Newest Post

My Long Journey @ Jogjakarta (KKMBI 2012)

| Kamis, 16 Agustus 2012
Baca selengkapnya »
Walau badanku sudah tidak berada di Jogja, namun setiap kali aku kembali melihat foto-fotoku di Jogja, aku seperti merasa kembali ke Jogja. Sebenarnya sudah seminggu kejadian ini berlangsung, namun aku masih bisa mengingatnya. Aku merasa terisi penuh kembali setelah melakukan liburan ke sana. Sebuah liburan yang cukup panjang sebenarnya namun aku masih kurang menikmatinya. Entahlah, setiap kali aku sudah mulai kerasan berada di sana, waktu sepertinya tidak bersahabat lagi denganku. Ia ingin cepat-cepat meninggalkanku.

Perjalananku ke Jogja dimulai di hari Minggu tanggal 1 Juli. Naik kereta api jam 8 malem bersama teman-teman segereja yaitu Reza, Bayu, Kevin, Petra, Bentri, Fero, Lena dan Ivana. Masing-masing membawa tas yang besasr-besar. Karena perjalanan dilakukan pada malam hari, jadinya tak bisa melihat pemandangan yang ada. Aku tak bisa tidur sama sekali di kereta, mungkin karena belum terbiasa karena sudah lama kau tidak naik kereta api lagi setelah nenekku yang terakhir meninggal. Aku sampai di Stasiun Tugu jam 4 pagi, namun aku masih merasa bukan di Jogja. Kemudian kami dijemput oleh tim KKMBI ke GBI Anugrah karena di sana nanti siang kami akan diberangkatkan ke dusun Sumber Boyong tempat nanti akan melakukan kegiatan berkemah. Sampai di bumi perkemahan jam 8 pagi, namun suasana udaranya panas sepanas jam 12 siang kalo di Bandung.. Sangat panas cuacanya padahal kulihat jam di hape masih jam 9 pagi. teman-temanku pun merasakan hal yang sama. Selain itu kami juga masih harus menunggu lama. Selain itu ketika aku melihat tempat nanti akan berkemah, tempatnya sungguh memprihatinkan. Seperti inilah suasananya

 Acaranya pun baru dimulai nanti sore. Aku sempat kesal dan menyesal telah melakukan perjalanan ke sini. Aku berharap supaya aku bisa kembali lagi, tapi untungnya apa yang aku harapkan tidak terjadi.

Acara pun di mulai setelah semua peserta berkumpul walau belum semuanya sih karena masih ada yang di dalam perjalanan. Acara diawali dengan opening ceremony. Diawali dengan kotbah, dan sambutan-sambutan setelah itu makan malam. Barulah setelah makan malam, acara penyambutan yang meriah dari BPD Yogyakarta. Sambutannya sungguh meriah dengan adanya kembang api dan juga menari dan loncat-loncat di depan panggung. Seperti ini kembang apinya.


Aku merasa senang apalagi aku gak kebayang 800 orang dari berbagai pelosok Indonesia berkumpul di Yogyakarta dengan tujuannya masing-masing. Pasti akan sangat menyenangkan mengenal kebudayaan mereka satu persatu. Setelah opening ceremony dan welcome party, para peserta pun disuguhi ketoprak. Bukan makanan, tapi pementasan ketoprak tentang Yusuf di rumah Potifar.

Sebenarnya aku sudah ngantuk dan aku melihat jam  menunjukkan pukul 10 malam. Aku, Bayu dan Jim, teman dari Baitlahim Bandung, berencana masuk ke tenda, karena melihat banyak peserta lain yang menuju tenda lagipula aku kurang tidur malam sebelumnya. Namun ketika aku masuk tenda dan hampir bersiap tidur, rupanya ada pembagian kelompok di tenda utama. Aku pun langsung lari tergopoh-gpoh di gelapnya malam. Tendaku berada diatas jadinya aku harus turun dulu baru naik lagi untuk mencapai tenda utama. Rupanya di tenda utama sudah dilakukan pembagian kelompok. Aku pun kebingungan sendiri mencari kelompokku. Bolak-balik ke depan belakang namun akhirnya ketemu juga.

Pada saat itu mungkin karena aku masih lemah atau karena canggung, aku hanya diam saja dalam kelompok dan aku pun hanya bicara sedikit karena lelahnya. Setelah segala urusan selesai, kami semua pun kembali masuk tenda. Karena satu tenda berisi delapan orang, dan kondisi tendanya yang memprihatinkan, dan juga belum ada pembagian yang jelas dalam tendanya, aku pun tidur di tenda mana saja yang belum penuh. Setelah mendapat tenda, aku langsung tidur dan tak sempat untuk berkenalan karena sudah kecapean. Aku tidur di pinggir tenda. Kondisinya tidak nyaman, tapi ya sudahlah tidur saja. Walau lututku kedinginan dan aku terjepit oleh orang disebelahku yang badannya cukup gumpal sehingga membatasi ruang gerakku.

Keesokkan paginya tanggal 3 Juli hari Selasa jam 4 pagi aku terbangun karena udara dingin dan aku juga masih mengantuk namun karena udara dingin yang membuat kedua lututku saling beradu, aku tak bisa menahannya. Aku pun melakukan doa pagi sendiri karena teman-teman setendaku masih tertidur lelap. Tak berapa lama setelah doa aku liat ke luar tenda dan matahari mulai menampakkan dirinya malu-malu. Selain itu kesibukan sudah mulai terasa dari yang mau mandi. Aku pun segera bersiap-siap untuk mandi. Aku pergi ke kamar mandi di bawah untuk ngantri mandi karena rupanya di atas sudah rame. Tetapi di bawah pun lumayan rame jadi aku mengantri. Setelah beres, singkat cerita makan pagi. Setelah makan, aku pun mencari tempat duduk, maksudnya mau bareng dengan teman-teman sekelompok yang semalam aku temui, setelah sedikit berputar-putar aku akhirnya menemukannya sedang duduk manis.

Acara hari itu dimulai dengan berbagai sesi. Sesi yang pertama adalah Pemuda di Era IT. Setelah itu sesi dilanjutkan dengan Integritas dan Kepemimpinan. Sebenarnya sesi-sesi tersebut membuatku ngantuk karena kemarin saja jam tidurku kurang trus komunikasi satu arah tambah ngantuk. Hari pun beranjak siang.dan acara di siang tiu setelah makan siang, adalah jalan-jalan. Asyiknya

Aku dan kelompokku dan yang lainnya pergi menuju peternakan sapi. Sedangkan kelompok yang lainnya ke tempat lainnya. Entah aku emang suka jalan cepat atau teman-teman sekelompokku pada suka jalan lambat, dalam perjalanan aku tak melihat kelompokku. Aku pun terus berjalan, sambil tentunya kenalan dengan orang lain. Berguyon ama yang lain. Ada salah satu orang entah dari mana tapi sepertinya kalau aku tidak salah ingat dari Lampung, dia sangat senang melawak sehingga menarik minat beberapa orang disekitarnya dan akhirnya kami pun terlibat dalam guyonan-guyonan dan candaan yang dia dan aku buat. Lumayan juga sambil mengusir rasa lelah juga. Akhirnya setelah berjalan panjang, naik dan menyusuri jalanan yang terus menanjak sampai di peternakan sapi. Aku lihat sapi-sapi di sana sehat-sehat.

Setelah beberapa lama, kelompokku pun datang. Seperti biasa, Clarisha, salah satu anggota kelompokku dan Nur Dhila berfoto-foto bersama sapi di peternakan.Selain itu kami juga berfoto-foto segenk.



 Setelah itu kami melihat-lihat sapi yang sedang diperah dan dimandikan oleh karyawannya. Kemudian aku dan Dhila mencoba untuk memerah sapi. Rasanya aneh tapi mengasyikan juga.



Setelah puas 'bermain' dengan sapi, aku mencoba susu sapi yang baru deperah tadi dan rasanya beda banget dengan susu murni yang biasa aku beli di rumah. Masih segar dan enak.

Kemudian aku dan kelompok dan juga serombongan pergi ke tempat pupuk. Rupanya pupuk yang digunakan terbuat dari kotoran sapi dari peternakan. Tempat pembuatan pupuknya berada dalam sebuah gubuk yang tertutup. Suasana di dalamnya pengap dan gelap. Kotoran yang sudah terurai oleh cacing pengurai seperti tanah teksturnya. Aku masuk sebentar dan setelah mendapat penjelasan, aku keluar dan duduk-duduk di sekitar gubuk bersama teman-teman sekelompokku. Aku diajarin bahasa Jawa Kromo karena kebanyakan temanku itu adalah orang Jawa, tapi dari Kediri. Yang mengherankanku adalah Jessica, dia dari Jakarta tapi fasih berbicara dalam bahasa Jawa. Rupanya usut punya usut, pernah tinggal di Jawa Tengah selama 8 tahun. Jelas saja bisa bahasa Jawa.

Tak berapa lama, kemudian perjalanan dilanjutkan. Seharusnya sesuai jadwal setelah ke tempat pembuatan pupuk, kami seharusnya membantu warga yang berada di sekitar perkemahan, namun karena sudah dibantu semua, kami pun kembali ke perkemahan sambil berfoto-foto ria. Ini salah satunya.

