Newest Post

Mighty Father

| Rabu, 24 Oktober 2012
Baca selengkapnya »


Banyak kisah mengharukan bagiku tentang perjuangan seorang ayah bagi anak yang dicintainya. Sedikit banyak aku percaya akan hal itu, tapi satu-satunya kisah yang membuatku sedih adalah kisah tentang ayahku sendiri yang biasanya aku panggil papa. Ada satu kisah yang membuatku suka menyesal kenapa aku tak melakukan lebih banyak dari yang beliau minta.

Ayahku sama seperti biasanya. Beliau seperti kebanyakkan orang. Orang perantauan dari desa yang hijrah ke kota. Berlatar belakang kehidupan yang cukup keras, pendidikan pas-pasan. Ayahku sekarang umurnya telah 43 tahun dan seperti kebanyakan orang yang sudah berkepala empat, kalo kesehatannya gak dijaga, ada aja penyakit yang 'mampir' bahkan 'nginap' di tubuhnya. Dia sosok yang mungkin tak akan membuat anak-anaknya bangga kalau hanya dikenal dari luar saja, dari ayahkulah aku belajar untuk memahami isi batok sebelah kanan manusia yaitu memahami pemikiran dan maksud dari segala yang dilakukannya. Belajar memahami sosok pribadi dibalik setiap tingkah lakunya. Selain itu ayahku orangnya kalem, tapi kalau udah marah, wah seluruh anggota keluargaku gak bakal ada deh yang berani membantah.

Kisah yang baru aja terjadi dan masih aku ingat adalah hmmm..... waktu dia memberikanku sebuah laptop dan sebuah kamera digital yang baru. Mungkin buat temen-temen itu adalah yang biasa malah udah jadi kebutuhan wajib kali ya, tapi tidak bagiku. Laptop dan kamera digital adalah suatu barang sekunder bagiku, jadi tanpa kedua gadget itu pun aku masih bisa hidup. Hapeku saja yang model jaduuuuul banget. Nah sebenarnya aku sih gak kepikiran waktu itu tepat 1 September 2012 ayahku mengajak aku pergi ke sebuah mall yang cukup ternama di Bandung.

Waktu itu aku ditanya "Mau laptop yang kayak gimana?"
" Yang entenglah dan yang pasti memorynya gede dan bisa dipake." jawabku sekenanya karena merasa gak butuh  juga sih sebenarnya.

Ketika sampai di mall itu, aku disuruh milih laptop. Sebenarnya sih pengen notebook, cuman ah laptop aja deh, toh gak beda jauh walau sesungguhnya kedua gadget itu berbeda. Nah mataku tertuju pada sebuah laptop yang kini aku gunakan. Lihat speknya sih bagus dan lumayan juga nih. Aku pun bilang ke ayahku.
"Yang ini aja deh"
"Kamu yakin gak?" tanya ayahku.
"Iya. Kebanyakan temen-temen juga pake ini" jawabku

Lalu tanpa diharapkan, ayahku ngomong ke salah seorang penjaga counternya dan kurang dari 5 menit aku ditanya ama penjaga counternya
"Boleh lihat sebentar id cardnya?"
Aku kasih aja ktp sambil mikir, apa maksudnya

R u[anya tanpa sepengetahuanku, ayahku membelikanku sebuah laptop, padahal aku gak minta untuk membelikannya tapi dia belikan karena dia tahu apa yang kubutuhkan untuk kuliahku, dan sejak aku pakai laptop, memang semua tugas kuliah dapat aku kerjakan dnegan baik tanpa harus bolak-balik ke warnet seperti waktu aku belum punya laptop. Komputer sih ada tapi kadang komputer dipake ama adikku terus. Tapi sekarang aku sudah pakai laptop jadi semua tugas bisa kau bereskan dengan mudah.

Itulah cerita singkat tentang ayahku. Ayahku tahu apa itu cinta, dia juga tahu apa itu arti kata "I Love You", namun sayangnya dia tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya padaku. Pernah dia memukul tanganku karena aku membuat kesalahan besar dan memarahiku, waktu itu yang kudengar adalah amarah ayahku, tapi kini setelah aku renungkan ternyata ada cinta yang besar dibalik amarahnya. Terkadang ayahku juga menganggap aku adalah seorang anak kecil padahal aku sudah kuliah dan bisa naik motor sendiri, tapi aku tahu kalau ayahku mencintaiku. Ia terlalu khawatir untuk kehilangan anak laki-lakinya, anak yang ia banggakan. Seandainya aku punya kekuatan lebih, aku pasti akan berikan apa yang aku bisa, tapi sayang, aku hanyalah anaknya. Aku tak bisa jadi pahlawan bagi ayahku karena selama ini ayahkulah yang menjadi pahlawan bagiku. Pahlawan tanpa jubah, tanpa topeng. Dialah pahlawan seutuhnya.

Mighty Father

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 24 Oktober 2012
With 0komentar
Tag :

One-Million-Dollar-Partner

| Senin, 22 Oktober 2012
Baca selengkapnya »

Pernah ngebayangin gak tanganmu memegang uang sebanyak USD 1,000,000.00 ? Hmm, klo aku dapet duit sebanyak itu kayaknya gak kebayang deh buat apa uang sebanyak itu. Tapi pernah gak denger ungkapan "One-million-dollar-man"? Ungkapan ini seringkali diartikan bahwa orang yang disematkan julukan ini adalah orang yang sangat berharga yang sangat langka dan kalau sampai orang ini gak ada bakal mengalami kerugian besar. Bayangin aja kamu megang uang 1 juta dolar. Berharga banget kan uang itu?

