Newest Post

Hal-Hal Sederhana dalam Hidup

| Rabu, 04 April 2012
Baca selengkapnya »
Rasanya ingin sekali aku kembali ke SMA hanya sekedar untuk menikmati masa-masa indah itu. Tiga tahun. Bukan waktu yang panjang, bukan pula waktu yang singkat, tapi tiga tahun itu waktu yang sangat aku rindukan sebenarnya. Di sana aku belajar apa arti dari cinta yang sejati. Persahabatan sejati, dan beberapa hal sederhana tapi efeknya bisa aku rasakan sekarang ini.
Hal hal sederhana itulah yang membuatku tetap hidup dan aku pun kini berpikir, tanpa hal-hal sederhana itu, mungkin aku tak mungkin bisa di sini seperti sekarang ini. Kau pasti penasaran kan apa sih hal sederhana itu? Sebetulnya sangat sederhana : TERTAWA, TERSENYUM, MENANGIS, MELIHAT, MENDENGAR, MELANGKAH, MENGEMBUS, dan MELONCAT.

TERTAWA, seperti musik bagiku dan ketika aku tak tertawa lagi selama satu hari saja, aku akan merasa seperti diriku sendiri. Tertawa merupakan satu bagian dari hidupku untuk menertawakan nasib yang aku miliki saat ini. Segala hal adalah lelucon bagiku bahkan teorema-teorema Kalkulus, dan Teori Relativitas hanyalah jokes semata untuk membuat kepalaku mendidih. Tertawa juga seperti garam dalam sayuran. Tanpa garam sudah pasti gak enakkan sayuran? Begitulah aku menganalogikannya. Seperti yang temanku katakan : Tertawalah sebelum tertawa itu dimasukkin undang-undang

TERSENYUM, walau hampir sama dengan tertawa, tapi rupanya mereka berbeda. tersenyum itu ibaratnya kalau tertawa adalah nada, maka tersenyum adalah alat musik. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk tersenyum, tapi tertawa hampir kebanyakan sama. Tertawa daoat ditahan, tersenyum jika ditahan akan membuat wajah merah merona. Tersenyum bagiku adalah emosi tenang yang dapat aku keluarkan sehingga aku bisa menularkan pengaruhku pada orang lain.

MENANGIS. Jika seorang lelaki menangis, mungkin kau akan bilang dia cengeng. Namun aku kurang setuju dengan pendapatmu. Justru karena menangislah seseorang dapat menjadi lebih kuat ketimbang dia tidak menangis sama sekali. Ada beberapa hal yang membuatku menangis dan satu hal yang membuatku benar-benar menangis adalah ketika aku ingat bagaimana aku telah berjalan sejauh ini hingga aku sekarang berada pada keadaan yang mungkin hampir banyak orang menginginkannya namun tak daya untuk mencapainya.

MELIHAT. Hal sederhana sebenarnya namun kali ini aku merasa ada yang aneh dengan penglihatanku. Tapi dengan melihat aku bisa memerhatikan hal-hal sederhana lainnya untuk kesejukkan jiwa dan pikiranku. Aku sudah muak untuk melihat tulisan rumus yang berderet panjang. Ingin sekali aku punya sedikit waktu untuk melihat deretan pohon yang tumbuh subur atau sawah yang menguning, atau gunung yang biru, atau sungai yang panjang dan bening sehingga ku bisa menangkap ikannya dengan tangan kosong. Tak perlu juga aku melihat elektron-elektron di dalam tabung kaca atau layar.display. Aku ingin hidup sederhana dengan segala hal yang sederhana agar aku menemukan hal yang lebih besar dari yang diberikan teknologi

MENDENGAR. Sebagai penikmat seni, aku sangat butuh telinga untuk mendengar. Apalagi aku seorang pemain musik. Mungkin ini adalah hal sederhana, namun tanpa mendengar aku tak bisa berbuat banyak. Satu hal yang kupelajari, mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda. Sekarang ini aku masih terus belajar mendengarkan. Aku tidak mau seperti para politikus yang suara ingin didengar tapi mendengar saja tak mau apalagi mendengarkan.

MENGEMBUS. Kata lainnya bernafas. Hal sederhana, namun jika selama lima belas menit saja tak bernafas, mungkin sudah sekarat hidupku dan merejang. Sederhana namun efeknya sangat besar bagiku.

