Newest Post

Hey, Kamu!

| Selasa, 09 Agustus 2016
Baca selengkapnya »
Hey, kamu
Yang pernah kugenggam erat tangannya
Hey, kamu
Yang pernah mendengar detak jantungku
Hey, kamu
Yang pernah ada dalam hidupku
Hey, kamu
Ya kamu yang pernah di hidupku

Hey, kamu
Yang pernah kuajak bertualang
Hey, kamu
Yang pernah peduli kepadaku
Kini dimanakah kamu
Kini ada apakah dengan dirimu

Kamu yang pernah mengajakku
Bermimpi di angkasa
Menata indahnya bintang gemintang
Kamu yang pernah menuntunku
Memberikan pandangan
Dalam setiap langkahku

Kamu yang selalu kutunggu
Kamu yang selalu kubanggakan
Kamu yang selalu kupikirkan
Kamu yang selalu buatku bahagia

Hey, kamu
Yang kini telah menghilang
Hey, kamu
Yang kini menjauh dariku
Hey, kamu
Yang kini tak dapat kugapai
Kemanakah kamu pergi

Yang pernah berjanji untuk tidak pergi
Sekalipun ada halangan di depan
Yang pernah berjanji untuk tidak berubah
Sekalipun ada yang berubah
Yang pernah berjanji untuk saling menggenggam
Sekalipun jurang memisahkan

Hey, kamu
Ya hanya kamu seorang
Hey, kamu
Ya kamu, kamu seorang
Hey, kamu
Hey, hey, hey kamu
Hey, kamu
Hey kamu, kamu dan kamu


Hey, Kamu!

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 09 Agustus 2016
With 0komentar

Pengorbanan

| Sabtu, 11 Juni 2016
Baca selengkapnya »
Terkadang aku suka berpikir, inikah diriku yang sebenarnya? Setiap kejadian yang aku alami, setiap pengalaman-pengalaman yang terjadi, seperti memberikanku sebuah petunjuk pada sesuatu yang sangat abstrak bagi pemikiranku sekarang ini. Jika aku melihat ke belakang, aku tak tahu apakah aku yang dulu itu adalah yang terbaik, atau aku yang sekarang ini yang terbaik.

Kenapa aku berpikir seperti itu? Entah mengapa aku pun tidak tahu, tapi aku seperti mengalami fase kedua dalam metamorfosis jiwaku. Sebetulnya aku pernah mengalami fase metamorfosis pertama ketika umurku menginjak belasan tahun, sekarang sepertinya aku mengalami fase metamorfosis keduaku. Kali ini aku menghadapinya sendirian. Tak ada siapapun yang secara fisik ada di sampingku. Tak ada seorangpun yang mampu menyelami pemikiranku. Entah, mungkin pemikiranku yang kuno atau  pemikiranku terlalu melampaui pemikiran mereka.

Kalau dikatakan hidupku nikmat, ya jelas nikmat menurutku. Sudah punya penghasilan dan bahkan tabungan sendiri. Tidak bergantung sepenuhnya pada orangtua. Soal ekonomi, keadaan ekonomiku sendiri sangat stabil bahkan bisa menolong dua atau tiga orang lagi. Namun aku perlu sesuatu yang lebih besar dari sekedar harta, dan mungkin tahta.

Aku teringat akan sebuah memori, seorang dosen pernah mengatakan padaku, menjadi pintar itu gampang, menjadi bijak itu sedikit sulit, tapi menjadi bermanfaat bagi segala mahluk itu pengorbanan



P.E.N.G.O.R.B.A.N.A.N

Satu kata yang sangat familiar dan punya tempat tersendiri dalam hatiku. Banyak kisah-kisah soal pengorbanan yang aku pernah tahu seperti salah satunya Bunda Teresa, tokoh biarawati yang terkenal karena pengorbanannya bagi kaum papa di India.

Kisah-kisahnya menginspirasiku secara pribadi tapi sampai saat ini aku hanya tahu sebagai 'kisah pengorbanan' saja, bukan mengalami tindakan pengorbanan. Sebetulnya aku pernah melakukan pelayanan ke yatim piatu tapi aku merasa seperti bukan di sana aku harus bertindak. Pernah aku membayangkan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, sangat pelosok dan melakukan sesuatu, menjadi bermanfaat bagi orang-orang di pelosok, tapi sekali lagi itu hanya apa yang pernah aku bayangkan.

