Newest Post

Cahaya, Bukit, dan Aku

| Kamis, 21 Maret 2013
Baca selengkapnya »
Bunga-bunga yang bermekaran sore ini sekarang kembali menguncup karena mentari telah kembali tertidur. Para mamalia kecil sudah masuk ke dalam sarangnya. Ada yang di dalam tanah, di dalam batang pohon, ada juga yang di balik batu-batu besar di bukit. Burung-burung sudah bergegas untuk kembali ke sarang mereka. Saat itu jam menunjukkan jam lima tepat. Para peladang sudah memanggul kembali pacul dan arit serta berkas-berkas rumput untuk makanan sapi dan kerbau mereka. Anak-anak yang berlari-lari sudah masuk diiringi oleh ibu mereka ke dalam rumah, persis seperti para peternak bebek yang mengatur baris bebek ke dalam kandang.

Mentari makin condong ke ufuk barat dan rembulan kini yang datang bersiap menemani bumi. Anjing-anjing liar mulai berkeliaran. Mereka mengawasi sambil sesekali memburu betina untuk diajak bercinta. Burung-burung hantu bermunculan satu-satu. Mengawasi ladang dari tikus-tikus rakus yang tak henti-hentinya menggerogoti kebun. Sirius pun muncul menemani rembulan untuk yang pertama kalinya. Malam belumlah larut, namun suasana desa di kaki bukit itu sudah tampak lengang. Lampu-lampu redup yang menerangi jalanan, hanya terhalangi oleh segelintir orang. Yang terlihat hanyalah penjaga malam dan penjaja makanan hangat di sela-sela rumah. Malam belumlah larut.

Jam dinding terlihat berdetak dengan malas. Ketenangan malam itu membuatku tak dapat berbuat apapun. Rasanya begitu sunyi. Tak ada sedikitpun gemerisik di luar jendela sana. Hanya suara angin sepoi-sepoi basa yang berhasil menyusup melalui ventilasi udara. Hanya suara nyamuk yang berhasil mengusik ketenangan malam ini. Sisanya, hanyalah kesunyian, kehampaan, ketenangan. Wajah rembulan masih sama seperti yang pernah ku kenal sewaktu ku kecil. Sirius pun demikian. Kedua sosok penghuni jagat raya itu masih menemani dan mengiringi bumi kemanapun ia pergi, tapi mereka hanya muncul ketika aku meminta mereka datang. Mereka bercahaya hanya untukku seorang. Malam itu pun langit tampak cerah. Dengan jelas dapat ku sapa gugusan rasi biduk di utara sana. Aku pun melihat komet Halley yang bergerak dengan penuh keceriaan malam itu. Ku sapa dia dan ku harap dia mau mampir sejenak. Gemerlap Andromeda terlihat dengan mata telanjang.

Di ujung bukit sana, tampak segenggam cahaya. Cahaya itu seperti nyala kobaran api. Aku melihat sebuah siluet dan samar-samar terlihat wajahnya. Wajahnya tampak seperti seorang perempuan muda, berlesung dua, rambutnya yang hitam mengilap dan sepinggang. Dia tampak seperti menuruni bukit itu selangkah demi selangkah sambil menjaga baju panjangnya yang tertiup hembusan angin dan menjaga kobaran api dari obornya. Anjing-anjing malam yang semenjak tadi tampak bermalasan kemudian menjadi tegap dan menyongsong perempuan itu, membentuk barisan sebagai jalan untuk perempuan tadi. Perlahan, namun pasti perempuan itu berjalan. Dia tampak seperti dituntun. Cahaya rembulan lalu menerpa wajahnya, dan dapat kulihat wajahnya yang cerah, secerah cahaya sang rembulan. Bibir merah tipisnya tampak tersenyum dan kedua bola matanya, tampak jelas seperti ia memandang ke arahku. Lalu tiba-tiba cahaya sirius mengenai wajahku dan tubuhku. Tubuhku tampak bersinar terang, kuning keemasan. Sirius tampak seperti berkata supaya aku menyongsongnya. Aku pun melompat keluar dari kamarku, menuruni atap rumahku dan berjalan dengan tergesa menyongsong perempuan itu. Aku dekati perempuan itu selangkah demi selangkah, dengan cara yang lambat mengikuti tempo langkah perempuan itu. Kutatap kedua bola mata indah itu. Bola matanya tampak berbicara kepadaku. Seberapa beranikah kau menculikku dari ayahku, begitu ucap kedua bola matanya. Ku genggam kedua tangannya dan kudekap dia sambil berbisik, kan kuculik kau malam ini juga.

