Newest Post

Christmas Story #2

| Jumat, 02 Desember 2011
Baca selengkapnya »
Saat itu hari Rabu pagi, tanggal 24 Desember 2009 aku sedang beres-beres rumah untuk persiapan Natal nanti malam. Ketika aku hendak membuang brangkal ke tempat sampah, aku lihat di sana ada sebuah buku catatan kecil. Kemudian aku ambil buku itu. Buku itu terlihat sudah tua namun sangat terawat. Di sampulnya ada tulisan dari tinta emas yang bertuliskan "Rio, Penulis Jalanan". Hmm, siapa ya dia batinku berkata. Ketika ku buka sampulnya di halaman pertama aku lihat tulisan lain yang bertuliskan "Ketika Sebuah Kehidupan Dimulai Dengan Sebuah Tulisan". Aku semakin penasaran. Kemudian aku tinggalkan brangkal itu dan aku kemudian duduk di teras rumahku dan aku mulai membaca buku catatan itu.

Senin, 12 Desember 2001, di sore hari yang kelambu, di antara dua buah pohon Willow dua sosok duduk bernaung di bawahnya. Mereka membuat semacam tenda untuk berteduh hari ini. Mereka terlihat lelah setelah berusaha menaklukan Yogyakarta, namun mereka seperti tak mendapatkan hasil sedikit pun. Wajah mereka yang kotor karena debu dan asap knalpot. Sedikit pun senyum tak tersungging di wajah mereka. Pakaiannya kotor dan kulitnya terbakar karena berlari-lari di bawah terik matahari mengejar nasib yang meninggalkan mereka.

Selasa, 13 Desember 2001, di siang hari yang terik aku kembali melihat mereka yang kemarin duduk di bawah pohon willow; Mereka menggelar barang dagangan mereka. Mereka berteriak-teriak untuk mendapat perhatian dari orang yang berlalu lalang di jalanan. Walaupun mereka sudah berteriak namun orang-orang terus saja berjalan seakan-akan mereka tidak melihat ada orang di pinggir jalanan. Mobil-mobil yang berlalu lalang mengepulkan asap kendaraan ke arah mereka. Sirine berbunyi. Para petugas melakukan razia pkl. Kedua sosok itu pun bergegas pergi agar mereka tak ditangkap para petugas. Para penjual lainnya ada yang ditangkap paksa, ada yang dilecehkan dengan kata-kata, ada yang dipukul dengan tongkat hingga tongkatnya patah. Kedua sosok itu berhasil pergi dengan sembunyi-sembunyi ke bawah jembatan dan berdiam di sana sampai para petugas itu pergi.

Rabu, 14 Desember 2001, pagi itu aku berhasil menemui mereka. Mereka masih di bawah jembatan tempat kemarin mereka bersembunyi. Aku berkenalan dengan mereka. Yang tinggi kurus berwajah satir, dan terlihat seperti kurang gizi, umur sekitar 20 tahun bernama Doni dan yang pendek gembul, wajah baby face, rambut di cukur habis umur sekitar 20 tahun bernama Ali. Mereka memang asli Yogyakarta. Mereka dulu tinggal di daerah pedesaan yang dekat dengan hutan. Di sana seluruh warga desa hidup dari hutan tersebut. Hutannya masih terjaga hingga suatu hari perusahaan swasta yang dibarengi dengan perusahaan negara mengusir warga desa tersebut untuk membangun semacam hotel dan jalan raya. Ali dan Doni terpisah dari keluarganya dan mereka bekerja serabutan untuk menghidupi kehidupan mereka. Masih banyak lagi yang mereka kisahkan namun mereka sepertinya tak merasa nyaman oleh sebab itu aku mengajak mereka ke rumah keesokan harinya.

