Newest Post

Kisah Tentang Kita

| Selasa, 23 Februari 2016
Baca selengkapnya »
Kisah ini tidak seperti pada novel-novel romance pada umumnya karena memang bukan tentang romance  yang dimaksud oleh kebanyakan orang pahami saat ini. Kisah ini mungkin bisa dibilang seperti kisah klasik atau mungkin kisah yang terlalu 'biasa', tapi bagiku setiap kisah memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri.

Tanpa dirimu, mungkin kisah ini takkan pernah ada. Yap, kisah yang mungkin orang kebanyakan bilang adalah kisah cinta antara dua orang remaja, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seorang laki-lakinya itu adalah seorang laki-laki yang mungkin biasa saja dan mungkin sangat biasa tak seperti kebanyakn laki-laki yang kamu kenal. Laki-laki yang selalu mencoba mengatasi batas normalnya sehingga bisa menunjukkan siapa dirinya, sedangkan perempuannya adalah seorang perempuan yang penuh dengan mimpi-mimpi tapi terkadang menurunkan standar mimpinya karena pengaruh orang-orang yang ada di lingkungannya, yang selalu banyak berpikir.

Jika diperkirakan dari segala segi, sangat tidak mungkin untuk mereka berdua untuk bertemu. Mereka terpisah lautan, terpisah gunung-gunung, terpisah jarak sejauh kurang lebih 2100 km, terpisah antara suku, dan ras, terpisah antara kebudayaan sehingga jika dihitung secara mekanika kuantum, kemungkinan untuk bertemunya dalam hitungan persen adalah 0,0010275 %. Namun tanpa ada sesuatu yang menggemparkan dunia seperti perang dunia, atau bom bunuh diri, atau pengungsian besar-besaran, atau kunjungan presiden-presiden serikat, tanpa adanya badai petir, tiga tahun lalu kkurang lebih, mereka berdua bertemu di lokasi yang tak pernah mereka perkirakan dan mereka duga. Mereka berdua bertemu tanpa ekspektasi.

Mereka berdua telah bertemu, saling mengisi satu sama lain, saling mencari, saling bercanda, saling tertawa, saling menguatkan hingga akhirnya saling mengasihi. Mereka membuat sebuah janji. Yah walau kisah mereka tak didramatisasi tapi kisah-kisah berikutnya seperti kisah yang unik dan penuh dengan drama. Memang bukan drama kekanak-kanakan seperti pada sinetron-sinetron yang tidak mendidik.

Laki-laki dan perempuan itu selanjutnya disebut dengan sepasang merpati bersayap dua dan bukan empat. Kenapa bersayap dua? Karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka saling menggenggam erat namun bukan saling menguasai. Ketika yang satunya kelelahan mengepakkan sayapnya, maka pasangannya akan berjuang agar sampai di tempat peristirahatan untuk mengendurkan otot-otot sayap mereka. Ketika salah satunya merasa kelaparan, maka keduanya akan turun mencari makan. Mereka tak mungkin berpisah terlalu lama karena mereka tak dapat terbang sendirian.

Mungkin orang-orang melihat mereka sepertinya mereka tidak akur atau kurang cocok karena selalu banyak berantam. Namun mereka yang hanya melihat sekilas tak pernah mengerti bahwa cara itu adalah salah satu cara untuk saling mengenal masing-masing dari mereka. Mereka mungkin bosan oleh sebab itu mereka mengeksplorasi cara-cara yang baru yang membuat mereka bukan hanya senang-senang sesaat saja tapi bisa berbahagia seterusnya. Kisah mereka bukan kisah bocah-bocah bau kencur yang baru mengerti soal cinta, tapi mereka terus berjuang bersama, berlari bersama, menitihkan tetesan keringat bersama.

Mereka bagaikan yin dan yang. Keseimbangan. Mereka bagaikan hitam dan putih. Mereka bagaikan utara dan selatan. Sekalipun mereka benar-benar berbeda, tapi mereka bisa mengisi setiap lubang yang kosong.

Itulah kisah mereka. Dan mereka adalah dirimu dengan diriku.


