Newest Post

Kata Tak Bertuan

| Jumat, 21 Desember 2012
Baca selengkapnya »
Malam ini begitu dingin. Kaku. Hening. Sepi. Yang terdengar hanyalah suara dentingan air hujan bekas hujan sedari siang tadi hingga malam ini dan dentingan jarum jam yang bergerak dengan malas mengiringi aku yang sedang tak berdaya. Supaya malam tak terlalu sepi, kusetel lagu-lagu Classic Rock, Pop  dan Hardcore. Namun entahlah, musik yang biasanya memberikanku energi positif itu seakan-akan tak memiliki 'energi'-nya lagi. Ku bosan dan lalu aku berjalan-jalan keluar sekadar untuk mencari udara segar, namun dasar bodohnya aku, malam-malam berjalan tanpa jaket, padahal saat itu baru saja hujan dan kulihat orang-orang di depan gang, para tukang ojeg mengenakan sarung karena kedinginan akibat hujan sedari siang. Tak tahu aku kemana. Mau ke rumah sepupuku pun rasanya malas. Entahlah, lalu aku kembali ke rumah, masuk dalam tempatku 'bertapa', tepatnya ke atas loteng rumah.

Aku melayangkan pandanganku ke seluruh penjuru. Mataku menyapu dari utara, timur, selatan, barat dan kembali lagi ke utara. Tak kutemukan sesuatu pun yang menarik bagiku. Yang kulihat hanyalah lampu-lampu halogen dari jauh sana dan lampu-lampu kendaraan yang berkerlap-kerlip di atas jembatan Pasupati. Selain itu tak ada poernama yang biasa menemaniku. Bintang-bintang sahabatku pun tak ada. Biasanya si rasi belantik akan muncul menemaniku kala poernama tak muncul, namun aku tak menemuinya juga. Langit malam terasa gelap tanpa kehadiran mereka. Yang kulihat hanyalah awan-awan gelap yang membawa butiran-butiran embun yang siap untuk dijatuhkan lagi untuk esok hari.

Aku masih ingat kala itu saat aku masih kecil, aku dan temanku suka sekali melakukan sebuah tradisi unik saat hujan tiba. Tradisi unik itu aku sebut sendiri dengan 'terapi air hujan' sebab waktu ku kecil, air hujan masih bagus, bahkan bisa ditampung airnya buat keperluan rumah tangga. Namun sekarang akibat global warming, air hujan menjadi buruk. Sudah tidak cocok untuk digunakan sebagai terapi lagi. Kalau dulu saat aku sedikit demam, lalu hujan-hujanan dalam waktu dua hari aku sudah sembuh. Tapi sekarang jangan harap demam sembuh kalau hujan-hujanan, yang ada malah level penyakitnya naik jadi flu. Setelah cukup lama di loteng dan tak mendapatkan hasil, aku kembali ke 'gua pertapaan'-ku yang kusebut sebagai kamarku sendiri.

Sudah hampir 24 jam penuh aku berada di rumah hari ini dan yang kulakukan hanyalah membaca sebuah novel. Novel Perahu Kertas karya Mba Dewi Lestari. Selama membaca novel itu, aku merasa ada sesuatu yang aku sendiri tak mengerti mengapa aku membacanya, tapi sambil menghabiskan waktu aku membacanya dan setelah 8 jam tanpa henti aku menghabiskan membacanya dari kover depan sampai kover belakang, timbul sejuta pertanyaan dalam pikiranku.


Aku seperti kehilangan Oyon yang suka berpetualang abnormal, jalan dari Cibeureum bareng Niko kemana aja kaki ini melangkah, kehilangan saat dimana dulu aku nyambilan dorongin mobil yang direm tangan. Yang dulu doyan cari jajanan aneh bin ajaib, yang suka membuat gambar-gambar anime dalam setiap lembaran kertas kosong, yang suka menulis-nulis kata-kata dalam lembaran kertas kosong baik itu untuk sendiri atau orang lain, yang suka debat, yang suka main kelereng, yang suka main PS 2 saat weekend, dan suka berkhayal. Pokoknya aku kehilangan jati diriku yang sudah susah payah aku bentuk. Aku idealis, tapi sebenarnya bukan aku. Aku si pemimpi, tapi bukan aku yang sebenarnya saat ini. Aku merasa bahwa hidup ini terlalu realistis tak ada simfoni sama sekali bagiku. Aku seperti menari tanpa sepatu dan musik yang tepat. Memang aku menari indah, namun aku tak tahu apa yang kutarikan, dan kakiku kesakitan.

