Newest Post

Staring To The Stars

| Senin, 05 November 2012
Baca selengkapnya »


Menatap langit malam di Kota Bandung kali ini seperti tak melihat apapun. Kenapa? Karena yang ada hanyalah langit malam yang gelap. Terkadang muncul poernama menemani kesunyian malamku, namun bintang-bintang teman waktuku kecil tak terlihat sama sekali. Mungkin ini karena asap pabrik yang menghalangi sinar bintang yang begitu redup sehingga tak dapat dilihat dengan mata telanjang atau mungkin mungkin bintang-bintang temanku itu sudah menjadi tua sehingga cahayanya sudah tak seterang dahulu saat aku masih bocah.

Aku rindu untuk kembali menatap bintang-bintang di langit malam. Dulu waktu aku kecil kedua orangtuaku pernah berkata padaku kalau punya cita-cita itu harus setinggi bintang di langit. Aku pernah menggantungkan cita-citaku di langit bersama bintang-gemintang, namun karena terlalu tinggi cita-citaku pun terbang tinggi bersama dengan bintang-bintang sehingga kini hanyalah angan-angan. Namun dulu walau cita-cita itu serasa jauh, namun selalu senang ketika aku membayangkannya menjadi seperti apa yang aku impikan.

Kini bintnag-bintang lama tak muncul. Sejak aku masuk ke SMP, sudah jarang aku melihat teman-temanku itu. Aku baru bisa bertemu dengan mereka hanya kalau aku mendaki gunung dan bermalam di gunung. Pernah satu kali ketika aku camping di gunung waktu aku SMP, aku kembali bertemu dengan sahabat lamaku yaitu bintang-bintang dan poernama yang selalu menemaniku dalam kesunyian malam.

Aku suka berimajinasi berbicara pada mereka.
"Halo poernama dan halo para bintang! Apa kabarmu?"
"Kami baik-baik saja"
"Ohya ceritakan donk kalian kemana aja belakang ini. Aku ingin tahu"

Begitulah percakapan imajinasiku bersama poernama dan bintang-bintang di langit malam. Walaupun gelap keadaannya namun aku merasa tenang karena ditemani oleh mereka semua. Kini aku benar-benar seorang diri. Hanya poernama yang menemaniku tanpa bintang-bintang. Suasana langit yang dulu selalu semarak dengan keberadaan mereka kini musnah. Benar-benar sepi. Apakah ini karena asap-asap pabrik, atau asap-asap kendaraan, atau asap gunung berapi atau asap-asap lainnya? tAtaukah mereka semua sudah terlalu tua sehingga tak dapat lagi memancarkan cahayanya? Aku tak tahu apa jawabannya. Akan kutanyakan nanti ketika aku bertemu mereka tentunya dengan imajinasi.

Satu hal yang kuharapkan saat ini adalah aku ingin menatap langit malam. Biarlah tak ada bintang-bintang sahabatku, setidaknya aku dapat mengukir wajah-wajah sahabatku dengan jariku di lembaran langit. Siapa tahu nanti bintang-bintang akan datang memberi sinar pada ukiran-ukiran jemariku. Atau mungkin kan kuukir wajah seorang gadis yang tak kutahu sapa namun wajahnya familiar. Biarlah itu menjadi keangan tersendiri bagiku. Poernama, katakanlah aku merindukan mereka para bintang sahabatku.

Staring To The Stars

Posted by : Unknown
Date :Senin, 05 November 2012
With 0komentar
Tag :

Berani Bermimpi

| Minggu, 04 November 2012
Baca selengkapnya »


Aku suka gak ngerti dengan apa yang orang-orang yang suka bilang begini.
      "Jangan mimpi di siang bolong!"
atau
      "Hari gini masih bermimpi? Cape deh."

Dari kata-kata itu ada dua argumen yang bisa aku ambil pertama, kalau lagi kerja jangan melamun lalu yang kedua adalah takut untuk bermimpi.

Heh? Takut bermimpi? Maksudnya?