Kehidupan modern membuatku harus mengikuti (atau tepatnya 'terpaksa') perubahan. Tapi kembali aku berpikir, inikah aku, atau inikah jalan yang harus aku pilih? Pernah aku berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan kepadaku jalan yang mana yang harus aku tempuh, tapi sekali lagi aku masih bertanya-tanya apakah ke sini jalannya Tuhan, kenapa lewat sini. Sampai saat ini aku belum mendapat jawaban harus kemana lagi aku berjalan. Kemana lagi aku akan dibawa. Aku selalu berdoa, Tuhan tunjukkan jalan-Mu kepadaku jadi aku tahu harus lewat mana. Aku belum tahu memang ini jalannya atau bukan tapi aku selalu yakin, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang harus aku lalui untuk dapat menjadi bermanfaat bahkan melakukan pengorbanan yang sejati.

Pengorbanan

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 11 Juni 2016
With 0komentar
Tag :

Uttaran vs. Devil May Cry

| Jumat, 03 Juni 2016
Baca selengkapnya »

Halo kawan-kawan baca semuanya. Apa kabar nih? Sepertinya sudah lama ya diriku tak kembali menulis dan aku yakin dari 10,000 orang yang baca, adalah satu orang yang kangen sama tulisan-tulisanku ini. Nah sebelumnya aku ucapkan selamat menikmati bulan Juni. Tidak terasa sudah memasuki bulan Juni dan artinya sudah masuk pertengahan tahun. Apa saja yang sudah kalian lakukan sekitar 5 bulan ini? Ohya selamat dan sukses buat yang lulus ujiannya dan yang baru selesai ujian. Semoga saja mendapatkan hasil yang diharapkan dan yang terbaik tentunya.

Oke kita masuk saja ke dalam pembahasan kali ini.

Akhir-akhir jagat Indonesia (halah) terutama dikalangan emak-emak lagi dihebohkan dengan sebuah serial drama yang sepertinya tidak akan pernah habis episodenya dan memakan waktu yang sangat-sangat lama. Diriku tak habis pikir apa bagusnya sih dengan serial ini? Sekalipun aku gak suka dan sebal dengan serial ini tapi demi membuat tulisan ini aku sengaja liat beberapa episode, tapi bukan berarti aku hanya duduk diam selama tiga jam. Diriku tak tahan kalau seperti itu apalagi diriku sudah sebal jadi ya cuman sebentar sekali. Ohya kalau ingin tahu apa serial dramanya yaitu seperti yang tertulis di atas dan gambarnya yaitu drama India, secara khusus Uttaran.

Kalian mau tahu kenapa aku melakukan riset ini? Karena 'wabah' Uttaran ini dialami oleh emak-emak di sekitar rumahku termasuk emakku (mamaku). Dalam satu minggu pasti mamaku sudah mantengin depan TV hanya untuk nonton ini. Sekalipun mamaku lagi di dapur atau di kamar, ketika aku ganti channelnya, pasti mamaku akan keluar dan berkata "JANGAN DIPINDAH, LAGI DITONTON" padahal posisinya bukan di depan TV. Pokoknya kalau mamaku sudah nyalain TV dan masuk ke saluran TV yang menayangkan sinema tersebut maka diriku tak bisa berbuat banyak selain mendekam di dalam kamar sambil internetan atau membantu ayahku di bawah.

Beda mamaku, beda dengan diriku. Kalau mamaku sukanya nonton Uttaran, aku sukanya main game dan game yang masih aku gandrungi hingga saat ini adalah Devil May Cry, bahkan aku sampai ikut grup FB yang khusus tentang Devil May Cry untuk dapat trik-trik, bahkan sampai mencari link download gamenya. Ya intinya beda deh antara diriku dan mamaku.

Tapi setelah aku perhatikan beberapa lama ini ternyata baik mamaku maupun diriku sebetulnya sama saja lho sebenarnya. Kami memiliki hobi yang sangat kami senangi, saat ini sih mamaku hobi nonton serial drama Uttaran kalau aku main game Devil May Cry. Kami juga punya kebiasaan kalau lagi asyik melakukan hobi, gak bisa diganggu. Kayak tadi yang aku bahas di atas, mamaku gak bisa biarin channel TV nya dipindahin ketika lagi tayang serial drama India kesayangannya dan aku juga kalau lagi asyik main game ya gak mau diganggu. Selain itu kami pun hapal segala tetek bengeknya tentang hal yang kami sukai.