Sesaat setelah aku membaca Perahu Kertas, aku seakan-akan diingatkan lagi untuk melihat mimpi-mimpi lama yang hampir pudar. Dulu aku ingin sekali jadi penulis. Penulis yang bertualang keliling dunia. Jadi perjalananku itu akan aku tulis dalam buku. Absurd memang, tapi aku ingin hal itu terjadi, wong masuk ITB aja bisa masa mimpi absurdku itu tak mungkin terjadi? Selain itu aku ingin meraih Nobel lewat sastra. Aku tak tahu harus mulai darimana, tapi yang aku tahu, aku harus terus menulis. Entah sampai kapan. Kubongkar lagi kotak mimpi-mimpiku yang sudah dua tahun ini tak kubuka lagi. Beberapa sudah menjadi kenyataan, dan beberapa lagi menguap bersama dengan tetesan air hujan yang terkena kayu bakar yang menyala di depan rumahku.

Kini aku merasa seperti kehilangan diriku lagi. Pertanyaan itu muncul kembali. Siapakah aku ini sebenarnya? Untuk apakah aku hidup? Apa tujuanku hidup? Mungkin aku sudah tahu jawabannya, tapi aku butuh lebih dari sekadar teori. Aku butuh sesuatu yang pasti dalam hidup ini. Haruskah ku memulai lagi dari awal? Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, tapi satu hal yang kutahu, aku harus berhenti untuk bertanya kenapa.

Kata Tak Bertuan

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 21 Desember 2012
With 0komentar
Tag :

Bedah Lagu : Pujian Sejati

| Minggu, 16 Desember 2012
Baca selengkapnya »
Coba perhatiin lagu ini baik-baik. Kalo belum dapet 'feel'nya baca berulang-ulang ya.

'Memuji-Mu lewat suaraku
terasa cukup bagiku,
namun semua ternyata lebih
dari yang kukira
kuhanya peduli diriku,
kutak mau tau rindu-Mu

Tak cukup hanya ku bernyanyi
mengangkat suara tuk memuji
hidup memberi diri kepada-Mu
itu kerinduan-Mu

Tak cukup mulut yang memuji
tak cukup mulut yang bernyanyi
melakukan firman-Mu
itulah PUJIAN SEJATI'
Sewaktu aku lagi ber-surfing ria via internet dan buka FB, tiba-tiba ada satu notifikasi yang muncul di home FB aku. Rupanya ada yang posting sesuatu di salah satu grup. Lalu kubuka grup yang dimaksud dan aku lihat teks lagu ini. Aku tertegun dan pikiranku pun langsung melayang ke dua tahun yang lalu, saat aku masih berseragam putih abu-abu. Tepatnya itu saat ujian praktek seni musik. Nah saat itu kelas aku disuruh untuk membawakan sebuah lagu rohani. Lagunya bebas dan cara membawakannya bebas. Mau solo atau duet, pakai gitar, piano atau alat musik lainnya atau accapela juga boleh. Nah kebetulan aku mau duet, tapi karena aku gak terlalu jago nyanyi jadi aku hanya mengiringi lewat piano dan temanku nyanyi. Lagu yang kami bawain itu adalah Pujian Sejati. Waktu tiba giliran kami, kami mulai nyanyi. Anehnya saat kami mulai menunjukkan aksi panggung, semua temanku dan bahkan guruku pun tertegun dan mengikuti alunan nada dari piano dan suara temanku. Setelah selesai menyanyikannya, lalu tepuk tangan riuh membahana dari teman-temanku. Aku pun kaget karena gak nyangka sampai segitu bagusnya bahkan sampai dapet nilai yang terbaik deh pokoknya.

Tadi sedikit intermezzo ya sekarang baru waktunya bedah lagu. Kita siapin pisau, gunting, perban dan... eh tunggu dulu, mau operasi orang atau bedah lagu sih? Udah yang penting sekarang siapkan hati dan pikiran supaya dapat mencerna makna dari lagu ini.