Maksudnya mimpi di sini bukanlah soal mimpi bunga tidur, tapi mimpi di sini berbicara soal vision atau tujuan. Beda lho orang yang mimpi (melamun .red) dengan orang yang bervision. Orang yang bermimpi tatapannya kosong kayak sapi lagi melongo trus ompong yang ngeliatin kain putih berkibar, tapi orang yang memiliki vision dia tampak yakin dengan apa yang dipikirkannya, memiliki pandangan yang jelas dan tersenyum optimis.

Percayakah kalian teman-teman, semua yang ada di sekitar kita seperti misalnya handphone, laptop dan motor itu berasal dari sebuah mimpi? Aku gak tahu sih siapa penemu dari ketiga barang itu secara lengkap tapi aku pernah baca artikelnya sekilas kalau ternyata setiap penemu itu pernah bermimpi untuk membuat barang-barang yang kita pakai sekarang. Mereka berandai seandainya dia bisa pergi ke suatu tempat dengan cepat tanpa harus terhalang macet  dan dapat melewati jalanan sempit, atau bermimpi bisa punya telepon tanpa kabel yang bisa dibawa kemanapun sesuka hatinya, atau bisa membawa komputer dalam satu tas gendong atau dijinjing tanpa harus berat-berat bawa CPU, monitor dan keyboard. Aku bisa bayangkan itu kalau para penemu itu pasti setidaknya pasti terlintas pikiran seperti itu. Namun apa yang membuat mereka berbeda dari orang kebanyakan yang hanya bermimpi tapi tak mewujudkannya? Perbedaannya mereka menulisnya, maksudnya mereka mulai menghidupi mimpi itu dimulai dengan membuat proyek-proyek kecil-kecil, menuliskannya, mencatatnya dan mulai melakukan analisa. Bermula dari mimpi yang sederhana bisa menghasilkan hasil yang kita pakai sekarang ini.

Selain itu ketika mereka gagal, mereka tidak menganggapnya sebuah kegagalan. Ketika Paman Thomas Alfa Edison diwawancarai soal penemuannya yang hebat dizamannya yaitu lampu bohlam ketika ditanya soal kegagalannya dia menjawab seperti ini "Bagiku itu bukanlah kegagalan, tapi itu keberhasilan, yaitu aku berhasil menemukan bahan yang tidak cocok untuk membuat lampu bohlam."

Nah jadi teman-teman, sekarang dari pada kita berpangku tangan melamun tak melakukan apa-apa seperti sapi ompong yang ngeliatin bola pingpong, ada baiknya kita bermimpi tapi bukan mimpi siang bolong melainkan memikirkan tujuan hidup ini. Hidup akan terasa lebih bermakna karena ada suatu tujuan yang kita ingin capai dan jangan hanya bermimpi tapi lakukanlah tindakan untuk mencapai mimpimu itu.

Selamat bermimpi para pemimpi!

Berani Bermimpi

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 04 November 2012
With 0komentar

Believe and Obey

| Rabu, 31 Oktober 2012
Baca selengkapnya »


Percaya dan taat. Semudah dua kata itu saja kalau mau jadi orang Kristen. Ciyuss? Miapah?! Eh beneran lho. Simple but complex. Masalahnya berani atau engga untuk melakukannya?

Kata-kata ini aku dapat dari seorang hamba Tuhan yang luar biasa yang aku sudah kenal secara langsung yaitu Oom Indra Gunawan. Beliau adalah seorang hamba Tuhan yang melayani suku Sunda melalui lembaga yang dibentuknya yaitu Motekar. Motekar kalau tidak salah aku ingat artinya tuh mandiri. Sasarannya adalah pemuda-pemuda Sunda. Beliau pernah memberikan sebuah kunci hidup yang penting bagiku, yaitu belajar taat dan percaya. Taat dan percaya? As simple as that? Beliau mengatakannya dengan yakin.

Sejak pertemuan yang singkat itu, aku suka memikirkannya. Taat dan percaya. Seperti apa ya kira-kira bentuknya? Hmm, sambil iseng-iseng lihat-lihat blog malam ini, aku temuin sebuah ilustrasi yang menarik. Begini ceritanya.