Kamis, 15 Desember 2001, pagi-pagi sekali aku bangun untuk menemui mereka di jembatan kemarin kami bertemu dan aku dapati mereka masih di sana. Kemudian aku mengajak mereka untuk ke rumahku, namun mereka menolak dengan halus malah mereka mengajakku ke suatu tempat yang aku sendiri belum penah kunjungi. Mereka membawaku berjalan menyusuri pinggiran kota. Diujung jalan sana ada jalan setapak. Aku dibawa mereka ke sana dan kupikir sudah sampai tapi ternyata belum. Kami melewati kaki gunung lalu berkelak-kelok sambil menyusuri sungai. Dari hilir sampai ke hulu. Kemudian dari jauh aku melihat seperti sebuah perkampungan. Kumuh tepatnya. Kami pun masuk ke dalam perkampungan itu. Di dalam sana aku melihat ada kakek-kakek, nenek-nenek, yang duduk di pinggiran rumah. Lalu aku melihat ibu-ibu yang berkumpul sedang mengerjakan sesuatu. Anak-anak kecil bermain dan berlari keluar masuk hutan. Ketika aku menanyakan siapa mereka, Aldi dan Doni memberikanku jawaban yang sangat mengejutkan ternyata penduduk yang aku lihat itu adalah penduduk yang kemarin diceritakan oleh mereka. Lalu aku bertanya pada mereka apa yang bisa aku bantu dan jawaban mereka sederhana sekali. Tolong jangan usik kami lagi. Aku pun terbengong-bengong mendengar jawabannya.

Jumat 15 Desember 2001 siang hari aku pergi ke tempat yang waktu itu pernah ditunjukkan oleh Aldi dan Doni padaku sambil membawa seorang teman yang cukup aku percayai. Ketika kami sampai di tempat itu aku melihat Aldi, Doni dan beberapa warga sedang berkemas. Sepertinya mereka hendak pergi. Ketika kutanyakan apa yang akan mereka lakukan, ternyata mereka mau pindah dari tempat itu ke tempat lain/ Menurut mereka tempat mereka bersembunyi sudah tidak aman dari binatang buas lagi. Pedih rasanya hatiku melihat itu semua...

Tulisan itu pun berakhir di situ. Aku tak menemukan tulisan lagi di belakangnya. Yang aku lihat hanyalah seperti sebuah sobekan. Aku merenungkan apa yang ditulis oleh Rio pada masa itu. Dia membuka mataku untuk peduli pada sesama bahkan pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Aku yakin di lembaran berikutnya Rio pasti bercerita bagaimana ia menolong Aldi, Doni dan warga yang digusur itu untuk bertahan hidup. Aku pun jadi ingat, sesungguh itulah makna Natal yang seharusnya aku pahami sejak awal yaitu saling berbagi.

Christmas Story #2

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 02 Desember 2011
With 0komentar

Christmas Story #1 (Uang Seribu Rupiah dan Seratus Ribu Rupiah)

| Rabu, 30 November 2011
Baca selengkapnya »
Dikisahkan di Bank Indonesia baru dibuat lembaran uang baru yaitu uang pecahan seribu dan seratus ribu. Suatu ketika sebelum uang itu disebarluaskan, uang seratus ribu dan uang seribu bercakap-cakap satu dengan yang lainnya tentang kejadian yang akan mereka alami.

Uang seratus ribu : "Hai seribu! Tak lama lagi kita akan melihat dunia luar ya!'
Uang seribu :" Ya tak lama lagi kita akan melihat dunia luar. Apa yang akan kau lakukan nanti seratus ribu?"
Uang seratus ribu : "Hmm aku harap nanti ketika sudah waktunya kita diedarkan aku ingin masuk ke dalam sebuah dompet yang cantik yang nantinya akan tetap menjaga keindahan dan kemulusan bentuk dari badanku ini. Nah bagaimana denganmu seribu? Apa yang kau impikan?"
Uang seribu : "Kalau aku sih berharap supaya aku bisa membahagiakan orang lain. Itu saja yang ingin aku lakukan nanti."
Uang seratus ribu :"Bukan maksudku untuk mengecilkanmu tapi bagaimana mungkin kau bisa melakukannya? Kau hanya seribu rupiah sedangkan aku seratus ribu. Tentunya orang akan lebih bahagia mendapatkan aku ketimbang mendapatkanmu. Kau ini ada-ada saja."
Uang seribu : "Aku pasti bisa membahagiakan orang yang mendapatkan diriku. "
Uang seratus ribu : "Baiklah kalau begitu. Kita pasti akan bertemu lagi nah saat kita bertemu ayo kita ceritakan kegiatan yang sudah kita lakukan. Kau mau?"
Uang seribu : "Baik! Nanti kita berbagi ok."

Kemudian kedua uang itu pun berpisah dan masing-masing mendapatkan yang mereka impikan. Uang seratus ribu masuk ke dalam dompet seorang wanita cantik yang sudah penuh dengan uang sehingga uang itu didesakkan begitu saja dan ada bagian tubuhnya yang terlipat-lipat. Selain itu ternyata di dalam dompet wanita cantik itu uang seratus ribu mendapati suasananya sangat tidak menyenangkan. Banyak uang-uang lainnya yang terlihat sombong.