Hmm, sebenarnya seharusnya kita juga dalam mencari pasangan hidup (baca : pacar //red) seharusnya kita juga harus memikirkan untuk mendapatkan "one-million-dollar-partner". Lho apa maksudnya? Cari pasangan yang punya duit satu juta dolar? Boleh aja kalo dapet. hehehehe. Maksudnya kita harus menemukan pasangan hidup yang benar-benar tepat yang suatu hari nanti ketika tiba waktunya kita akan menggandeng tangan pasangan kita menuju ke pelaminan, yang nantinya ketika acara persepsi akan sama-sama berkata "I do" terus yang nantinya ketika akan beranjak tidur akan mengatakan "good night" dan tidur bersama yang keesokan paginya dialah orang pertama yang akan dilihat mata.

Wah, mpe segitunya yah? Emang harus?

Ya. Mau tak mau itu harus.

Nah yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana cara mendapatkan "one-million-dollar-partner" yang cocok. Jawabannya tak bisa langsung dijawab. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Kamu bakal tahu dia itu pasangan "one-millio-dollar-partner" atau hanya orang yang sengaja mampir di hidup kamu. Kamu bisa tahu dari banyak cara. Bisa dilihat ketika kamu ada masalah apakah dia ada untuk memberikanmu tangan untuk menopangmu, atau ketika kamu sedih apakah dia mau memberikan bahunya untuk menangis, atau ketika kamu kecewa apakah dia ada di sampingmu untuk menguatkanmu atau ketika kamu senang apakah dia orang yang ikut bahagia denganmu.

Untuk mengetahuinya tak ada salahnya kamu mengujinya karena cinta sejati adalah cinta yang tahan uji walau ada derai air mata yang mengalir deras, walau otot-ototmu menjadi lesu namun jika dia cinta sejatimu tentunya cintanya akan menjadi nyata untukmu. Selain itu hal yang paling penting adalah dengan berdoa kepada Tuhan untuk meminta petunjuk-Nya. Terkadang Tuhan tak langsung memberi jawab bahwa dia adalah "one-million-dollar-partner"-mu. Ada kalanya Dia berkata "bukan" dengan maksud supaya kamu memperbaiki diri dulu, menjadi satu pribadi yang utuh dahulu baru setelah kamu merasa tak membutuhkan pasangan hidup, maka Tuhan memberi jawabnya.

Yang terakhir adalah perlu direnungkan juga apakah kamu sudah menjadi orang yang sangat berharga untuk pasanganmu. Apakah kamu sudah menjadi "one-million-dollar-partner" untuk pasanganmu?


Cinta berjalan bersama waktu. Ketika ia bersama cinta yang sejati, maka waktu takkan pernah memisahkannya, jika ia tidak bersama cinta yang sejati, maka waktu akan memisahkannya---
---annonymous

One-Million-Dollar-Partner

Posted by : Unknown
Date :Senin, 22 Oktober 2012
With 0komentar

Learning from Nature : Burung Rajawali

| Sabtu, 20 Oktober 2012
Baca selengkapnya »

Kalau aku sedang ke kebun binatang atau ke tempat wisata yang terdapat binatang liar, tempat yang pertama kali aku kunjungi adalah pasti burung-burung. Mulai dari burung cendrawasih yang punya ekor yang indah sampai burung rajawali. Seetiap aku melihat burung rajawali, aku suka berdiri di depannya cukup lama. Aku suka mengamat-amati burung rajawali. Aku perhatikan paruhnya yang tajam, tatapan matanya yang tajam melihat jelas kepadaku. Dalam imajinasiku, aku suka membayangkan kalau rajawali itu sedang berbicara padaku. Membicarakan filsafat-filsafat dan pemikirannya seandainya dia seperti manusia.

Bicara soal burung rajawali, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari burung rajawali ini dan kebetulan tadi aku baca-baca kisah tentang rajawali and you know? Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari burung yang satu ini bahkan seingatku, Alkitab, Weda, Tripitaka, Alquran mencatat tentang burung yang satu ini. Apa aja sih? Let's us see

1. Penerjang badai
Burung rajawali adalah burung penerjang badai. Ketika badai datang, burung rajawali akan tetap terbang bahkan akan terbang lebih tinggi dari awan badai hingga menembus awan. Tahukah kamu kenapa? Rupanya berdasarkan penelitian,  keadaan di atas awan badai sungguh tenang dan tak terjadi badai seperti di bawah awan badai sehingga bagi rajawali, dia akan bisa terbang tanpa menggunakan kekuatan lebih banyak.

Apa pelajaran hidupnya? Masalah yang kita hadapi di hidup ini sama seperti awan badai. Nah disinilah pilihan kita dalam menghadapi 'awan badai' masalah kita. Apakah kita akan menghadapinya dan menerjangnya seperti burung rajawali atau malah undur teratur dan bersembunyi di balik 'pohon'? Tuhan memberikan kita kekuatan seperti rajawali untuk menghadapi masalah yang kita hadapi, sekarang pilihannya mau dipakai untuk 'terbang ' lebih tinggi atau 'berlindung' di bawah pohon?


2. Pencari mangsa tercekatan
Burung rajawali memiliki mata yang tak dialiri oleh darah tapi cairan bening untuk memberi makanan pada bola matanya sehingga mengakibatkan dia dapat melihat dengan baik objek bergerak pada jarak 5km walaupun objek tersebut bersembunyi pada rerumputan. Burung rajawali selalu fokus pada apa yang dia incar walau dia tahu ada hambatan atau tantangan, tapi dia fokus pada tujuannya yaitu mencari mangsa.