Setelah sampai perkemahan, aku lalu mandi dan kemudian makan kudapan yang ada. Acara berikutnya adalah sesi ketiga tentang Penatalyanan. Penatalayanan itu dalam bahasa sederhananya adalah pelayanan yang dilakukan di gereja.

Setelah sesi Penatalyanan, dlanjutkan dengan makan malam. Hidangan di malam hari, entah karena lidahnya beda atau gimana tak terlalu membuatku bersemangat makan. Selama makan belakangan dua hari ini aku berubah menjadi seorang vegetarian. Kemudian acara selanjutnya adalah KKR yang dibawakan oleh BPD Jabar. Temanya "Change For Life". KKRnya berlangsung dengan meriah. Mungkin karena yang menjadi wl-nya Reza kali ya tapi beda banget dengan sesi yang lainnya. Yang menyampaikan firmannya adalah Pdt. Firmnius dan ayatnya di ambil dari Yeremia 9:23-24.

Setelah selesai, kami semua pun masuk tenda dan tertidur dengan sedikit tidak pulas. Di hari kedua ini benar-benar cape. Hari ini pindah tenda karena sudah ada data namanya. Di tendaku yang baru aku berkenalan dengan Andi, dan Kerin. Aku lupa dari mana mereka tapi Kerin jelas keliatan dari Jakarta dan Andi dari Semarang. Setelah aku merebahkan diriku, tiba-tiba hpku berdering. Rupanya dari Lintang, adiknya Jordan. Tumben banget sms. Kami pun terlibat dalam sms sampai aku tak sadarkan diri lagi. Maksudnya tertidur begitu.

Keesokkan paginya aku terbangun jam 4. Huh dingin banget, aku pun kemudian membangunkan yang lain untuk bersaat teduh bareng seperti yang biasa aku lakukan bersama guruku di SMA dulu. Setelah bersate, aku ingin mandi, aku mengajak Bayu untuk mandi di rumah warga. Aku pergi bareng Bayu, Kevin dan dua orang teman baru yaitu Pupung dari Lampung dan Bosman, artis mana dari Batam. Kami pun menyusuri jalanan menuju rumah warga, walau pada akhirnya kami menuju tempat pancuran di pinggir hutan, tepat di belakang rumah warga. Suasananya masih asri, air masih jernih. Udaranya dingin sampai bisa membuat uap dari mulut seperti di drama korea gitu deh. Aku, Kevin, Bayu, dan Bosman gak mandi. Kami hanya cuci muka dan sikat gigi. Setelah selesai, kami kembali ke perkemahan. Tepat di belakang perkemahan aku bisa melihat Gunung Merapi. Aku pun minta Kevin untuk memforo aku dengan background Gunung Merapi.. Memang sih tidak terlalu jelas karena kurang pagi.

Acara berikutnya adalah sesi tentang Kewirausahaan. Yang membawakan materi ini adalah Ir. Jacky Lattupeirissa, pemimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Beliau menyarankan untuk yang mau berwirasuaha sebaiknya ikut tergabung dalam HIPMI. Setelah selesai dengan Kewirausahaan, dilanjutkan kembali dengan sesi berikutnya yang bertemakan Jati Diri Pemuda Baptis, yang dibawakan oleh dr. Andreas Andoko, M. Kes. Ada tiga tokoh Alkitab yang dibahas yaitu Daniel, anak buangan yang diangkut ke Babel, Ester, anak yatim piatu yang diangkut ke Babel dan Daud, anak bungsu yang dikucilkan dalam keluarga. Sebagai seorang pemuda Baptis, kita diharuskan memiliki integritas seperti Daniel yang tetap pada pendiriannya untuk tidak menajiskan dirinya dengan makanan raja.

Setelah semua sesi selesai, akhirnya tiba pada kegiatan yang aku tunggu-tunggu yaitu workshop lagi. Kali ini rombongan aku akan workshop ke tempat perkebunan bunga krisan.  Seperti ini bunganya

 Ada sekitar sepuluh warna sebenarnya dan ada satu bunga yang memiliki dua warna sekaligus dalam mahkotanya. Harga bibitnya adalah Rp. 550 per satu bibit, tapi setelah dipanen harganya mulai dari Rp. 11.000 perikatnya. Sampai saat ini bunga krisan hanya dapat dinikmati keindahannya. Ia tak memiliki aroma wangi seperti bunga pada umumnya. Penanaman bunga krisan baru bisa dipanen setelah 3 bulan, tetapi bunga krisan merupakan bunga yang manja. Karena berasal dari subtropis, jadi suhu udara dan lama pemancaran sinar matahari pun perlu dimanipulasi. Selain itu bunga krisan punya hamanya jadi perlu dipestisida setiap seminggu sekali. Sampai saat ini belum ada penelitian lebih lanjut tentang manfaatnya dalam dunia pangan sehingga penggunaan pestisida masih digunakan.

Kemudian aku dan teman sekelompokku pun ingin melihat ke rumah kaca tempat penanaman bunga krisan dan bunga lainnya yang aku lupa namanya. Setelah selesai dan puas melihat-lihat bunga krisan, kami pun mulai berjalan lagi serombongan. Aku membawa tas yang cukup penuh karena aku berencana untuk mandi di rumah warga hari itu, namun sayang karena ulah Dhila, tali tasku putus karena memang banyak barang di tasku sehingga aku kesulitan membawanya. Anehnya kenapa juga difoto oleh Clarisha.

Hah, ada-ada aja kelakuan mereka tapi itulah salah satu hal yang membuatku tak bisa lupa dengan perjalanan panjangku ke Jogjakarta.

Setelah ke perkebunan bunga krisan, kami melanjutkan perljalanan ke pembibitan rumah jamur. Aku gak ikut masuk ke rumah jamurnya karena tempatnya penuh sesak lagipula aku sedikit kerepotan karena tasku talinya putus. Aku dan teman-teman sekelompokku ikut menunggu di luar tak masuk ke rumah jamur. Kemudian  kami sekelompok pun kembali berjalan karena ada satu tugas yaitu mewawancarai salah satu warga desa di sekitar perkemahan. Kami pun berencana ke tempat biasa Daniel numpang mandi. Rumahnya cukup jauh juga. Sambil berjalan aku menikmati perjalanannya karena tak ada kendaraan yang melintas. Udaranya masih bersih dan rumah-rumah di desa tidak berhimpitan seperti di kota. Jaraknya berjauh-jauhan, selain itu tak ada pagar yang lebih tinggi dari dada orang dewasa. Benar-benar kerasa suasana desanya.

Kami sampai di rumah Ibu Wiwid, begitu nama salah satu warga tempat biasa Daniel numpang mandi. Ibu Wiwid umurnya sekitar 30-an dan punya seorang anak laki-laki yang sekitar berumur 8 tahunan. Aku pun mulai mewawancarainya. Beginilah suasana wawancaranya.
Seperti itulah suasananya penuh dengan keakraban dan memang kalau aku dengarkan bahasa Jawa di sekitar Jogjakarta itu memang halus, kromo. Setelah selesai wawancara, aku, Daniel, elo dan lupa aku siapa satu lagi menumpang mandi di rumah Ibu Wiwid. Karena ada yang mandi duluan tadi, jadi kami menunggu.

Apa yang dikatakan oleh Daniel tentang Ibu Wiwid ini memang benar. Beliau begitu baik pada kami. Beliau menyuguhkan salak pondoh buat cemilan sambil menunggu yang sedang mandi. Kami berada di rumah ibu Wiwid sampai lewat jam 6 sore sehingga kami terlambat mengikuti kegiatan selanjutnya yaitu Lembaga Misi yang ada di bawah naungan Baptis.

Lembaga yang berada di naungan Baptis diantaranya adalah STDI Bandung, STTB Jakarta dan Bandung, LLB, STBI Semarang, STIKES Kediri dan Rumah Sakit Kediri. Karena aku datangnya agak telat aku jadi ketinggalan beberapa informasi. Setelah selesai dengan penayangan lembaga Misi yang ada di bawah naungan Baptis, selanjutnya adalah makan malam. Setelah makan malam, teman-teman sekelompokku mengajak untuk duduk di bagian depan. Saat makan malam, aku , Clarissa dan Jessica kebetulan makan bareng, nah kami lihat ada kacang rebus. Kebetulan aku pakai sweater, maka kami pun ambil kacang rebus itu banyak-banyak untuk cemilan nanti di acara talent show.

Acara pun di mulai malam itu. Suhu udaranya entah kenapa tambah dingin ketimbang dari yang kemarin, tapi karena sudah bersama-sama dengan teman-temanku aku pun tak terlalu dingin. Talent show yang ditampilkan berasal dari berbagai BPD yang ikut acara KKMBI. Talent show tersebut dilombakan karena ada dua juri. Di awal acara talent-talentnya menarik maksudnya tampilan yang disuguhkan menarik, namun makin ke malam aku semakin kedinginan. Aku pun membeli susu hangat sambil dtemani Dhila karena dingin dan aku juga ulai mengantuk. Aku menunggu-nunggu BPD Jabar tampil, tapi karena waktunya sudah habis jadinya BPD Jabar tampilnya diundur.