MELANGKAH. Tak ada kata dan tak ada suara. Jika kau berencana tanpa melangkah, maka rencanamu sia-sia. Begitulah yang aku pelajari dan memang melangkah itu sederhana tapi itu sesungguhnya sulit saat menentukan satu pilihan.

MELONCAT. Bagiku itu adalah ekspresi jiwaku. Tanpa meloncat artinya aku mati.Meloncat itu sebagai nada stacato dalam hidupku dan aku bahagia bila aku meloncati seluruh aspek kehidupan.

Itulah hal-hal sederhana yang membuatku tetap hidup. Tanpa itu semua aku sudah mati rasanya. Aku ingin terbang tinggi ke angkasa luas. Menerjang badai kehidupan yang tak menentu. Mendaki puncak Everst, menapaki Gurun Sahara, melepuh di bakar matahari, Berlayar ke Pantai Gading, dilimbung ombak kebimbangan. Menciut dalam dingin.

Aku ingin hidup. Aku ingin merasakan arti hidup. Aku ingin kembali hidup

Hal-Hal Sederhana dalam Hidup

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 04 April 2012
With 0komentar

Surat Untuk Tuan Presiden

| Jumat, 23 Maret 2012
Baca selengkapnya »
Tuan Presiden yang terhormat,
Ini surat dari rakyatmu yang kecil. Kami adalah rakyatmu yang dulu memilihmu untuk menjadi presiden ya Tuan Presiden. Tuan Presiden, sekarang kami mengirimmu sehelai surat. Surat sederhana dari rakyat yang engkau pimpin, Tuan Presiden.

Tuan Presiden, kami tahu kalau Tuan Presiden saat ini sedang pusing memikirkan kelangsungan hidup kami. Tak berbeda jauh dengan kami yang juga pusing bagaimana caranya bertahan hidup dan menafkahi keluarga kami. Penduduk Indonesia ada 200 jutaan, ya samalah dengan kami yang anaknya sampai 12 orang yang semuanya masih kecil-kecil. Kami juga tahu kalau Tuan Presiden sedang memikirkan untuk menaikkan bbm, sama dengan kami yang berpikir untuk mengajar anak-anak kami untuk benar-benar berhemat dan sama juga dengan kondisi negara ini yang sedang penuh dengan demo, keluarga kami pun ikut menolak kalau benar-benar berhemat sehingga anak-anak kami uang jajannya harus dikurangi.

Tuan Presiden, tolong dengarkanlah kami, rakyatmu yang kecil ini. Yang cukup berbangga jika kami pernah tahu ada namanya sekolah untuk belajar. Yang cukup mengerti kalau 1 + 1 = 2. Yang cukup senang jika punya perangko, amplop untuk menulis surat. Yang cukup gembira kalau kami punya kotak berkaca hitam yang terkadang memunculkan gambar, kadang tidak tergantung hari yang kami sebut teve. Yang merasa lebih pintar jika kami punya kalkulator pasar untuk menghitung. Yang merasa kaya jika punya sepeda ontel 2 buah.

Tuan Presiden, kami mungkin tidak mengerti istilah-istilah seperti abiotik dan biotik, atau inflasi dan deflasi, atau geografis dan ekonomis. Mungkin kami tak paham jika kami diajak bicara tentang perpajakkan dan perhitungannya, atau konteksgalasi dan kosmopolitan. Mungkin kami terlihat dungu ketika kami diajarkan komputerisasi atau otomatis. Tapi yang kami tahu hanyalah negara ini sedang bergejolak sama seperti kondisi keluarga kami yang jika mendapat masalah pasti akan bergejolak

Tuan Presidan, tolong lihatlah kami. Kami mungkin tak punya kendaraan yang disebut motor atau mobil. Setiap hari paling sering naik sepeda atau kereta kuda. Pakaian kebanggaan kami hanyalah pakaian yang pertama kami beli di tahun 70an. Alas kaki kami mungkin yang paling bagus adalah yang kami beli tahun 80an.