Seorang pria suatu hari berdoa pada Tuhan : "Tuhan, tolong beri aku kekuatan yang besar sehingga aku bisa membela diriku." Setelah berdoa begitu dia pun tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Tuhan lalu Tuhan berkata pada pria itu. : "AnakKu, doamu sudah kukabulkan. Besok pagi doronglah batu yang ada di depan rumahmu."

Keesokan paginya pria itu terbangun dan dia mencoba mengecek apakah ada batu di depan rumahnya seperti apa yang dikatakan Tuhan dalam mimpinya dan rupanya memang ada sebuah batu besar. Lalu dia pun mulai mendorong batu itu seperti kata Tuhan.

Berhari-hari dari pagi hingga sore hari dia berusaha mendorong dan menggeser batu itu tapi tak berhasil hingga suatu hari setelah 90 hari melakukannya dia merasa kecapekan dan dia pun berdoa :"Tuhan aku sudah melakukan perintahMu, aku sudah taat pada perintahMu untuk menggeser batu itu namun batu itu tidak bergeser dan aku bukannya semakin kuat tapi semakin lemah setelah 40 hari. Tuhan tolong beri aku kekuatan."

Seketika malaikat Tuhan datang di hadapan pria itu dan berkata  :"AnakKu."

"Ya Tuhan" jawab pria itu.

"LIhatlah dirimu ke cermin" kata malaikat Tuhan.

Kemudian pria itu melihat ke cermin dan ia kaget karena sudah 90 hari dia tak melihat dirinya di balik cermin. Di cermin itu ia melihat bahwa tubuhnya sudah memiliki otot yang besar-besar laksana binaragawan. Perutnya sudah kencang berbentuk sixpack, dadanya bidang, lengannya kekar dan perkasa, kakinya kuat dan berotot. Lalu ia mencoba membengkokan sendok dan dia dapat melakukannya dengan mudah dengan dua jari saja. Kemudian dia minta ampun.

" Tuhan aku minta ampun karena tak percaya pada perintahMu." kata pria itu.

"AnakKu, percayalah padaKu, bahwa Aku dapat memberikan lebih banyak dari yang kaubutuhkan. Kau minta kekuatan, Aku berikan kamu kekuatan itu yaitu tenaga besar. Namun kau harus taat pada perintahKu untuk mendorong batu, bukan menggesernya. Lihatlah sekarang kau memiliki kekuatan seperti yang kau inginkan. Aku ingin kau belajar taat padaKu dan percaya bahwa apapun yang kau minta kau sudah menerimanya dan taatilah perintahKu karena perintahKu itu untuk kebaikanMu."



Bisa ambil kesimpulan? Taatilah Tuhan sebagai tanda cintamu pada-Nya dan percayalah padaNya sebagai bukti cintamu.

Believe and Obey

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 31 Oktober 2012
With 0komentar

Start Yelling

| Senin, 29 Oktober 2012
Baca selengkapnya »


Ehmm....buat yang suka nonton berita pagi atau sore, pasti pada tahu kalau kali ini masalah yang lagi panas adalah masalah upeti.  Bosen sih sebenarnya. Di TV tiap hari udah sering ngeliat yang begituan dan masalahnya gak akan pernah jauh dari para wakil rakyat yang seharusnya merakyat seperti kata Oom Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul "Surat Buat Wakil Rakyat". Lagunya sih lagu lama, tapi masih harus dinyanyiin selama para wakil rakyat belum beres. Belum beres gimana? Tuh coba liat aja koran-koran atau gak di tv kalo kali ini berita yang diangkat adalah DPR membuat BUMN seperti "sapi perah". BUMN digunakan sebagai sarana peningkatan kekayaan para anggota dewan. Ya siapa juga coba yang gak sebel dengan kelakuan para wakil rakyat yang ngomongnya "pro rakyat" tapi tindakannya malah kayak preman. Gak beda jauh ama preman pasar tapi bedanya kalo yang di pasar pakaiannya gak beraturan, kalo yang di gedung DPR pake jas rapi dan klimis.