Jadi sebetulnya yang namanya hobi, kesukaan itu ya bagian dari privasi seseorang. Suatu pilihan, tak bisa dipaksakan. Kayak mamaku, dia gak akan mau dan gak akan bisa kalau aku ajakin main game seperti yang aku mainkan dan aku walaupun bisa mengikuti jalan cerita serial dramanya, tapi karena udah gak suka sejak awal ya aku gak akan tahan untuk duduk diam menontonnya. Melihat hal ini aku juga jadi melihat bangsa ini. Apalagi kalau bukan Bangsa Indonesia.

Sedih kalau aku memperhatikan bangsa ini. Hak setiap orang dijamin dalam hitam di atas putih tapi dalam lapangannya malah tidak ada. Pedang hukum ini hanya digunakan oleh kaum "mayor" atau kaum "beruang" dan kaum "berkuasa". Yang tidak memiliki ketiganya hanya menerima hujaman dari kaum-kaum yang memegang pedangnya. Tak bisa melawan meski melewati jalan yang benar sesuai dengan tracknya. Tapi ya ini lah bangsaku.

Baik buruknya aku cinta
Hebat jeleknya aku simpan
Untung ruginya aku genggam
Halus kasarnya aku peluk

Seperti aku mencintai keluargaku dan kekasihku dulu
Demikianlah cintaku pada bangsa ini
Seutuhnya, sepenuhnya, segenapnya

Bagimu Negri
Jiwa ragaku.

Uttaran vs. Devil May Cry

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 03 Juni 2016
With 0komentar

Untukmu yang Membuatku Gila

| Jumat, 06 Mei 2016
Baca selengkapnya »
Sebuah deretan bilangan asli diawali angka satu
Deretan huruf diawali dengan huruf 'a'
Perhitungan hari diawali dengan pagi
Sebuah garis dimulai dengan sebuah titik
Sebuah buku diawali dengan sampul depan
Barisan dimulai dengan bagian depan
Kehidupan diawali dengan sebuah kelahiran

Jika segala hal dalam hidup ini memiliki sebuah awal
Maka bisa kukatakan kondisiku dimulai dengan melihat
Dimulai dengan mendengar
Dimulai dengan mengenal
Untuk pertama kalinya

Aku selalu percaya
Jika kini aku selalu melihatnya
Jika kini aku selalu memikirnya
Jika kini aku selalu mengharapkannya

Sebetulnya sudah lama
Sudah panjang waktunya
Sudah sejauh ini adanya

Aku berdiri dari jauh
Berdiri untuk mengharap
Berdiri untuk menatap
Berdiri sambil berucap

Sudah terlalu lama
Aku berdiri di sana
Sudah terlalu lama
Aku hanya diam menatap
Sudah terlalu lama
Aku terdiam mengharap

Namun dengan bodohnya,
aku masih berharap
Namun dengan tololnya,
aku masih menatap
Namun dengan dungunya,
aku masih diam tetap
dalam diam

Tak sadarkah kamu
Tak pahamkah kamu
Tak menanggapkah kamu

Kamu membuatku terpaku
Kamu membuatku terbisu
Kamu membuatku hancur luluh
Kamu membuatku penasaran utuh

Bukan aku takut
tapi aku tahu diri
Bukan aku gugup
tapi aku sadar diri

Tak butuh hanya sekadar ucapan
Tak butuh hanya sekadar tindakan
Tak butuh hanya sekadar dana

Ia butuh sesuatu yang lebih besar

Sebuah pengorbanan

Saat ini perasaan ini akan kubiarkan kusimpan
Aku pastikan aku tak mengganggumu
Aku pastikan aku tak melukaimu
Aku pastikan aku tak menjatuhkanmu

Hingga waktu yang tepat datang



Untukmu yang Membuatku Gila

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 06 Mei 2016
With 0komentar

Menjadi Seorang Guru

| Sabtu, 30 April 2016
Baca selengkapnya »
Hai, halo, ciao, hola, hello...

Wuah udah lama ya rupanya diriku tak pernah menulis lagi karena satu dan lain hal, aku sempat terhenti untuk menulis. Lama banget sih dan benar-benar lama sekali. Berhubung ini adalah hari terakhir dalam bulan April, aku jadi sempatkan untuk menulis yah walau sekarang hanya terlihat seperti celoteh atau curcol barangkali, tapi ya semoga dari tulisanku yang perdana (lagi?) ini aku bisa punya bayangan akan seperti apa selanjutnya gaya menulisku.