Kemudian semuanya pun kembali ke tenda untuk istirahat. Di tendaku maksudku di wilayah sekitar tendaku, aku dan teman-teman setenda membuat api unggun untuk menghangatkan badan karena udara malam dari hari ke hari semakin dingin saja. Segala macam sampah kami gunakan untuk membuat api menyala sampai badan terasa hangat. Setelah badan hangat dan malam makin larut, akhirnya kami semua masuk ke tenda dan tertidur pulas.

Keesokan paginya jam empat tepat di hari yang keempat seperti biasa aku dan teman-teman setenda mulai hari dengan bersaat teduh, kemudian setelah bersaat teduh, aku mengajak Daniel dan Elo, teman sekelompokku untuk menumpang mandi di rumah Ibu Wiwid. Kami pun segere meluncur ke rumah Ibu Wiwid sambli membawa peralatan mandi. Kami mandinya bergantian dan sambli menunggu waktu mandi, kami yang belum mandi main bola bersama anaknya Ibu Wiwid di pekarangan rumahnya. Kami main bolanya sambil bertelanjang kaki karena tanahnya dilapisi pasir abu vulkanik jadi enak dan tidak sakit saat bertelanjang kaki. Setelah semuanya beres mandi, kami pun bersiap-siap untuk mengikuti acara hari ini karena hari ini adalah tracking dan outbound.

Acara hari ini adalah tracking dan outbound artinya keliling desa. Wah akhirnya aku bisa juga melakukan tracking. Sudah lama aku gak ikut kegiatan seperti ini. Sudah lama sekali. Terakhir aku melakukannya mungkin waktu SMA. Kami semua, maksudnya seluruh peserta KKMBI yang sampai 800 sekian, sudah berkumpul di tenda utama. Semua sudah duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Lama juga kami menunggu. Wah kejadian seperti hari pertama aku datang ternyata terulang lagi. Kami menunggu sampai terang tanah. Aku tak tahu yang terjadi tapi karena menunggu jadinya sepertinya acaranya di persingkat.

Akhirnya muncullah mcnya. Kupikir akan langsung diberangkatkan, tapi rupanya disuruh membuat yek-yel terlebih dahulu. Sebenarnya kelompokku sudah membuat yel-yel tapi yang baru tahu baru Daniel, Elo, Clarisa, Jessica, dan Yosia. Yang lain belum karena selama seminggu itu mereka duduknya misah gak bareng seperti kami. Yel-yelnya aku lupa tapi aku menggunakan nada lagu pada hari minggu dicampur dengan jargonnya So Imah di Show_Imah. Kami beres dengan segala macam koreografinya yang sebenarnya gak terlalu sulit tapi lama karena ada dua puluh orang yang dilatih dan aku secara ajaib dijadiin ketua kelompoknya. Entah mengapa kalau ada acara keakraban kelompok seperti ini aku tiba-tiba bisa jadi orang nomor satu dikelompok tersebut walau aku tak mengajukan diri. Hmm, mungkin ini salah satu bakatku untuk menjadi tumbal. Hahahhahaha......

Kami pun kembali menunggu karena acaranya saat itu adalah lomba yel-yel. Karena kami tadi terlalu lama bikin koreografinya kami gak dapat tempat duduk jadi duduk-duduk di sekitar tebing yang berumput sambil melihat yang lomba yel-yel sambil kepanasan dan kelelahan. Setelah menunggu cukup sangat terlalu lama, tiba giliran kami untuk unjuk yel-yel. Karena udah kelelahan menunggu jadinya penampilannya kurang maksimal. Kenapa bisa begitu? Karena kami adalah kelompok kedua terakhir. Kelompok 11 tulisan KKMBI. Beuh jadinya lama.

Akhirnya setelah beberapa lama menunggu, kami pun diberangkatkan dalam dua kloter. Kloter pertama melakukan tracking, sedang kloter kedua, kloterku, melakukan outbound di tempat penambangan pasir. Aku bersama kelompokku berjalan ke bawah dari tempat perkemahan karena letaknya tepat persis di bawah perkemahan. Aku pun melihat ke arah tempat penambangannya. Sungguh sangat dahsyat bencana meletusnya Gunung Merapi. Dulunya itu sungai tapi karena erupsi Gunung Merapi jadi seperti ini begitu sedikit kisahnya.




Kelompokku main bareng dengan kelompok 12 dan karena nomor kelompok kami 11 12, yang kalau istilah artinya sama saja, kami pun bikin kesepakatan untuk ngerjain mas, dan mba karang taruna yang ikut bantuin acara outbound jadi kami tak mengejar kemenangan. Hanya kesenangan yang kami kejar. Maka terjadilah niat busuk kami.saat kami berada di pos yang pertama yaitu pos 6. Saat ditanya yel-yelnya kelompok kami serempak bilang 'Ketinggalan", Mentornya bingung jadi tanya lagi dan kami menjawab dengan kata yang sama yang maksudnya memang yelnya 'Ketinggalan'. Saat mentornya tanya ke kelompok 12, kelompok itu pun menjawab 'Belum Buat'. Sontak membuat mentornya bingung menghadapi kami, tapi kami ikuti saja gamesnya.

Di pos berikutnya pun, kami melakukan hal yang sama. Ketika ditanya oleh mentornya 'Kok gitu sih?' kami serempak bilang 'Kan namanya kelompok 11 12. Jadi sama saja.' sambil tertawa-tawa kecil. Tiap games yang ada di tiap pos kami mainkan dengan cara yang tak biasa yaitu sambil tertawa dan bersenang-senang dan sedikit membuat mentornya kerepotan karena kami memang sudah merencanakannya. Setelah puas mengerjai kakak mentor di outbound, acara pun berlanjut dengan tracking.

Tracking pun dimulai. Kami melalui kompleks persawahan yang ada di atas lokasi perkemahan. Bulir-bulir padinya sudah terlihat dan dalam beberapa waktu lagi siap dipanen. Sebenarnya ada banyak foto yang diambil tapi aku belum mendapatkan semua softcopynya. Aku, Jessi, Clar, Daniel, Elo, Dhila, Gaby, dan Yossi berjalan di pematang sawah sambil merasakan sengatan mentari sore. Setelah melalui pematang sawah, kami pun menyusuri hutan. Sebenarnya tidak terlalu lebat dan jalannya pun tidak securam yang biasa aku temui tapi banyak cerita mistisnya namun aku tak percaya. Setelah menyusuri hutan secara perlahan, kami pun sampai di tempat penambangan pasir. Ada dua buah kendaraan berat dan kami pun berfoto sejenak. Selanjutnya kami menyusuri sungai dan masuk lagi ke hutan.

Rencananya setelah outbound ini akan ada games basah yaitu perang-perangan dengan kelompok kloter pertama. Kami pun mempersiapkan peluru yaitu kantong plastik yang diisi air dari sungai-sungai. Kami pun berhenti sejenak ketika menemukan aliran air, namun sayang airnya kotor tapi tak apalah. Kemudian kami pun mengisi 'senjata' kami dan kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat berperang. Kami terus berjalan ke tempat berperang yang ternyata jauh banget sampai kakiku pegal-pegal. Setelah sampai, tanpa buang waktu lagi perang pun dimulai. Kami tim penyerang bertugas merebut bendera yang ada di tim bertahan. Kantong plastik berisi air pun beterbangan di langit dan berjatuhan. Jebakan lumpur ikut memeriahkan suasana bahkan kakiku ikut terjerembab masuk ke lumpur. Aku melempar kedua kantong air yang ada di tanganku dan jatuh byar tepat di atas ubun-ubun orang lain. Badanku tak terlalu basah untungnya. Aku pun melihat keriaan di sana. Kemudain peperangan pun berakhir dengan menangnya tim penyerang karena berhasil merebut benderanya. Aku lihat teman-temanku yang lain sampai ada yang basah kuyup karena ikut maju. Aku sih tidak karena kebetulan 'senjata'ku sudah habis juga. Akhirnya setelah beres, kami pun kembali ke perkemahan untuk mandi. Seperti biasa, aku , Daniel, Elo ke rumah Ibu Wiwid untuk menumpang mandi dan sambil menunggu giliran, main bola dulu sama anaknya Ibu Wiwid sambil makan buah salak yang disediakan oleh Ibu Wiwid.

Setelah mandi dan beres-beres, acara selanjutnya adalah api unggun, namun sayang sekali Clarisha tak ikut acara ini karena di harus kembali ke Kediri untuk persiapan masuk SMA besok jadi dia pulang lebih awal. Sayang sekali sih sebenarnya tapi demi keperluannya dia pun pulang terlebih dahulu. Aku pun hanya bisa say goodbye lewat sms. Good luck my friend.

Untuk api unggun kali ini, suasananya entah mengapa pas sekali. Aku bisa melihat bulan purnama yang menguning merangkak naik dan bintang gemnintang yang membentuk gugusan di atas kepala. Malam itu begitu tenang dan syahdu. Sebelum penyalaan api unggun ada ibadah dedikasi yang dibawakan oleh ayahnya Gaby yaitu Pdt. Dr. Yosia. Di ibadah ini adalah pengambilan keputusan. Setelah itu api unggun dinyalakan dengan perwakilan tiap BPD menyalakan api unggun yang ada di depan panggsung dan ketika api dinyalakan, kami pun menyanyikan lagu tema "Ini Gayaku" dan di sinilah menjadi surprise buat kami para peserta KKMBI dan yang membuatku sangat menyesali kenapa Clarisha cepat pulang. Please welcome our guest star : JUDIKA!! Yeah. Judika tampil di KKMBI menghibur kami. Ini videonya




Secara spesial Judika hadir untuk menghibur kami. Dia melakukan performa yang baik namun sayang karena aku duduk agak di belakang bersama teman-temanku jadi gak terlalu keliatan karena Judika ke bawah panggung terus, tapi setidaknya aku bisa melihatnya tampil live.