Pelajaran apa yang kita bisa ambil? Nah kita harus memiliki tujuan dalam hidup ini. Mungkin berat kali ya bahasanya sederhananya ngapain sih hidup? Nah setelah kita tahu untuk apa hidup ini, kita perlu melakukan pergerakan yang membuat kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Setiap kita punya tujuan hidup yang berbeda dan khusus dalam dunia ini. Ini semua sudah diatur oleh Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah tanya Tuhan dan lakukan apa yang ingin Tuhan kita kerjakan dalam hidup ini.


3. Pemilik umur tertua dari segala aves
Tahu gak kamu kalau burung rajawali itu seumuran lho ama manusia. Ah masak? Beneran, tapi itu tergantung pilihan burung rajawalinya juga sih sebenarnya. Jadi burung rajawali paling tua bisa mencapai umur 70 tahun, tapi bisa juga hanya 40 tahun. Nah dari kedua hal inilah rajawali harus memilih apakah dia akan hidup hanya 40 tahun atau 70 tahun. Sekedar info, ketika rajawali umurnya mendekati 40 tahun, maka bulu-bulunya itu makin lebat, cakarnya makin tumpul dan paruhnya juga makin tumpul dan makin bengkok. Jika dia tidak melakukan transformasi, dia hanya akan mencapai umur 40 tahun, tapi jika ia bertransformasi, dia bisa mencapai 70 tahun. Nah bagaimana cara transformasinya? Burung rajawali akan terbang ke gunung yang tinggi dan membuat sarangnya. Nah saat itu adalah saat paling kritis buat burung rajawali. Pertama dia menghancurkan paruhnya yang bengkok dengan cara mematuk-matukkannya ke batu cadas hingga benar-benar hancur. Nah setelah beberapa waktu, paruhnya yang baru akan tumbuh. Paruh yang runcing dan kuat. Setelah itu dia akan memotong kuku-kukunya dengan cara mematahkannya menggunakan paruh baru. Bayangkan, kuku jarimu digigit pake gigi barumu yang kuat. Seperti itulah. Setelah beberapa waktu cakar barunya akan tumbuh kembali dengan yang lebih tajam. Kemudian dia akan mencakar sayapnya yang telah lebat dengan bulunya hingga botak. Sayap botak. Bayangin kamu mencakar tubuhmu yang berambut lebat dengan kuku jarimu. Kebayang gak? Engga ya? Serem sih. Berdarah gak? Jelas berdarah. Darahnya mengalir dengan deras. Tapi setelah itu bulunya yang baru akan tumbuh. Berapa lama sih prosesnya? Prosesnya sekitar 6 bulan dan setelah itu rajawali akan menyongsong 30 tahun sisa hidupnya.

Apa yang bisa kita pelajari? Hidup juga sebuah proses man. Kita mungkin pernah mengalami hidup yang terasa garink abis dan saking garinknya ampe berbunyi kriuk-kriuk deh tuh krupuk kalo dimakan. Eh kok jadi ngomongin krupuk ya? Balik lagi ok. Nah ada saatnya kita benar-benar merasa hidup itu mengalami kekeringan. Tapi ingat, sama seperti rajawali, apakah kita akan melanjutkan hidup kita atau berhenti saja? Saat yang paling baik, tempat yang paling baik untuk menyegarkan hidup kita lagi adalah dengan kembali kepada sumber hidup yaitu Tuhan. Tuhan ingin agar kita kembali pada-Nya makanya ada namanya kekeringan hidup. Segeralah mendekat pada Tuhan jika kita mengalaminya agar kita dipulihkannya.


Sama seperti burung rajawali. Terbanglah tinggi melebih awan-awan, mengatasi badai hidup, melompati batas-batas kenormalan yang dibuat oleh sekeliling kita. Jadilah berbeda. Tunjukkan gayamu.


Sumber : http://elektron17.wordpress.com/
dengan perubahan seperlunya

Learning from Nature : Burung Rajawali

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 20 Oktober 2012
With 0komentar

Sepasang Merpati

| Senin, 15 Oktober 2012
Baca selengkapnya »
Hujan sudah lama turun membasahi bumi. Tanah yang menganga karena kemarau yang enggan beranjak pergi, kini menjadi tanah yang tertutup. Ia merasa puas telah mendapat air yang cukup dan tak kehausan lagi. Rumput-rumput kering tergantikan dengan bunga-bunga yang kembali bersemi. Pohon-pohon yang tumbang digantikan dengan tunas-tunas baru. Daun-daun yang tua dan kecoklatan digantikan dengan daun-daun hijau yang muda. Angin timur yang kering sekarang telah kalah saing dengan angin barat yang basah.

Pandanganku layangkan jauh ke atas langit. Kulihat dua ekor burung terbang berpasangan. Mereka terbang dengan membentuk harmoni. Kutatap dalam-dalam dan kudapati mereka sepasang merpati. Keduanya terbang dan lalu meluncur ke pohon beringin yang besar. Si jantan terbang kembali sedangkan si betina bertengger di dahan pohon. Tak lama aku lihat lagi si jantan membawa ranting kayu. Rupanya ia mau membuat sarang. Ranting-ranting kayunya lembut namun kuat. Dia ingin merayu si betina kalau ia bisa membuat sarang dengan cepat dan rapi. Usai si jantan membuat sarang, si betina pun mencoba masuk ke sarang yang dibuat si jantan. Dia tampak nyaman dengan sarang buatan si jantan. Mereka akhirnya larut dalam permainan cinta. Si jantan tampak senang bercinta dengan si betina. Setelah lama kemarau panjang yang merontokkan cinta, di awal musim penghujan cinta mereka bersemi kembali.