Lain halnya dengan uang seribu. Ia masuk dalam kantong seorang petani tua. Kemudian uang itu pindah tangan pada seorang anak kecil yang senang sekali menerimanya dan pindah lagi ke tangan seorang pengemis. Tubuh uang seribu itu juga lecek dan terlipat-lipat sama seperti uang seratus ribu temannya, tapi ia merasa bahagia ketika ia melihat yang menerimanya tersenyum bahagia.

3 bulan kemudian uang seribu dan seratus ribu kembali bertemu di tempat yang sama. Mereka pun saling berbagi cerita.
Uang seratus ribu :"Seribu, kau tau ternyata dunia tak seperti yang kubayangkan selama ini. Sungguh sangat menyakitkan. Aku memang masuk ke dalam dompet cantik namun aku terdesak-desak di dalam dompet itu karena sudah penuh dengan uang dan aku merasa diasingkan karena kebanyakan uang yang di dalam dompet itu uang dollar yang tampangnya sangat sombong. Aku pun berakhir di meja kasir dengan keadaan lecek tak terawat. Bagaimana perjalananmu? Aku yakin kau juga sama tak bahagia seperti aku."
Uang seribu : " Oh kau salah sangka seratus ribu. Aku justru bahagia."
Uang seratus ribu : " Hah?! Bagaimana mungkin. Lihat badanmu lecek dan kucel namun kau bahagia? Memang apa yang terjadi?"
Uang seribu : "Setelah kita berpisah, aku bertemu dengan seorang petani miskin. Kemudian aku diberikan oleh petani itu kepada anaknya dan anaknya itu sangat senang sekali menerima aku. Kemudian anak itu membawaku jalan-jalan. Di tengah jalan ia menjumpai pengemis dan dia memberikan aku kepada pengemis itu dan pengemis itu menerima dengan sukacita. Kemudian pengemis itu membeli bahan makanan dan penjual yang menerima aku sangat senang karena akhirnya dia mendapat untung kemudian aku kembali di bawa ke bank untuk menjadi tabungannya. Melihat semua yang menerimaku tersenyum, sudah pasti aku bahagia karena telah membuat semuanya tersenyum."

Christmas Story #1 (Uang Seribu Rupiah dan Seratus Ribu Rupiah)

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 30 November 2011
With 0komentar

WASPADALAH!!

| Jumat, 11 November 2011
Baca selengkapnya »

PROSES SEORANG KRISTEN JADI ORANG BERDOSA

1.       Dia berasal dari keluarga Kristen/Non-Kristen. Dia mengalami pertobatan yang sangat heroik dan menyerahkan dirinya untuk dipakai menjadi alat Tuhan. Kuasa Tuhan yang sangat hebat meliputi dia. Sampai di sini, Iblis belum berani.
2.       Dia dipakai oleh Tuhan dengan sangat hebat. Sangat berapi-api. Mengalami kasih mula-mula. Melakukan perubahan yang sangat heroik dan sungguh seperti dekat Tuhan. Iblis mempersiapkan senjata.
3.       Setahun dia alami hal yang sama. Ia merasa “nyaman” sehingga dia tidak lagi melihat sekelilingnya. Sekarang dia merasa bahwa pelayanannya padaTuhan, seperti suatu jadwal yang sudah diatur, bukan lagi suatu kerinduan kepada Tuhan. Kasih mula-mula mulai meredup. Api semangat dari Tuhan sudah hampir padam. Di sini Iblis menggunakan zona “nyaman”-nya untuk memadamkan semangatnya.
4.       Dia mengalami kebosanan. Dia mulai melupakan doa paginya dengan Tuhan karena alasan “Perfect Performance”. Dia mulai menghindari persekutuan karena dia pikir, persekutuan hanya menghambat “Perfect Performance”-nya. Sampai di sini, kuasa Tuhan mulai meninggalkan dirinya karena dia mulai meninggalkan hal-hal yang membuat dia bertobat. Iblis mengintip suatu celah masuk. Dia yang awalnya memberi kunci hatinya hanya pada Tuhan, karena kesibukan, ia berikan juga pada Iblis.
5.       Proses terakhir. Setelah ia tinggalkan kasih mula-mula itu,ia tinggalkan persekutuan sehingga tak punya pegangan karena ‘kesibukan’-nya. Dia mencoba cari ‘penenang’ dari dunia. Bukan berdoa kepada Tuhan. Dia mulai terjerumus dengan keasyikannya di dunia dan telah sama sekali tak ingat kapan dia bertobat. Yang dia ingat hanya kesenangan dunia. Iblis sudah ambil alih hatinya supaya terpaut pada hal-hal dunia. Tuhan sudah diusir keluar dari hatinya. Sungguh tahap yang menyedihkan.
6.       Dan, matilah apinya. Tak bisa dibakar lagi. Sudah tak ada gunanya. Sama seperti garam yang sudah tawar. Tak ada gunanya. Hatinya sudah terkunci dan hanya Iblis di dalamnya. Lalu dimuntahkan oleh Allah.


