Newest Post

Ketenangan Senja

| Kamis, 14 Maret 2013
Baca selengkapnya »

Di senja yang indah, dengan semilir angin, awan-awan kumulus yang tebal, warna mentari menjadi merah kejinggaan di ufuk barat sana, bersiap menghilang di balik horizon. Aku termenung sendirian melihat mentari yang melambaikan tangannya kepadaku. Aku menatap mata mentari lamat-lamat. Gaung kebesarannya sudah dia letakkan dan telah ia siapkan untuk menyinari belahan bumi yang lain. Ia kemudian menyentuh hatiku dan memberikan secercah cahaya untuk kusimpan sebagai janji bahwa ia akan kembali datang untukku. Ya, hanya untukku. Seakan-akan aku adalah manusia paling berharga bagi dirinya dan satu-satunya alasan untuk dia terus tetap hidup.

Belum jauh mentari pergi, masih terlihat samar-samar cahaya jingga keemasannya, nampaklah rembulan, sang dewi malam. Perlahan-lahan dengan anggunnya dia naik ke atas panggung langit. Ku lihat di sebelahnya terdapat Cirius yang menuntun menemaninya bermain di langit malam. Aku suka sekali melihatnya. Cirius dan rembulan kini sudah bersama kembali. Mereka bagaikan dua insan yang dimabuk oleh cinta. Mereka melangkah dengan elegan sambil sesekali diiringi tarian. Para binatang sambil berpadu suara menyambut kedatangan mereka. Tak kurang lama, muncullah bintang-bintang lainnya menghiasi langit malam, menemai Cirius dan rembulan dalam pertunjukkan malam itu.

Malam itu aku duduk seorang diri. Walau mereka telah datang, namun entah pertunjukkan kali itu tampak membosankan bagiku. Aku terlalu lelah. Setelah seharian aku bekerja dalam kegiatan yang penuh dalam tantangan dan marabahaya, aku merasa kelelahan yang begitu sangat. Bahkan aku pun sampai tak sadar, saat cahaya rembulan menaungiku. Sang Dewi tampaknya mengetahui keadaanku sekarang ini. Sang Dewi memahami apa yang aku rasakan malam ini. Lalu Sang Dewi menatap padaku dan menyentuh bahuku dengan lembutnya. Kemudian aku pun menghadapkan wajahku pada Sang Dewi. Aku biarkan Sang Dewi membaca wajahku. Selanjutnya Sang Dewi pun memanggil Cirius. Dengan cepat Cirius melesat dan menghampiriku. Sang Dewi membisikkan sesuatu pada Cirius lalu Sang Dewi melangkah pergi. Cirius kemudian memancarkan cahaya dari tubuhnya dan kemudian cahayanya yang terang itu menyelimuti tubuhku seutuhnya. Cahaya itu kemudian masuk dan membungkus jiwaku dan seketika itu juga tubuhku penuh dengan tenaga dan cahaya. Aku pun bangkit dan aku berdiri. Cahaya itu memberikanku harapan yang baru. Cahaya itu menjadi lampu bagi kedua bola mataku. Kini aku yakin lagi untuk menantang hidup di esok pagi. Aku siap untuk menantang pagi, kembali bergulat bersama mentari

Ketenangan Senja

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 14 Maret 2013
With 0komentar

Indonesia Berdukacita

| Jumat, 08 Maret 2013
Baca selengkapnya »
Sudah berapa lama ya kira-kira? Indonesia sepertinya tak ada perubahan yang signifikan hingga saat ini. Yah, setiap pagi dan sore hari di siaran televisi gak henti-henti berbagai macam polemik soal partai ini lah yang bermasalah soal kepengurusannyalah atau soal korupsi yang makin lama makin melebar aja, atau masalah pertanggungan jawaban yang gak kelar-kelar dari jaman jebot.

Padahal di luar sana aku juga lihat, ada orang miskin yang sampe sakit aja susah banget dapet kesehatan, terus ada juga orang pinggiran yang digusur seenaknya lalu ada lagi kejadian-kejadian bencana. Sepertinya bener juga apa jargon orang-orang, "Orang miskin dilarang sakit." Soalnya sekali sakit susahnya gak ketulungan. Tapi gara-gara siapa juga orang miskin kena penyakit? Bukankah kita juga yang merasa ada di kelas marjinal ke atas turut ikut ambil bagian?