Akhir-akhir ini aku punya semacam 'kesibukan' baru yaitu mengajar. Bukan mengajar di kelas-kelas privat walau sebetulnya ada keinginan untuk melakukan les privat, tapi sekarang ini aku sedang mengajar dalam kelas sekolah minggu. Itu loh, kelas belajar Alkitab. Saat ini aku mengajar anak-anak kelas Madya yang kalau dilihat dari umurnya itu sekitar anak umur kelas 5 sampai 6 SD. Gaya mengajar mereka itu begitu unik. Mereka baru aktif ketika sudah dipicu oleh gurunya yang aktif. Mereka pendiam sekali. Ditanya ini itu, kadang jawab, kadang tidak. Ini menjadi tantangan sebetulnya bagiku untuk membuat kelas yang penuh dengan interaksi, tapi dengan alat-alat peraga yang sengaja kadang aku ciptakan atau buat sendiri dan games kecil, setidaknya kelas sekolah mingguku sedikit hidup.

Anak-anak di kelasku ada tujuh anak, tiga orang lelaki dan empat orang perempuan, Mereka suka sekali diam, aku perlu bersabar untuk memicu mereka. Aku sendiri sebetulnya sadar kalau aku gak punya kemampuan lebih untuk mengajar, tapi aku memang ingin mengajar karena aku lihat di tayangan televisi anak-anak seumuran mereka cepat dewasa. Maksudnya cepat dewasa tuh ya dalam artian yang negatif, bukan yang positif. Aku ingin berada di antara mereka untuk menunjukkan yang salah dan yang benar. Memang pada akhirnya aku yang harus mengemban tanggung jawab besar tentang proses perkembangan mereka, tapi aku selalu berdoa dan berharap agar apa yang aku ajarkan itu tidak salah dan berharap mereka bisa menentukan tujuan mereka ke depannya. Mungkin di umur mereka yang masih SD ini masih agak terlalu jauh, tapi kalau bukan dari sekarang dituntun, kapan lagi.

Aku selalu berdoa agar apa yang aku ajarkan adalah memang yang benar dan bukan yang salah.

Nah berhubung besok aku mulai mengajar lagi, jadi sampai di sini dulu ya tulisanku. Ohya nanti dalam kesempatan lain, aku akan tunjukkan anak-anak yang aku ajar. Aku sekarang istirahat dulu okay kawan-kawan baca.

Menjadi Seorang Guru

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 30 April 2016
With 0komentar
Tag :

Kisah Tentang Kita

| Selasa, 23 Februari 2016
Baca selengkapnya »
Kisah ini tidak seperti pada novel-novel romance pada umumnya karena memang bukan tentang romance  yang dimaksud oleh kebanyakan orang pahami saat ini. Kisah ini mungkin bisa dibilang seperti kisah klasik atau mungkin kisah yang terlalu 'biasa', tapi bagiku setiap kisah memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri.

Tanpa dirimu, mungkin kisah ini takkan pernah ada. Yap, kisah yang mungkin orang kebanyakan bilang adalah kisah cinta antara dua orang remaja, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seorang laki-lakinya itu adalah seorang laki-laki yang mungkin biasa saja dan mungkin sangat biasa tak seperti kebanyakn laki-laki yang kamu kenal. Laki-laki yang selalu mencoba mengatasi batas normalnya sehingga bisa menunjukkan siapa dirinya, sedangkan perempuannya adalah seorang perempuan yang penuh dengan mimpi-mimpi tapi terkadang menurunkan standar mimpinya karena pengaruh orang-orang yang ada di lingkungannya, yang selalu banyak berpikir.

Jika diperkirakan dari segala segi, sangat tidak mungkin untuk mereka berdua untuk bertemu. Mereka terpisah lautan, terpisah gunung-gunung, terpisah jarak sejauh kurang lebih 2100 km, terpisah antara suku, dan ras, terpisah antara kebudayaan sehingga jika dihitung secara mekanika kuantum, kemungkinan untuk bertemunya dalam hitungan persen adalah 0,0010275 %. Namun tanpa ada sesuatu yang menggemparkan dunia seperti perang dunia, atau bom bunuh diri, atau pengungsian besar-besaran, atau kunjungan presiden-presiden serikat, tanpa adanya badai petir, tiga tahun lalu kkurang lebih, mereka berdua bertemu di lokasi yang tak pernah mereka perkirakan dan mereka duga. Mereka berdua bertemu tanpa ekspektasi.