Aku tahu gak semua wakil rakyat kayak begitu, tapi dengan apa yang diberitakan media, dan pengaruh lingkungan bukan suatu hal yang mustahil kalau wakil rakyat yang awalnya bersih jadi kotor juga gara-gara "tikus-tikus kantor" kata Oom Iwan Fals juga. Mau bukti? Ada tuh contohnya kayak Angelina Sondakh yang di iklan pernah ngomong "Katakan Tidak pada korupsi" sekarang malah jadi "Katakan Tidak Masalah untuk Korupsi". Ya mungkin itu salah satu contoh aja tapi bisalah dilihat kalo orang dewan udah lihat duit pasti ijo semua. Udah gak peduli apa-apa lagi. Mau uang rakyat atau bukan, dibabat aja habis. Kasian kan rakyat yang rajin bayar pajak apalagi rakyat kecil yang berharap pada wakil rakyat dan juga bayar pajak dengan telaten.

Aku sih gak bakal bosen buat berteriak wong para wakil rakyat aja pada gak bosen berlaku kayak tikus seperti kata Oom Iwan Fals. Jadi selama rakyat belum sejahtera, aku gak bakal bosen deh nulis tentang keburukkan para wakil rakyat dan kejelekkannya. tapi bukan artinya aku juga bakal gak liat niat baiknya, cuman gimana ya, niat baik para wakil rakyat itu biasanya ada udang dibalik batu. Selalu ada tujuan terselubung jadi susah ngebedain antara niat yang benar-benar baik ama niat lainnya.

Cuman sekadar ngingetin nih buat teman-teman, emang jadi wakil rakyat itu gak gampang. Banyak tuntutannya, tapi jangan ampe klo suatu hari nanti jadi wakil rakyat, lupa  diri. Inget dari mana kamu berasal. Kamu berasal dari rakyat jadi kembalikanlah kepada rakyat apa yang menjadi haknya

Start Yelling

Posted by : Unknown
Date :Senin, 29 Oktober 2012
With 1 komentar:

Mighty Father

| Rabu, 24 Oktober 2012
Baca selengkapnya »


Banyak kisah mengharukan bagiku tentang perjuangan seorang ayah bagi anak yang dicintainya. Sedikit banyak aku percaya akan hal itu, tapi satu-satunya kisah yang membuatku sedih adalah kisah tentang ayahku sendiri yang biasanya aku panggil papa. Ada satu kisah yang membuatku suka menyesal kenapa aku tak melakukan lebih banyak dari yang beliau minta.

Ayahku sama seperti biasanya. Beliau seperti kebanyakkan orang. Orang perantauan dari desa yang hijrah ke kota. Berlatar belakang kehidupan yang cukup keras, pendidikan pas-pasan. Ayahku sekarang umurnya telah 43 tahun dan seperti kebanyakan orang yang sudah berkepala empat, kalo kesehatannya gak dijaga, ada aja penyakit yang 'mampir' bahkan 'nginap' di tubuhnya. Dia sosok yang mungkin tak akan membuat anak-anaknya bangga kalau hanya dikenal dari luar saja, dari ayahkulah aku belajar untuk memahami isi batok sebelah kanan manusia yaitu memahami pemikiran dan maksud dari segala yang dilakukannya. Belajar memahami sosok pribadi dibalik setiap tingkah lakunya. Selain itu ayahku orangnya kalem, tapi kalau udah marah, wah seluruh anggota keluargaku gak bakal ada deh yang berani membantah.

Kisah yang baru aja terjadi dan masih aku ingat adalah hmmm..... waktu dia memberikanku sebuah laptop dan sebuah kamera digital yang baru. Mungkin buat temen-temen itu adalah yang biasa malah udah jadi kebutuhan wajib kali ya, tapi tidak bagiku. Laptop dan kamera digital adalah suatu barang sekunder bagiku, jadi tanpa kedua gadget itu pun aku masih bisa hidup. Hapeku saja yang model jaduuuuul banget. Nah sebenarnya aku sih gak kepikiran waktu itu tepat 1 September 2012 ayahku mengajak aku pergi ke sebuah mall yang cukup ternama di Bandung.