Si jantan melempar rayuan-rayuan manis untuk si betina agar ia mau tetap bersamanya selalu. Si betina terlihat jual mahal pada si jantan. Si jantan pun terbang keluar sarang dan masuk kembali dengan membawa banyak barang untuk si betina. Si betina tampak senang dengan apa yang diberikan oleh si jantan. Si jantan berhasil merayu si betina. Mereka pun hanyut dalam nuansa asmara mereka.

Hujan sudah lama berhenti. Tetes-tetes sisa air hujan masih mengeces di halaman rumahku. Kemarau panjang menyengsarakan telah tergantikan dengan kegembiraan satu hari. Derita yang panjang tergantikan dengan cinta yang bersemi di awal musim hujan. Sepasang merpati telah membawa cinta itu. Menyejukkan hatiku. Memberiku kekuatan baru. Cinta baru saja menepuk wajahku dan berkata "Hai!". Kujawab saja "Halo". Cinta mengajakku untuk kembali bersemangat. Cinta memberiku kekuatan baru. Kugenggam ia dengan erat. Aku tak mau kehilangannya walau keadaan sesulit apapun. Seperti sepasang merpati yang menumbuhkan kembali, aku ingin cinta tetap ada dalam diriku.


Sepasang Merpati

Posted by : Unknown
Date :Senin, 15 Oktober 2012
With 0komentar

The Legend of Shiloh Sword :Ksatria Agung

| Sabtu, 13 Oktober 2012
Baca selengkapnya »
 Cerita Sebelumnya :
Elias, Tantiana dan Fexar hendak menyebrang ke pulau sebrang yang tak berpenghuni untuk mencari objek foto. Namun anehnya suasana laut yang tenang tiba-tiba berubah drastis menjadi sangat menakutkan. Mereka pun hanyut terbawa ombak besar dan pingsan. Mereka terseret ombak yang kemudian membawa mereka ke dimensi lain. Mereka berada di sebuah pulau dan pulau itu rupanya adalah pulau yang terdapat pada sebuah novel

===========================Ksatria Agung=========================== 

"Aku rasa ada sesuatu yang cukup familiar dengan tempat ini, hanya saja aku lupa apa namanya. Apakah kau tahu tempat ini Tanti?" tanya Elias.
"Hmm...." Tantiana menunduk dan mengelus pasir "Aku pikir ini adalah Andamita Island." jawabnya sambil sedikit ragu.
"Hah?! Apa?! Andamita Island? Tempat apa ini?" Fexar terkejut.
"Entahlah Fexar, tempat ini seperti dejavu bagiku. Aku pernah baca sebuah novel karangan F. Erbet dan di salah satu bagian ada cerita tentang pulau ini dan apa yang digambarkannya sama persis." jelas Tantiana.
"Hmm....ini sungguh aneh. " Elias pun berjalan-jalan keliling " Cobalah kalian lihat pohon-pohon ini. Pohon-pohonnya ditumbuhi jamur namun pohon itu kokoh seakan-akan jamur yang menempel di pohon itu merupakan bagian dari pohon itu sendiri, dan lihat ini. Batuannya seperti agar-agar. Kenyal namun tak mudah hancur." Elias bingung sambil berjalan.

Mereka bertiga tersedot ke dimensi lain. Pulau itu benar-benar aneh bagi mereka, bukan karena mereka belum pernah ke sana, namun apa yang nampak di pulau itu sungguh abnormal. Fexar pun bingung. Ketika dia berjalan-jalan mencoba untuk melihat keadaan sekitar, tiba-tiba ia mendengar suatu suara.

"Auww!!"
"Heh apa itu?" 

Fexar pun kaget dan menghentikan langkahnya. Dia menatap sekeliling dan tak ada siapa-siapa selain Elias dan Tantiana. Dia pun melangkah lagi namun terdengar lagi suaranya namun lebih keras.
"AUWW!!"

Fexar, pun loncat jatuh dan suara itu pun makin kencang dan membuat Elias dan Tantiana berlari ke arah sumber suar a itu

"WADAUWW!! SAKIITT!!"
"Su...su....suara apa itu?" Fexar ketakutan.
"Fexar apa yang kau lakukan?" tanya Elias.
"Entahlah Elias, aku tadi sedang mencoba berjalan menelusuri pantai, tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang berteriak kesatkitan. Aku tak tahu dari mana. Sepertinya sumber suaranya berasal dari balik pasir ini." ungkap Fexar.
"Dari balik pasir? Jangan bercanda deh kamu Fexar. Kamu mungkin kelelahan, kita semua kelelahan. Sebaiknya kau istirahat saja." ucap Elias.
"Tapi itu benar Elias, Tanti. Cobalah kalian berjalan di atas sana." ucap Fexar sambil menunjuk tempat tadi dia berjalan.

Kemudian Tantiana pun mencoba berjalan di tempat yang ditunjukkan Fexar namun tak terjadi apa-apa. Elias pun mencobanya namun hasilnya sama. Fexar pun heran. Kemudian dia coba berdiri dan kembali berjalan dan ketika dia baru menginjak kakinya ke atas pasir, tiba-tiba saja kakinya terhisap pasir.

"Wah tolooong teman-teman, kakiku terhisap pasir nih." jerit Fexar.
"Pegang tangankuu Fexar! " Elias lompat tepat di belakang Fexar dan menggapai tangan Fexar. 