Hari ini aku umumkan hari berdukacita bagi Indonesia, karena banyak yang menangis, meringis kesakitan, berduka dan kehilangan. Kebanyakan ya rakyat kecil yang tak dapat berbuat banyak melihat kenyataan hidup ini. Dalam pikiran mereka, mereka berpikir bahwa rasanya sia-sia saja memilih pemerintah yang tak mau turun tangan untuk melihat langsung, mendengar dan merasakan apa yang mereka rasakan. Berharap pada pemerintah? Rasanya itu jauh dari angan-angan seperti bumi dan langit. Begitu pikir mereka.

Hmm... terkadang aku suka berpikir apa sih yang dilakukan para Dewan Perwakilan Rakyat di gedung mereka dengan rambut klimis, parfum, mobil bagus dan dompet tebal mereka? Dimana sih janji-janji mereka semua yang pernah mereka janjikan? Kok sepertinya tak ada bedanya. Uang sekolah, tetap mahal malah makin mahal. Akses jalanan gitu-gitu aja malah beberapa titik sudah rusak tak terawat. Lampu jalanan di beberapa jalan raya malah tak ada bahkan gelap gulita ketika malam. Pengemis masih saja jadi pengemis. Pengamen juga masih jadi pengamen. Pengangguran tetap melanjutkan pekerjaan mereka sebagai pengangguran. Tampak tak ada bedanya.

Terkadang benar juga apa kata mereka tentang para pejabat DPR. Mereka bukan wakil dari rakyat, tapi wakil dari keluarganya dan teman-temannya. Yah mau bilang gimana lagi ya, korupsi aja rajin gitu dan tak ada sedikit pun effort untuk masyarakat. Apakah kami para rakyat harus datang ke gedung DPR dan mengurus masalah negara ini sendirian ramai-ramai sampai seluruh ruangan penuh sesak? Aku rasa tak perlulah begitu. Itulah sebabnya kami memilih para wakil untuk mengurus negara yang besar ini. Memang besar, tapi sepertinya kecil. Negara ini kaya dan juga miskin. Sungguh ironis memang.


Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang susah
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Indonesia Berdukacita

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 08 Maret 2013
With 0komentar

Surat Untuk Tuan Gubernur Yang Dipilih

| Minggu, 24 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Selamat Tuan Gubernur! Kini Tuan telah terpilih sebagai gubernur untuk provinsi ini. Aku tak hapal betul Tuan Gubernur yang keberapa, tapi aku tahu pasti Tuan pasti senang bisa kembali ke posisi semula dan kembali menjabat. Sekali lagi saya katakan selamat memimpin Tuan Gubernur.

Kini Tuan Gubernur, dengarkanlah suaraku, suara perwakilan para rakyat jelata, suara para mahasiswa, suara para pelancong. Dengarkanlah suara mereka sejenak, walau saya tahu Tuan Gubernur sedang mengusahakan yang terbaik untuk mereka, namun yang sebenarnya merasakan itu adalah mereka, bukan Tuan Gubernur.

Kalau Tuan Gubernur berjalan-jalan ke pinggir kota, Tuan akan lihat kalau malam hari berjalan di pinggiran kota itu gelap sekali. Tak ada penerangan. Yang ada hanyalah lampu-lampu dari rumah-rumah, namun itu tidaklah cukup terang untuk meneranginya apalagi yang jalannya benar-benar lengang dan itu merupakan tempat dimana biasa para "bajing loncat" meloncat sana, loncat sini. Selain lampu, jalan pun banyak yang berlubang, seperti jalanan offroad. Mungkin Tuan Gubernur dulu sudah melakukan pengaspalan jalan, tapi kalau tak ada perawatannya seperti inilah hasilnya.

Lalu kalau Tuan Gubernur berjalan di trotoar, pasti Tuan Gubernur gak bisa jalan. Kenapa memangnya? Soalnya banyak pkl-nya. Trotoar untuk jalan dijadikan lahan untuk membuka lapak, sehingga kami para pejalan kaki harus berebut jalan dengan kendaraan lain karena kami kehilangan hak kami kalau berjalan. Bukan hanya di sudut kota, tapi di pusat belanja pun seperti itu Tuan Gubernur.