Tuan Presiden, kami mungkin bisa menuju istanamu, tapi itu memakan waktu yang sangat banyak bagi kami. Itu artinya kami harus meninggalkan keluarga kami yang artinya kami menelantarkan keluarga kami. Kalau kami datang ke sana dengan membawa keluarga kami, masalah akan bertambah runyam mengingat anak kami yang hampir 12 orang itu. Oleh sebab itu kami mengutus orang-orang yang punya waktu lebih banyak untuk menemuimu. Tuan Presiden, tolong dengarkan suara dari penyambung lidah kami. Janganlah Tuan takut terhadap mereka. Mereka bukanlah gajah yang mengamuk sehingga Tuan Presiden perlu menembakinya dengan peluru atau memukulnya hingga mati. Mereka kami utus hanya untuk menemuimu Tuan Presiden

Tuan Presiden, temuilah utusan kami dan dengarkan mereka. Tak perlulah tentara sepuluh kompi untuk menyambut mereka dengan kawat berduri. Yang kami butuhkan hanyalah perhatianmu. Kami tak bermaksud merusak suasana istanamu. Kami hanya ingin didengarkan supaya Tuan Presiden dapat mengambil keputusan yang paling tepat.

Tuan Presiden, tolong lihat kami. Kami tak membawa pisau atau pedang. Senapan atau granat. Kami hanya membawa badan kami yang telah lelah berjalan jauh. Kami hanya ingin didengarkan.
Kami mungkin tak terlalu paham masalah mendasarnya, tapi kami ingin didengarkan dan kami juga ingin dengar suaramu sendiri.

Jadi tolong Tuan Presiden, dengarkanlah kami

Dari rakyatmu yang dulu pernah memilihmu sebagai presiden

Surat Untuk Tuan Presiden

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 23 Maret 2012
With 1 komentar:

Kembali Memeluk

| Selasa, 20 Maret 2012
Baca selengkapnya »
Kehidupan yang semakin lama semakin cepat, memaksa aku untuk berlari dengan cepat. Tak peduli lagi seberapa banyak orang yang mengiringiku, tapi jika aku berlama-lama aku akan semakin jauh tertinggal. Terkadang aku penat dan lelah untuk mengejar sesuatu yang sangat jauh bagiku.Setiap hari aku menciderai diriku sendiri dengan mengejar sesuatu yang masih abstrak untuk aku kejar. Aku sudah mulai kehilangan tenaga dan tak sanggup lagi untuk melangkah.

Kini yang aku bisa lakukan sekarang hanyalah terduduk diam sambil memerhatikan orang-orang yang berseliweran di hadapanku untuk mendahuluiku. Aku ingin kembali berdiri, namun aku kembali terjatuh karena kekuatanku sudah sirna. Aku pun jatuh terlentang dan mataku menatap langit. Langit biru warnanya. Awan-awan bergerak. Aku perhatikan awan-awan itu membentuk suatu rupa

Aku lihat awan yang pertama berbentuk seperti burung rajawali yang sedang merentangkan sayapnya. Kemudian awan kedua berbentuk seperti sebuah perahu kecil kalau aku bilang sampan. Lalu awan yang ketiga aku lihat bentuknya seperti wajah seorang gadis yang pernah aku sukai. Semakin aku perhatikan awan itu, aku semakin yakin kalau bentuk itu memang wajah dia. Entah kenapa aku jadi teringat ketika aku pertama kali jatuh cinta. Aku punya banyak kekuatan untuk menunjukkan cintaku itu padanya. Waktu itu aku bukan seperti diriku yang biasanya. Aku 180 derajat berbeda dengan kondisiku hari ini.

Lalu semakin lama, awan yang memiliki bentuk wajah itu semakin dekat dan menuju ke arahku. Aku kemudian berusaha berdiri, dan kurentangkan tanganku untuk memeluk. Aku ingin kembali memeluk. Ingin merasakan kembali cinta pertamaku. Aku ingin kekuatan pertamaku itu kembali lagi mengisi diriku. Aku peluk gumpalan awan itu kuat-kuat. Cinta pun kembali mengisi diriku dan aku tahu aku siap untuk kembali berlari.

Selasa, 20 Maret 2012
10.07 pm

Kembali Memeluk

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 20 Maret 2012
With 0komentar
Tag :

Angka 30

| Minggu, 26 Februari 2012
Baca selengkapnya »
Seperti sebuah melodi nada-nada itu menari di atas sebuah piano. Piano tua namun sangat terawat. Di bagian tuts-tutsnya warna putih sangat mengilap. Mereka tertekan saling menghentakkan dawai yang ada di dalam tubuh piano itu. Menyaru padukan musik-musik klasik. Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven. dan Joseph Haydn.