Waktu itu aku ditanya "Mau laptop yang kayak gimana?"
" Yang entenglah dan yang pasti memorynya gede dan bisa dipake." jawabku sekenanya karena merasa gak butuh  juga sih sebenarnya.

Ketika sampai di mall itu, aku disuruh milih laptop. Sebenarnya sih pengen notebook, cuman ah laptop aja deh, toh gak beda jauh walau sesungguhnya kedua gadget itu berbeda. Nah mataku tertuju pada sebuah laptop yang kini aku gunakan. Lihat speknya sih bagus dan lumayan juga nih. Aku pun bilang ke ayahku.
"Yang ini aja deh"
"Kamu yakin gak?" tanya ayahku.
"Iya. Kebanyakan temen-temen juga pake ini" jawabku

Lalu tanpa diharapkan, ayahku ngomong ke salah seorang penjaga counternya dan kurang dari 5 menit aku ditanya ama penjaga counternya
"Boleh lihat sebentar id cardnya?"
Aku kasih aja ktp sambil mikir, apa maksudnya

R u[anya tanpa sepengetahuanku, ayahku membelikanku sebuah laptop, padahal aku gak minta untuk membelikannya tapi dia belikan karena dia tahu apa yang kubutuhkan untuk kuliahku, dan sejak aku pakai laptop, memang semua tugas kuliah dapat aku kerjakan dnegan baik tanpa harus bolak-balik ke warnet seperti waktu aku belum punya laptop. Komputer sih ada tapi kadang komputer dipake ama adikku terus. Tapi sekarang aku sudah pakai laptop jadi semua tugas bisa kau bereskan dengan mudah.

Itulah cerita singkat tentang ayahku. Ayahku tahu apa itu cinta, dia juga tahu apa itu arti kata "I Love You", namun sayangnya dia tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya padaku. Pernah dia memukul tanganku karena aku membuat kesalahan besar dan memarahiku, waktu itu yang kudengar adalah amarah ayahku, tapi kini setelah aku renungkan ternyata ada cinta yang besar dibalik amarahnya. Terkadang ayahku juga menganggap aku adalah seorang anak kecil padahal aku sudah kuliah dan bisa naik motor sendiri, tapi aku tahu kalau ayahku mencintaiku. Ia terlalu khawatir untuk kehilangan anak laki-lakinya, anak yang ia banggakan. Seandainya aku punya kekuatan lebih, aku pasti akan berikan apa yang aku bisa, tapi sayang, aku hanyalah anaknya. Aku tak bisa jadi pahlawan bagi ayahku karena selama ini ayahkulah yang menjadi pahlawan bagiku. Pahlawan tanpa jubah, tanpa topeng. Dialah pahlawan seutuhnya.

Mighty Father

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 24 Oktober 2012
With 0komentar
Tag :

One-Million-Dollar-Partner

| Senin, 22 Oktober 2012
Baca selengkapnya »

Pernah ngebayangin gak tanganmu memegang uang sebanyak USD 1,000,000.00 ? Hmm, klo aku dapet duit sebanyak itu kayaknya gak kebayang deh buat apa uang sebanyak itu. Tapi pernah gak denger ungkapan "One-million-dollar-man"? Ungkapan ini seringkali diartikan bahwa orang yang disematkan julukan ini adalah orang yang sangat berharga yang sangat langka dan kalau sampai orang ini gak ada bakal mengalami kerugian besar. Bayangin aja kamu megang uang 1 juta dolar. Berharga banget kan uang itu?

Hmm, sebenarnya seharusnya kita juga dalam mencari pasangan hidup (baca : pacar //red) seharusnya kita juga harus memikirkan untuk mendapatkan "one-million-dollar-partner". Lho apa maksudnya? Cari pasangan yang punya duit satu juta dolar? Boleh aja kalo dapet. hehehehe. Maksudnya kita harus menemukan pasangan hidup yang benar-benar tepat yang suatu hari nanti ketika tiba waktunya kita akan menggandeng tangan pasangan kita menuju ke pelaminan, yang nantinya ketika acara persepsi akan sama-sama berkata "I do" terus yang nantinya ketika akan beranjak tidur akan mengatakan "good night" dan tidur bersama yang keesokan paginya dialah orang pertama yang akan dilihat mata.