Sekarang aku ajak Tuan ke gedung-gedung tua. Indah bukan? Tentunya akan lebih indah lagi jika tak ada coretan di dinding, dindingnya tercat rapi dan bersih, tak ada sampah yang menumpuk, pagar gedungnya terawat, dan tak ada binatang liar di dalamnya bukan? Tapi begitulah nasib beberapa gedung tua. Terabaikan dan tak terawat bahkan sampai menjadi sarang beberapa binatang liar.

Kini lihatlah anak-anak jalanan. Bukankah dulu pernah Tuan Presiden mengatakan wajib belajar 9 tahun? Tapi lihatlah di sana, kebanyakan para pengamen itu adalah anak-anak usia dini. Mereka tak dapat mengenyam pendidikan, mungkin sempat tapi tidak sampai selesai. Yah seandainya itu terwujud, mungkin provinsi ini bisa menjadi lebih baik.

Mungkin itu beberapa pesan dariku, tapi tunggu Tuan Gubernur, inilah kenyataan sesungguhnya di lapangan. Ini beberapa foto dariku. Selamat menikmati Tuan Gubernur.

Pedagang kaki lima
Anak jalanan
Sungai Citarum

Surat Untuk Tuan Gubernur Yang Dipilih

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 24 Februari 2013
With 0komentar

Bertemu Gadis Batu Karang Lagi

| Minggu, 17 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Ombak yang kemarin masih sama. Menggulung dan deburannya memecah air menjadi seperti hujan di tepi batu karang. Pohon-pohon kelapa masih menari-nari ditiup oleh ombak. Sore itu, di atas batu karang sana aku masih bisa melihat sesosok gadis. Gadis yang sama yang sedang menikmati percikan air ombak yang menabrak batu karang. Gadis itu seperti sedang menatap jauh ke horizon sana. Aku naik ke atas batu karang itu dan duduk tepat di sebelahnya.

Aku pun mulai berucap, "Kau tahu mengapa matahari menjadi kemerahan ketika ia terbenam?"
"Karena cahaya merah adalah cahaya yang paling panjang dibandingkan dengan cahaya lainnya teman." ucapnya.

Dia seperti sudah mengetahui kedatanganku dan kemudian dia memalingkan wajahnya padaku. Aku lihat wajah yang aku lihat masih sama seperti dengan wajah yang aku lihat terakhir kali. Dia masih kecoklatan, berlesung satu, bibirnya kemerahan tipis. Rambutnya masih tergerai panjang.

"Hati bukan memilih kawan, tapi dipilih. Sama seperti kita. Kita tidak memilih untuk dilahirkan dimana, dengan siapa dan seperti apa, tapi kita dipilih untuk masuk dalam sebuah keluarga di suatu tempat dan masuk dalam kehidupan yang sekarang ini."

"Cinta kawan, kau tak perlu pergi jauh. Dia datang di saat kau tak menyadari kedatangannya. Dia bergerak sangat cepat. Kau harus menangkapnya dengan kedua tanganmu. Dia hanya sekali jalan dan janganlah kau melewatkannya, namun kau jangan mengurungnya. Cinta bukanlah memiliki, melainkan membebaskan."

Kata-katanya masih sama. Terlalu agung untuk aku tanyakan dengan bahasa yang lebih sederhana. Aku hanya ingin mendengar sajak-sajaknya, sambil menikmati deburan ombak, dan memahaminya dalam hatiku.

Bertemu Gadis Batu Karang Lagi

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 17 Februari 2013
With 0komentar

Bintang Sirius

| Jumat, 08 Februari 2013
Baca selengkapnya »


Pernah ke Boscha atau stasiun luar angkasa sebelumnya? Aku sih belum pernah. Tapi aku pernah melihat sebuah bintang yang terang, saat langit malam benar-benar gelap di atas kota Bandung dan tak nampak apa-apa selain bulan dan sebuah bintang. Aku lihat itu sejak bulan Januari. aktu itu aku tanya temen aku yang jurusan astronomi, bintang apa itu? Dia bilang itu adalah bintang sirius. Sirius? Kok kemerahan ya warnanya? Dia bilang itu dikarenakan langitnya lagi kotor dan berkabut. Aku pernah baca di sebuah literatur kalau bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan paling terang adalah bintang sirius. Aku memandang ke arah bintang itu dan aku merasa aku jatuh cinta pada sirius. Entah mengapa tapi aku mengagumi sinarnya yang tetap dapat aku lihat dari kejauhan sini tanpa perlu aku pakai teropong bintang.