Pasir itu seakan-akan hidup, ketika tahu badan Fexar ada yang menarik, pasir itu menghisap lebih kuat lagi hingga badan Fexar setengah terhisap.

"TOLOOONG!!!" jerit Fexar.
"Tanti tolong bantu aku menarik Fexar." pinta Elias.

Tantiana pun membantu namun, tiba-tiba ketika Tantiana berdiri di belakang Fexar, dia pun ikut terjermbab ke dalam pasir.

"Elias tolong!" teriak Tantiana.
"Hah! Tanti, Fexar. Pertahankan diri kalian. " Elias pun menjerit ketakutan. 

Lalu Elias pun segera memegang tangan Tantiana dan tangan Fexar. Yang ada dalam pikiran Elias adalah dia harus menyelamatkan kedua temannya walau tak tahu bagaimana caranya. Dia berusaha menarik keduanya dan tentu saja tidak berhasil, malahan keduanya semakin terhisap ke dalam pasir hingga akhirnya Tantiana, Fexar dan Elias pun ikut masuk ke dalam pasir hisap.

Mereka bertiga pun tenggelam dalam pasir hisap, namun ketika mereka sampai di dalam pasir hisap itu, mereka masuk ke dalam sebuah pipa yang cukup besar. Mereka pun segera meluncur mengikuti arah pipa tersebut karena pipa tersebut dipasang dalam keadaan miring. Mereka pun meluncur dengan cepat hingga mereka sampai di sebuah ruangan yang besar di bawah tanah. Di ruangan itu mereka melihat ada beberapa mahluk yang tak pernah mereka temui sebelumnya. Di sana ada kurcaci, peri, centaur, thor, kuda sembrani,dan binatang-binatang yang berbicara seperti manusia . Salah satu dari peri tersebut kemudian menyadari kedatangan Elias, Fexar dan Tantiana.

" Selamat datang.para ksatria agung. Selamat datang di Andamita Island, Edleweis." ucap salah satu peri.
" Kami? Ksatria agung? " Fexar bingung mendengar ucapan peri itu. Peri itu pun mengangguk.

Seketika juga semua mahluk mitologi yang berada di ruangan itu melihat kepada Elias, Tantiana dan fexar. Kemudian merek membungkuk. Elias, Tantiana dan Fexar bingung dengan apa yang terjadi.

" Kalian ini siapa? Mengapa kami disebut para ksatria dan mengapa kami ada di sini? " tanya Elias.
Lalu salah satu kurcaci, sepertinya yang paling tua, menjawabnya " Kalian adalah para ksatria yang telah diramalkan akan datang dari dunia kalian  untuk membantu bangsa kami dari penindasan Bangsa Quarsus yang telah menindas kami. Kami adalah bangsa Edleweis dan kami sekarang sebenarnya hidup di atas sana tapi karena bangsa Quarsus telah menguasai pulau ini kami hanya bisa hidup di bawah tanah. Tolonglah kami untuk mengusir bangsa Quarsus. "
" Tunggu dulu. Quarsus itu siapa? Dan mengapa kami para ksatria yang kalian maksud? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tantiana.

Kemudian Kurcaci yang paling tua itu menunjukkan sebuah perkamen.
"Apa ini?" tanya Elias.
"Bukalah perkamen itu. Perkamen itu akan menjelaskan maksud kalian dipanggil kemari." ucap kurcaci tua itu.

Ketika Elias membuka gulungan perkamen itu, tiba-tiba muncullah sesosok peri wanita yang cantik. Peri itu kemudian menceritakan alasan mengapa mereka berada di sana.

"Salam para ksatria agung. Maafkan aku karena telah memanggil kalian kemari. Akulah yang membawa kalian dari laut ke dimensi ini karena dalam ramalan diceritakan bahwa akan datang tiga orang ksatrria agung. Salah satu ksatria agung itu adlalah seorang Shiloh yang dapat menarik pedang Shiloh dari puncak Gunung Tramble. Tanda dari ketiga ksatria itu adalah ketika mereka datang ke Edleweis, matahari akan bersinar, dan tumbuhan akan tumbuh kembali dan langit akan cerah dan ombak akan bergulung-gulung. Kalianlah para ksatria yang dimaksud karena segala tanda-tanda itu terjadi hari ini." jelas peri wanita.
" Jadi, kamilah para ksatria itu?" tanya Tantiana dan disambut anggukan peri wanita itu, " Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang?"

" Sekarang sebaiknya kalian temui lima saudara kembar. Mereka akan membantu kalian untuk mengalahkan bangsa Quarus. Kelima saudara kembar itu adalah Sandy, Aqua, Luna, Woody, Pyro. Mereka masing-masing berada di pulau ini. Sandy berada di pantai, Aqua berada di hulu sunga, Luna dan Woody di dalam hutan dan Pyro berada di Gunung Tramble. Mereka memiliki kekkuatan yang akan membantumu. " jelas peri wanita itu.
" Baiklah, tapi kami yakin perjalanan ini akan berat bagi kami. Apakah ada sesuatu yang perlu kami bawa?" tanya Elias.
" Kalian akan pergi dengan Ralph, Ellena dan Diego." jawab peri wanita itu.
" Siapa mereka? " tanya Fexar.
" Mereka adalah ketiga saudara kembar. Mereka adalah kuda sembrani. Mereka akan menemani kalian dalam perjalanan ini. " tambah peri itu.