Kisah Tentang Kita

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 23 Februari 2016
With 0komentar
Tag :

Gua Pertapaan Karmel

| Rabu, 20 Januari 2016
Baca selengkapnya »

Gua Pertapaan Karmel Ordo Carmelitarum Discalceatorum (12:25 WIB//20-01-2016)
Gua Pertapaan Karmel OCD (Ordo Carmelitarum Discalceatorum) adalah salah satu tempat berdoa yang aku ketahui yang berada di Kota Bandung. Tempat ini menjadi tempat yang sangat bersejarah bagiku sejak aku menginjakkan kakiku di sana. Ceritanya sudah sejak 5 tahun lalu, sebenarnya tepatnya sih empat tahun lewat tujuh bulan.

Pertama kali aku mengunjungi Gua Pertapaan Karmel ini adalah pada bulan Juli tahun 2011. Aku diajak oleh Reza (kalau mau tahu siapa dia, klik namanya) dan beberapa otang dari gerejaku untuk ikutan Reureuh (mungkin dalam bahasa Sunda dan artinya Reatret). Kegiatan ini diadakan oleh sebuah lembaga namanya Lembaga Pemahaman dan Penerapan Budaya Sunda atau singkatnya LPPBS. Lembaga ini adalah lembaga yang berkonsentrasi pada budaya Sunda dan banyak karya-karya ayang sudah dikeluarkan oleh lembaganya seperti tembang-tembang dan pupuh Sunda. Aku pernah lihat sanggarnya. Ada di Sarijadi. Nama sanggarnya Sanggar Mekar Asih. Dulu sih suka main ke sana. Ohya kembali lagi ke cerita barusan ya.

Jadi ada reatret untuk Jamaah Kristen Sunda. Aku diajak oleh Reza. Aku baru tahu kenapa Reza mengikuti kegiatan tersebut yaitu di sana ada kekasihnya Reza. Kalau sekarang sih sudah tidak ada hubungan spesial lagi. Kalau cerita soal tentang suasana reatretnya yang pasit penuh dengan suasana Sunda, tapi aku mau fokus pada tempat doanya. Saat aku mengikuti reatret, ketika ada waktu kosong, aku diajak oleh Reza dan Kevin, teman gerejaku untuk ke tempat doa Karmel. Mereka menyebutnya "Bukit Karmel" karena memang letaknya berada di daerah pegunungan dan patahan Lembang jadi disebut bukit. Lokasi tempat doa itu dekat dengan hotel tempat kami melakukan Reureuh jadi ketika ada waktu luang kami menyempatkan diri ke sana.

Doa yang pertama kali aku panjatkan di Gua Pertapaan tersebut adalah aku berdoa menggumuli keinginanku untuk bisa kuliah di ITB. Saat itu aku sudah mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negri dan aku sedang menunggu-nunggu hasilnya apakah aku bisa masuk ITB atau tidak. Jauh sebelum aku berdoa di Gua Pertapaan itu, aku sudah berdoa sejak aku beres melakukan ujiannya dan tanggal  pengumumannya bertepatan dengan ketika aku sedang reatret dan jawaban dari doaku adalah aku berhasil masuk ITB. Setelah mendapatkan pengumuman itu, aku segera ke gua pertapaan itu dan berdoa kembali untuk mengucapkan syukur.

Selanjutnya setelah aku masuk kuliah, aku banyak sekali berdoa untuk beragam macam hal di "Bukit Karmel" seperti saat aku menghadapi UTS dan UAS di perkuliahan, terus waktu aku merasa pertama kalinya aku merasa jatuh cinta, kemudian ketika aku akan melakukan perjalanan jauh, lalu ketika aku akan melakukan operasi, ketika aku menggumuli tempat untuk magang, ketika aku mau membuat tugas akhir dan terakhir ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan. Artinya hampir setiap aku merasa aku perlu berdoa bersungguh-sungguh, aku selalu datang ke tempat ini.

Sebetulnya gak masalah aku berdoa dimanapun, tapi gua pertapaan ini spertinya membuatku berada di dunia lain. Aku merasakan kekuatan ketika aku berdoa dan bertelut dan sekedar duduk di sana. Bahkan di sebelahnya ada kapel Katolik. Ketika aku masuk ke dalamnya, suasananya benar-benar merinding dan aku meraskan kekuatan ketika orang-orang berdoa di sana.