Api unggunnya sudah berakhir, tapi sebenarnya pesta terus berlangsung. Aku beli pop mie bareng Kevin, Bayu, Pupung dan Bosman, artis Batam. Kami semua masih aktif walau sudah malam. Setelah makan popmie aku dan Kevin, Bayu, Pupung, dan Bosman berjalan-jalan mengitari perkemahan dan kami memiliki rencana untuk membuat api unggun kecil yah sekedar untuk menghangatkan badan karena tadi aku duduknya gak pas di depan api unggun. Setelah berputar cukup lama, dan kembali ke tenda, aku melihat di tenda dekat tendaku ada yang membuat api unggun. Aku, dan Kevin pun ikut nimbrung aja sekalian kenalan ama mereka.

Inilah sebenarnya yang aku sesali dari KKMBI, kenapa baru deket di malam terakhir ini, di hari terakhir sebelum pulang. Inilah yang aku sesali. Kami semua berkumpul di sekitar api unggun sampai jauh malam dan walaupun dari toa panitia kami seharusnya tidur, tapi kami tak peduli karena kami baru merasakan kedekatan dengan teman-teman yang lain malam ini. Kami banyak melontarkan candaan-candaan tentang panitia keamanan, walau kami tahu ada panitia juga di dekat kami yang ikut berdiang tapi rupanya ikut tertawa juga. Sambil menjaga api tetap menyala, Kevin dan beberapa yang lainnya mengambil kayu untuk dibakar. Aku tak tahu dari mana mereka mendapatkan bambu tapi kami menikmati malam itu. Walau tak ada makanan, yang penting berkumpul. Inilah yang aku rindukan, juga sesali kenapa baru deketnya sekarang bukan dari awal ketemu. Malam pun makin larut dan kami matikan api kemudian tertidur pulas. Malam terakhir yang begitu hangat di malam yang sebenarnya dingin. Seperti orang dulu bilang. Makan gak makan yang penting ngumpul.

Pagi terakhirku di Jogjakarta, di Kabupaten Sleman lereng Gunung Merapi, tanggal 6 Juli. Ini adalah hari terakhirku di perkemahan Sumber Boyong. Pagi itu kami semua beres-beres, tapi mandi masih di rumah Ibu Wiwid. Setelah beres-beres dan segalam macamnya, aku, Daniel dan satu orang temanku juga yang ikut mandi di rumah Ibu Wiwid, berencana memberikan sedikit bingkisan sebagai bentuk ucapan terima kasih karena sudah mau menerima kami bahkan menganggap kami saudara selama kurang dari seminggu ini. Yang kami beli hanya mie dan beberapa butir telur. Satu hal yang aneh, yaitu Elo kenapa tak ikut, tapi aku tak peduli. Setelah closing ceremony kami langsung membeli barang-barangnya dan mengunjungi rumah Ibu Wiwid untuk yang terakhir kalinya untuk berterima kasih dan memberi bingkisan tersebut.

Kemudian kami mengikuti acara terakhri di tenda utama. Banyak yang sedih karena berpisah. Aku tanya teman-teman yang lainnya mereka juga sedih kenapa setiap sudah dekat dengan yang lain malah ada perpisahan. Aku akui aku juga sedih kenapa hari yang indah ini segera berakhir. Kenapa harus ada yang namanya berpisah? Kami pun berfoto-foto untuk yang terakhir kalinya seluruh peserta berfoto berderet di panggung. Sungguh banyak karena panggung gak cukup, sampai keluar-keluar. Setelah itu foto-foto per BPD. Aku juga berfoto dengan teman sekelompokku.



Setelah berpuas-puas diri dengan berfoto-foto dan tukeran souvenir dengan teman-teman, satu persatu BPD pun berangkat pulang dimulai dari BPD Kediri dan yang terakhir adalah BPD Jabar. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami pun diberangkatkan pulang kembali ke BMB GBI Anugrah.
 Ini foto sebenarnya diambil saat dini hari jam 4 pagi waktu pertama kali menginjakkan kaki di bumi Jogjakarta.. Kami sampai di GBI Anugrah sekitar jam 4 sore. Di sana masih ada BPD dari DKI Jakarta dan aku masih bisa bertemu dengan Jessica. Kereta yang akan kami tumpangi akan berangkat jam setengah 9 dari Statiun Tugu. Kami berencana untuk berjalan-jalan dulu di sekitar Malioboro. Kebetulan Mas Ronal datang bersama Bagas, dan Oomnya. Kami, yang dari Maleber, naik mobilnya dan langsung meluncur ke Malioboro untuk belanja dan makan-makan. Kami berfoto-foto di Tugu dan di depan plang Malioboro. Pokoknya berfoto-foto ria deh. Ini dia fotonya.






Setelah puas berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan untuk makan-makan di lesehan. Kami memesan tentunya yang khas dari Jogjakarta yaitu gudeg kering. Di sinilah tempatnya.

Belum pernah aku merasakan gudeg yang begitu nikmat. Yang kami pesan adalah gudeg telor dengan telor rebus kecuali Bagas yang memesan pecel lele. Kelihatannya enak pecel lele yang dibeli Bagas, tapi aku gak suka lele sebenarnya. Setelah perut kenyang dan puas, kami pun ke seberang jalan untuk membeli pernak-pernik di Malioboro.

Di sana kami belanja banyak barang, mulai dari kaos Jogja, kaos couple, dmpet, bermacam-macam tas dan berbagai pernak pernik lainnya seperti aksesoris dan gantungan kunci. Aku berjalan bareng Petra, dan Bagas sedangkan yang lainnya ambil jalan yang berbeda. Setelah berjalan-jalan cukup lama, kami pun segera naik mobil untuk mengambil barang-barang di GBI Anugrah untuk langsung menuju ke statiun karena waktunya sudah hampir dekat. Kami pun segera masuk dan dalam waktu singkat kami pun sudah sampai di GBI Anugrah lalu kami langsung memasukkan barang-barang kami ke mobil. Yang pertama ke Station Tugu adalah laki-laki dengan membawa barang-barang, sedangkan yang perempuan menunggu. Kebetulan jalanan tak terlalu ramai tapi ketika sampai di statiun, area parkir penuh. Kami pun langsung turun mengangkat barang-barang ke depan statiun. Mobil pun langsung kembali ke GBI Anugrah untuk membawa anak perempuan. Sementara itu kami yang laki-laki membereskan brang bawaan dan membantu teman-teman seBPD Jabar yang lainnya karena untuk kepulangannya kami pulang naik kereta yang sama tapi memang beda angkutan. Kalo kami pergi sendiri, yang lain satu koordinasi.

Teman-teman perempuan seperti Fero, Ivana, Petra, Lena, Bentri pun datang dan teman-teman yang se BPD pun sudah datang. Kami langsung masuk ke peron naik ke gerbong. Kami semua masuk dan tidak ada yang tertinggal. Aku pun bersyukur karena tak ada yang tertinggal, tapi masalah belumlah usai karena rupanya gerbong yang kami masuki diduduki orang lain. Keadaan agak panas tapi untungnya tak terlalu lama. Kami akhirnya duduk juga saat kereta sudah mulai berjalan. Kami sangat kelelahan. Lihatlah foto yang ini


Aku benar-benar sangat lelah sehingga aku pun tertidur selama perjalanan di kereta. Aku tertidur sangat lelap hingga tak menyadari sudah masuk Bandung dan hari sudah menjelang pagi.  Aku pun sampai di Statiun Bandung jam 6 pagi dan aku pulang. Aku sangat lelah. Aku tak bisa lagi menahan kantuk dan di hari Sabtu pagi ketika sampai rumah, aku pun melanjutkan tidurku. Memang, benar-benar perjalanan yang panjang, melelahkan dan menyenangkan.

Aku sangat menikmati liburanku kali ini. Berlibur di daerah pedesaan di Jogjakarta bersama teman-teman baru, merasakan keindahan dan keasrian pedesaan, keramahan penduduk, tidur di tenda yang ketika malam sangat dingin, dan siangnya panas, tak ada kendaraaan bersliweran, sejauh mata memandang hanyalah warna hijau yang menyejukkan mata, saat berjalan dinaungi pepohonan yang rindang, bermain bersama teman, mendapat teman-teman baru, bercanda, bersenda gurau, pokoknya aku sangat puas dengan perjalananku kali ini. Sungguh benar-benar tak terlupakan.

My Long Journey @ Jogjakarta (KKMBI 2012)

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 16 Agustus 2012
With 0komentar
Tag :

Just Say It With Flowers

| Minggu, 05 Agustus 2012
Baca selengkapnya »
Say it with flowers.