Wah, mpe segitunya yah? Emang harus?

Ya. Mau tak mau itu harus.

Nah yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana cara mendapatkan "one-million-dollar-partner" yang cocok. Jawabannya tak bisa langsung dijawab. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Kamu bakal tahu dia itu pasangan "one-millio-dollar-partner" atau hanya orang yang sengaja mampir di hidup kamu. Kamu bisa tahu dari banyak cara. Bisa dilihat ketika kamu ada masalah apakah dia ada untuk memberikanmu tangan untuk menopangmu, atau ketika kamu sedih apakah dia mau memberikan bahunya untuk menangis, atau ketika kamu kecewa apakah dia ada di sampingmu untuk menguatkanmu atau ketika kamu senang apakah dia orang yang ikut bahagia denganmu.

Untuk mengetahuinya tak ada salahnya kamu mengujinya karena cinta sejati adalah cinta yang tahan uji walau ada derai air mata yang mengalir deras, walau otot-ototmu menjadi lesu namun jika dia cinta sejatimu tentunya cintanya akan menjadi nyata untukmu. Selain itu hal yang paling penting adalah dengan berdoa kepada Tuhan untuk meminta petunjuk-Nya. Terkadang Tuhan tak langsung memberi jawab bahwa dia adalah "one-million-dollar-partner"-mu. Ada kalanya Dia berkata "bukan" dengan maksud supaya kamu memperbaiki diri dulu, menjadi satu pribadi yang utuh dahulu baru setelah kamu merasa tak membutuhkan pasangan hidup, maka Tuhan memberi jawabnya.

Yang terakhir adalah perlu direnungkan juga apakah kamu sudah menjadi orang yang sangat berharga untuk pasanganmu. Apakah kamu sudah menjadi "one-million-dollar-partner" untuk pasanganmu?


Cinta berjalan bersama waktu. Ketika ia bersama cinta yang sejati, maka waktu takkan pernah memisahkannya, jika ia tidak bersama cinta yang sejati, maka waktu akan memisahkannya---
---annonymous

One-Million-Dollar-Partner

Posted by : Unknown
Date :Senin, 22 Oktober 2012
With 0komentar

Learning from Nature : Burung Rajawali

| Sabtu, 20 Oktober 2012
Baca selengkapnya »

Kalau aku sedang ke kebun binatang atau ke tempat wisata yang terdapat binatang liar, tempat yang pertama kali aku kunjungi adalah pasti burung-burung. Mulai dari burung cendrawasih yang punya ekor yang indah sampai burung rajawali. Seetiap aku melihat burung rajawali, aku suka berdiri di depannya cukup lama. Aku suka mengamat-amati burung rajawali. Aku perhatikan paruhnya yang tajam, tatapan matanya yang tajam melihat jelas kepadaku. Dalam imajinasiku, aku suka membayangkan kalau rajawali itu sedang berbicara padaku. Membicarakan filsafat-filsafat dan pemikirannya seandainya dia seperti manusia.

Bicara soal burung rajawali, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari burung rajawali ini dan kebetulan tadi aku baca-baca kisah tentang rajawali and you know? Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari burung yang satu ini bahkan seingatku, Alkitab, Weda, Tripitaka, Alquran mencatat tentang burung yang satu ini. Apa aja sih? Let's us see

1. Penerjang badai
Burung rajawali adalah burung penerjang badai. Ketika badai datang, burung rajawali akan tetap terbang bahkan akan terbang lebih tinggi dari awan badai hingga menembus awan. Tahukah kamu kenapa? Rupanya berdasarkan penelitian,  keadaan di atas awan badai sungguh tenang dan tak terjadi badai seperti di bawah awan badai sehingga bagi rajawali, dia akan bisa terbang tanpa menggunakan kekuatan lebih banyak.