Kini sudah lima tahun aku berdoa di sana dan Gua Pertapaan Karmel menjadi saksi bisuku dalam menghadapi setiap pergumulan. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk setidaknya meluangkan waktuku sebulan sekali untuk berdoa di sana. Aku mau berperang di sana dan menang.

Gua Pertapaan Karmel

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 20 Januari 2016
With 0komentar
Tag :

Halaman Terakhir di Tahun 2015

| Kamis, 31 Desember 2015
Baca selengkapnya »
Kembali lagi di tanggal 31 Desember. Seperti yang aku pernah bilang sebelumnya, semua tanggal, atau hari itu gak ada yang lebih penting. Setiap waktu itu penting, tapi memang ada beberapa tanggal yang menarik perhatianku salah satunya ya hari ini. Tanggal 31 Desember. Tanggal ini cukup menarik bagiku karena merupakan 'juru kunci' sebelum memasuki tahun yang baru dan pasti selalu ada suara terompet dan kembang api, suara petasan dan juga mercon. Semua orang tampak memiliki semangat yang baru dan bersukacita setelah sekian bulan badannya lunglai, letih, lesu dan tidak berdaya tapi ketika mendekati tanggal ini jadi kembali bersemangat. Sebelumnya aku mau sedikit bicara tentang beberapa pengalamanku terutama masa-masa aku kuliah, masa-masa aku bersenang-senang, masa-masa aku kecapekan dan sibuk.

Cerita yang pertama adalah tentang kuliahku
.Sekarang coba perhatikan lambang dan tulisan di atas. Kalian pasti tahu dong tulisan di atas menunjukkan apa. Aku berkuliah di tempat itu dan buktinya ya map itu. Aku kuliah terbilang cepat sih walau itu hitungannya emang standar anak kuliah. Empat tahun. Gak kurang dan gak lebih. Lulusnya bareng-bareng sama teman-teman satu jurusan. Lulus sidang bulan Juli 2015 dan wisuda Oktober 2015. Kalau aku hanya bilang seperti itu ditambah dengan angka magis yang dikenal dengan sebutan ipk, aku rasa itu tidak menunjukkan kalau aku menikmati perkuliahanku. Tapi aku gak mau cerita tentang prestasi atau apalah itu namanya yang kalau diceritakan membuat orang merasa bangga pada dirinya. Aku sudah bangga dengan diriku bahkan sebelum embel-embel tulisan 'ST' disematkan di belakang namaku, aku sudah bangga dan bahagia bahkan jauh sebelum aku mengecap bangku pendidikan.

Untuk masuk universitas atau dalam hal ini institut di atas sebenarnya terhitung sulit. Kalau diibaratkan sebuah game, maka ini adalah game arcade S class. S di sini menunjuk kata Smokin' (yang pernah main game Devil May Cry atau sejenisnya pasti tahu deh kelas-kelas ini). Kenapa aku bilang kelasnya S-class? Bayangin aja ada berapa 'ekor' manusia yang rela 'buang' waktu bermain mereka dan menggantinya dengan ikut segala macam les privat inilah, les privat itulah. Les di sinilah, les di situlah hanya demi bisa masuk ke institut ini. Sebenarnya aku gak menyalahkan mereka yang emang ngambil les persiapan untuk ujian saringan masuk ini (SNMPTN, kalau sekarang sih namanya SBMPTN). Engga, aku bilang engga salah kalau ambil les ini itu. Justru memang harus benar-benar mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi yang aku benar-benar benci adalah kenapa porsi akademis selalu lebih besar dibanding porsi lainnya? 