Mereka berdua telah bertemu, saling mengisi satu sama lain, saling mencari, saling bercanda, saling tertawa, saling menguatkan hingga akhirnya saling mengasihi. Mereka membuat sebuah janji. Yah walau kisah mereka tak didramatisasi tapi kisah-kisah berikutnya seperti kisah yang unik dan penuh dengan drama. Memang bukan drama kekanak-kanakan seperti pada sinetron-sinetron yang tidak mendidik.

Laki-laki dan perempuan itu selanjutnya disebut dengan sepasang merpati bersayap dua dan bukan empat. Kenapa bersayap dua? Karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka saling menggenggam erat namun bukan saling menguasai. Ketika yang satunya kelelahan mengepakkan sayapnya, maka pasangannya akan berjuang agar sampai di tempat peristirahatan untuk mengendurkan otot-otot sayap mereka. Ketika salah satunya merasa kelaparan, maka keduanya akan turun mencari makan. Mereka tak mungkin berpisah terlalu lama karena mereka tak dapat terbang sendirian.

Mungkin orang-orang melihat mereka sepertinya mereka tidak akur atau kurang cocok karena selalu banyak berantam. Namun mereka yang hanya melihat sekilas tak pernah mengerti bahwa cara itu adalah salah satu cara untuk saling mengenal masing-masing dari mereka. Mereka mungkin bosan oleh sebab itu mereka mengeksplorasi cara-cara yang baru yang membuat mereka bukan hanya senang-senang sesaat saja tapi bisa berbahagia seterusnya. Kisah mereka bukan kisah bocah-bocah bau kencur yang baru mengerti soal cinta, tapi mereka terus berjuang bersama, berlari bersama, menitihkan tetesan keringat bersama.

Mereka bagaikan yin dan yang. Keseimbangan. Mereka bagaikan hitam dan putih. Mereka bagaikan utara dan selatan. Sekalipun mereka benar-benar berbeda, tapi mereka bisa mengisi setiap lubang yang kosong.

Itulah kisah mereka. Dan mereka adalah dirimu dengan diriku.


Kisah Tentang Kita

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 23 Februari 2016
With 0komentar
Tag :

Gua Pertapaan Karmel

| Rabu, 20 Januari 2016
Baca selengkapnya »

Gua Pertapaan Karmel Ordo Carmelitarum Discalceatorum (12:25 WIB//20-01-2016)
Gua Pertapaan Karmel OCD (Ordo Carmelitarum Discalceatorum) adalah salah satu tempat berdoa yang aku ketahui yang berada di Kota Bandung. Tempat ini menjadi tempat yang sangat bersejarah bagiku sejak aku menginjakkan kakiku di sana. Ceritanya sudah sejak 5 tahun lalu, sebenarnya tepatnya sih empat tahun lewat tujuh bulan.

Pertama kali aku mengunjungi Gua Pertapaan Karmel ini adalah pada bulan Juli tahun 2011. Aku diajak oleh Reza (kalau mau tahu siapa dia, klik namanya) dan beberapa otang dari gerejaku untuk ikutan Reureuh (mungkin dalam bahasa Sunda dan artinya Reatret). Kegiatan ini diadakan oleh sebuah lembaga namanya Lembaga Pemahaman dan Penerapan Budaya Sunda atau singkatnya LPPBS. Lembaga ini adalah lembaga yang berkonsentrasi pada budaya Sunda dan banyak karya-karya ayang sudah dikeluarkan oleh lembaganya seperti tembang-tembang dan pupuh Sunda. Aku pernah lihat sanggarnya. Ada di Sarijadi. Nama sanggarnya Sanggar Mekar Asih. Dulu sih suka main ke sana. Ohya kembali lagi ke cerita barusan ya.

Jadi ada reatret untuk Jamaah Kristen Sunda. Aku diajak oleh Reza. Aku baru tahu kenapa Reza mengikuti kegiatan tersebut yaitu di sana ada kekasihnya Reza. Kalau sekarang sih sudah tidak ada hubungan spesial lagi. Kalau cerita soal tentang suasana reatretnya yang pasit penuh dengan suasana Sunda, tapi aku mau fokus pada tempat doanya. Saat aku mengikuti reatret, ketika ada waktu kosong, aku diajak oleh Reza dan Kevin, teman gerejaku untuk ke tempat doa Karmel. Mereka menyebutnya "Bukit Karmel" karena memang letaknya berada di daerah pegunungan dan patahan Lembang jadi disebut bukit. Lokasi tempat doa itu dekat dengan hotel tempat kami melakukan Reureuh jadi ketika ada waktu luang kami menyempatkan diri ke sana.