Cahaya, Bukit, dan Aku

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 21 Maret 2013
With 0komentar

Surat Si Kertas Tukar

| Senin, 18 Maret 2013
Baca selengkapnya »

Wajahku tak begitu rupawan
Aku tak punya kekuatan
Aku begitu lemah dan rapuh
Aku mudah hancur dan terbakar

Namun walau keadaanku seperti itu
Masih saja banyak yang mencariku
Mereka rela membuang segalanya hanya untukku
Padahal aku sendiri tak pernah memberikan apa-apa untuk mereka

Aku sebenarnya diciptakan oleh manusia
Aku bisa menjadi tuan sekaligus hamba di saat yang bersamaan
Itu semua bergantung dari bagaimana caramu memperlakukanku
Aku juga sebenarnya digunakan untuk melayanimu

Terkadang aku tak mengerti
Aku tidak cantik atau ganteng
Tapi banyak yang menyukaiku
Aku tidak pernah berkorban untuk manusia
Tapi banyak orang yang berkorban untukku
Aku bukanlah tuan
Tapi banyak yang menghambakan diri padaku
Aku bukanlah Tuhan
Tapi banyak yang menyembah dan memujaku

Aku seharusnya menjadi hamba bagimu
Namun kamu terlalu sering menghamba padaku
Kau sering mengejarku
Padahal aku diam saja

Aku hanya ada di dunia
Ketika kau mati, aku tak ikut bersamamu
Ketika kau bertemu dengan Pencipta, aku tak bersamamu
Aku masih di dunia
Aku tidak akan pergi kemana-mana
Ketika kau bertemu dengan Pencipta, aku tak ada gunanya lagi
Itu urusanmu sendiri dengan Sang Pencipta
Urusanku masih banyak

Satu pesan dariku untukmu
Aku tak ada di surga
Jadi jangan mencariku

Salam manis,
Uang


//inspirired by : Bpk. Jumaga T. Sinaga//

Surat Si Kertas Tukar

Posted by : Unknown
Date :Senin, 18 Maret 2013
With 0komentar

Ketenangan Senja

| Kamis, 14 Maret 2013
Baca selengkapnya »

Di senja yang indah, dengan semilir angin, awan-awan kumulus yang tebal, warna mentari menjadi merah kejinggaan di ufuk barat sana, bersiap menghilang di balik horizon. Aku termenung sendirian melihat mentari yang melambaikan tangannya kepadaku. Aku menatap mata mentari lamat-lamat. Gaung kebesarannya sudah dia letakkan dan telah ia siapkan untuk menyinari belahan bumi yang lain. Ia kemudian menyentuh hatiku dan memberikan secercah cahaya untuk kusimpan sebagai janji bahwa ia akan kembali datang untukku. Ya, hanya untukku. Seakan-akan aku adalah manusia paling berharga bagi dirinya dan satu-satunya alasan untuk dia terus tetap hidup.

Belum jauh mentari pergi, masih terlihat samar-samar cahaya jingga keemasannya, nampaklah rembulan, sang dewi malam. Perlahan-lahan dengan anggunnya dia naik ke atas panggung langit. Ku lihat di sebelahnya terdapat Cirius yang menuntun menemaninya bermain di langit malam. Aku suka sekali melihatnya. Cirius dan rembulan kini sudah bersama kembali. Mereka bagaikan dua insan yang dimabuk oleh cinta. Mereka melangkah dengan elegan sambil sesekali diiringi tarian. Para binatang sambil berpadu suara menyambut kedatangan mereka. Tak kurang lama, muncullah bintang-bintang lainnya menghiasi langit malam, menemai Cirius dan rembulan dalam pertunjukkan malam itu.