Kemudian ketiga kuda sembrani yang disebutkan oleh peri wanita itu pun menampakkan diri. 
" Salam Ksatria Agung!" ucap mereka bersamaan.
Ralph adalah kuda sembrani cokelat, dia berbadan tegap dan merupakan yang tertua dari ketiga kuda itu. Ia dinaiki oleh Elias. Lalu Elena adalah kuda sembrani betina. Warnanya putih. Ia dinaiki Tantiana. Diegoa adalah kuda sembrani yang paling bungsu. Dia berwarna merah. Ketika ia melihat bahwa tinggal Fexar, dia pun nyeletuk.
"Tak adakah yang lebih buruk dari dia? "
"Hei apa maksudmu dengan perkataanmu itu? " Fexar pun tersinggung.
":Maksudku adalah, benarkah kau ksatria agung? Tubuhmu gempal dan tak berbentuk. Mana bisa jadi ksatria agung." ledek Diego.
"Apa maksudmu?! Kau pun tak jauh beda. Kau yang paling gemuk dan diantara kedua saudaramu kaulah kuda yang paling jelek yang pernah kulihat." balas Fexar karena tak terima dikatain.
"Hei sudahlah Fexar hentikan itu. Ayo cepat naiki dia. Diego, berhentilah menggurutu. Kita tak punya banyak waktu." ucap Ellena.
Akhirnya setelah bersitenggang, mereka pun akhirnya mau juga walau keduanya masih sakit hati.

"Baiklah, kalian tinggal  pergi mencari kelima saudara kembar itu. Namun berhati-hatilah dalam perjalanan. Kalian akan bertemu dengan 6 roh. Keenam roh itu adalah anggota bangsa Quarus. Berhati-hatilah." pesan peri wanita itu lalu menghilanglah ia setelah perkamen itu dilipat dan mereka pun mulai berjalan ke pantai.
===============================Bersambung=========================

The Legend of Shiloh Sword :Ksatria Agung

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 13 Oktober 2012
With 0komentar

The Legend of Shiloh Sword: Dimensi Lain

| Minggu, 07 Oktober 2012
Baca selengkapnya »
 Hai temans, kali ini aku buat sebuah cerbung seperti yang pernah aku buat yaitu "Sounds of Mountain" bisa dilihat di notes FB. Ini karya keduaku dalam bentuk cerbung. Selamat menikmati


============================Dimensi Lain======================

Mentari siang itu begitu terik. Deburan ombak yang bergulung-gulung menabrak batu karang, mengikis batuan di sana. Para kepiting yang bernaung di balik batu karang berlari-lari saat ombak datang. Mereka tak mau terbawa ombak. Sedangkan itu di pesisir pantai, langkah kaki dari sekitar 3 orang berjalan menuju batu karang.

"Hey, aku tahu tempat dimana kau bisa mendapatkan foto yang bagus."
"Benarkah? Dimana?"
"Di batu karang itu."
"Tapi apa tidak terlalu berbahaya, menurutku sangat riskan membawa kamera ini ke sana."
"Tenang. Takkan terjadi apa-apa. Lagi pula kan kau kaya, jadi klo kamera ini rusak ya kamu ganti saja."
"Hahahahahaha..."

Ya, di sana ada tiga orang. Elias, pemuda yang sangat suka fotografi, Tantiana, teman Elifas yang sangat suka dengan hasil foto Elias dan Fexar teman mereka juga. Mereka bergerak menuju batuan karang dan benar saja ketika mereka sampai di atas batu karang, Elias mendapat objek foto yang indah. Dia pun memotret view yang ada di sana. Sementara itu Fexar turun ke bawah batu karang dan dia menemukan sesuatu.

"Elias, Tantiana kemari deh cepat. Aku menemukan sesuatu nih." teriak Fexar dari bawah batu karang.
"Apa yang kau temukan? " tanya Tantiana.
"Sudah ke sini saja dulu baru nanti aku kasih tahu. Mana Elias? " bujuk Fexar.
"Tuh di sana lagi asyik motret." ucapnya sambil menunjuk Elias.
"Elias, kemarilah. Kau pasti suka." panggil Fexar.
"Tunggu sebentar ya." Elias pun berlari ke arah Fexar " Apaan sih?  Ribut amat sih."
"Elias lihat deh ini pasti kamu tertarik." ucap Fexar sambil menunjuk ke bawah batuan.

Ketika mereka berjalan ke sana, mereka mendapatkan sebuah gua yang berisi dengan kepiting dan kerang. Elias tampak takjub sebab selama ini dia tak pernah melihat binatang laut seperti kerang atau kepiting secara langsung. Dia pun langsung memotret. Dia benar-benar asyik memotret biota laut. Kemudian setelah puas. Dia melihat pulau di seberang batu karang tempat mereka berpijak. Lalu timbul ide dalam benak Elias.

"Guys, kita ke pulau itu yuk. Kayaknya menarik tuh. " ajak Elias pada kedua temannya.
"Mau ngapain ke sana? Gak ada apa-apa dan siapa-siapa juga di sana." ucap Tantiana yang gak suka terlalu cape.
"Ayolah, instingku bilang ada sesuatu yang menarik di pulau itu. Ayo kita ke sana." ajak Elias lagi.
"Baiklah kalau kau memaksa, tapi kita ke sana pake apa? Berenang? Tepar kali." ledek Fexar.
"Iya ya benar juga. Hmmm....eh itu ada perahu, ayo kita pake aja." ucap Elias.

Mereka pun segera menuju perahu kayu yang terdampar di sekitar batu karang tersebut. Tampaknya perahu itu tak berpemilik. Mereka pun segera menaikinya.