Doa yang pertama kali aku panjatkan di Gua Pertapaan tersebut adalah aku berdoa menggumuli keinginanku untuk bisa kuliah di ITB. Saat itu aku sudah mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negri dan aku sedang menunggu-nunggu hasilnya apakah aku bisa masuk ITB atau tidak. Jauh sebelum aku berdoa di Gua Pertapaan itu, aku sudah berdoa sejak aku beres melakukan ujiannya dan tanggal  pengumumannya bertepatan dengan ketika aku sedang reatret dan jawaban dari doaku adalah aku berhasil masuk ITB. Setelah mendapatkan pengumuman itu, aku segera ke gua pertapaan itu dan berdoa kembali untuk mengucapkan syukur.

Selanjutnya setelah aku masuk kuliah, aku banyak sekali berdoa untuk beragam macam hal di "Bukit Karmel" seperti saat aku menghadapi UTS dan UAS di perkuliahan, terus waktu aku merasa pertama kalinya aku merasa jatuh cinta, kemudian ketika aku akan melakukan perjalanan jauh, lalu ketika aku akan melakukan operasi, ketika aku menggumuli tempat untuk magang, ketika aku mau membuat tugas akhir dan terakhir ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan. Artinya hampir setiap aku merasa aku perlu berdoa bersungguh-sungguh, aku selalu datang ke tempat ini.

Sebetulnya gak masalah aku berdoa dimanapun, tapi gua pertapaan ini spertinya membuatku berada di dunia lain. Aku merasakan kekuatan ketika aku berdoa dan bertelut dan sekedar duduk di sana. Bahkan di sebelahnya ada kapel Katolik. Ketika aku masuk ke dalamnya, suasananya benar-benar merinding dan aku meraskan kekuatan ketika orang-orang berdoa di sana.

Kini sudah lima tahun aku berdoa di sana dan Gua Pertapaan Karmel menjadi saksi bisuku dalam menghadapi setiap pergumulan. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk setidaknya meluangkan waktuku sebulan sekali untuk berdoa di sana. Aku mau berperang di sana dan menang.

Gua Pertapaan Karmel

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 20 Januari 2016
With 0komentar
Tag :

Halaman Terakhir di Tahun 2015

| Kamis, 31 Desember 2015
Baca selengkapnya »
Kembali lagi di tanggal 31 Desember. Seperti yang aku pernah bilang sebelumnya, semua tanggal, atau hari itu gak ada yang lebih penting. Setiap waktu itu penting, tapi memang ada beberapa tanggal yang menarik perhatianku salah satunya ya hari ini. Tanggal 31 Desember. Tanggal ini cukup menarik bagiku karena merupakan 'juru kunci' sebelum memasuki tahun yang baru dan pasti selalu ada suara terompet dan kembang api, suara petasan dan juga mercon. Semua orang tampak memiliki semangat yang baru dan bersukacita setelah sekian bulan badannya lunglai, letih, lesu dan tidak berdaya tapi ketika mendekati tanggal ini jadi kembali bersemangat. Sebelumnya aku mau sedikit bicara tentang beberapa pengalamanku terutama masa-masa aku kuliah, masa-masa aku bersenang-senang, masa-masa aku kecapekan dan sibuk.

Cerita yang pertama adalah tentang kuliahku
.Sekarang coba perhatikan lambang dan tulisan di atas. Kalian pasti tahu dong tulisan di atas menunjukkan apa. Aku berkuliah di tempat itu dan buktinya ya map itu. Aku kuliah terbilang cepat sih walau itu hitungannya emang standar anak kuliah. Empat tahun. Gak kurang dan gak lebih. Lulusnya bareng-bareng sama teman-teman satu jurusan. Lulus sidang bulan Juli 2015 dan wisuda Oktober 2015. Kalau aku hanya bilang seperti itu ditambah dengan angka magis yang dikenal dengan sebutan ipk, aku rasa itu tidak menunjukkan kalau aku menikmati perkuliahanku. Tapi aku gak mau cerita tentang prestasi atau apalah itu namanya yang kalau diceritakan membuat orang merasa bangga pada dirinya. Aku sudah bangga dengan diriku bahkan sebelum embel-embel tulisan 'ST' disematkan di belakang namaku, aku sudah bangga dan bahagia bahkan jauh sebelum aku mengecap bangku pendidikan.