Siapa sih yang gak tahu kata-kata itu? Apalagi yang lagi jatuh cinta dan berbunga-bunga. Gak bisa ngomong, pake bunga aja buat ngungkapin.

btw, anyway on the busway, ternyata peribahasa itu benar adanya. Bagi orang-orang yang biasa ceplas-ceplos, atau ngejeblak pastibisa dengan mudahnya menungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Nah kalo yang pemalu kayak putri malu gimana? Berdiri depan orang aja dah gemetar dan keringet dingin apalagi depan doi. Tapi tenang, peribahasa di atas berlaku kok. Just say it with flowers. Ada beberapa bunga yang biasa digunakan untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran. Apa aja tuh? Ni dia....

=================================================================
1. Bunga Melati
Jika kita baru bertemu dengan orang baru yang kita kenal, bisa kasih bunga melati yang artinya : saya senang bertemu dengan anda. :) 

2. Bunga Matahari
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Nah kalau kita suka dengan teman kita dan kita pengen ketemu lagi dengan dia, kasih aja bunga matahari yang artinya : saya senang bertemu anda dan semoga kita ketemu lagi.

3. Bunga Tulip
Beda halnya dengan bunga matahari, jika kita gak suka dengan orang itu dan berharap tak bertemu lagi cukup kasih bunga tulip karena artinya : saya tidak senang dengan anda.

4. Bunga Mawar Merah
Buat yang lagi pacaran atau yang pernah pacaran atau yang merasa kasmaran pasti tahu donk mawar merah. Mawar merah memiliki arti : Aku mencinati kamu sepenuhnya. Jadi yang mau melakukan penyataan ke calon pacar atu ke pacar, seikat mawar merah bolehlah sebagai pelengkap momen romantis kalian.

5. Bunga Mawar Hitam
Nah ini dia saingan si mawar merah, mawar hitam atau black rose. Black rose ini biasa muncul di tempat angker atau kematian. Arti dari mawar hitam : aku sudah tak peduli kamu lagi. Nah buat yang putus pacaran, boleh deh mawar hitam ini buat ngungkapin perasaan kamu kalau kamu mau putus.

6. Bunga Mawar Putih
Walau masih sama-sama mawar tapi mawar punya beda arti. Mawar putih ini artinya : aku siap menerimamu setulusnya sampai mati. Nah buat yang mau nikahan boleh nih dipake mawar putih karena mawar putih menunjukkan kesetiaan.

7. Bunga Lotus
Bunga lotus atau teratai ini memang unik. Bunga dan daunnya di atas permukaan air tapi batang dan akarnya jauh di bawah air. Kalu buat temen-temen nih ya yang pengen deket ama doi tapi tanpa status yang jelas, boleh dipake nih bunga lotus karena artinya : aku suka kamu tapi aku bingung.

8. Bunga Anggrek
Bunga yang satu ini cocok banget buat ucapan terima kasih buat sahabat kita yang telah membantu. Kalau gak bisa ngungkapin secara langsung boleh deh pakai bunga anggrek karena artinya: terima kasih banyak.

Ya itulah beberapa bunga yang bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan kalau gak bisa menyampaikan secara langsung. Boleh dicoba tuh. Kalau teman-teman menemukan yang lainnya, tambahin aja di bawah ok


berbagai sumber.

Just Say It With Flowers

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 05 Agustus 2012
With 0komentar

Tak Berjudul, Tak Bernada

| Selasa, 31 Juli 2012
Baca selengkapnya »
Pernah kita bergandengan bersama
Di perjalanan yang panjang
Membawa serta mimpi-mimpi kita
Tak berhenti lalu pulang
Bernyanyi kita di sepanjang perjalanan
Menghadapi banyak halangan
Suka duka datang bergantian
Menyertai kita dalam perjalanan

Kini kuberjalan seorang diri
Menghadapi banyak tantangan
Tak mampu kuterus berdiri
Melawan segala serangan
Hampa kurasakan tanpamu
Yang telah menemaniku selama ini
Dimanakah sekarang dirimu
Yang berjanji menggenggam tanganku ini

Percuma saja kala kau kembali
Hancur sudah semua angan-angan
Tak ada lagi rasa percayaku kini
Sudah jauh kutendang semua kenangan
Cukup sudah semua janjimu
Biarlah kita menempuh jalan berbeda
Tak perlulah mengulang masa lalu
Karena kita sudah berbeda

Tak Berjudul, Tak Bernada

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 31 Juli 2012
With 0komentar

Para Pengejar Layangan

| Rabu, 27 Juni 2012
Baca selengkapnya »

Di siang hari yang sangat terik di bulan Juni,

“Wah peugat deui euy. Kenapa sih nih gelasannya? Ngapain atuh sekarang?” sesal Udin.
“Udahlah, beli lagi yang baru. Nanti biar si Amir aja yang ngejar.” Hibur Asep “Mir, udag tah layangannya.”
“Siplah.” Amir pun melengos pergi.
“Eh Din, belinya di Ceu Monah ya. Biar dikasih yang bagus gelasan dan layangannya.” teriak Asep sambil Udin berlari menuju sebuah rumah di pinggir lapangan.

Udin, Asep dan Amir adalah tiga sahabat karib. Mereka masing-masing berumur 12 tahun kecuali Amir yang berumur 14 tahun karena pernah tinggal kelas. Mereka baru mau masuk kelas 6 SD. Saat itu mereka sedang liburan dan kegiatan mereka sehari-hari adalah bermain layangan di lapangan sebelah pekuburan umum. Mereka sangat senang bermain layangan bahkan sampai seharian mereka di luar rumah untuk bermain layangan saja. Jika ada layangan putus, pasti mereka akan mengejarnya hingga mereka mendapatkannya. Mereka juga berlomba dengan anak-anak yang lain yang ikut mengejar layangan. Pernah suatu kali karena mereka sangat senang bermain dan mengejar layangan yang putus, mereka hampir membahayakan diri seperti memanjat pohon, menyempil di antara dua tembok yang rapat dan menyebrangi jalan raya yang sangat padat. Mereka pun sempat beberapa kali dimarahi oleh orangtua mereka karena kebiasaan mereka main sampai seharian dan tidak tahu waktu tapi begitulah mereka para pengejar layangan. Tak pernah bisa dipisahkan dari dunia mereka. Hanya musim yang memisahkan mereka. Kebetulan hari itu musim kemarau dan sedang liburan sehingga mereka dapat bermain dengan sepuasnya.

Tak berapa lama Udin pun kembali ke lapangan menemui Asep dan Amir yang kelelahan setelah mengejar layangan.
Kumaha Mir? Dapet gak layangannya?”
Amir menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah gapapa. Ayo main lagi. Aku dah beli yang baru.” ajak Udin.
Tiba-tiba...
“Heh Udin! Keur naon didieu? Ini teh lahan saya, bukan kamu!” bentak sebuah suara.
Ketika Udin, Amir dan Asep memalingkan muka mereka ke arah suara ternyata yang berbicara adalah Budi Cs.
“Heh! Ngapain kamu ngatur-ngatur saya? Lagian ini teh lapangan umum. Siapa aja bisa make. Apa urusan kamu?” balas Udin.
“Pokoknya mah, kalo saya udah di sini kalian semua kudu pergi termasuk kalian juga. Pergi! Kalo engga babaturan saya bakal ngehajar kamu. Berani kamu?” ledek Budi sambil diiringi tawa sarkas teman-temannya.
“Beuh, wanina keroyokan. Geus lah. Hayulah barudak indit weh.” ucap Asep sambil diiringi kekesalan anak-anak yang lain.
Sebenarnya Udin, Asep, Amir dan anak-anak lain bisa saja melawan Budi, namun Budi kali ini membawa orang-orang yang bertubuh kekar semacam bodyguard. Selain itu jika berkelahi bisa ditindak oleh orangtuanya Budi karena orangtuanya Budi terutama bapaknya adalah pensiunan ABRI jadi mereka memlih mundur dan mengalah.

Kejadian siang itu rupanya diperhatikan oleh seseorang. Dia adalah Mei Ling, anak Thiong Hoa  tulen. Tinggalnya tidak terlalu jauh dari lapangan tempat biasa anak-anak bermain layangan. Mei Ling baru beberapa bulan tinggal di sana. Dia pun belum mengenal anak-anak di daerah itu. Melihat kejadian itu, Mei Ling lalu punya ide. Dia bergegas keluar rumah dan mengejar Udin, Amir dan Asep yang berjalan paling belakang dari rombongan yang kecewa karena surga kecil mereka telah dirampas oleh Budi Cs.

“Hei, hei! Tunggu donk!” teriak Mei Ling memanggil Amir dan kawan-kawan.
“Eh, Mir, denger gak ada suara perempuan manggil?” tanya Asep.
“Denger kok. Sahanya? Ayo atuh kita tengok.” Jawab Amir sambil diikuti oleh anggukan kedua temannya.
Ketika mereka menoleh mereka kaget karena ada seorang gadis kecil yang mengejar mereka. Mereka pun sontak berteriak dan kemudian berlari kocar-kacir. Mei Ling pun merasa heran dengan Amir, Udin dan Asep. Dia pun berpikir apa yang salah. Kemudian dia kembali ke rumah dan mencoba cara lain untuk berteman dengan mereka.

Keesokan siangnya, suasana lapangan kembali ramai dipenuhi oleh anak-anak yang ramai bermain lapangan. Tak terkecuali orang dewasa rupanya ikut terkena virus layangan. Ketika Amir, Udin dan Asep sampai di lapangan, rupanya lapangannya ramai sekali sehingga gak ada tempat lagi.
“Yah kabeurangan ini mah Din. Harusnya rada pagian ke sininya biar dapet tempat.” sesal Amir.
Nyageuslah. Urang ngala’an  layangan aja yuk yang putus sembari nungguan tempat kosong.” jawab Udin sambil diiringi anggukan Amir dan Asep.