PUJIAN SEJATI. Dari lagu aslinya, lagu ini dinyanyikan tanpa musik sama sekali. Hanya suara dan tepukan tangan yang mengiringi. Kita perhatikan dua larik pertama

MemujiMu lewat suaraku
Terasa cukup bagiku

 Di bagian pertama ini, kita bisa lihat bahwa memuji Tuhan itu bagi kita nih ya sebetulnya terasa cukup jika kita menyanyi lewat mulut saja. Asal ada suara yang keluar dari mulut kita, itu sudah memuji Tuhan. Begitu kalo dari pandanganku tentang maksud penulis lagu ini. Sekarang kita lanjut ke larik berikutnya.

Namun semua ternyata lebih 
dari yang kukira

Di larik berikutnya ini si penulis, menyadari kalau ternyata jika memuji Tuhan hanya lewat suara saja, lewat mulut saja itu tak cukup sebetulnya. Masih ada yang kurang dan perlu ditambahkan

Kuhanya peduli diriku
Ku takmau tahu rindu-Mu

Si penulis sadar kalau ternyata apa yang dia lakukan itu hanya karena keinginannya semata dan bukan keinginan Tuhan. Yang dia lakukan adalah keinginan yang memuaskan daging, bukan memuaskan hati Tuhan.

Tak cukup hanya kubernyanyi
Mengangkat suara tuk memuji
Hidup memberi diri kepadaMu
Itu kerinduanMu

Tak cukup hanya bernyanyi dan bersuara karena kalau hanya bernyanyi saja, semua orang bisa melakukan hal itu bahkan lebih baik dari yang kita lakukan ini. Butuh bukti? Tuh liat aja di luar sana kayak artis Korea and Hollywood. Mereka kan suaranya lebih bagus dan gaya panggungnya lebih sempurna daripada kita. Tul gak? Tapi Tuhan tidak mencari yang seperti itu, Dia ingin agar kita menyerahkan tubuh kita sebagai korban persembahan yang harum di hadapan-Nya. Menyerahkan segalanya kepada Tuhan baik asa, cita-cita, cinta, masa depan dan segalanya.

Tak cukup mulut tuk bernyanyi
Tak cukup suara tuk memuji
Melakukan Firman-Mu
Itulah pujian sejati

Di bait ini dibilang kalau suara dan mulut itu tak cukup untuk memuji Tuhan. Semua orang juga bisa. Bahkan kalau Tuhan mau, Dia bisa bikin para binatang untuk memuji Dia. Masih sama sih sebenarnya dengan yang di atas. Yang Dia inginkan adalah supaya kita ,orang percaya, pengikut Kristus, yang bukan Kristennya di KTP doank, Dia ingin agar kita melakukan Firman-Nya. Ada ayat nas yang mengatakan kalau Firman-Nya itu tidak berat. Ada di Injil kalau tak salah. Bisa di cek. Trus ada juga nas yang mengatakan bahwa orang yang telah mendengar dan melakukan Firman Allah akan berbahagia. Ada nasnya di surat-surat. Agak lupa juga sih tapi bisa di cek.

Nah demikianlah penjelasan singkat tentang lagu ini. Pujian Sejati. Semoga kita bisa benar-benar bisa memuji Tuhan gak cuman lewat perkataan doang, tapi lewat perbuatan kita juga. Sebelumnya Thanks buat temanku Gladys yang telah mengingatkanku lewat lagu ini and the last but not the least

Merry Christmas 
God Bless You all   

Bedah Lagu : Pujian Sejati

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 16 Desember 2012
With 0komentar

Blessed to Blessing

| Sabtu, 15 Desember 2012
Baca selengkapnya »
Pernah ngalamin kejadian seperti ini gak? Datang ke sebuah tempat trus ternyata kamu adalah orang yang sedang ditunggu-tunggu oleh orang lain, tapi bukan karena kamu punya hutang atau apa ya, tapi karena memang kamu sedang sangat dibutuhkan dan selama sesaat kamu merasa menjadi seorang 'superhero' yang gak kesiangan karena datang tepat waktu? Aku pernah mengalaminya yaitu hari ini, saat aku menulis ini. Begini ceritanya.

Sabtu sore ini sebenarnya adalah pekan doa sedunia dan ini adalah hari kedua untuk jam doa tersebut. Langit tampak mendung dan kilat bercahaya saling sambar-menyambar sehingga langit malam yang gelap menjadi terang karena cahaya kilaunya, namun hujan belumlah turun. Sambil mengendarai motor aku bersiul-siul dalam hati karena kalo siul beneran juga gak bakal kedengeran soalnya aku ngendarainnya cepet. Lalu setelah sampai di gereja, aku masuk dan kudapati sudah ada beberapa orang di gereja diantaranya adalah ibu-ibu, dan anak remaja. Bapak-bapak ama pemuda-pemudinya pada kemana? Gak tahu tuh. Pemudanya aja sedikit cuman dua orang aja. Ketika aku masuk ke gereja, tanpa ba bi bu lagi, Bu Saul tiba-tiba memintaku untuk menjadi MC. What?? MC?? Dadakan gini? Yakin bu? Tapi beliau begitu yakin sehingga aku tanpa panjang lebar lagi langsung berkata "OK!".