Dari dulu aku gak suka untuk ikut les ini atau les itu kalau hubungannya sama mata pelajaran di sekolah. Aku bahkan sempat berpikir begini sama mereka yang les mata pelajaran "Hello...,ngapain aja lu di sekolah ampe kudu les segala? Pelajaran sekolah ya belajar di sekolah. Di luar sekolah lakuin hal lainnya brur." Mungkin terlalu naif atau polos dulu tapi apa yang aku katakan memang benar. Kebanyakan sekarang les-les atau kursus itu bukan membuka pikiran untuk melihat satu masalah dari sudut pandang yang berbeda, tapi justru malah membuat pikiran hanya melihat satu masalah dengan satu cara. bukan dengan segala cara yang memungkinkan. Yang diajarkan hanyalah hasil dan bukan proses sehingga kebanyakan sekarang orang maunya serba instant. Sebodo amatlah dengan prosesnya yang penting hasilnya, begitu pikir mereka. Dan kini aku bisa lihat hasilnya. Mungkin kalau aku bisa bilang aku adalah bagian dari sebagian orang yang gak pernah les, gak pernah terlalu memusingkan sisi akademis dan bisa menggapai apa yang orang-orang harapkan. Aku masuk ke institut ini tanpa banyak menghadapi kesulitan dan mematahkan stereotip orang kalau yang masuk ke institut ini kalau gak pintar ya kaya.

Selanjutnya ya aku mulai kuliah di pertengahan tahun 2011 dengan mata kuliah yang sebenarnya terhitung sudah pernah tapi pengalaman mendapatkan materinya dari sudut pandang yang baru. Ini yang aku suka sebetulnya yaitu melihat satu masalah dari sudut pandang yang beragam. Kalau dibilang selama kuliah aku gak terlalu berprestasi amat kok. Aku termasukdalam golongan mahasiswa golongan DEDEMIT. Apa itu DEDEMIT? Diemdan kalem main tidur. Tapi seperti yang kubilang, aku lebih memilih ilmunya yang aku pengin dapat. Aku sempat aktif dulu ikut kelas teater karena dulu selama sekolah aku aktif di teater. Aku belajar akting, belajar menguasai panggung, make up artist and character, belajar jadi sutradara, dan menjadi penyelenggara acara. Tapi aku gak lama di sana dan aku ikut siaran kampus. Aku dulu sempat berpikir kayaknya aku jadi penyiar aja karena aku bisa lancar siaran seperti penyiar umumnya apalagi aku punya suara 'ganteng'-nya penyiar. Kalau waktu senggang kadang nongkrong dulu ama teman kuliah atau teman radio. Baik itu di kantin, di warung pinggir jalan Ganesa, Ganyang, warung deket DU, warung pinggiran UNPAD, kawasan DAGO, atau nongkrong kayak anak gaul di mall sekitar DAGO dan Cihampelas.

Sebetulnya kalau soal main, aku paling gak suka main ke mall dan makanya pas kuliah ketika ada kesempatan main keluar kota aku pasti ikut. NIh beberapa tempat yang aku sempat kunjungi semasa kuliah dulu.
 

Kalau diurutin dari atas ke bawah adalah yang pertama aku bermain ke Karimun Jawa, itu lho pulau yang ada di Lautan Jawa di sebelah utara Jepara. Si sana banayk spot snorkling yang bagus dan gambar itu pas aku dapetnya pas bagus-bagusnya. Aku pergi ke sana bareng teman-teman di radio kampus itb. Gambar selanjutnya itu ada di Kota Tua Semarang. Nama bangunan yang ada di bealkangnya adalah Gereja Blenduk. Disebut Blenduk karena ada kubang setengah lingkaran di atas bangunannya. Terus gambar terakhir pasti kalian tahu. Ini di Yogyakarta tepatnya di simpang Jalan Malioboro. Tapi ada satu tempat yang paling sering aku kunjungi selama liburan semesteran kampus yaitu Pangandaran.

 

Aku jadi sering ke Pantai Pangandaran. Gambar yang pertama yaitu paling pojok kiri atas itu aku berfoto di  Cagar alam kalau tak salah ingat dua tahun lalu, terus foto yang sebelah kanan itu di Pantai Indah Madasari, foto ke tiga dan keempat juga di lokasi yang sama tapi foto ketiga itu di tebingnya.