Tak berapa lama setelah itu, ada sebuah layangan yang putus karena diadu. Amir, Asep dan Udin pun serta merta lalu lari mengejar layangan tersebut. Rupanya layangan tersebut tergeletak di atas atap rumah Mei Ling. Mereka pun berpikir sejenak sebelum masuk ke pekarangan rumahnya.
“Eh Din, apal teu  rumah ini?” tanya Amir sambil sedikit gelisah.
“Engga, emangnya kenapa gitu Mir?” tanya balik Udin.
“Ini teh rumahnya anak yang kemaren ngejar kita. Ingat gak? Aku teh takut nanti kalau kita ke sana teh kita bakal diapa-apain ama anak itu.” Ucap Amir sambil merinding.
Mendadak tiba-tiba Udin dan Asep pun ikut menjadi ketakutan.
“Oh iyaya. Karek apalI. Wah takut juga nih gimana atuh ya?” tanya Asep.
Mereka pun terdiam di depan rumah Mei Ling.

Tak berapa lama kemudian tiba-tiba pundak Asep dipegang oleh seseorang dan orang itu mulai bicara “Sedang ngapain Dek?”
Mereka pun kemudian menoleh ke arah sumber suara dan mereka pun memohon ketakutan “Hampura Pak. Maaf ngga ngapa-ngapain.” Ucap Asep sambil ketakutan.
Bapak itu pun tersenyum lalu berkata “Apa kalian mau ambil layangan yang ada di rumah itu?”
Serempak ketiganya mengangguk.
“Mari masuk dulu ke rumah bapak. Itu rumah bapak. Ayo.” Ajak bapak itu dengan ramahnya.
Ketiganya pun mengikuti bapak itu dari belakang sambil berdebar-debar jantung mereka memikirkan nanti akan bertemu dengan anak perempuan yang kemarin mengejar mereka.
“Nah mari masuk dulu ya. Duduk dulu di sini. Ohya sebentar ya. Mei! Mei! Kemari nak. Ini ada teman-teman barumu.” Ucap bapak tersebut.
Tak berapa lama anak gadis yang kemarin mengejar mereka pun muncul. Amir, Asep dan Udin pun bergidik lemas dan ketakutan bak melihat pocong di siang bolong mereka bertemu lagi. Melihat raut muka di ketiga bocah tadi bapak tersebut kemudian mencoba menjelaskan.
“Ini namanya Mei Ling. Dia baru di sini sekitar dua bulan.  Ayo Mei kenalan dulu.”
Kemudian Mei pun mengulurkan tangan sambil menganyam senyum terbaiknya. Amir, Asep dan Udin mengulurkan tangan mereka sambil masih merasa ketakutan. Kemudian Amir pun berkata
“Kemarin ke,,kenapa kamu ngejar kami?” tanyanya sambil ketakutan.
“Oh kemarin saya mau kenalan ama kalian, tapi kaliannya malah lari. Padahal saya juga suka lho main layangan malah saya punya layangan yang bagus.” Jawab Mei Ling sambil tersenyum yang menimbulkan kekagetan Udin dan kawan-kawan terhadap teman barunya ini.
“Oh jadi kalian sebelumnya sudah pernah bertemu ya. Bagus deh kalau begitu. Oh ya. Bapak masih ada kerjaan. Bapak tinggal dulu ya. Kalian mainnya jangan jauh-jauh ya.’ Ucap bapak Mei Ling diiringi anggukan.

Kemudian Mei Ling pun mengajak mereka ke loteng dan menunjukkan koleksi layangan yang dia punyai. Amir, Asep dan Udin berdecak kagum melihat koleksi layangan yang Mei Ling punya. Mereka tak menyangka rupanya ada anak perempuan juga yang suka dengan layangan.
“Apakah kamu suka main layangan Mei?” tanya Udin.
“Tidak, tapi saya suka sekali membuat layangan. Rasanya sangat menyenangkan. Waktu dulu saya di Cina, saya pernah diajari oleh seorang guru dalam membuat layangan dan kini lihatlah koleksi saya. Saya tak mau memainkannya karena saya tak bisa menerbangkannya.” Jelas Mei Ling.
“Wah kamu teh hebat pisan. Bisa ajarin kami gak bikin layangan, nanti kami ajarin cara nerbangin layangan hias kamu? Gimana teman-teman?” tanya Udin sambil diiringi anggukan teman-temannya.
“Oke deh kalau begitu. Ayo aku ajak kalian ke halaman belakang untuk membuat layangan. Di sana semua bahan yang kita perlukan sudah lengkap.” Ajak Mei Ling.

Siang itu mereka menghabiskan waktu di rumah Mei Ling, teman baru mereka, membuat layangan hias. Mereka begitu menikmati kegiatan sore hari itu apalagi mereka akhirnya mendapat teman baru. Ternyata membuat layangan begitu sulit bagi Amir, Asep dan Udin. Mei Ling tersenyum melihat keseriusan mereka dalam membuat layangan. Mereka pun akhirnya berhasil membuatnya walau sudah beberapa kali. Mei Ling pun mengacungkan jempol buat mereka. Matahari kian condong ke barat maka Amir, Udin dan Asep pun pamit pulang dan berjanji akan mengajak Mei Ling bermain layangan besok siang.

Besok siangnya Amir, Udin dan Asep sudah bertandang di rumah Mei Ling. Kemudian Mei Ling pun keluar rumah dan mereka pun berjalan beriringan menuju tanah lapang yang sepi orang dan mulai menerbangkan layangan mereka masing-masing. Mereka menerbangkan layangan hias yang kemarin mereka buat. Layangan Amir berbentuk roket, layangan Udin berbentuk segilima, layangan Asep berbentuk segidelapan, sedangkan layangan Mei Ling berbentuk wajah naga. Mereka asyik menerbangkan layangan hias mereka.
“Wah geunah ogenya main layangan teh gak diadu gini. Aralus deui.” Decak kagum Amir.
“Iya nih, enakeun  gitu. Apa kamu di Cina main layangannya begini?” tanya Udin.
“Iya Udin, kami di Cina memainkan layangan seperti ini. Maksudnya adalah sebagai penolak bala.” Jelas Mei Ling.

Anak-anak lain yang melihat mereka berempat memainkan layangan di tempat lain pun tertarik. Mereka pun segera menuju tempat Amir dan kawan-kawan bermain layangan. Mereka terpana dengan layangan yang diterbangkan.
“Udin, kamu beli layangan di mana?” tanya Deni.
“Oh engga Den. Ini mah bikin sendiri. Buat koleksi weh  ini mah. Bukan aduan.” Jelas Udin
“Ih, kabita da. Din ajarin dong?” pinta Toni sambil diikuti dengan teman-teman yang lain.
“Aku mah gak bisa. Ini nih yang bantuin kami teh. Mei Ling ngaranna teh Kemarin dia yang ngajarin. Kalau mau, minta ajarin Mei Ling aja. Mei Ling mau gak ngajarin yang lain?” tanya Udin. Mei Ling pun mengangguk.

Mereka semua pun senang karena diajak Mei Ling untuk membuat layangan hias. Mereka pun ke rumah Mei Ling. Melihat rombongan anak-anak, bapak Mei Ling kaget dibarengi dengan senyuman. Bapak Mei Ling pun menyambut anak-anak yang datang ke rumahnya. Kemudian beliau pun mendatangi Amir, Asep dan Udin.
“Amir, Asep, Udin makasih ya.” Ucap bapak Mei Ling sambil berlinang air mata.
Melihat ada hal yang kurang beres Asep pun bertanya.
“Kenapa gitu Pak?” tanya Asep penasaran.
“Begini lho anak-anak, Mei Ling itu sebenarnya dia itu susah sekali untuk di ajak bergaul. Dia masih mengalami trauma dengan layangan, tapi sejak dia berteman dengan kalian, dia jadi lebih periang seperti biasanya. Sekarang malah dapat teman yang banyak seperti ini. Bapak sangat berterima kasih sama kalian ya.” Jelas Bapak Mei Ling
“Ah Pak kami justru yang terima kasih karena kami boleh diajarkan membuat layangan. Kami sangat senang bisa bermain dengan Mei Ling.” Ungkap Udin.
“Yah, sama-sama ya. Oh ya kalau ada perlu lagi nanti temui bapak saja ya.” Kata Bapak Mei Ling. Ketiga sahabat itu pun mengangguk dan tersenyum. Mereka terlihat gembira terutama Mei Ling yang gembira mendapat teman-teman baru. Apa yang mereka lakukan jauh lebih berharga dari yang mereka kira yaitu persahabatan. Pada akhirnya Mei Ling pun jadi pengejar layangan bersama Amir, Udin dan Asep.

========================================================================
========================================================================

Buah dari persahabatan selalu lebih besar dari yang kita kira. Apapun yang kita lakukan pada sahabat kita, sadar tidak sadar mempengaruhi kehidupan sahabat dan orang di sekeliling kita. Oleh karena itu berikanlah buah yang baik buat sahabat kita.