Apa pelajaran hidupnya? Masalah yang kita hadapi di hidup ini sama seperti awan badai. Nah disinilah pilihan kita dalam menghadapi 'awan badai' masalah kita. Apakah kita akan menghadapinya dan menerjangnya seperti burung rajawali atau malah undur teratur dan bersembunyi di balik 'pohon'? Tuhan memberikan kita kekuatan seperti rajawali untuk menghadapi masalah yang kita hadapi, sekarang pilihannya mau dipakai untuk 'terbang ' lebih tinggi atau 'berlindung' di bawah pohon?


2. Pencari mangsa tercekatan
Burung rajawali memiliki mata yang tak dialiri oleh darah tapi cairan bening untuk memberi makanan pada bola matanya sehingga mengakibatkan dia dapat melihat dengan baik objek bergerak pada jarak 5km walaupun objek tersebut bersembunyi pada rerumputan. Burung rajawali selalu fokus pada apa yang dia incar walau dia tahu ada hambatan atau tantangan, tapi dia fokus pada tujuannya yaitu mencari mangsa.

Pelajaran apa yang kita bisa ambil? Nah kita harus memiliki tujuan dalam hidup ini. Mungkin berat kali ya bahasanya sederhananya ngapain sih hidup? Nah setelah kita tahu untuk apa hidup ini, kita perlu melakukan pergerakan yang membuat kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Setiap kita punya tujuan hidup yang berbeda dan khusus dalam dunia ini. Ini semua sudah diatur oleh Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah tanya Tuhan dan lakukan apa yang ingin Tuhan kita kerjakan dalam hidup ini.


3. Pemilik umur tertua dari segala aves
Tahu gak kamu kalau burung rajawali itu seumuran lho ama manusia. Ah masak? Beneran, tapi itu tergantung pilihan burung rajawalinya juga sih sebenarnya. Jadi burung rajawali paling tua bisa mencapai umur 70 tahun, tapi bisa juga hanya 40 tahun. Nah dari kedua hal inilah rajawali harus memilih apakah dia akan hidup hanya 40 tahun atau 70 tahun. Sekedar info, ketika rajawali umurnya mendekati 40 tahun, maka bulu-bulunya itu makin lebat, cakarnya makin tumpul dan paruhnya juga makin tumpul dan makin bengkok. Jika dia tidak melakukan transformasi, dia hanya akan mencapai umur 40 tahun, tapi jika ia bertransformasi, dia bisa mencapai 70 tahun. Nah bagaimana cara transformasinya? Burung rajawali akan terbang ke gunung yang tinggi dan membuat sarangnya. Nah saat itu adalah saat paling kritis buat burung rajawali. Pertama dia menghancurkan paruhnya yang bengkok dengan cara mematuk-matukkannya ke batu cadas hingga benar-benar hancur. Nah setelah beberapa waktu, paruhnya yang baru akan tumbuh. Paruh yang runcing dan kuat. Setelah itu dia akan memotong kuku-kukunya dengan cara mematahkannya menggunakan paruh baru. Bayangkan, kuku jarimu digigit pake gigi barumu yang kuat. Seperti itulah. Setelah beberapa waktu cakar barunya akan tumbuh kembali dengan yang lebih tajam. Kemudian dia akan mencakar sayapnya yang telah lebat dengan bulunya hingga botak. Sayap botak. Bayangin kamu mencakar tubuhmu yang berambut lebat dengan kuku jarimu. Kebayang gak? Engga ya? Serem sih. Berdarah gak? Jelas berdarah. Darahnya mengalir dengan deras. Tapi setelah itu bulunya yang baru akan tumbuh. Berapa lama sih prosesnya? Prosesnya sekitar 6 bulan dan setelah itu rajawali akan menyongsong 30 tahun sisa hidupnya.