Itu kalau bicara soal jalan-jalannya selama kuliah. Aku rasa aku sudah cukup puas kalau main jauhnya tapi aku masih ingin main juga sih. Jiwa petualangku masih semangat. Kalau bicara soal tugas-tugas kuliah bisa dibilang aku bukan tipe anak rajin sih tapi sebelum deadline aku selalu membereskannya. Hampir gak pernah mengalami hambatan yang berarti kecuali ada beberapa yang gak sesuai sasaran sih. Aku sempat mengulang dua mata kuliah penting tapi tidak terlalu berbahaya juga buatku karena aku bisa berjuang dan survive. Buktinya aku lulus sekarang ya walau bukan dengan hasil yang terlalu memuaskan. Tapi dengan hasil seperti itu, aku belajar untuk tetap berjuang dalam hidup dan menatap jauh ke depan. Jangan pernah membiarkan tangan ini berhenti bekerja, tidak membiarkan mata ini berhenti menatap, tidak membiarkan kaki ini berhenti melangkah, tidak membiarkan telinga ini berhenti mendengar, tidak membiarkan jantung ini berhenti berdetak, tidak membiarkan paru-paru ini berhenti bernafas dan tidak membiarkan hati ini berhenti berdoa dan berharap pada Yang Maha Kuasa (ngomong-ngomong mirip kayak film apa gitu ini quote).

Setelah aku lulus di bulan Agustus 2015, bisa dibilang aku sedang menikmati masa-masa istirahatku. Aku belum bekerja. Yang aku kerjakan adalah membuat berbagai macam lamaran kerja dan mengirim ke berbagai perusahaan. Beberapa ada yang lolos administrasi tapi ada yang gak masuk. Tapi ayahku bilang nikmati aja. Jangan takut. Pada akhirnya memang aku gak kerja selama lima bulan dulu. Lalu apa yang aku lakukan selama lima bulan? Gambar ini mungkin menjelaskan lebih baik.



Selama masa menganggurku, aku pergi main ke CIC lagi ke kebun tehnya, terus ke Kampung Gajah naik ATV, habis itu main ke Kawah Putih. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya lho ke Kawah Putih padahal udah lama di Bandung tapi baru kesampaian ke Kawah Putihnya.

Nah kado terbaik saat Natal yang aku terima adalah aku bisa mendapat pekerjaan juga akhirnya sebelum tahun 2015 berakhir. Aku bekerja di PT. CPAN, yang bekerja sama dengan Pertamina. Kalau ditanya dimana kantornya, ya di Terminal BBM Pertamina Ujungberung. Pekerjaanku adalah mengawasi bagian gantry, yaitu penyaluran BBM ke mobil tangki. Cukup banyak yang dipelajari tapi kata seniorku, belajarnya sambil lihat masalah jangan teori doang. Begitu katanya.

Ya itulah catatan terakhirku di penghujung tahun 2015. Aku berharap bisa menuliskan lebih banyak lagi tapi sekarang seperti ini dulu. Selamat bersenang-senang.

Selamat Tahun Baru 2016

Halaman Terakhir di Tahun 2015

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 31 Desember 2015
With 0komentar
Tag :

Back To Blogging

| Rabu, 21 Oktober 2015
Baca selengkapnya »
Halo-halo teman baca. Waaah sudah lama ya tak nongol daku nih di blog. Sudah sekitar enam bulan nih daku tak menelurkan kembali hasil tulisanku. Gimana kabar teman-teman baca sekalian? Pasti pada biasa aja ya, ato malah biasa banget? Kalo aku sih luarrrr biasaaaa.... (maksudnya biasa di luar gitu). Rupanya sudah lama juga ya daku tidak menulis blog lagi.. Padahal biasanya daku selalu berceloteh riang walau hanya beberapa ekor saja yang melihat (read : membaca) celotehanku yang tertuang di blog ini.

Kesempatan kali ini daku hanya mau menyapa saja. Tak lebih dan tak kurang karena yang lebih itu dimiliki oleh Mas Tu*ul dan yang kurang itu dimiliki oleh Kang Uhle (bukan nama sebenarnya dong). Kalau teman-teman baca perhatikan kegiatanku selama enam bulan tidak menulis blog itu disibukkan dengan membuat tugas akhir karena kebetulan daku ini mahasiswa tingkat akhir dan selama dua bulan waktuku tersita untuk membereskan baik makalah, proyek, paper buku TA dan dokumen-dokumen kelengkapan untuk persiapan sidang. Wiiidiih, banyak amat ya udah kayak orang penting aja ya. Ya dibilang penting sebenarnya gak juga tapi kalo dibilang gak sebetulnya ya penting sih kalau dipikir-pikir lagi. Jadi inget salah satu acara di teve nama apaan sih ya? Duh lupa daku. Udahlah kan daku sekarang mau ngebahas soal enam bulan yang menghilang dan bukan ngebahas acara-acara teve begituan.