Sejak saat itu aku menjadi penggemar sirius. Kebetulan bukan aku saja penggemar sirius tapi ada temanku di seberang sana di Kediri, Jawa Timur, penggemar sirius. Karena sama-sama menggemari sirius maka kami menyebut diri kami sebagai "sirius bumi". Bintang sirius adalah bintang paling terang yang pernah aku tahu. Aku teringat akan sebuah film judulnya Surat Kecil Untuk Tuhan. Di film itu disebut juga tentang bintang sirius.

Terkadang aku ingin sekali menjadi bintang sirius, bintang yang terang yang bisa menerangi langit malam, menemani sang rembulan dalam kesendiriannya. Tapi aku baru tahu kalau suatu bintang sangat terang, maka umur bintang itu pendek dan rupanya umur sirius tidaklah lama. Suatu saat dia akan mati. Itu artinya kalau aku jadi bintang sirius, aku mungkin hanya bersinar untuk sesaat saja setelah itu aku akan menghilang seperti sirius dan menjadi bintang katai putih. Tapi itu tak membuatku menyesali telah menjadi bintang sirius.

Bintang sirius mengajarkan kepadaku satu hal, buatlah hidupmu menjadi sangat bermakna, sangat dibutuhkan orang lain sehingga ketika kau pergi untuk selamanya, semua orang yang mengenalmu akan menangis akan kepergianmu dan kau akan tersenyum ketika kau pergi. Aku ingin seperti sirius, walau hanya sekejap saja tapi dapat membuat hidup banyak orang berubah menjadi lebih baik.

Ku kirimkan salamku pada sirius, bintang cerah, dan para penggemar sirius lainnya. Apa kabar ciriustan?

Bintang Sirius

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 08 Februari 2013
With 0komentar
Tag :

Selamat Malam, Tuhan!

| Minggu, 03 Februari 2013
Baca selengkapnya »
Aku melihat keluar jendela kamarku. Hari masih hujan dan malam ini begitu dingin, dan lagipula hujannya cukup deras. Aku hanya bisa terduduk di kasurku berhadapan langsung dengan laptop. Ini adalah hari ke-3 di bulan Februari dan ini adalah hari yang aku bilang sungguh penat. Menghabiskan sisa waktu depan laptop tanpa bisa berbuat banyak selain mengetik tugas, mengirim tugas dan membantu tugas adik kecilku. Sesaat rasanya ingin sekali aku pergi. Entah kemana tapi yang aku ingin adalah pergi ke tempat yang jauh, dimana yang ada hanyalah kesunyian dan tak ada orang sama sekali. Aku ingin bersemedi, mencari Tuhan.

Aku suka denger beragam kesaksian orang-orang yang secara pribadi bertemu dengan Tuhan dengan kasat mata, dibawa ke surga dan neraka dalam roh atau setidak-tidaknya melihat sebuah cahaya yang luar biasa dan mendengar suara yang tak biasa. Aku pengen banget merasakan itu semua, tapi selama ini aku hanya bisa mendengar cerita mereka saja. Aku gak pernah sekalipun merasakan apa yang mereka rasakan, padahal apa sih bedanya aku dan mereka? Aku pengen banget ketemu Tuhan. Tak apalah gak ketemu, tapi aku pengen bener-bener denger suara Tuhan. Kayak gimana sih suara Tuhan itu?

Malam ini sambil ditemani lagu-lagu sendu yang kadang suka buat air mataku keluar, aku mencoba merenungkan bagaimana aku bisa bicara dengan Tuhan seperti orang-orang lain. Lalu sekonyong-konyong melintas dalam pikiran dengan sangat cepat sebuah pemikiran. Aku kaget, karena cepat sekali datang dan pergi. Aku lalu membuka Alkitab Online di laptop dan membuka kitab Ayub dan aku menemukan di Ayub 33 : 14 yang berbunyi seperti ini :" Karena Allah berfirman dengan satu dua cara tapi orang tidak memperhatikannya." terus di ayat ke-15 berbunyi begini :" Dalam mimpi, dalam penglihatan waktu malam, bila orang nyenyak tidur, bila berbaring di atas tempat tidur,"