Untuk masuk universitas atau dalam hal ini institut di atas sebenarnya terhitung sulit. Kalau diibaratkan sebuah game, maka ini adalah game arcade S class. S di sini menunjuk kata Smokin' (yang pernah main game Devil May Cry atau sejenisnya pasti tahu deh kelas-kelas ini). Kenapa aku bilang kelasnya S-class? Bayangin aja ada berapa 'ekor' manusia yang rela 'buang' waktu bermain mereka dan menggantinya dengan ikut segala macam les privat inilah, les privat itulah. Les di sinilah, les di situlah hanya demi bisa masuk ke institut ini. Sebenarnya aku gak menyalahkan mereka yang emang ngambil les persiapan untuk ujian saringan masuk ini (SNMPTN, kalau sekarang sih namanya SBMPTN). Engga, aku bilang engga salah kalau ambil les ini itu. Justru memang harus benar-benar mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi yang aku benar-benar benci adalah kenapa porsi akademis selalu lebih besar dibanding porsi lainnya? 

Dari dulu aku gak suka untuk ikut les ini atau les itu kalau hubungannya sama mata pelajaran di sekolah. Aku bahkan sempat berpikir begini sama mereka yang les mata pelajaran "Hello...,ngapain aja lu di sekolah ampe kudu les segala? Pelajaran sekolah ya belajar di sekolah. Di luar sekolah lakuin hal lainnya brur." Mungkin terlalu naif atau polos dulu tapi apa yang aku katakan memang benar. Kebanyakan sekarang les-les atau kursus itu bukan membuka pikiran untuk melihat satu masalah dari sudut pandang yang berbeda, tapi justru malah membuat pikiran hanya melihat satu masalah dengan satu cara. bukan dengan segala cara yang memungkinkan. Yang diajarkan hanyalah hasil dan bukan proses sehingga kebanyakan sekarang orang maunya serba instant. Sebodo amatlah dengan prosesnya yang penting hasilnya, begitu pikir mereka. Dan kini aku bisa lihat hasilnya. Mungkin kalau aku bisa bilang aku adalah bagian dari sebagian orang yang gak pernah les, gak pernah terlalu memusingkan sisi akademis dan bisa menggapai apa yang orang-orang harapkan. Aku masuk ke institut ini tanpa banyak menghadapi kesulitan dan mematahkan stereotip orang kalau yang masuk ke institut ini kalau gak pintar ya kaya.

Selanjutnya ya aku mulai kuliah di pertengahan tahun 2011 dengan mata kuliah yang sebenarnya terhitung sudah pernah tapi pengalaman mendapatkan materinya dari sudut pandang yang baru. Ini yang aku suka sebetulnya yaitu melihat satu masalah dari sudut pandang yang beragam. Kalau dibilang selama kuliah aku gak terlalu berprestasi amat kok. Aku termasukdalam golongan mahasiswa golongan DEDEMIT. Apa itu DEDEMIT? Diemdan kalem main tidur. Tapi seperti yang kubilang, aku lebih memilih ilmunya yang aku pengin dapat. Aku sempat aktif dulu ikut kelas teater karena dulu selama sekolah aku aktif di teater. Aku belajar akting, belajar menguasai panggung, make up artist and character, belajar jadi sutradara, dan menjadi penyelenggara acara. Tapi aku gak lama di sana dan aku ikut siaran kampus. Aku dulu sempat berpikir kayaknya aku jadi penyiar aja karena aku bisa lancar siaran seperti penyiar umumnya apalagi aku punya suara 'ganteng'-nya penyiar. Kalau waktu senggang kadang nongkrong dulu ama teman kuliah atau teman radio. Baik itu di kantin, di warung pinggir jalan Ganesa, Ganyang, warung deket DU, warung pinggiran UNPAD, kawasan DAGO, atau nongkrong kayak anak gaul di mall sekitar DAGO dan Cihampelas.

Sebetulnya kalau soal main, aku paling gak suka main ke mall dan makanya pas kuliah ketika ada kesempatan main keluar kota aku pasti ikut. NIh beberapa tempat yang aku sempat kunjungi semasa kuliah dulu.
 