Jika kita mendapati diri kita seperti ini, sebaiknya kita segera berlari lagi kepada Tuhan. Raihlah tangan Tuhan selagi tangan-Nya masih terulur untuk kita. Sebelum terlambat.

WASPADALAH!!

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 11 November 2011
With 0komentar

DI ATAS JEMBATAN PASUPATI

| Rabu, 21 September 2011
Baca selengkapnya »

Sore itu pukul empat lewat tiga puluh menit
Seusai hujan mengguyur bumi
Selesai pula tugasku sore itu
Aku berlari kecil menemui motor tuaku
Menyambut tugas baru yang menantiku di luar sana
Kemudian aku pun meluncur ke jalanan

Jalanan becek bekas diguyur hujan
Menjadi pemandangan sore itu
Jalanan padat karena motor berdesak-desakkan
Menjadi pelengkap sore itu
Kupacu motorku merangkak ke atas Jembatan Pasupati

Setelah aku di Jembatan Pasupati
Aku meluncur di jalur kiri supaya aku dapat memandang ke bawahnya
Di sana aku lihat rumah-rumah
Bukan rumah-rumah gedongan
Melainkan hanya rumah-rumah biasa
Berserawutan di kaki Jembatan Pasupati

Tak kulihat adanya jalanan di antara rumah-rumah itu
Karena aku lihat rumah-rumah itu hampir menutupi semua lahan yang tersisa
Mereka sepertinya sudah tak peduli lagi
Asap-asap knalpot yang mengepul
Sampah-simpah yang keluar sisa hujan tadi sore
Air hujan yang membasahi bumi
Membuat perumahan itu terlihat kumuh

Rumah-rumah yang berdesak-desakan
Saling menyenggol satu sama lain
Di atas sini
Jembatan Pasupati yang panjang membentang
Namun di bawahnya perumahan yang kumuh
Seakan-akan mereka semua telah menjadi saksi bisu
Saksi bisu dari kemajuan bangsa ini
Saksi bisu tentang bangsaku

DI ATAS JEMBATAN PASUPATI

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 21 September 2011
With 0komentar

Penjelajah Mimpi

| Rabu, 14 September 2011
Baca selengkapnya »
Kehidupanku penuh dengan tulisan yang memiliki arti
Penuh dengan eksperimental dan mimpi-mimpi
Tanpa mimpi-mimpi, sebenarnya aku kan mati
Petualangan mendebarkan dan menyenangkan
Pemandangan menakutkan dan eksotis
Itu semua kehidupanku

Tidur di atas jerami
Berselimutkan cinta dan kasih
Berbantalkan ketulusan
Beratapkan langit gelap
Ditemani cahaya rembulan
Ditemani para hewan
Demikianlah ketika aku tertidur

Makan asam dan manisnya kehidupan
Minum asin dan pedasnya perjalanan
Mencium wangi dan baunya pertemanan
Demikianlah kehidupanku

Penuh dengan mimpi
Mendaki puncak semangat
Terjun ke penindasan
Berenang dalam badai kecemasan
Menemukan sari pati hidup
Itulah mimpiku
Itulah tujuanku
Mencari arti sari pati hidup

Inilah aku sang penjelajah mimpi
Yang tak pernah berhenti bermimpi
Yang terus yakin akan mimpi
Dan tak pernah muak akan mimpi

Penjelajah Mimpi

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 14 September 2011
With 0komentar

A Letter To Old Friend

| Sabtu, 10 September 2011
Baca selengkapnya »

Hello Nick, I write this letter to remind us about our activity in our last met and I will retell my life. I will start from when I born.
       