Aku lihat susunan acaranya dan melakukan sedikit 'briefing' dengan  Bu Saul, dan Kak Eka. Sebenarnya sih masih ada keraguan dalam hati aku, tapi pantang bagiku untuk meninggalkan keputusan yang sudah aku ambil. Lalu setelah itu aku didoakan oleh Bu Saul. Grogi juga sih. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku jadi MC dadakan gitu di gereja, tapi biasanya jadi MC dadakan itu di acara persekutuan remaja atau pemuda, tapi yang ini tuh MC jam doa dimana mayoritas adalah orang tua semua. Dengan bermodal pengalaman aku jadi MC sejak kapan ya kira-kira? Kalau tidak salah ingat sejak kelas 1 SMP, aku maju ke mimbar. Untungnya bukan acara gede dan bukan kebaktian raya juga jadi aku sedikit tenang. Acara pun dimulai.

Ada banyak  hal yang sebenarnya aku salah saat jadi MC tadi tapi aku berpikir jangan berhenti dan terus lanjutkan lagian aku juga berpatok pada pedoman lama yaitu "MC berkuasa!" jadi mau salah atau bener tetap jadi kekuasaan MC. Acaranya boleh berjalan dengan baik dan puji Tuhan aku bisa setidaknya menjadi berkat yang memberkati gereja kecil nan sesak ini dengan menjadi MC walau dadakan gini.

Tuhan suka memakai orang-orangnya dengan cara yang mungkin gak bakal terlintas dalam pikiranku. Dia punya cara tersendiri dan caranya itu pastilah ajaib. Dulu aku ingat waktu masuk tahun 2012, bulan Januari, aku pengen banget jadi berkat buat sekelilingku, dan sekarang cita-citaku terwujud juga walau baru di gereja kecilku, tapi aku senang cita-citaku terwujud. Menjadi berkat yang memberkati orang sekitarku.

Blessed to Blessing

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 15 Desember 2012
With 0komentar
Tag :

Waiting Santa or Jesus Coming (?)

| Kamis, 06 Desember 2012
Baca selengkapnya »





Ini tahun 2012 dan menurut ramalan para tukang tenung dan peramal selebritas katanya bentar lagi tanggal 20 atau 21 Desember 2012 adalah sebuah akhir. Entahlah akhir dari apa? Apakah akhir dari sebuah kalender long count suku Maya (ingat rumour kiamat dari suku Maya), atau akhir dari bumi ini atau akhir apa?

Sekarang juga sudah masuk bulan Desember dan kalian semua pastinya tahu donk kalau udah masuk Desember artinya liburan dan yang paling penting adalah Natal. Semua orang pasti senang. Baik Kristen maupun non-Kristen karena kebanyakan hampir di seluruh belahan dunia membuat acara perayaan Natal dan membuat hari libur khusus untuk Natal. Kita bisa lihat dari awal bulan Desember, segala undangan Natal sudah tersebar dan banyak acara yang terselenggarakan oleh karena Natal. Orang-orang pasti mulai memajang pohon natal. Dimulai dari yang tingginya sekitar 75 cm hingga yang 3 meter bahkan sampai ada yang mecahin rekor segala tentang pohon natal terbesar. Lalu pohon natalnya diberi segala ornamen natal seperti lampu flip flop, hiasan-hiasan merah-hijau dan tentunya yang paling atas di atas pohon natal yaitu si bintang kuning. Lalu dibagian bawah ditaruh beberapa buah kado dan hadiah. Selain itu anak-anak kecil diceritakan dongeng-dongeng natal yang gak bakal jauh-jauh dari tuan baik hati berjenggot putih, bermantel dan berbaju serba merah dengan bulu putih, siapa lagi kalau bukan si tokoh fiksi, Santa Clauss. Karena efek dongeng itu anak-anak kecil jadi berharap supaya mereka dapat hadiah dari Santa Clauss karena konon Santa Clauss suka membawa hadiah buat anak-anak yang baik. Mereka menunggu kehadiran Santa tersebut dan esok paginya mereka dapat hadiah yang mereka pikir dari si baik hati Santa Clauss padahal dari orangtua mereka sendiri.