Di badan piano itu, tertulis angka 30. Sebuah angka yang memiliki suatu misteri bagiku. Aku perhatikan angka 30 itu dengan seksama. Ketika aku gosok daerah yang berdebu itu terlihat ada tulisan di badan piano itu. Sebuah tulisan yang sangat sederhana namun memilki makna yang sangat mendalam. Tulisan itu dibuat di tanggal 30 Oktober 1830

"Berkaryalah terus
Janganlah berhenti
Janganlah berhenti berharap
Tuangkan pemikiranmu
Dalam musik dan sastra"

Tulisan tua namun tetap kurasakan semangat hidup mudanya. Tulisan yang hampir tak terbaca, namun kekuatan tulisan itu tak hilang ditelan zaman. Tulisan lain aku temukan di pojok badan piano

"Tak perlulah menyesali diri
Kekuatanmu bukan untuk bersedih
Berjuanglah
Tuhan dekat dengan para pejuang yang jujur"

Angka 30

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 26 Februari 2012
With 0komentar

Perenunganku di Rabu Malam

| Rabu, 22 Februari 2012
Baca selengkapnya »

                Hampir setiap hari di bulan February ini aku tidak menulis lagi, padahal banyak kisah yang menarik untuk ditulis, banyak kisah yang layak untuk dikenang, banyak kisah yang perlu untuk diingat dan banyak kisah yang tak mungkin terulang lagi. Beruntungnya aku sudah mencatatnya dalam buku kecilku tentang sepanjang hari kegiatanku selama beberapa hari ini sehingga aku masih punya kisah-kisah yang memang kisah yang pantas untuk aku kenang seumur hidupku.
                Aku jadi ingat waktu aku pertama kali menulis. Baik menulis jurnal harianku, puisiku maupun menulis cerpen dan cerbung. Waktu itu aku pertama kali menulis jurnal kelas 4 SD. Saat itu aku berpikir supaya aku bisa mengingat lagi kejadian-kejadian yang pernah aku alami. Baik itu kisah yang menyedihkan maupun menyenangkan, pokok aku tulis itu supaya bisa aku kenang, pelajari dan sebagai patokanku. Selain itu aku berpikir supaya jika tua nanti aku ingin ada cerita tentang diriku. Tak peduli orang lain akan mempublikasikannya atau tidak, tapi aku ingin punya cerita untuk anak cucuku nanti supaya mereka tahu siapa sesungguhnya ayah mereka ini, kakek mereka ini. Yah walaupun dalam perjalanannya semua cerita yang aku tulis pergi melayang entah ke mana tapi beruntung sekarang aku punya komputer sehingga aku bisa menulis kisahku dan takkan hilang termakan usia. Kalau aku hitung, komputer yang aku gunakan ini sudah menemaniku dalam menulis selama 4 tahun. Semuanya terdapat dalam komputer yang aku gunakan sekarang
                Saking seringnya aku menulis di komputer, ternyata hasil tulisan tanganku makin banyak saat aku iseng bernostalgia dengan tulisanku sendiri. Senangnya hati ini rupanya gak sia-sia aku bikin. Setidaknya aku punya cerita untuk aku ceritakan lagi pada orang lain. Menulis itu rupanya tak ada dalam sejarah keluargaku. Entah darah siapa yang mengalir dalam tubuhku ini tapi sejak aku mengenal sastra dan seni aku mulai suka untuk menulis. Semoga darah ini takkan hilang dimakan jaman. Aku sudah mencintai kehidupanku yang sekarang dan aku takkan pergi lagi.

Perenunganku di Rabu Malam

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 22 Februari 2012
With 0komentar
Tag :

Aku dan Diriku

| Jumat, 17 Februari 2012
Baca selengkapnya »
Aku masih belum mengerti tentang diriku
Seperti ada dua jiwa yang hidup dalam diriku
Keduanya benar-benar hdiup dalam diriku
Keduanya saling bertentangan dalam diriku

Setiap aku melangkah aku harus berpikir lebih lama dari yang lain
Setiap aku berbicara, aku harus menahannya sebelum keluar kata-kata
Setiap aku berpikir, selalu ada pertentangan dalam pikiranku
Setiap saat, aku harus bekerja dua kali lebih berat