Aku merenungi maksud dari kedua ayat itu. Ayat itu mengatakan kalau Tuhan berbicara lewat banyak cara. Gak cuman satu atau dua tapi dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari dan NKJV (New King James Version), kalau Tuhan bicara lewat banyak cara namun terkadang kita, manusia, suka tidak menyadari kalau Tuhan bicara. Ya aku seperti itu. Aku suka gak sadar kalau sebenarnya Tuhan lagi ngomong sama aku. Aku jadi inget, kalau pertama kali Tuhan bicara, Dia bakal bicara dalam angin sepoi-sepoi basa, terus kalau kita gak ngeh, Dia akan mengeraskan suaranya, kalau masih gak ngeh juga, Dia pakai suara angin agak kenceng, masih gak ngeh juga, ya udah Tuhan teriak lewat megaphone, dan teriakan megaphone-Nya adalah masalah yang diizinkan Tuhan datang ke kehidupan kita.

Dari ayat itu juga, aku merasa kalau Tuhan tuh pengen banget ngomong ama kita. Dia rindu adanya komunikasi dialog, bukan monolog, dua arah antara manusia dan Tuhan sendiri. Nah ini yang aku bingung, bagaimana caranya bisa kayak gitu? Kalau lihat zamannya Musa, disitu dibilang kalau Musa dan Tuhan tuh duduk hadep-hadepan kayak dua orang sahabat. Nah kalau zaman sekarang kayak gimana? Katanya sih doa. Tapi aku gak ngerti gimana cara doa yang bener, tapi aku pernah sekali doa kayak Tuhan tuh beneran denger. Kerasa banget bedanya. Yang biasanya doa cuman satu arah, ini kayak dua arah. Emang Tuhan gak ngomong langsung, tapi aku seakan-akan tahu apa yang Tuhan mau aku lakuin. Itu adalah saat terindah yang pernah aku alami.

Malam ini aku mau nge-chat ah ama Tuhan. Pengen merasakan persekutuan seutuhnya, yang alami, yang penuh dengan sukacita. Selamat malam Tuhan. Ini aku mau bicara ama Tuhan. Dengerin ya.

Selamat Malam, Tuhan!

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 03 Februari 2013
With 0komentar
Tag :

Mendaki ke Gunung

| Sabtu, 26 Januari 2013
Baca selengkapnya »


Ah, liburan lagi deh setelah tiga hari kuliah liburan lagi. Sudah lama aku hampir tak pernah ke gunung lagi, jadi pada kesempatan ini aku mau pergi ke gunung, kebetulan ada teman-teman yang mengajakku ke sana jadi ya sekalian saja. Kalo orang-orang mungkin berpikir naik ke gunung ke tempat air terjun itu untuk berpiknik, tapi bagiku itu adalah penyegaran mental, jiwa dan rohani. Aku perlu penyegaran itu untuk lebih mendekatkan diriku dengan Tuhan. Aku pergi sebenarnya ke Curug Tilu . Nah kami mulai perjalanan dari Hotel Tjimahi lalu berjalan ke Ciwangun Indah Camp, Curug Tilu, tapi aku dan Winda, teman boncenganku, harus menyimpang dulu untuk beli snack dan kerupuk buat makan siang nanti. Nah karena aku perginya lebih telat, jadi aku sedikit was-was juga nih untuk pergi ke sana karena aku kurang tahu lewat jalan mana. Dalam hati aku berdoa, ehm tepatnya berharap yah supaya sampai di sana gak tersesat.

