet ya, kan kalau punya bisa belajar ama negara tetangga tuh. Ya sudahlah tinggal beberapa bulan lagi pemerintahan bakal digulirkan, aku harap para pemilih bisa bener-bener milih dengan bijak, tidak termakan rayuan gombal para kader dan duit segepok yang cuman tahan buat satu hari. Kita lihat aja nanti di pesta rakyat. Siapa yang pantas memimpin bangsa yang katanya kaya, tapi miskin ini.

Kisah Di Balik Rp 300.000,-

Posted by : Unknown
Date :Senin, 01 Juli 2013
With 1 komentar:

Bangsaku yang (Amat) Lucu

| Selasa, 18 Juni 2013
Baca selengkapnya »
Ketika aku memencet tongkat ajaib -sebut saja namanya remote- dan mengarahkannya ke sebuah kotak ajaib yang dapat menampilkan gambar dan mengeluarkan suara -sebut saja namanya televisi- muncullah berita-berita di stasiun teve swasta tentang demo yang menentang kenaikkan bbm, bukan Blackberry Messenger, tapi bahan bakar minyak. Ya, akhir-akhir ini bangsaku -sebut saja Indonesia- sedang bergejolak karena bbm harganya naik, terutama yang subsidi. Harga premium yang awalnya Rp 4500,- akan menjadi Rp 6500,- dan itu sebetulnya memberatkan kaum manusia marginal apalagi mahasiswa marginal seperti aku, tapi beruntung aku dapat bantuan langsung tarik abang kalau lagi butuh duit. Hehehehe (atm maksudnya)

Bicara soal bbm harganya naik, ini adalah salah satu musim menarik yang ada di Indonesia selain musim hujan, musim kemarau, musim liburan dan musim lebaran. Kenapa? Soalnya musim naik bbm akan menghasilkan satu musim lagi yaitu musim demo. Hehehehe...Sebenarnya aku juga heran kok bisa ya kalau harga bbm naik, mahasiswa juga ikut naik, maksudnya naik ke jalan buat demo bahkan sekarang ada partai segala ama pejabat-pejabat yang ikut naik ke jalan untuk berdemo. Emang edan ya musim naik bbm ini, bisa bikin musim demo juga di saat yang bersamaan. Aku sebetulnya secara pribadi setuju dengan naiknya harga bbm ini, namun aku kurang setuju dengan solusi yang dikasih ama pemerintah terutama Pak SBY, yaitu ngasih BLSM, atau bantuan langsung sementara masyarakat. Soalnya menurutku itu sama aja kayak bikin masyarakat Indonesia jadi pengemis, bahkan kalau salah digunain bukannya bantuin, malah BLSM bisa jadi Bantuan Langsung Supaya Mati. Masalahnya BLT aja kayak gak ada efeknya gitu, apalagi BLSM. Coba apa efek dari BLT itu? Gak pernah aku lihat tuh di stasiun teve yang ngebahas dampak dari BLT, malah banyaknya kayak kericuhan dan ada juga yang sampai sekarat gara-gara mau ngambil BLT doang.

Ya mungkin aku bukan orang pandai, bukan pejabat, bukan cendekiawan, bukan juga negarawan. Aku hanya seorang mahasiswa yang menyaru menjadi pengamat kehidupan, terutama kehidupan masyarakat yang ada di sekitar aku ini. Cobalah kalau ada yang baca ini dan punya kenalan pejabat kah, atau kenalan di partai politik, atau yang di birokrat, solusi BLSM seharusnya tak terjadi. Adalah lebih baik kalau begini, ada dua alternatif. Pertama BBM harganya bertahap naiknya selama beberapa periode, supaya gak kaget masyarkatnya, naiknya Rp. 500,- tiap beberapa periode. Aku rasa itu bisalah dilakukan, biar ada penyesuaian. Atau alternatif kedua, harganya tetap Rp 6500,- tapi jangan kasih BLSM, kenapa gak kasih semacam seminar dan sosialisasi dan pendiklatan gratis buat ukm atau usaha-usaha kecil atau orang-orang yang nganggur jadi bisa ngurangin pengangguran, terus rakyat sejahtera karena usaha mereka sendiri dan mereka bisa menikmatinya, dan punya mental pengusaha, bukan pengemis. Bukankah lebih baik dari pada membentuk mental pengemis. Seperti kata iklan di teve. APA KATA DUNIA kalo Indonesia jadi negera pengemis?

Bangsaku yang (Amat) Lucu

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 18 Juni 2013
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