Dua bulan pertama kan tadi udah dibahas ya teman-teman baca kalau daku sibuk ngurusin masa-masa akhirku sebagai manusia terpelajar. Nah setelah dikasih toga dan disidang bulan Agustus kemarin maka aku masuk dalam fasa pengangguran. Tapi aku gak mau disebut sebagai pengangguran sebab daku banyak kegiatannya nih, ya setidaknya sampai saat ini walau tidak banyak juga sih yang daku lakukan. Hehehehe....

Sebetulnya banyak kegiatan tapi karena saking banyaknya gak punya waktu untuk menulis kembali nih teman-teman baca. Selain karena kesibukanku masalah lainnya seperti biasa hal sepele yang membuat daku vakum enam bulan ini adalah karena daku sudah tak pasang akses internet lagi. Huhuhuhuhu.... Ini pun daku sempetin ke warnet hanya sekedar menyapa teman-teman baca lho. Doakan saja ya teman-teman baca kiranya daku dapat suatu pekerjaan jadi bisa main dan bisa menulis lagi dan teman-teman baca dapat hiburan lagi seperti biasanya dari daku nih.

Salam hangat dari daku


Back To Blogging

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 21 Oktober 2015
With 0komentar

Ku Genggam Tangan Mu

| Selasa, 20 Oktober 2015
Baca selengkapnya »
Sudah selama ini kita bersama. Melewati banyak suka dan duka. Menghadapi berbagi rintangan dan melalui berbagai perjuangan yang panjang. Tangan kita masih tergenggam erat. Kita memang dari dua dunia yang berbeda. Kita berada di kutub-kutub ekstrem. Tampaknya memang seperti itulah apa yang dilihat orang-orang kebanyakn dari luar. Tapi kita tidak peduli dengan mereka, atau tepatnya kita bilang ‘siapa mereka?’.

Ya. Kamu adalah seseorang yang kini kugenggam tangannya. Tak pernah lelah aku menggenggamnya. Dua puluh empat bulan itu sama dengan dua tahun. Selama itulah aku menggenggam tanganmu, menggenggam hatimu.

Aku tahu segala tangismu, segala sedihmu, segala sukarmu. Aku tahu segala senangmu, kegembiraanmu dan keceriaanmu. Setiap kita berpandangan, aku selalu menatapmu lurus. Menatap ke dalam matamu. Menatap ke dalam isi batok kepalamu. Menatap jauh ke dalam hatimu. Setiap kita bicara, kudengar suaramu dari mulutmu. Kudengar lenguhan nafasmu. Kudengar isakan tangismu. Kudengan nada bicaramu. Kudengar kata demi kata.

Kini tetaplah disampingku. Biarlah aku tetap menggenggammu erat. Penuh dengan kehangatan. Penuh dengan cinta. Penuh dengan kepastian. Aku tak bisa menjamin ke depannya akan lebih mudah, tapi aku bisa menjamin kalau genggaman tangan ini takkan pernah aku lepaskan sekalipun. Bahkan hanya untuk sedetik pun.



Ku Genggam Tangan Mu

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 20 Oktober 2015
With 0komentar

Smart Phone and Idiot People

| Jumat, 17 April 2015
Baca selengkapnya »


Luangkan waktumu sejenak untuk melihat video ini. Setelah melihat video ini, lihatlah pada diri sendiri dan renungkanlah, apakah kita seperti itu. Terkadang aku juga berpikir apakah kita sudah berubah?

Aku berpikir akan menulis dalam bentuk tulisan tangan kembali dan sedikit mengurangi menggunakan internet sepertinya.