Para Pengejar Layangan

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 27 Juni 2012
With 0komentar

Betapa (Amat) Lucunya Bangsaku

| Selasa, 26 Juni 2012
Baca selengkapnya »

Seringkali setiap malam menjelang jam 9 malam, seluruh keluargaku-lebih tepatnya ayahku- menyetel sebuah statiun televisi yang dimana suka ada debat politik di acara tersebut. Aku dan adikku menyimaknya-atau lebih tepatnya tak peduli- pada siaran itu. Aku terutama sebenarnya tak suka menontonnya. Entahlah kalau melihat para pejabat tinggi negara yang membahas sebuah masalah pasti bisa lama kelarnya. Gak cuman sekali dua kali, tapi berkali-kali bahkan malah jadi budaya. Sebelum sebuah masalah beres timbul masalah lain yang lebih ‘panas’ yang lebih ‘menarik’ sehingga ‘menglungsurkan’ masalah yang sedang dibahas dan membuat masalah itu ter’abai’kan lengkap dengan keadaan terakhirnya.

Aku suka sedih kalau lihat aktivitas para pejabat sekarang ini di gedung DPR dan MPR dan juga di depan teve. Mereka senang banget bersandiwara. Ada di acara apapun mereka berubah menjadi aktor dan aktris yang mereka anggap hebat sehingga dapat mendapatkan simpati dari yang menonton. Di depan kamre mereka sungguh hebat, tapi di kenyataan benar-benar tanda tanya besar.

Mereka juga punya hobi yang aneh menurutku. Hobi banget bermain dengan politik. Urusan politik diurus sampe benar-benar kurus namun ketika mengurus yang lain entahlah, mereka seperti orang udik seudik-udiknya. Mereka suka heboh seperti kemarin, beli pesawat terbang baru, bikin gedung baru, beli mobil baru. OK lah beli en bikin, tapi siapa yang biayain? Eh ternyata rakyat kecil yang bayarin, udah belinya yang gak tanggung-tanggung lagi mahalnya sampai ngutang kanan kiri, depan belakang. Tapi giliran rakyat minta kesehatan, pendidikan menghilang sudah. Kalaupun dikasih, yah palingan seadanya. Mentang-mentang rakyat hidup sederhana, dikasih yang sederhana.

Ada lagi yang bikin aku suka sedih lagi. Masalah kecil mereka besar-besarin, mereka tumpuk sampai kelihatan. Giliran ada masalah besar kayak kemarin itu, mereka kubur supaya gak tercium lagi busuknya. Aneh bukan? Ah bangsaku lucu banget.

Kalau ingat perjuangan kakek-kakek buyutku, aku jadi sedih. Pengen rasanya membombardir negeri ini sampai benar-benar hancur dan membuat pemerintahan baru, tapi apa daya. Aku hanyalah anak kemarin sore yang baru bisa menulis, membaca dan berhitung. Aku cuman cecunguk kecil yang berlari-lari di padang rumput mengejar layangan seperti mengejar cita-cita yang tak bisa diraih sama sekali. Aku cuman seekor cicak yang sekali digencet langsung mati. Ah betapa sedihnya bangsaku ini. Hidup segan mati tak mau. Bercita-cita masuk surga, tapi kelakuan kayak setan-setan. Ah amat lucunya bangsaku ini.

Betapa (Amat) Lucunya Bangsaku

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 26 Juni 2012
With 0komentar

Passion of My Life

| Senin, 18 Juni 2012
Baca selengkapnya »
Setelah setahun tak menggambar lagi, dan tadi mencoba menggambar karikatur wajah dan menggambar manga, hasilnya lebih hancur dari awal ketika aku belajar menggambar. Yah memang sih kalau udah lama gak ngasah ilmu jadi hilang juga tuh kemampuan tapi pada dasarnya memang gak bakat sih menggambar, tapi aku cuman suka aja.
Menulis juga sama, aku gak ada bakat. Dalam keluargaku gak ada satupun yang punya darah sebagai penulis apalagi pujangga macam Chairil Anwar. Namun aku suka menulis dan lumayan juga hasil tulisanku makin lama makin membaik walau beberapa bulan ini aku sudah lama tak menulis lagi dan baru sekarang aku kembali menulis.
Sebenarnya ada banyak yang aku tulis. Kalau dikumpulin sejak aku mulai belajar menulis dari SD kelas 4 sampai sekarang ini kuliah, sekitar ribuan baik itu puisi, cerpen, ataupun artikel. Tapi dulu aku gak kepikiran buat mengumpulkannya baru waktu SMA saja aku mengumpulkannya. Sekarang aku menyesal kenapa tak mengumpulkan tulisan-tulisanku dari dulu, tapi sudahlah toh setidaknya aku sekarang sudah dapat mengelola tulisanku dengan lebih baik lagi.
Berbicara soal passion atau gairah, apa sih yang terbersit dalam pikiran teman-teman? Kalo menurut pendapat aku passion itu suatu dorongan yang memampukan seseorang untuk melakukan suatu tindakan melebihi kekuatan yang dimilikinya. Ibarat kata ya kayak orang loncat pakai trampolin gitu deh. Nah, seorang teman pernah berkata padaku, mimpimu berasal dari passionmu terhadap sesuatu. Artinya kebanyakan orang hidup dari hobinya. Gak percaya? Aku juga sebenarnya ragu sih, tapi setelah beberapa lama aku mengerti maksudnya.
Nah temen-temen pasti ada satu cita-cita yaitu pasti pengen sukses. Ya gak sih? Tapi gimana caranya? Sedikit share saja ya. Dulu waktu SD kelas 1 aku pengen jadi astronout karena kayaknya enak gitu liat di teve bisa jalan di udara. Bayangin, orang jalan di udara bukan napak di tanah. Trus kelas 4 SD pengen jadi guru, karena ngeliat jadi guru tuh kayaknya enak juga tinggal ngomong en gaji pun datang trus bisa bikin orang pinter lagi. Kemudian sampe kelas 1 SMP aku pengen jadi ilmuwan karena ngeliat di teve hidup ilmuwan bikin percobaan ratusan kali sampai dapet Nobel dan juga aku juga kepikiran pengen dapet Nobel, ketika SMA aku pengen jadi penulis, setelah aku baca novel-novel bagus dan karena banyak baca novel aku jadi banyak nulis dan itu jadi kegemaranku pastinya. Trus hubungannya dengan sukses apa? Setelah aku bercita-cita menjadi penulis aku jadi belajar banyak kalau sukses itu ternyata bisa dimulai sekarang. Masa sih? Gak percaya? Sukses apa sih? Berhasil kan? Nah aku sekarang ingin sukses bikin orang lain tersenyum. Gak mudah loh membuat orang tersenyum apalagi setiap saat tersenyum tapi itu cita-citaku. Ingin membuat orang lain tersenyum ketika aku ada supaya tak ada lagi tangisan.

Sekarangwhat is your passion of your life?

Passion of My Life

Posted by : Unknown
Date :Senin, 18 Juni 2012
With 0komentar
Tag :

Dua Buah Botol

| Rabu, 30 Mei 2012
Baca selengkapnya »
Malam itu, suasana begitu sunyi senyap. Tak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya para penjaga ronda dan satpam yang terlihat sedang berpatroli malam sambil diiringi candaan-candaan kecil. Sementara itu di langit purnama tampak terlihat dengan jelas dan beberapa bintang menunjukkan gugusan rasi bintang biduk, yaitu gugusan bintang yang digunakan pelaut untuk menentukan arah. Jika ada rasi biduk, itu artinya arah timur. Selain itu deburan ombak yang menabrak bibir pantai dan karang, tidak ada lagi suara. Padahal jam baru menunjukkan setengah sembilan. Pohon-pohon kelapa yang bergoyang ditiup angin, atau digoyang oleh ketam kelapa. Lampu-lampu dari rumah-rumah sekitar pantai menyala remang-remang.

Namun ditengah kesunyian malam itu, tanpa diketahui siapapun, ada sesosok bayangan yang bergerak begitu cepat dari balik batu karang  yang dekat dengan pemukiman warga. Bayangan itu bergerak cepat. Dia berlari dari balik batu karang, lalu melompati pagar rumah Pak Hamid, rumah yang terdekat dari batu karang.Kemudian melemparkan sesuatu ke halaman rumah Pak Hamid. Setelah melakukan itu, bayangan itu kembali lari ke balik batu karang. Tak seorang pun yang memperhatikan tindakan sosok bayangan itu kecuali Simon, keponakan Pak Hamid yang saat itu sedang di atas loteng rumah Pak Hamid. Dia melihat semua yang dilakukan oleh bayangan itu. Karena penasaran, Simon segera turun ke bawah dan lalu segera menuju keluar rumah. Namun belum sempat dia mencapai pintu rumah, dia ditahan oleh Amir, anak Pak Hamid.

"Simon, mau kemana malam-malam begini?" tanya Amir
"Sebentar aku ada perlu." jawabnya sambil tergesa-gesa
"Aku ikut okeh?" tanya Amir
"Tak perlu, sebentar saja kok" balas Simon
"Ayolah, boleh ya?"
"Tidak.."
"Ayo donk Simon, boleh ya?"
"Heeemmm...baiklah, tapi jangan berisik sama sekali."