Yang menjadi perenungan sekarang ini, siapa sih yang kita tunggu untuk benar-benar datang dalam kehidupan kita? Santa Clauss kah, atau Tuhan Yesus? Gak perlulah kita diajarin siapa Tuhan Yesus itu tapi terkadang kita lebih suka menunggu yang 'terlihat' mata daripada yang tidak. Buktinya kita lebih senang menceritakan dongeng tentang Santa Clauss kepada anak-anak kecil ketimbang cerita bagaimana Allah memberikan Anak-Nya untuk manusia (Yoh 3:16). Kita lebih suka hadiah dalam bentuk parcel yang dalam sebulan lenyap ketimbang hadiah dalam bentuk keselamatan yang dari Tuhan yang kekal adanya.

Memang sih gak salah juga menceritakan si tua Santa Clauss, namun ingatlah Natal itu sebenarnya tentang Tuhan Yesus. Hanya Tuhan Yesus dan tidak ada yang lain. Masa yang nyata kalah ama yang fiksi? Gak lucu banget kan? Jadi nantikanlah Tuhan Yesus dengan tekun karena kesudahan dunia semakin dekat daripada menantikan orang tua yang sembunyi-bunyi datang cuman ngasih kotak kado.

Waiting Santa or Jesus Coming (?)

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 06 Desember 2012
With 0komentar

Semua 'Kan Berlalu

| Senin, 26 November 2012
Baca selengkapnya »
Apa yang dilihat mata
Apa yang didengar telinga
Apa yang disentuh tangan
Apa yang dirasakan lidah
Apa yang diendus hidung
Semua itu adalah hal yang semu

Segala kenangan
Segala memori
Segala ingatan
Segala kesan
Akan sirna

Pakaian indah dan buruk
Topi yang bundar dan kotak
Baju kebesaran dan kesempitan
Celana panjang dan pendek
Sepaatu mahal dan murah
Akan segera musnah

Gedung-gedung tinggi nan megah
Rumah-rumah kecil nan mungil
Istana-istana mewah nan agung
Menara-menara tingga nan jangkung
Gubuk-gubuk reyot nan kumal
Semuanya akan menjadi rata dengan tanah

Baik orang pandai maupun orang bodoh
Baik orang bijaksana maupun orang dungu
Baik orang tekun maupun orang pemalas
Baik orang baik maupun orang jahat
Baik orang saleh maupun orang bejat
Baik rohaniawan maupun penyesat
Baik presiden maupun rakyat kecil
Baik perampok maupun koruptor
Semuanya akan tinggal menjadi debu

Tak ada yang sejati
Tak ada yang nyata
Tak ada yang kekal
Tak ada yang abadi

Semua akan musnah
Semua akan pergi
Semua akan hancur
Semua akan lapuk

Karena manusia itu fana
Tak abadi
Tak berumur panjang
Tak hidup selamanya
Semuanya sementara

Yang sempurna belumlah nampak
Namun jika yang sempurna telah hadir
Semua yang sementara akan musnah
Namun jika yang kekal telah muncul
Semua yang tak abadi akan sirna

Hanya ada satu yang abadi
Dialah
TUHAN

Semua 'Kan Berlalu

Posted by : Unknown
Date :Senin, 26 November 2012
With 0komentar

Curcolan Bo...

| Senin, 19 November 2012
Baca selengkapnya »


Menjalani sebuah kehidupan saja sudah berat, apalagi sampai menjalani tiga buah kehidupan yang ketiga-tiganya membutuhkan konsentrasi penuh. Sebagai seorang penulis, di sisi lain aku juga sebagai seorang mahasiswa dan juga sebagai seorang petualang yang sangat suka bertualang. Aku sangat menikmati ketiganya walau aku tahu kalau sebenarnya ketiganya bertentangan sama sekali lho.