LEPASKAN SMARTPHONE MU dan JADILAH SMARTPEOPLE


Smart Phone and Idiot People

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 17 April 2015
With 0komentar

Belajar Seperti Gunung Api

| Sabtu, 11 April 2015
Baca selengkapnya »
Halo-halo...teman-teman baca semuanya! Apa kabarnya nih? Biasa banget kah atau ya biasa ajalah keadaannya? Kalau aku sih biasa banget di luar tapi luar biasa di dalam. Hahahahaha.....
Tulisanku kali ini akan bercerita tentang gunung api lho. Kalau ada yang takut buat bacanya, boleh kok gak ngelanjutin. Tapi pasti nyesel deh kalo gak ngelanjutin bacanya karena kalian hanya akan menyia-nyiakan waktu kalian untuk mengklik link ini. Jadi saranku sih terusin aja ya bacanya, kalau boleh dishare juga. Hehehehe......(ngarep)


Kalau melihat gambar gunung berapi itu, apa sih yang teman-teman pikirkan pertama kali? Pasti yang pertama adalah bencana alam, lalu selanjutnya awan panas atau orang Jawa bilang wedush gembel dan selanjutnya pasti tentang hujan abu, lahar dingin dan kekeringan. Ya aku bilang benar sih, dan tidak ada yang salah. Tapi, terkadang aku suka berkhayal andai gunung berapi tersebut adalah sesosok manusia, maka manusia seperti apakah dia?

Aku pun mulai berkhayal bahwa gunung berapi itu diibaratkan sesosok manusia. Jika dilihat perilakunya, dia selalu menyemburkan segala sesuatu dari lubang kawahnya. Semuanya dia berikan, baik itu adalah lahar, lava, batuan panas, abu vulkanik, awan panas dan api tentunya. Kalau aku perhatikan maka sifat dari gunung berapi adalah memiliki totalitas dalam tindakannya. Dia selalu memberi dan bahkan memberi semua yang ada dalam isi perutnya. Dari hal ini aku belajar bahwa seharusnya manusia bisa belajar seperti gunung berapi. Belajar apa? Yaitu belajar untuk memberi tanpa menunggu-nunggu, memberi dengan kemampuan maksimal dan dengan sungguh-sungguh. Pernah lihat gak gunung berapi yang udah mau meletus, eh yang keluar cuman awan panas tanpa ada yang lainnya? Gak pernah kan. Sekalipun diawali dengan awan panas, tapi pasti selalu ada rentetan kejadian selanjutnya seperti adanya lahar.

Pelajaran lainnya adalah gunung berapi itu sifatnya selalu memberi dan tak pernah menuntut untuk mendapat balasan. Iya 'kan? Itu artinya sama juga dengan mengasihi dengan tulus, tidak hitung-hitungan untung ruginya. Coba bandingkan dengan kita sendiri deh, apakah kita sudah seperti gunung berapi itu dalam hal memberi? Jangan bilang aku menggurui kalian ya, tapi aku juga belajar kok bareng-bareng ama kalian karena aku juga baru menemukan ini ketika melihat gunung berapi lho.

Pelajaran terakhir yang aku bisa ambil dari gunung berapi adalah selalu menerima tanpa mengeluh. Ketika hujan turun, kawahnya pasti terisi air, dan tidak mungkin gunung berapi mengelaknya. Selain itu ketika ada orang melemparkan sesuatu ke dalam kawahnya, ia hanya bisa menerima dan tidak menolaknya. Pelajaran berikutnya adalah bersabar dalam setiap keadaan. Jangan cepat bereaksi karena lingkungan sekitar. Selain itu jangan mengingat-ingat kesalahan yang dilakukan orang lain hingga akhirnya malah menjadi dendam tetapi biarkanlah itu menjadi 'terbakar' di dalam 'kawah'-mu dan lanjutkanlah hidup.

Itulah tiga buah pelajaran yang aku ambil dari gunung berapi. Mungkin inilah mengapa kita perlu kembali belajar pada alam, karena dari alamlah segala ilmu berasal. Semoga tulisanku kali ini benar-benar berbobot ya buat teman-teman baca semua. Selamat belajar!