Malam itu aku duduk seorang diri. Walau mereka telah datang, namun entah pertunjukkan kali itu tampak membosankan bagiku. Aku terlalu lelah. Setelah seharian aku bekerja dalam kegiatan yang penuh dalam tantangan dan marabahaya, aku merasa kelelahan yang begitu sangat. Bahkan aku pun sampai tak sadar, saat cahaya rembulan menaungiku. Sang Dewi tampaknya mengetahui keadaanku sekarang ini. Sang Dewi memahami apa yang aku rasakan malam ini. Lalu Sang Dewi menatap padaku dan menyentuh bahuku dengan lembutnya. Kemudian aku pun menghadapkan wajahku pada Sang Dewi. Aku biarkan Sang Dewi membaca wajahku. Selanjutnya Sang Dewi pun memanggil Cirius. Dengan cepat Cirius melesat dan menghampiriku. Sang Dewi membisikkan sesuatu pada Cirius lalu Sang Dewi melangkah pergi. Cirius kemudian memancarkan cahaya dari tubuhnya dan kemudian cahayanya yang terang itu menyelimuti tubuhku seutuhnya. Cahaya itu kemudian masuk dan membungkus jiwaku dan seketika itu juga tubuhku penuh dengan tenaga dan cahaya. Aku pun bangkit dan aku berdiri. Cahaya itu memberikanku harapan yang baru. Cahaya itu menjadi lampu bagi kedua bola mataku. Kini aku yakin lagi untuk menantang hidup di esok pagi. Aku siap untuk menantang pagi, kembali bergulat bersama mentari

Ketenangan Senja

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 14 Maret 2013
With 0komentar

Indonesia Berdukacita

| Jumat, 08 Maret 2013
Baca selengkapnya »
Sudah berapa lama ya kira-kira? Indonesia sepertinya tak ada perubahan yang signifikan hingga saat ini. Yah, setiap pagi dan sore hari di siaran televisi gak henti-henti berbagai macam polemik soal partai ini lah yang bermasalah soal kepengurusannyalah atau soal korupsi yang makin lama makin melebar aja, atau masalah pertanggungan jawaban yang gak kelar-kelar dari jaman jebot.

Padahal di luar sana aku juga lihat, ada orang miskin yang sampe sakit aja susah banget dapet kesehatan, terus ada juga orang pinggiran yang digusur seenaknya lalu ada lagi kejadian-kejadian bencana. Sepertinya bener juga apa jargon orang-orang, "Orang miskin dilarang sakit." Soalnya sekali sakit susahnya gak ketulungan. Tapi gara-gara siapa juga orang miskin kena penyakit? Bukankah kita juga yang merasa ada di kelas marjinal ke atas turut ikut ambil bagian?

Hari ini aku umumkan hari berdukacita bagi Indonesia, karena banyak yang menangis, meringis kesakitan, berduka dan kehilangan. Kebanyakan ya rakyat kecil yang tak dapat berbuat banyak melihat kenyataan hidup ini. Dalam pikiran mereka, mereka berpikir bahwa rasanya sia-sia saja memilih pemerintah yang tak mau turun tangan untuk melihat langsung, mendengar dan merasakan apa yang mereka rasakan. Berharap pada pemerintah? Rasanya itu jauh dari angan-angan seperti bumi dan langit. Begitu pikir mereka.

Hmm... terkadang aku suka berpikir apa sih yang dilakukan para Dewan Perwakilan Rakyat di gedung mereka dengan rambut klimis, parfum, mobil bagus dan dompet tebal mereka? Dimana sih janji-janji mereka semua yang pernah mereka janjikan? Kok sepertinya tak ada bedanya. Uang sekolah, tetap mahal malah makin mahal. Akses jalanan gitu-gitu aja malah beberapa titik sudah rusak tak terawat. Lampu jalanan di beberapa jalan raya malah tak ada bahkan gelap gulita ketika malam. Pengemis masih saja jadi pengemis. Pengamen juga masih jadi pengamen. Pengangguran tetap melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pengangguran. Tampak tak ada bedanya.

Terkadang benar juga apa kata mereka tentang para pejabat DPR. Mereka bukan wakil dari rakyat, tapi wakil dari keluarganya dan teman-temannya. Yah mau bilang gimana lagi ya, korupsi aja rajin gitu dan tak ada sedikit pun effort untuk masyarakat. Apakah kami para rakyat harus datang ke gedung DPR dan mengurus masalah negara ini sendirian ramai-ramai sampai seluruh ruangan penuh sesak? Aku rasa tak perlulah begitu. Itulah sebabnya kami memilih para wakil untuk mengurus negara yang besar ini. Memang besar, tapi sepertinya kecil. Negara ini kaya dan juga miskin. Sungguh ironis memang.


Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Indonesia Berdukacita

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 08 Maret 2013
With 0komentar

Surat Untuk Tuan Gubernur Yang Dipilih

| Minggu, 24 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Selamat Tuan Gubernur! Kini Tuan telah terpilih sebagai gubernur untuk provinsi ini. Aku tak hapal betul Tuan Gubernur yang keberapa, tapi aku tahu pasti Tuan pasti senang bisa kembali ke posisi semula dan kembali menjabat. Sekali lagi saya katakan selamat memimpin Tuan Gubernur.

Kini Tuan Gubernur, dengarkanlah suaraku, suara perwakilan para rakyat jelata, suara para mahasiswa, suara para pelancong. Dengarkanlah suara mereka sejenak, walau saya tahu Tuan Gubernur sedang mengusahakan yang terbaik untuk mereka, namun yang sebenarnya merasakan itu adalah mereka, bukan Tuan Gubernur.

Kalau Tuan Gubernur berjalan-jalan ke pinggir kota, Tuan akan lihat kalau malam hari berjalan di pinggiran kota itu gelap sekali. Tak ada penerangan. Yang ada hanyalah lampu-lampu dari rumah-rumah, namun itu tidaklah cukup terang untuk meneranginya apalagi yang jalannya benar-benar lengang dan itu merupakan tempat dimana biasa para "bajing loncat" meloncat sana, loncat sini. Selain lampu, jalan pun banyak yang berlubang, seperti jalanan offroad. Mungkin Tuan Gubernur dulu sudah melakukan pengaspalan jalan, tapi kalau tak ada perawatannya seperti inilah hasilnya.

Lalu kalau Tuan Gubernur berjalan di trotoar, pasti Tuan Gubernur gak bisa jalan. Kenapa memangnya? Soalnya banyak pkl-nya. Trotoar untuk jalan dijadikan lahan untuk membuka lapak, sehingga kami para pejalan kaki harus berebut jalan dengan kendaraan lain karena kami kehilangan hak kami kalau berjalan. Bukan hanya di sudut kota, tapi di pusat belanja pun seperti itu Tuan Gubernur.

Sekarang aku ajak Tuan ke gedung-gedung tua. Indah bukan? Tentunya akan lebih indah lagi jika tak ada coretan di dinding, dindingnya tercat rapi dan bersih, tak ada sampah yang menumpuk, pagar gedungnya terawat, dan tak ada binatang liar di dalamnya bukan? Tapi begitulah nasib beberapa gedung tua. Terabaikan dan tak terawat bahkan sampai menjadi sarang beberapa binatang liar.

Kini lihatlah anak-anak jalanan. Bukankah dulu pernah Tuan Presiden mengatakan wajib belajar 9 tahun? Tapi lihatlah di sana, kebanyakan para pengamen itu adalah anak-anak usia dini. Mereka tak dapat mengenyam pendidikan, mungkin sempat tapi tidak sampai selesai. Yah seandainya itu terwujud, mungkin provinsi ini bisa menjadi lebih baik.

Mungkin itu beberapa pesan dariku, tapi tunggu Tuan Gubernur, inilah kenyataan sesungguhnya di lapangan. Ini beberapa foto dariku. Selamat menikmati Tuan Gubernur.

Pedagang kaki lima
Anak jalanan
Sungai Citarum

Surat Untuk Tuan Gubernur Yang Dipilih

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 24 Februari 2013
With 0komentar

Bertemu Gadis Batu Karang Lagi

| Minggu, 17 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Ombak yang kemarin masih sama. Menggulung dan deburannya memecah air menjadi seperti hujan di tepi batu karang. Pohon-pohon kelapa masih menari-nari ditiup oleh ombak. Sore itu, di atas batu karang sana aku masih bisa melihat sesosok gadis. Gadis yang sama yang sedang menikmati percikan air ombak yang menabrak batu karang. Gadis itu seperti sedang menatap jauh ke horizon sana. Aku naik ke atas batu karang itu dan duduk tepat di sebelahnya.

Aku pun mulai berucap, "Kau tahu mengapa matahari menjadi kemerahan ketika ia terbenam?"
"Karena cahaya merah adalah cahaya yang paling panjang dibandingkan dengan cahaya lainnya teman." ucapnya.