Di malam yang sepi nan syahdu
Sendirian dalam kegelapan malam
Kembali aku terdiam dalam keheningan
Walau suasana di luar sedang dingin habis terguyur hujan
Sepi dan tak banyak lagi orang lalu lalang
Namun pikiranku masih aktif sampai saat ini
Pikiranku masih menggali tentang sosok yang tinggal di dalamku
Pikiranku masih sibuk mengeluarkan data dalam diriku
PIkiranku masih sibuk mencari jawaban
Walau sudah larut malam
Namun pikiranku terus bekerja
Hingga tak terasa aku tertidur karena lelah

Di alam mimpi, aku bertemu dengan sosok itu
Sosok itu keluar dari diriku
Ia rupanya sama seperti aku
Tak ada yang berbeda sama sekali
Namun dia memiliki pribadi yang 180 derajat berbeda
Aku tanya mengapa ia ada di dalam tubuhku?
Ia jawab karena aku yang menciptakannya
Aku pun bingung dengar jawabannya
Dia tersenyum dan semakin lebar senyum melihat kebingunganku

Dia mengajakku pergi ke suatu tempat
Aku merasa seperti dejavu
Suasananya seperti tahun 1997
Aku melihat diriku yang saat itu masih kecil bersama sahabatku
Kami berdua begitu akrab
Saking akrabnya kami dianggap sebagai saudara kembar
Saudara kembar, beda ayah, beda ibu tapi satu rumpun
Kami selalu bersama
Sebagai partner in crime
Sungguh masa yang menyenangkan saat itu
Kini aku sadar mengapa diriku yang satu lagi menunjukkan itu semua dan mengapa dia ada
Itu karena aku masih menyimpan kuat memori masa kecilku
Pikiranku mencari pengganti sahabatku
Karena tak menemukannya, maka pikiranku membuatnya sebagai satu sosok yang baru dalam diriku
Dan sosok itu hingga kini bertahan

Aku dan diriku
Hidup berdampingan
Serasi
Laksana harmoni

Aku dan Diriku

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 17 Februari 2012
With 0komentar

Blue Sky and Rain Drop

| Senin, 13 Februari 2012
Baca selengkapnya »
Where are you going, Rain Drop?
Where are you going?
I am going to Earth, Blue Sky
I am going to Earth

Why do you go to Earth, Rain Drop?
Why do you go to Earth?
I want watering Earth , Blue Sky
I want watering Earth

For whom do you do it, Rain Drop?
For whom do you do it?
For human nature, Blue Sky
For human nature

Why do you go down to Earth, Rain Drop?
Why do you go down to Earth?

I want to give happiness to human nature
I want to give a hope after long drought
I want to give rejoice for human nature
I want to change crying with smiling
I want to give a good mood after bad mood
I want to give a new spirit to human nature
A new spirit to make a new life
A lively life for live,  Blue Sky

Blue Sky and Rain Drop

Posted by : Unknown
Date :Senin, 13 Februari 2012
With 0komentar

A Story to Tell, A Story to Learn, A Story About Love

| Minggu, 05 Februari 2012
Baca selengkapnya »
Beberapa kali aku suka sekali menulis artikel tentang CINTA ataupun KASIH, namun kali ini aku akan menceritakan diriku sendiri. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang penuh dengan penantian hingga mendapatkan jawaban yang terbaik. Bukan jawaban manis tapi terbaik.

Waktu dulu aku pernah menulis kalau aku gak punya pacar, tapi diem-diem aku lagi menjajaki seseorang yang pastinya dia seorang gadis umurnya 18 tahun dan memang lagi single. Pertama kali bertemu, maksudnya kenalan itu bulan Juni. Ketemunya pun dengan cara yang ajaib tanpa ba-bi-bu tanpa direncanakan tapi memang orang yang jatuh cinta pastinya ngerasain gimana sih rasanya jatuh cinta pertama kali? Apakah perasaan itu diundang? Enggak kan. Perasaan itu buta. Mulai dari pertemuan itu, aku suka padanya dan menurut perasaanku juga dia terlihat senang kalau bermain denganku. Tiap bulan pastinya aku dateng ke rumahnya sekadar untuk bermain atau mengajaknya jalan-jalan.

Waktu aku bermain pertama kali dengannya aku pernah minta 3 permintaan. Aku lupa apa aja yang aku minta tapi salah satu diantaranya adalah permintaan terakhir yaitu minta tiga permintaan lagi Hehehehe...