Kalau diurutin dari atas ke bawah adalah yang pertama aku bermain ke Karimun Jawa, itu lho pulau yang ada di Lautan Jawa di sebelah utara Jepara. Si sana banayk spot snorkling yang bagus dan gambar itu pas aku dapetnya pas bagus-bagusnya. Aku pergi ke sana bareng teman-teman di radio kampus itb. Gambar selanjutnya itu ada di Kota Tua Semarang. Nama bangunan yang ada di bealkangnya adalah Gereja Blenduk. Disebut Blenduk karena ada kubang setengah lingkaran di atas bangunannya. Terus gambar terakhir pasti kalian tahu. Ini di Yogyakarta tepatnya di simpang Jalan Malioboro. Tapi ada satu tempat yang paling sering aku kunjungi selama liburan semesteran kampus yaitu Pangandaran.

 

Aku jadi sering ke Pantai Pangandaran. Gambar yang pertama yaitu paling pojok kiri atas itu aku berfoto di  Cagar alam kalau tak salah ingat dua tahun lalu, terus foto yang sebelah kanan itu di Pantai Indah Madasari, foto ke tiga dan keempat juga di lokasi yang sama tapi foto ketiga itu di tebingnya.

Itu kalau bicara soal jalan-jalannya selama kuliah. Aku rasa aku sudah cukup puas kalau main jauhnya tapi aku masih ingin main juga sih. Jiwa petualangku masih semangat. Kalau bicara soal tugas-tugas kuliah bisa dibilang aku bukan tipe anak rajin sih tapi sebelum deadline aku selalu membereskannya. Hampir gak pernah mengalami hambatan yang berarti kecuali ada beberapa yang gak sesuai sasaran sih. Aku sempat mengulang dua mata kuliah penting tapi tidak terlalu berbahaya juga buatku karena aku bisa berjuang dan survive. Buktinya aku lulus sekarang ya walau bukan dengan hasil yang terlalu memuaskan. Tapi dengan hasil seperti itu, aku belajar untuk tetap berjuang dalam hidup dan menatap jauh ke depan. Jangan pernah membiarkan tangan ini berhenti bekerja, tidak membiarkan mata ini berhenti menatap, tidak membiarkan kaki ini berhenti melangkah, tidak membiarkan telinga ini berhenti mendengar, tidak membiarkan jantung ini berhenti berdetak, tidak membiarkan paru-paru ini berhenti bernafas dan tidak membiarkan hati ini berhenti berdoa dan berharap pada Yang Maha Kuasa (ngomong-ngomong mirip kayak film apa gitu ini quote).

Setelah aku lulus di bulan Agustus 2015, bisa dibilang aku sedang menikmati masa-masa istirahatku. Aku belum bekerja. Yang aku kerjakan adalah membuat berbagai macam lamaran kerja dan mengirim ke berbagai perusahaan. Beberapa ada yang lolos administrasi tapi ada yang gak masuk. Tapi ayahku bilang nikmati aja. Jangan takut. Pada akhirnya memang aku gak kerja selama lima bulan dulu. Lalu apa yang aku lakukan selama lima bulan? Gambar ini mungkin menjelaskan lebih baik.



Selama masa menganggurku, aku pergi main ke CIC lagi ke kebun tehnya, terus ke Kampung Gajah naik ATV, habis itu main ke Kawah Putih. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya lho ke Kawah Putih padahal udah lama di Bandung tapi baru kesampaian ke Kawah Putihnya.

Nah kado terbaik saat Natal yang aku terima adalah aku bisa mendapat pekerjaan juga akhirnya sebelum tahun 2015 berakhir. Aku bekerja di PT. CPAN, yang bekerja sama dengan Pertamina. Kalau ditanya dimana kantornya, ya di Terminal BBM Pertamina Ujungberung. Pekerjaanku adalah mengawasi bagian gantry, yaitu penyaluran BBM ke mobil tangki. Cukup banyak yang dipelajari tapi kata seniorku, belajarnya sambil lihat masalah jangan teori doang. Begitu katanya.

Ya itulah catatan terakhirku di penghujung tahun 2015. Aku berharap bisa menuliskan lebih banyak lagi tapi sekarang seperti ini dulu. Selamat bersenang-senang.

Selamat Tahun Baru 2016

Halaman Terakhir di Tahun 2015

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 31 Desember 2015
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