 Do you still remember my firs home? It was small but I loved it. It had two small bedrooms, a family room, a guest room when at night became a garage, a small bathroom and a kitchen. Its floor was made by cement. It was warm when nights came and cool when afternoon.
 My first friend at there was Septiani Ayu. I always called her Ayu. She had a curly hair. She was thin. Her house was next to my house. We were like best friends.
Do you still remember where we meet each other? That place was  a fact for us when we met together and be best friend with the other old friend, Fandy that we called Asun. The other church that I had Sunday School was at GBI Maleber in Maleber Barat. When I was too young, do you know Nick? In Christmas Day, our teacher in Nazareth Pantekosta Church always led us for played drama or sang a song. It was so fun.
            In Nazareth Pantekosta Church, we always called Trio Badunk and we always together in every time. We always got a present in Christmas time. I always thought that we would be together


In kindergarten I had new friend. His name was Aris and the other one is Graddy. Do you know Nick, Aris was from Solo and Graddy, I didn’t know about him. My friend at there not only Graddy and Aris that we have known. If I am not wrong, my friends were I Ketut from Bali, Aan, Teguh, and I forgot a lot about my old friend Nick.

After I was 7 years old, I went to Advent Elementary School. At that place we met again after we met at church. In Advent, the religion is Advent and they are worship in Saturday. Aris and Graddy went to Advent to. So we could know each other more complete. Do you still remember Nick, that your first times know Aris and his hobby? I felt happy.
At Advent it was s different with my house place. Most of the people in Advent were Batak Maybe I was only the Javanese alone, except Aris and Graddy that I knew that they were different too like me.

 
My teacher in the first grade was Mrs. Tambunan. She was kind and she had son that his son had sick which he felt like children but his age was 23 years old. He studied at SLB. He called as Okky.
I had a lot of friend since I went to Advent at first time. They were Lucas, Hans, Lucky, Julio, David, James, Adrian, Agung, Anggi, Darien, Madeline, Cassandra, Triple Gossip Queen, Michelle, Rosdiana, Frischa, and then Gladys, Yosua, and some of them like Yohana, Evie, and Lita, I didn’t know them very much. My best friend was you, Nick.

After several times, I knew the habbit of several my friends in the school. Some of them, especially boys in my class love to play football. After the bell school rang, we liked to play football before came back to home. We had a schedule for play football. I always got wing back position or sometimes wing forward position. But, Lucas, and Julio, didn’t like to play football. I didn’t why, but I thought might be he wanted to play some brain sport.
After played football, I went to my church in Maleber to have extra lesson. Friends at there were Kris, Chandra, Frans, Bayu, Reza, Petra, Lia, and Juwita. My tutor in my class was Ms. Devi or sometimes Mr. Agie. They were single. Condition of GBI Maleber was small and narrow. It was beside village. It had piano, keyboard and two guitars for worship.
            Nick, at the second grade, do you know, I had the other best friend. I liked to add friends because, I knew I would be need them when I grown up. His name was Patrick. He was cleverer than you and me. He loved playing football too. I like to make friendship with him. He always tutored me if some subjects in my school were hard for me. But, when the last test at third part, he went to Abdurachman and he had to move his school. I couldn’t make a little party to remember our friendship.
            When I was at the third grade, I chose to study at English course for add my ability in spoke English. So, I had more friends again. I thought that I was a kind boy, but in my English course, I was not to more close to tell about my own life to them. Every time, if the Course was end, I always saw a traffic jam in front of the building, because it was near railway road and at five o’clock in P.M. the train always came and stop at the station near the street. So, there always happened traffic jam.
            Nick, I still remember when at the fourth grade, our class had to mourn when Lucky’s mother was gone for every time. I mean she was rest in peace. I shocked because, you know what I mean surely. So I don’t must tell you about it. But I saw Lucky never cry for along time. He could walk his life.


Do you know our teacher when we were at the third and the fourth grade. Our teacher was the same teacher. His name, if I don't forget is Mr. Hutagalung. He had bald at fore head and he was fat. I think he become old. He was funny wasn’t he Nick? He always had a lot of jokes or anecdote for us and that was why we never board in his class. I wanted to be student in Elementary School again because, it has a funny world.