Apa yang bisa kita pelajari? Hidup juga sebuah proses man. Kita mungkin pernah mengalami hidup yang terasa garink abis dan saking garinknya ampe berbunyi kriuk-kriuk deh tuh krupuk kalo dimakan. Eh kok jadi ngomongin krupuk ya? Balik lagi ok. Nah ada saatnya kita benar-benar merasa hidup itu mengalami kekeringan. Tapi ingat, sama seperti rajawali, apakah kita akan melanjutkan hidup kita atau berhenti saja? Saat yang paling baik, tempat yang paling baik untuk menyegarkan hidup kita lagi adalah dengan kembali kepada sumber hidup yaitu Tuhan. Tuhan ingin agar kita kembali pada-Nya makanya ada namanya kekeringan hidup. Segeralah mendekat pada Tuhan jika kita mengalaminya agar kita dipulihkannya.


Sama seperti burung rajawali. Terbanglah tinggi melebih awan-awan, mengatasi badai hidup, melompati batas-batas kenormalan yang dibuat oleh sekeliling kita. Jadilah berbeda. Tunjukkan gayamu.


Sumber : http://elektron17.wordpress.com/
dengan perubahan seperlunya

Learning from Nature : Burung Rajawali

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 20 Oktober 2012
With 0komentar

Sepasang Merpati

| Senin, 15 Oktober 2012
Baca selengkapnya »
Hujan sudah lama turun membasahi bumi. Tanah yang menganga karena kemarau yang enggan beranjak pergi, kini menjadi tanah yang tertutup. Ia merasa puas telah mendapat air yang cukup dan tak kehausan lagi. Rumput-rumput kering tergantikan dengan bunga-bunga yang kembali bersemi. Pohon-pohon yang tumbang digantikan dengan tunas-tunas baru. Daun-daun yang tua dan kecoklatan digantikan dengan daun-daun hijau yang muda. Angin timur yang kering sekarang telah kalah saing dengan angin barat yang basah.

Pandanganku layangkan jauh ke atas langit. Kulihat dua ekor burung terbang berpasangan. Mereka terbang dengan membentuk harmoni. Kutatap dalam-dalam dan kudapati mereka sepasang merpati. Keduanya terbang dan lalu meluncur ke pohon beringin yang besar. Si jantan terbang kembali sedangkan si betina bertengger di dahan pohon. Tak lama aku lihat lagi si jantan membawa ranting kayu. Rupanya ia mau membuat sarang. Ranting-ranting kayunya lembut namun kuat. Dia ingin merayu si betina kalau ia bisa membuat sarang dengan cepat dan rapi. Usai si jantan membuat sarang, si betina pun mencoba masuk ke sarang yang dibuat si jantan. Dia tampak nyaman dengan sarang buatan si jantan. Mereka akhirnya larut dalam permainan cinta. Si jantan tampak senang bercinta dengan si betina. Setelah lama kemarau panjang yang merontokkan cinta, di awal musim penghujan cinta mereka bersemi kembali.

Si jantan melempar rayuan-rayuan manis untuk si betina agar ia mau tetap bersamanya selalu. Si betina terlihat jual mahal pada si jantan. Si jantan pun terbang keluar sarang dan masuk kembali dengan membawa banyak barang untuk si betina. Si betina tampak senang dengan apa yang diberikan oleh si jantan. Si jantan berhasil merayu si betina. Mereka pun hanyut dalam nuansa asmara mereka.

Hujan sudah lama berhenti. Tetes-tetes sisa air hujan masih mengeces di halaman rumahku. Kemarau panjang menyengsarakan telah tergantikan dengan kegembiraan satu hari. Derita yang panjang tergantikan dengan cinta yang bersemi di awal musim hujan. Sepasang merpati telah membawa cinta itu. Menyejukkan hatiku. Memberiku kekuatan baru. Cinta baru saja menepuk wajahku dan berkata "Hai!". Kujawab saja "Halo". Cinta mengajakku untuk kembali bersemangat. Cinta memberiku kekuatan baru. Kugenggam ia dengan erat. Aku tak mau kehilangannya walau keadaan sesulit apapun. Seperti sepasang merpati yang menumbuhkan kembali, aku ingin cinta tetap ada dalam diriku.


Sepasang Merpati

Posted by : Unknown
Date :Senin, 15 Oktober 2012
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