Perasaanku pun bercampur aduk. Aku pernah berdoa ama Tuhan waktu itu seperti ini:
"Oh Tuhan terima kasih karena sudah mempertemukanku dengan dia."
Senang bukan kepalang. Hingga sampai di suatu titik, aku bilang ke dia kalau aku suka ama dia. Aku gak tanya apa dia mau jadi kekasih (red : kekasih maknanya ternyata lebih dalam dari pacar lho) tapi aku tanya apa perasaannya. Dia pun minta waktu untuk berpikir. Aku beri waktu dua bulan. Aku nyatainnya bulan November dan berarti waktunya mpe Januari. Di waktu yang dua bulan itu, aku berdoa bertanya pada Tuhan apakah dia memang orang yang nanti akan menjadi pendamping hidup untuk selamanya dan satu kali.

Well mungkin terlalu berat gitu kalo buat seumurku tapi itulah yang aku pikirkan. Aku sedang mencari pasangan hidup. Bukan pacar yang bisa diganti kalau bosen. Bukan sepatu yang udah gak muat bisa cari lagi. Tapi aku mencari pasangan hidup yang bisa saling menopang, membangun, dan menjadi penolong. Tiap malam jam 9 aku doakan bahkan pernah selama seminggu aku bangun jam 12 pagi dan mendoakannya karena aku merasa bingung dengan perasaan aku sendiri. Ya memang perasaanku saat itu terbagi dua antara IYA dan BUKAN. Makanya aku berkorban bangun jam 12 cuman buat dapet jawaban soalnya aku gak mau ke depannya salah langkah dan menyesal seumur hidup. Aku udah tahu apa rasanya menyesal oleh sebab itu aku tak mau menyesal walau ini adalah kali pertamanya aku merasa jatuh cinta, tapi aku gak mau dikuasai oleh perasaan yang bersifat sementara.

Waktu pun semakin lam mendekati batas deadline tapi aku undur lagi sampai Februari awal supaya aku benar-benar dapat jawaban pasti dan biar dia juga gak salah denger. Satu doa terakhir yang aku ucapkan waktu itu sperti ini:
"Tuhan Engkau yang tahu. Biarlah sesuai dengan kehendak-MU saja dan bukan kehendak-ku. Aku percaya rencana-Mu lebih ajaib dan besar dari yang aku lihat sekarang. "

Dan sejak saat itu aku merasa sudah tidak dikuasain perasaan aneh orang jatuh cinta lagi dan aku menjadi bersikap biasa saja layaknya kalau aku punya sahabat cewe karen pernah aku doain juga kalo misal dia memang untukku, menjadi kekasihku biarlah perasaan orang jatuh cinta dan malu-malu itu muncul padaku dan pada dirinya tapi kalau tidak dibuang saja perasaan itu.

Tepat kemarin. Yap kemarin tanggal 4 Feb setelah aku ikut Persekutuan Gabungan Remaja Pemuda di gereja ku aku bertemu dengannya. Jelaslah aku bertemu dengannya sebab dia aku ajak juga ke sana. Setelah sampai di rumahnya aku tanyakan tentan apa yang dia dapatkan setelah menggumulinya. Kalau liat dari sikapnya sih terjawab kalau memang bukan dia yang akan mendampingiku nanti tapi aku hanya ingin meyakinkan diirku dan jawabannya memang seperti itu. Kami yaitu dia dan aku memang tidak Tuhan izinkan untuk bersatu. Aku puas dengan jawaban itu. Aku boleh belajar banyak dari pergumulanku.

Ketika aku menggumuli apakah dia pasangan hidupku atau bukan, Tuhan menjawab bukan dan memang selain itu Tuhan bilang selesaikan dulu studiku. Selain berbicara padaku rupanya Tuhan juga berbicara pada dia supaya kami tak salah dengar dan tak salah langkah. Aku bahagia karena aku boleh mendengar suara Tuhan dalam pergumulanku itulah ceritaku yang sedikit berbumbu cinta. Ketika kita menggumulinya dengan sungguh-sungguh Tuhan pasti akan menolong kita untuk menentukan langkah berikutnya. Aku sekarang bebas dan melanjutkan hidup.
Seperti yang temanku selalu katakan

It's a gift. Itu kemurahan

A Story to Tell, A Story to Learn, A Story About Love

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 05 Februari 2012
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