"Fexar, karena kamu badannya cukup kuat, kamu yang dayung ya. Aku yang mengendalikannya. Klo kamu Tanti, ya lakukan apa yang kau mau deh." ucap Elias seperti kapten.
"Klo gitu aku pinjem kameramu ya, aku mau foto-foto." ucap Tantiana sambil menyambar kamera Elias.

Mereka pun akhirnya melaju menuju pulau yang ditunjukkan oleh Elias. Fexar mendayung dengan sekuat tenaga, Tantiana memotret-motret raut muka Fexar sedang Elias layaknya kapten kapal dia memandang ke arah pulau yang dituju sambil mengarahkan dayungan Fexar.

Ketika jarak perahu mereka sudah tak seberapa jauh lagi dengan pulau yang mau mereka tuju, tiba-tiba terjadi sesuatu yang aneh pada perahu mereka. Ombak yang mengalun lembut menggoyangkan perahu kecil mereka tiba-tiab berangsur0angsur menjadi ombak yang yang menerpa perahu kecil mereka dengan kencang. Angin yang semula lembut, menjadi kencang. Perahu mereka bergoyang-goyang dihempas ombak yang besar. Langit yang semula biru terang menjadi kelabu. Angin kencang menerbangkan daun-daun kering dan batang pohon yang sudah rapuh. Ketakutan melanda mereka.

"Wah kenapa ini? Apa yang terjadi?" Fexar pun panik karena keadaan berubah drastis.
"Aku juga tak tahu, sebaiknya kita berhenti mendayung dan buang air yang masuk ke perahu kita. Tanti, jangan terlalu pinggir kau ke tengah saja." ucap Elias dengan takut.
"Baik..baik Apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Tantiana sambil ketakutan.
"Sebaiknya kita coba bertahan saja. Kita berharap saja supaya keadaan tidak semakin buruk." jelas Elias sambil mencoba menenangkan mereka walau ia sendiri cemas.

Lalu tiba-tiba sebuah batang pohon yang cukup tua terbang entah darimana menghantam perahu mereka sehingga menghancurkan perahu itu. Mereka pun hanyut dalam gelombang ombak.

"Guys raihlah kayu yang ada supaya kalian tetap terapung. Nanti aku selamatkan kalian." teriak Elias.
Kemudian Elias pun berenang ke arah Tantiana menyelamatkannya.
"Tanti, pegang pundakku biar kau tak hanyut." Tantiana hanya bisa mengangguk pelan karena takut.
Lalu Elias berenang lagi menuju Fexar.
"Kau tak apa Fexar?" tanyanya cemas.
"Saat ini baik. Ini karena kau. Aku harap takkan terjadi yang lebih buruk dari ini." sesal Fexar.
"Ya, aku menyesal. Aku tak berpikir akan seperti ini." sesal Elias sambil tertunduk.
Mereka terapung-apung di lautan.

Kemudian ternyata keadaan bertambah buruk. Tiba-tiba ada ombak besar. Ombak itu tinggi sekali dan yang aneh adalah tempat ombak itu terjadi, yaitu di daerah batu karang. Ombak itu sangat tinggi lalu menerpa ketiga orang yang terapung lemas. Lalu ketiga itu pun hanyut dan tergiring ombak. Mereka terseret arus ombak yang besar. Mereka pun pingsan karena kelelahan. Tubuh mereka hanyut dibawa ombak sampai mereka terdampar di sebuah pulau.

Pulau tempat mereka terdampat iru sungguh asing. Tak seperti yang ada. Setelah mereka terdampar cukup lama, Tantiana pun tersadar. Ketika dia memandang sekeliling, dia merasa ada sesuatu yang familiar terhadap tempat itu. Kemudian dia mencari Elias dan Fexar dan membangunkan mereka.

"Fexar, Elias. Bangun, bangun." ucap Tantiana.
Fexar dan Elias pun terbangun.
"Ada apa sih Tanti, heboh banget. Apa sih?" jawab Fexar sambil malas-malasan.
"Coba kalian lihat tempat ini. Bukankah ini tempatnya cukup familiar?" ucap Tantiana.
Elias pun lalu bangun dengan sedikit kelelahan. Ketika dia memandang ke sekelliling, dia pun terhenyak. Elias pun mencoba berpikir, mencari memori-memori yang pernah masuk dalam pikirannya. Karena terbengon memikirkannya, ia membuat Fexar penasaran.
"Hey Elias. Apa yang kau pikirkan?" tanya Fexar penasaran.
"Kau benar Tanti. Tempat ini sudah tidak asing lagi. Ini sama seperti yang ada dalam novel tulisan F. Erbet. Kau masih ingat nama tempat ini?" tanya Elias pada Tanti.
" Ini..." Tantiana menunduk dan mengelus pasir " Ini Andamita Island."......