Okay Nick, if you want to know how I feel when I worshiped in two churches every Sunday. First time we were together in the same church and in that church, I mean at Nazareth Pantekosta, we always had a happy time with that activity. Every Christmas, we played drama with our friend, Asun. We got a main player. Every Easter, our church invited us to stay at villa for two or three days and it was free. We did for about ten years.
            In the other church, GBI Maleber I followed PPA’s program. At there, I had an interesting time. Sometimes I got new friends at there like Natanael. He was a closed person. I liked to add friends. You have known about that right?
            If I am not wrong, at New Year’s Eve we always had party at Mr. Birkin right Nick? He had a big house, if I am not wrong. He had two children right? Our church had party at Mr. Birkin’s house for little religion and had dinner at there.
            In the other place, in GBI Maleber, it had religion for Christmas and New Year’s Eve. New Year’s Eve at there was at midnight and all of people pray for two hours for their next life in the New Year.
Do you still remember Carlos, Nick? He moved to our school when we were at the fourth grade. He was rich, and maybe the richest in our school. Although he was rich, he didn’t boast. He always allowed his friends to come to his house especially me. Hehehe…
            After several times, finally I went up to the last class. Yes, the sixth grade was a night mare for me. Because it was between life and death of me. I studied hard for passed The Last National Exam. But I was not to very confuse and it was beginning.
            After the exam days finished, I had a holiday for refreshing. The school held the refreshing event. We went to DUFAN for refreshing. I felt very happy. Nick, I ever lost in DUFAN. I was confused because that was first time I went to DUFAN. But how lucky I was, because I could meet another group from my school so I could follow them while I looked for my group. I had fun and a good time at there. I explored all of the place at DUFAN. At evening, we went to the beach in Ancol. We had a dinner and came back to Bandung.
            Oh Nick, after that time, we got our report and I was happy because I got good mark. I showed my own mark to my parents and then my parents gave me the first hand phone that you have known. 
Hmm… I went to BPK Penabur Christian Junior High School Fifth. That meant we separated for three years. I was sad, but I knew, we could meet each other like now. Do you know Nick, at junior high school, I tried to be captain of the class, but I couldn’t be the captain. But I was in surprised when I was chosen to be the council organizer. I was the organizer of Scout part. My friend who worked in the same part with me in council was Laurentia. Her name was longer than I thought. Do you know the long name of Carlos? Her name was longer than Carlos’ name. If Carlos name was Carlos Kolano Daniel Putra Dua Padang, her name was Laurentia Dyah Vita Viralia Permata Sari. Ugh, that was the longest name I knew.
            Her skin was dark and she had a long hair. She was thin and tall. I ever like her, but I remembered my principe not to have a special relation with a girl before I finish my school.
            Before I did the task in council, I had to follow training at Lembang. At that training, we followed some sessions in two days how to be the leader and learn about leadership. Not whole day we learn about leadership. Sometimes we had some games for refreshing and talent show. In talent show, I showed my ability in played monolog and story telling. I loved my worked in council, but I wasn’t the workaholic until now.  After the first year I work at council, I was chosen again in the second year and I was the captain of the scout section. I felt happy. I was at the eighth

21
A. I got the best class, but my own class govern was my own council leader. So, if my own mark was bad, my council leader would be angry and talkative.
            I was happy in junior high school especially, do you know Nick, I ever came to PASKIBRA organization. At there we learnt about structure of ceremony, about stand in a row, and history about PASKIBRA. We learnt about how to hanging up the flag and learnt formation in hanging up the flag. The time I still remembered when I was in PASKIBRA, when we went camping. We were like back to nature. We made our own food from what we brought. We slept together in a tent. In the night, we made camp fire and we sang together and showed our talent in a group. My group played drama. Our drama was comedy mystery and some of my friend were laughing. Another group made a rap song and played magic. We played games too.
            Nick, do you know Asun? He was in SMPK 5 too. We could meet each other more often than I met you.
            After I finished my studied in SMPK 5 BPK Penabur, I continued my study to Christian Senior High School third BPK Penabur. At this place, I met my old friend who was Michael Variant. He called Bothil. I don’t know why. When students orientation was  beginning at there, I met a very different people at there. They came from another schools and I met Felita and Annie too. Do you know Nick, there were people who came from out Bandung. Samuel came from Tasikmalaya, Yoseph came from Subang, and Shianne came from Karawang.
            Do you remember when we were going to have Christmas Party at my church in  GBI Maleber? You used black clothes and you got a punished from the committees. You had to dance follow the music. And then you were recorded by the photograph. That was funny.
            Nick, I’d like to tell about my life more in this letter, but I prefer talk with you in our favorite place which was witness from first time we met. I hope, like this time, maybe not now, we can meet each other and tell about our self. Thanks for your fantastic memories which had given to me. I miss to talk with you face to face. Thanks old friend. I never forgot you.

Regards,


Double “Y”



A Letter To Old Friend

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 10 September 2011
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