Dia seperti sudah mengetahui kedatanganku dan kemudian dia memalingkan wajahnya padaku. Aku lihat wajah yang aku lihat masih sama seperti dengan wajah yang aku lihat terakhir kali. Dia masih kecoklatan, berlesung satu, bibirnya kemerahan tipis. Rambutnya masih tergerai panjang.

"Hati bukan memilih kawan, tapi dipilih. Sama seperti kita. Kita tidak memilih untuk dilahirkan dimana, dengan siapa dan seperti apa, tapi kita dipilih untuk masuk dalam sebuah keluarga di suatu tempat dan masuk dalam kehidupan yang sekarang ini."

"Cinta kawan, kau tak perlu pergi jauh. Dia datang di saat kau tak menyadari kedatangannya. Dia bergerak sangat cepat. Kau harus menangkapnya dengan kedua tanganmu. Dia hanya sekali jalan dan janganlah kau melewatkannya, namun kau jangan mengurungnya. Cinta bukanlah memiliki, melainkan membebaskan."

Kata-katanya masih sama. Terlalu agung untuk aku tanyakan dengan bahasa yang lebih sederhana. Aku hanya ingin mendengar sajak-sajaknya, sambil menikmati deburan ombak, dan memahaminya dalam hatiku.

Bertemu Gadis Batu Karang Lagi

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 17 Februari 2013
With 0komentar

Bintang Sirius

| Jumat, 08 Februari 2013
Baca selengkapnya »


Pernah ke Boscha atau stasiun luar angkasa sebelumnya? Aku sih belum pernah. Tapi aku pernah melihat sebuah bintang yang terang, saat langit malam benar-benar gelap di atas kota Bandung dan tak nampak apa-apa selain bulan dan sebuah bintang. Aku lihat itu sejak bulan Januari. aktu itu aku tanya temen aku yang jurusan astronomi, bintang apa itu? Dia bilang itu adalah bintang sirius. Sirius? Kok kemerahan ya warnanya? Dia bilang itu dikarenakan langitnya lagi kotor dan berkabut. Aku pernah baca di sebuah literatur kalau bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan paling terang adalah bintang sirius. Aku memandang ke arah bintang itu dan aku merasa aku jatuh cinta pada sirius. Entah mengapa tapi aku mengagumi sinarnya yang tetap dapat aku lihat dari kejauhan sini tanpa perlu aku pakai teropong bintang.

Sejak saat itu aku menjadi penggemar sirius. Kebetulan bukan aku saja penggemar sirius tapi ada temanku di seberang sana di Kediri, Jawa Timur, penggemar sirius. Karena sama-sama menggemari sirius maka kami menyebut diri kami sebagai "sirius bumi". Bintang sirius adalah bintang paling terang yang pernah aku tahu. Aku teringat akan sebuah film judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Di film itu disebut juga tentang bintang sirius.

Terkadang aku ingin sekali menjadi bintang sirius, bintang yang terang yang bisa menerangi langit malam, menemani sang rembulan dalam kesendiriannya. Tapi aku baru tahu kalau suatu bintang sangat terang, maka umur bintang itu pendek dan rupanya umur sirius tidaklah lama. Suatu saat dia akan mati. Itu artinya kalau aku jadi bintang sirius, aku mungkin hanya bersinar untuk sesaat saja setelah itu aku akan menghilang seperti sirius dan menjadi bintang katai putih. Tapi itu tak membuatku menyesali telah menjadi bintang sirius.

Bintang sirius mengajarkan kepadaku satu hal, buatlah hidupmu menjadi sangat bermakna, sangat dibutuhkan orang lain sehingga ketika kau pergi untuk selamanya, semua orang yang mengenalmu akan menangis akan kepergianmu dan kau akan tersenyum ketika kau pergi. Aku ingin seperti sirius, walau hanya sekejap saja tapi dapat membuat hidup banyak orang berubah menjadi lebih baik.

Ku kirimkan salamku pada sirius, bintang cerah, dan para penggemar sirius lainnya. Apa kabar ciriustan?