Aku pun memulai petualanganku #halah. Menuju Cimidi untuk berburu makanan (macam pemburu saja) dan snack kecil buat di sana. Cukup lama menunggu Winda belanja makanan, lalu setelah itu berbalik arah. Keadaan motorku saat itu sangat fit, bensin terisi penuh, tekanan udara ban depan 30 ppm dan ban belakang 35 ppm. Rantai dalam keadaan baik dan pokoknya semua-muanya baik. Selain itu motor yang kupakai sudah berpengalaman untuk membawaku mendaki gunung, bahkan saat berboncengan sekalipun. Aku rasa motorku sudah siap. Perjalanan pun berlangsung, melalui Cihanjuang, jalannya naik terus, tapi tak ada masalah dengan motorku hingga sampai di UNAI #nyapa "Halo UNAI! Pakabar?"# lalu sambil mengandalkan radar dalam tubuhku yang entah sejak kapan aku memiliki radar tersebut, ambil belok kiri dan ternyata jalan yang aku ambil benar menuju CIC. Tak jauh setelah melewati Curug Cimahi, terdapat sebuah gapura bertuliskan Ciwangun Indah Camp. Aku langsung masuk ke dalam dan rupanya jalannya cukup terjal juga, kemiringan jalan cukup ekstrem tapi untungnya motorku masih dapat menolerirnya, sampai akhirnya aku dengar suatu suara seperti besi lepas dan rupanya rantai motorku lepas. Aku segera menghentikan motorku karena percuma juga digas, rodanya gak mungkin jalan. Aku sedikit kebingungan bagaimana cara memperbaikinya. Tapi tak sampai 1 menit muncul dua orang 'malaikat' yaitu Deni, dan Yaner. Kebetulan mereka lagi turun dan mereka membantuku memperbaiki motorku. Puji Tuhan, ada yang menolong sehingga tak terlalu lama di jalan dan jaraknya kebetulan dekat dengan lokasi yang dituju.

Itulah salah satu bentuk penyertaan Tuhan yang aku alami selama seminggu ini yang masih membekas banget. Mungkin orang bilang itu kebetulan, tapi itu adalah mukjizat Tuhan. Mukjizat dengan cara yang logis banget.

Mendaki ke Gunung

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 26 Januari 2013
With 0komentar
Tag :

Pengembara, Putri dan Purnama

|
Baca selengkapnya »
Sang putri duduk termenung
>> Ada apa dengannya?
Dia sedang gundah hatinya
>> Apa yang dia pikirkan?
Ia sedang menentukan keputusan apa yang harus dia ambil
>> Seberapa sulitkah itu?
Benar-benar sulit

Lihatlah
Dia terlihat gundah hatinya
Air mata mengalir dari matanya
Air matanya sebening kristal
Ia tak kuasa menentukan pilihan

Hari itu bulan purnama muncul
>> Apakah dia bersama sang putri?
Dia menemani sang putri
>> Apakah yang dia lakukan?
Dia mengelus pipi sang putri dengan sinarnya
>> Apakah dia memberikan pertolongan?
Dia memberikan kekuatan pada sang putri

Purnama muncul malam itu
Dia melihat sang putri yang sedang gundah
Dia merasa haru melihat sang putri
Dia lalu memberikan seberkas cahaya pada sang putri
Wajah sang putri tampak berkilauan ditimpa cahaya purnama
Purnama memberikan kekuatan yang baru pada sang putri

Di luar pagar ada si pengembara
>> Apa yang dia lihat?
Dia melihat sang putri
>> Apa yang dia lakukan?
Dia mengagumi sang putri
>> Apa yang dia pikirkan?
Dia ingin bertemu dengan sang putri

Si pengembara memanjat dinding pagar
Walau dinding itu besar, tapi dia memanjatnya
Dia menyelinap di antara semak-semak
Menghindari para penjaga yang berjaga
Dengan lincah dia melewati setiap penjagaan berlapis
Dia sampai di pagar terakhir sebelum bertemu dengan sang putri

Purnama melihat si pengembara
>> Apakah dia marah?
Dia memberikan cahaya ke si pengembara
>> Apakah sang putri menyadari kedatangan si pengembara?
Dia menyadarinya saat purnama memancarkan cahaya ke si pengembara
>> Apa yang sang putri lakukan kemudian?
Dia berdiri dan menyongsong si pengembara

Sang putri lalu berdiri dan menyambut si pengembara
Sang putri melangkah dengan anggunnya menuju si pengembara
Purnama tetap memancarkan cahaya pada kedua insan
Si pengembara terkesima atas keanggunan sang putri
Si pengembara melompati pagar itu dan menyongsong sang putri
Kedua insan itu lalu saling memegang tangan
Si pengembara mencium tangan sang putri

Putri,
1000 perjalanan telah kulalui
1000 pegunungan telah kudaki
1000 rintangan telah kuterjang

Putri
Hanya untukmulah aku memberanikan diriku
Aku datang kemari
Untuk membuatmu lebih bahagia

Mungkin kita tak mungkin bersatu
Namun perasaan ini telah mengkristal
Jika kau mau, ikutlah denganku
Aku akan membuat kerajaan untukmu

Putri,
Temani aku
Dalam hati ini

Pengembara, Putri dan Purnama

Posted by : Unknown
Date :
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