Coba saja kalian pikirkan, sebagai seorang penulis, aku harus duduk tenang sambil mencari inspirasi untuk menemukan bahan yang akan aku tulis. Tentunya ini membutuhkan konsentrasi yang tidak sedikit lho, walau aku masih pemula juga, tapi aku harus memulainya dengan baik. Di sisi lain, sebagai mahasiswa, ada banyak tugas yang datang membrondongi aku untuk segera diselesaikan dengan segera berdasarkan deadline yang telah ditentukan. Akibatnya beberapa tulisanku hampir dari 100 % hasil pemikiranku dalam alam khayalku ketika aku tuliskan dalam blog maupun notes FB menyusut hingga 10 % bahkan sampai sekarang ini ada draft cerita fantasi yang aku buat dibiarkan mengendap hampir sekitar 2 bulan dan belum beres aku garap hingga hari ini karena aku berpikir untuk membuat cerita fantasi yang sangat berbeda dari cerita-cerita maupun artikel yang pernah aku buat.

Memang sekarang ini aku belajar untuk membagi waktuku agar semua tugas yang aku punya dapat diselesaikan dengan baik sehingga tak ada tugas yang terbengkalai dan salah satunya menentukan prioritas. Prioritasku saat ini adalah kuliah oleh sebab itu tulisanku di blog belum terlalu banyak. Aku pernah bermimpi kalau aku bakal dikenal lewat tulisanku di blog, tapi melihat fakta sekarang aku sedikit ragu. Kenapa aku ragu? Karena kuiahku padat dan hampir menyita seluruh waktuku, tapi temanku pernah berkata untuk tidak pernah melepaskan mimpiku karena Tuhan memeluk mimpi-mimpi itu.

Akankah aku menjadi seorang penulis yang hebat suatu hari nanti ketika aku lulus? Aku belum bisa mengatakan dengan pasti tapi aku yakin kalau aku bisa menjadi seorang penulis suatu hari nanti. Kita lihat saja apa yang terjadi di masa depan, karena masa depan itu misteri dan aku ingin masa depan itu tetaplah kabut yang lebat yang tak dapat ditebak oleh siapapun.

Curcolan Bo...

Posted by : Unknown
Date :Senin, 19 November 2012
With 0komentar
Tag :

Staring To The Stars

| Senin, 05 November 2012
Baca selengkapnya »


Menatap langit malam di Kota Bandung kali ini seperti tak melihat apapun. Kenapa? Karena yang ada hanyalah langit malam yang gelap. Terkadang muncul poernama menemani kesunyian malamku, namun bintang-bintang teman waktuku kecil tak terlihat sama sekali. Mungkin ini karena asap pabrik yang menghalangi sinar bintang yang begitu redup sehingga tak dapat dilihat dengan mata telanjang atau mungkin mungkin bintang-bintang temanku itu sudah menjadi tua sehingga cahayanya sudah tak seterang dahulu saat aku masih bocah.

Aku rindu untuk kembali menatap bintang-bintang di langit malam. Dulu waktu aku kecil kedua orangtuaku pernah berkata padaku kalau punya cita-cita itu harus setinggi bintang di langit. Aku pernah menggantungkan cita-citaku di langit bersama bintang-gemintang, namun karena terlalu tinggi cita-citaku pun terbang tinggi bersama dengan bintang-bintang sehingga kini hanyalah angan-angan. Namun dulu walau cita-cita itu serasa jauh, namun selalu senang ketika aku membayangkannya menjadi seperti apa yang aku impikan.

Kini bintnag-bintang lama tak muncul. Sejak aku masuk ke SMP, sudah jarang aku melihat teman-temanku itu. Aku baru bisa bertemu dengan mereka hanya kalau aku mendaki gunung dan bermalam di gunung. Pernah satu kali ketika aku camping di gunung waktu aku SMP, aku kembali bertemu dengan sahabat lamaku yaitu bintang-bintang dan poernama yang selalu menemaniku dalam kesunyian malam.

Aku suka berimajinasi berbicara pada mereka.
"Halo poernama dan halo para bintang! Apa kabarmu?"
"Kami baik-baik saja"
"Ohya ceritakan donk kalian kemana aja belakang ini. Aku ingin tahu"

Begitulah percakapan imajinasiku bersama poernama dan bintang-bintang di langit malam. Walaupun gelap keadaannya namun aku merasa tenang karena ditemani oleh mereka semua. Kini aku benar-benar seorang diri. Hanya poernama yang menemaniku tanpa bintang-bintang. Suasana langit yang dulu selalu semarak dengan keberadaan mereka kini musnah. Benar-benar sepi. Apakah ini karena asap-asap pabrik, atau asap-asap kendaraan, atau asap gunung berapi atau asap-asap lainnya? tAtaukah mereka semua sudah terlalu tua sehingga tak dapat lagi memancarkan cahayanya? Aku tak tahu apa jawabannya. Akan kutanyakan nanti ketika aku bertemu mereka tentunya dengan imajinasi.