========================Bersambung========================

The Legend of Shiloh Sword: Dimensi Lain

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 07 Oktober 2012
With 0komentar

Mentari Menari di Merapi

| Sabtu, 06 Oktober 2012
Baca selengkapnya »
Di pagi yang buta
Di kaki Merapi
Keheningan buyar
Si Jago berkokok
Mentari belumlah nampak
Angin masih menusuk tulang
Seberkas ca'ya belum nampak
Si Jago bersuara terang

Kulayangkan pandanganku
Pagi masih buta
Tak ada yang kulihat selain bayangan api unggun
Kujelajahi pagi itu dengan kedua bola mataku
Semburat merah kutangkap di puncak Merapi
Merapi masih aktif
Ku letakkan tanganku di kakinya
Tubuhnya masih panas
Ia masih hidup
Darah magmanya masih mengalir di tubuhnya yang menjulang

Kutangkap semburat cahaya
Mentari merangkak di balik punggung Merapi
Ia masih malu-malu
Panggilan Si Jago terus terdengar
Si Jago menyemangati Mentari
Mentari pun perlahan menampakkan wujudnya walau malu

Berangsur-angsur suasana mulai ramai
Keluarga tupai sudah bangun dari tidurnya
Burung-burung kecil berkicau memberi musik
Embun-embun sudah membasahi rumput yang bergoyang
Suasana sudah semarak
Mentari pun mulai menari bersama Merapi
Merapi mengepulkan semburat asap
Seeperti pertunjukkan panggung
Mentari menebarkan cayanya menembus asap Merapi
Mentari makin naik ke atas Merapi
Pagi itu indah sekali
Suatu harmoni yang indah
Antara caya Mentari dan kabut Merapi

Mentari Menari di Merapi

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 06 Oktober 2012
With 0komentar

Suatu Hari di Bandara Husein Sastranegara...

| Minggu, 30 September 2012
Baca selengkapnya »
Akhirnya aku bisa menulis lagi. Sudah lama rasanya aku tak menulis kali ini aku menulis lagi. Kali ini aku mau cerita ketika aku ke Bandara Husein Sastranegara. Wah, ada apa ini? Apakah aku akan melakukan perjalanan jauh ke luar pulau? Oooh...bukan, berhubung dengan ulang tahun kota Bandung yang ke-202 kemarin tanggal 25 September, kali ini diadakan pertunjukan air show di Bandara Husein Sastranegara, bandara kebanggaan Bandung.

Kali ini aku tidak sendirian, aku ditemani dengan teman lamaku yaitu Nicho atau biasa kusebut Ncky. Ini dia orangnya.
Setelah bertemu di tempat biasa nongkrong, kami pun langsung menuju ke bandara. Nah karena banyak pengunjungnya, kami kebagian tempat parkir yang dekat dengan rel kereta api, yang artinya perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki untuk mencapai bandaranya. Cuaca saat itu panas tapi mendung, berawan tepatnya.

Setelah berjalan cukup lama, kami sampai dan saat itu kami melihat antrian cukup panjang. Aku pun berpikir wah kayaknya menarik nih tahun ini soalnya sekitar dua tahun lalu aku ikut menonton air show tak terlalu menarik. Setahuku, dengan menggunakan kartu ajaib (maksudku kartu mahasiswa, hehehe) aku bisa dapat potongan harga eh tapi rupanya tidak. Harganya 15 K IDR -okelahkalobegitu-. Kemudian kami masuk dan ketika kami masuk, jeng jeng jeng, yah sungguh mengecewakan. Ketika aku ke sana, hanya crowded  yang kutemukan seperti inilah contohnya






Nah yang terbesit dalam pikiranku saat itu adalah mencari sesuatu untuk dibawa pulang, yah walaupun tak ada yang menarik, tapi biarlah yang penitng jangan ampe sia-sia udah bayar tiket mahal tapi sebenarnya gak mahal sih cuman lagi pengen irit aja jadi bilang mahal hehehehe. :p
Oh iya ini nih tiketnya

Nah apa aja sih yang aku lakukan selama di pameran itu? Yang pertama adalah aku ama Niko muter-muterin stand. Ga tahu kemana tapi pengen cari yang gratisan kayak food tester gtu deh, tapi yang gratisan cuman keripik doank. Aku kira ada makanan kayak dulu aku pernah ikutan juga. Trus masih jalan di stand, ada stand Paskhas. Disitu segala macam senjata dan perlengkapan perang ada tapi sayangnya gak boleh dicoba-coba untuk berfoto seperti dua tahun lalu aku berfoto menggunakan masker dan helm. Bahkan senjata aja sampai dirantai. Tepat disebrangnya ada tumpukan buku. Niko pun langsung nyebur ke situ dan menemukan sebuah buku yaitu Tak Tik Blog. Menarik juga buku ini pikitku maka kami membelinya. Itu yang pertama

Yang kedua adalah ngantri beli sosis dari Rumah Sosis Mobile to Go. Antrian na uju bileh, puanjang tapi gak sepanjang orang ngantri sembako. Jelaslah wong mbayar. Coba gratis pasti panjang wkwkwkw (pencari gratisan, motto : Pasti ada gratisan)

Cukup kesal juga dengan antrian yang panjang dan lama apalagi ditambah dengan insiden genset yang nyala mati tapi akhirnya aku dapat juga. Aku beli yang blackpapper. Ini fotonya

Itu adalah hal kedua yang dibeli. Nah ini aja nih yang dibeli dimulai dari urutan membelinya yang ketiga adalah kopi, tapi hanya Nicho yang beli, aku bukan penikmat kopi, aku lebih suka teh. Lalu
setelah kopi, kami pun segera keluar karena sudah bosan dan makanan yang terakhir adalah bacil. Setahuku bacil itu baso kecil tapi rupanya sudah ganti nama jadi baso cilok. Oh ya ini dia foto-fot lainnya.



Ya begitulah yang aku lakukan di Bandara Husein Sastranegara. Ohya ini sebagai penutup di ceritaku, aku juga foto-foto secara asal beberapa spot yang mungkin akan menarik pemikiran kalian. Ini foto aku ambil dengan asal tapi rupanya memiliki makna setelah diteliti
OK sekian ya.






Suatu Hari di Bandara Husein Sastranegara...

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 30 September 2012
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