Bintang Sirius

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 08 Februari 2013
With 0komentar
Tag :

Selamat Malam, Tuhan!

| Minggu, 03 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Aku melihat keluar jendela kamarku. Hari masih hujan dan malam ini begitu dingin, dan lagipula hujannya cukup deras. Aku hanya bisa terduduk di kasurku berhadapan langsung dengan laptop. Ini adalah hari ke-3 di bulan Februari dan ini adalah hari yang aku bilang sungguh penat. Menghabiskan sisa waktu depan laptop tanpa bisa berbuat banyak selain mengetik tugas, mengirim tugas dan membantu tugas adik kecilku. Sesaat rasanya ingin sekali aku pergi. Entah kemana tapi yang aku ingin adalah pergi ke tempat yang jauh, dimana yang ada hanyalah kesunyian dan tak ada orang sama sekali. Aku ingin bersemedi, mencari Tuhan.

Aku suka denger beragam kesaksian orang-orang yang secara pribadi bertemu dengan Tuhan dengan kasat mata, dibawa ke surga dan neraka dalam roh atau setidak-tidaknya melihat sebuah cahaya yang luar biasa dan mendengar suara yang tak biasa. Aku pengen banget merasakan itu semua, tapi selama ini aku hanya bisa mendengar cerita mereka saja. Aku gak pernah sekalipun merasakan apa yang mereka rasakan, padahal apa sih bedanya aku dan mereka? Aku pengen banget ketemu Tuhan. Tak apalah gak ketemu, tapi aku pengen bener-bener denger suara Tuhan. Kayak gimana sih suara Tuhan itu?

Malam ini sambil ditemani lagu-lagu sendu yang kadang suka buat air mataku keluar, aku mencoba merenungkan bagaimana aku bisa bicara dengan Tuhan seperti orang-orang lain. Lalu sekonyong-konyong melintas dalam pikiran dengan sangat cepat sebuah pemikiran. Aku kaget, karena cepat sekali datang dan pergi. Aku lalu membuka Alkitab Online di laptop dan membuka kitab Ayub dan aku menemukan di Ayub 33 : 14 yang berbunyi seperti ini :" Karena Allah berfirman dengan satu dua cara tapi orang tidak memperhatikannya." terus di ayat ke-15 berbunyi begini :" Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur,"

Aku merenungi maksud dari kedua ayat itu. Ayat itu mengatakan kalau Tuhan berbicara lewat banyak cara. Gak cuman satu atau dua tapi dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari dan NKJV (New King James Version), kalau Tuhan bicara lewat banyak cara namun terkadang kita, manusia, suka tidak menyadari kalau Tuhan bicara. Ya aku seperti itu. Aku suka gak sadar kalau sebenarnya Tuhan lagi ngomong sama aku. Aku jadi inget, kalau pertama kali Tuhan bicara, Dia bakal bicara dalam angin sepoi-sepoi basa, terus kalau kita gak ngeh, Dia akan mengeraskan suaranya, kalau masih gak ngeh juga, Dia pakai suara angin agak kenceng, masih gak ngeh juga, ya udah Tuhan teriak lewat megaphone, dan teriakan megaphone-Nya adalah masalah yang diizinkan Tuhan datang ke kehidupan kita.

Dari ayat itu juga, aku merasa kalau Tuhan tuh pengen banget ngomong ama kita. Dia rindu adanya komunikasi dialog, bukan monolog, dua arah antara manusia dan Tuhan sendiri. Nah ini yang aku bingung, bagaimana caranya bisa kayak gitu? Kalau lihat zamannya Musa, disitu dibilang kalau Musa dan Tuhan tuh duduk hadep-hadepan kayak dua orang sahabat. Nah kalau zaman sekarang kayak gimana? Katanya sih doa. Tapi aku gak ngerti gimana cara doa yang bener, tapi aku pernah sekali doa kayak Tuhan tuh beneran denger. Kerasa banget bedanya. Yang biasanya doa cuman satu arah, ini kayak dua arah. Emang Tuhan gak ngomong langsung, tapi aku seakan-akan tahu apa yang Tuhan mau aku lakuin. Itu adalah saat terindah yang pernah aku alami.

Malam ini aku mau nge-chat ah ama Tuhan. Pengen merasakan persekutuan seutuhnya, yang alami, yang penuh dengan sukacita. Selamat malam Tuhan. Ini aku mau bicara ama Tuhan. Dengerin ya.

Selamat Malam, Tuhan!

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 03 Februari 2013
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