Satu hal yang kuharapkan saat ini adalah aku ingin menatap langit malam. Biarlah tak ada bintang-bintang sahabatku, setidaknya aku dapat mengukir wajah-wajah sahabatku dengan jariku di lembaran langit. Siapa tahu nanti bintang-bintang akan datang memberi sinar pada ukiran-ukiran jemariku. Atau mungkin kan kuukir wajah seorang gadis yang tak kutahu sapa namun wajahnya familiar. Biarlah itu menjadi keangan tersendiri bagiku. Poernama, katakanlah aku merindukan mereka para bintang sahabatku.

Staring To The Stars

Posted by : Unknown
Date :Senin, 05 November 2012
With 0komentar
Tag :

Berani Bermimpi

| Minggu, 04 November 2012
Baca selengkapnya »


Aku suka gak ngerti dengan apa yang orang-orang yang suka bilang begini.
      "Jangan mimpi di siang bolong!"
atau
      "Hari gini masih bermimpi? Cape deh."

Dari kata-kata itu ada dua argumen yang bisa aku ambil pertama, kalau lagi kerja jangan melamun lalu yang kedua adalah takut untuk bermimpi.

Heh? Takut bermimpi? Maksudnya?

Maksudnya mimpi di sini bukanlah soal mimpi bunga tidur, tapi mimpi di sini berbicara soal vision atau tujuan. Beda lho orang yang mimpi (melamun .red) dengan orang yang bervision. Orang yang bermimpi tatapannya kosong kayak sapi lagi melongo trus ompong yang ngeliatin kain putih berkibar, tapi orang yang memiliki vision dia tampak yakin dengan apa yang dipikirkannya, memiliki pandangan yang jelas dan tersenyum optimis.

Percayakah kalian teman-teman, semua yang ada di sekitar kita seperti misalnya handphone, laptop dan motor itu berasal dari sebuah mimpi? Aku gak tahu sih siapa penemu dari ketiga barang itu secara lengkap tapi aku pernah baca artikelnya sekilas kalau ternyata setiap penemu itu pernah bermimpi untuk membuat barang-barang yang kita pakai sekarang. Mereka berandai seandainya dia bisa pergi ke suatu tempat dengan cepat tanpa harus terhalang macet  dan dapat melewati jalanan sempit, atau bermimpi bisa punya telepon tanpa kabel yang bisa dibawa kemanapun sesuka hatinya, atau bisa membawa komputer dalam satu tas gendong atau dijinjing tanpa harus berat-berat bawa CPU, monitor dan keyboard. Aku bisa bayangkan itu kalau para penemu itu pasti setidaknya pasti terlintas pikiran seperti itu. Namun apa yang membuat mereka berbeda dari orang kebanyakan yang hanya bermimpi tapi tak mewujudkannya? Perbedaannya mereka menulisnya, maksudnya mereka mulai menghidupi mimpi itu dimulai dengan membuat proyek-proyek kecil-kecil, menuliskannya, mencatatnya dan mulai melakukan analisa. Bermula dari mimpi yang sederhana bisa menghasilkan hasil yang kita pakai sekarang ini.

Selain itu ketika mereka gagal, mereka tidak menganggapnya sebuah kegagalan. Ketika Paman Thomas Alfa Edison diwawancarai soal penemuannya yang hebat dizamannya yaitu lampu bohlam ketika ditanya soal kegagalannya dia menjawab seperti ini "Bagiku itu bukanlah kegagalan, tapi itu keberhasilan, yaitu aku berhasil menemukan bahan yang tidak cocok untuk membuat lampu bohlam."

Nah jadi teman-teman, sekarang dari pada kita berpangku tangan melamun tak melakukan apa-apa seperti sapi ompong yang ngeliatin bola pingpong, ada baiknya kita bermimpi tapi bukan mimpi siang bolong melainkan memikirkan tujuan hidup ini. Hidup akan terasa lebih bermakna karena ada suatu tujuan yang kita ingin capai dan jangan hanya bermimpi tapi lakukanlah tindakan untuk mencapai mimpimu itu.

Selamat bermimpi para pemimpi!

Berani Bermimpi

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 04 November 2012
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