Belajar Seperti Gunung Api

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 11 April 2015
With 1 komentar:

Ketika "Deadline" Menghadang....

| Kamis, 02 April 2015
Baca selengkapnya »
Walau badai menghadang....
Ingatlah kukan selalu setia menjagamu....

Aaaah...itukan kata lagu.

Hai...hai...hai...teman-teman baca semua. Sudah sebulan rasanya daku sudah tidak menulis lagi. Kali ini di hari yang baru, daku mau menulis lagi.Sebelum hari ini berlalu, dan sudah masuk ke tanggal yang baru, daku mau mengucapkan....

FOOLS in APRIL
Yah, walau sebetulnya daku pun tidak ikut melaksanakan 'ritual' April Mop sih tapi bolehlah ya daku mengucapkan itu?

Akhir-akhir ini kalau teman-teman baca semua sedang bertanya-tanya kenapa daku tak pernah nongol lagi, ini karena daku sedang dikejar-kejar deadline. Siapa deadline? Anak tetangga mana itu? Tenang, tenang teman-teman bacaku. Deadline itu 'hanya' sebuah istilah. Tapi sekalipun itu sebuah istilah, tapi setiap orang yang dengernya pasti bakal alergi, bakal batuk-batuk, sakit kepala dari yang sakit biasa sampai migrain, terus berujung pada batuk pilek, batuk berdahak dan sesak napas (eeh bentar, kok malah jadi ngomongin penyakit ya? Balik lagi yuk maree....). Jadi ada tugas yang sedang bersiap-siap 'muntah' karena tugasnya harus dikumpulkan besok. Dimulai dari laporan, presentasi hingga pembuatan dokumen.

Beruntung dua diantaranya sudah kelar, bahkan sekarang pun, sebelum daku mulai mencorat-coret laman ini (baca : menulis), sudah beres juga. Nah tadi sambil aku membuat dokumen, dan laporan, kebetulan daku mampir ke suatu kafe. Kafe yang biasa daku kunjungi itu lho, teman-teman baca. Tempat minum kopi dan teh. Dan karena kebetulan aku lagi dikejar deadline, daku jadi sedikit ngelembur di sana sambil ditemani cemilan hangat. Seperti ini nih

Ini Vanilla late dan Salt & Pepper Tofu yang
menemaniku mengejar deadline
Sambil menikmati cemilan dan suguhan latte panas, daku membuat tugas yang deadlinenya besok. Nah kebetulan suasana di kafe lagi ramai dan ramainya bener-bener ramai dengan anak-anak kostan begitu. Soalnya aku lihat mereka datang bergerombol sambil membawa laptop dan mengerjakan sesuatu di sana. Wah, rupanya bukan daku doang ya yang sedang dikejar deadline, begitu pikirku sambil menyomot tofu di atas piring dengan garpu sampai habis tak bersisa dan tersadar kalau tugasku masih belum beres. Hingga akhirnya baru daku bereskan sampai jam sepuluh tadi.

Sebenernya pesan daku dengan tulisan ini adalah, jangan pernah melakukan sistem sks sendirian. Nah lho, apa itu sistem sks? Sks itu bukan artinya satuan kredit semester yang biasa diambil oleh anak-anak kuliahan, tapi maknanya adalah sistem kebut semalam. Nah kalau mau pakai sistem sks jangan sendirian, tapi ramai-ramailah supaya ada yang saling menyemangati dalam melakukan dan menyelesaikan tugas kalian. Kan jadi enak ngerjainnya kalau bareng-bareng. Tul gak? Selain itu sasran lainku, jangan lupakan cemilan untuk menemani dan musik. Cemilan akan membantu kita berpikir dan memberi energi tambahan dan musik akan menolong kita menenangkan jiwa raga asal musik yang dipasang bukan musik sendu macam lagu "Aku Ra Bobo" atau "Sakitnya Tuh Di Jidat". Jangan setel musik itu, soalnya nanti yang ada malah baper deh. Eeh ntar lagi ya. Udahan dulu. Waktunya mengistirahatkan kepalaku dan pikiranku.

Selamat malam dan selamat tidur teman-teman baca.

Ketika "Deadline" Menghadang....

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 02 April 2015
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