Kemudian mereka berdua keluar rumah, lalu Simon membungkuk seperti mencari sesuatu. Dia menemukan sesuatu di pinggir pagar rumah Pak Hamid. Sebuah botol berisi selembaran kertas. Kemudian dia kembali berdiri dan mengamati batu karang tempat tadi bayangan tersebut berlari. Kemudian, Simon berlari keluar ke arah batu karang itu. Melihat kelakuan Simon yang aneh, Amir mengejarnya sambil teriak.

"Hei, apa kau sudah gila? Mau kemana?"
"Sudah diam,.ikut saja denganku"

Mereka pun bergerak, namun ketika mereka sudah berada di balik batu karang, apa yang ingin ditemui oleh Simon tak ditemukan. Yang ada hanyalah sebuah botol yang lain. Simon merasa ada suatu misteri malam ini. Dia melihat sekeliling dan tampaknya tanda-tanda dari bayangan yang dia ikuti benar-benar hilang. Satu-satunya petunjuk yang dia punya hanyalah dua buah botol yang dia temui.

"Ayo kita pulang Mir." kata Simon sambil sedikit menyesal
"Hah? Kamu gila ya? Tadi lari-lari keluar gak jelas eh malah mau balik lagi ke rumah. Ada apa sih?" tanya Amir dengan penasaran.
"Nanti aku ceritakan di rumah. Sebaiknya kita pulang dulu."

Mereka pun berjalan pulang, namun tiba-tiba telinga Simon seperti menangkap suatu suara tepat di atas batu karang. Simon pun segera mendongakkan kepalanya ke atas batu karang dan dia melihat bayangan yang sama seperti yang dia lihat pertama kali. Namun anehnya bayangan itu tak bergerak sama sekali. Dia terdiam seperti mengamati Simon juga. Mereka berdua saling terhanyut dalam pandangan mereka. Amir yang tidak tahu apa-apa dibuat bingung oleh tingkah keduanya. Amir pun segera mengguncangkan Simon

"Heh Simon, apa yang kau lakukan? Kau jangan sampai terhipnotis olehnya." Teriak Amir sambil mengguncang badan Simon.

Namun Simon tak bergeming sama sekali. Malahan tersembul senyumnya yang cerah seperti sudah menemukan sesuatu.

"Hai Nick, tak perlulah kau terdiam di sana. Sudah lama juga kita tak bertemu. Turunlah." teriak Simon kepada bayangan itu.

Bayangan itu pun menurut. Dia turun dan melompat menghampiri Simon. Wajahnya pun segera dikenali oleh Simon. Mereka berdua pun saling berpelukan dan meneteskan air mata. Mereka menangis tapi juga tertawa. Seakan-akan seperti sahabat lama saja yang sudah lama tak ketemu saja.

"Amir, kenalkan, ini teman lamaku. Nicky namanya. Dialah bayangan yang sejak tadi sore aku curigai. Kupikir siapa ternyata kau Nick. Sudah lama aku dan dia tak bertemu." ucap Simon sambil mengenalkan Nicky
"Oh Nicky, temanmu yang selalu kau ceritakan itu kan?" jawab Amir dengan muka lega.
"Kau sudah menceritakan apa saja pada dia Simon?" tanya Nicky
"Banyak. Baiklah sebaiknya kita ke rumah dulu. Ayo Amir kita pulang." kata Simon.

Lalu mereka bertiga pun segera pulang ke rumah karena malam itu begitu dingin karena habis hujan. Ketika mereka masuk halaman rumah, pintu depan terbuka dan muncullah Pak Hamid, sosok yang tegas. Dengan tangan berkecak pinggang, dia mulai angkat bicara.

"Darimana saja kalian ini keluyuran malam-malam?"
"Eee, anu Pak, ini tadi ada temen Pak." jawab Amir.
"Siapa itu? Eh sebentar sepertinya saya kenal, siapa itu teman kamu Simon?" tanya Pak Ahmad sambil berusaha mengingat sesuatu.
"Dia Nicky Om. Teman saya waktu kecil." jelas Simon.
"Nicky...Nicky..., Nicky pelaut bukan?" tanya Pak Hamid
"Ya Om, saya pelaut." jawab Nicky.
"Oh ya benar, Kamu pelaut itu ya yang pernah diceritakan para nelayan di desa kami. Ayo masuk-masuk. Ngomong-ngomong dimana awak kapalmu?" tanya Pak Hamid sambil mempersilahkan masuk.
"Mereka sedang dalam perjalanan mencari bahan makanan, saya datang sendiri sekalian menemui teman lama saya ini." jawab Nicky.
"Oh kalau begitu kamu tinggal saja dulu di sini sementara waktu ya." ajak Pak Hamid.
"Oh terima kasih."

Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hamid, Amir, Simon dan Nicky pun masuk ke rumah sedangkan Pak Hamid pergi ke pos ronda. Nicky saat itu berpenampilan berbeda. Penampilannya ketika melaut dan bukan pelaut jauh berbeda. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius sambil diselingi candaan.

"Botol yang tadi kulemparkan dan sengaja aku taruh di batu karang apa masih ada padamu Simon?" tanya Nicky.
"Ini, satu ada padaku, dan satu lagi ada pada Amir. Tumben sekali kau kemari dan ngomong-ngomong dari siapa kau tahu aku ada di sini?"
"Ceritanya panjang. Tapi aku butuh kedua botol itu sekarang. Amir, apa kau ada pembuka botol?"
"Tunggu sebentar ya?" Amir pun masuk ke dapur "Ahh..ini dia. Ini Nick."
"Terima kasih Amir." ucap Nicky sambil mengambil pembuka botol dan membuka penutupnya."Coba aku butuh air panas. "

Amir pun segera berlari ke arah dapur dan mengambil air panas di dalam mangkok. Kemudian Nicky mengeluarkan dua buah surat yang terdapat di dalam botol tersebut. Setelah dikeluarkan, Nicky meletakkan kertas tersebut tepat di atas uap air panas dari mangkok. Tak berapa lama muncul tulisan dan gambar dari kedua kertas itu.

"Aah...tepat seperti dugaanku! " pekik Nicky.
"Apa itu?" tanya Amir dan Simon hampir bersamaan.
"Kemarilah dan lihatlah ini. Apa kau mengenal gambar dan tulisan ini?"
"Oooh..rupanya ini toh. Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Simon penasaran.
"Masa kau tidak ingat? Dulu kan kita pernah membuat ini sebelumnya dan aku mendapatkannya waktu aku ke sekolah lama kita. Lihatlah. Bukankah waktu itu kita membuat tinta lilin dari foto kita dan kita juga membuat tinta lilin dari tanda tangan teman-teman kita. Ternyata selama 15 tahun kedua kertas ini masih ada dan tak terusik sama sekali. Aku jadi sangat rindu untuk bertemu dengan teman-teman kita. Bagaimana keadaan mereka ya?" kenang Nicky.
"Hmm..masa lalu yang indah. Aku ingin kembali ke masa itu sebenarnya. Aku masih ingat dengan jelas waktu kita masuk sekolah sama-sama dulu. Saat itu ada Roger dan Yudas. Selain itu Michael, dan Michelle si kembar itu ya kan kalau aku tidak salah ingat." ungkap Simon.
"Ya selain itu juga ada si gendut Tommy dan si dekil Andy. Ahh masa yang indah." kenang Nicky disertai dengan anggukan Simon. Sementara itu Amir menyibukkan dirinya dengan alat-alat pancing yang ada di kamarnya supaya tak dikira kambing congek.

Begitulah keadaan dua orang sahabat yang akhirnya bertemu di sebuah rumah yang jauh. Persahabatan mereka begitu erat sampai-sampai mereka dapat saling bertemu walaupun terpisah selama 15 tahun dan jarak yang jauh. Kedua botol misterius itu kembali mempertemukan mereka dalam nuansa yang sangat kental.

Persahabatan lebih indah dari emas murni....(Annonymous)

==========================================================
Akhirnya ceritanya selesai digarap juga. Sudah satu minggu aku menggarapnya dan berkutat dengan writer's block. Thank's buat temen-temen yang udah menginspirasi aku banget walau pada gak sadar, tapi seperti peribahasa bilang They are looking what you do

OK tunggu cerita lainnya yaks ^^

Dua Buah Botol

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 30 Mei 2012
With 0komentar

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

| Rabu, 23 Mei 2012
Baca selengkapnya »

Kala itu, aku melihat Tuhan
Ia sedang terlalu sibuk untuk diganggu
Ketika mendengar bunyi langkahku, Ia berpaling
“Kemarilah” ucap-Nya
Aku mendekati-Nya

Aku lihat di meja kerja-Nya
Terdapat sebuah kotak balok
Di dalamnya terdapat dua ekor bayi unggas
Rupa mereka jelek tidak keruan
Mereka sepertinya baru menetas
Mereka tampak kewalahan
Mereka tertidur

“Kau tahu anak-Ku”
“Ini adalah angsa” jelas Tuhan
“Angsa?!”
“Tak mungkin”
“Benar, mereka adalah angsa”
“Tunggulah beberapa saat”

Kemudian Tuhan mengajakku keluar
Ia membawa teh sore itu
Langit sore saat itu teduh nian
Awan-awan kelambu tak menunjukkan hujan
Sore itu indah
Ada sekumpulan burung terbang

Kau lihat burung-burung di sana?
Dengan apa mereka terbang?

Aku menggelengkan kepala
Aku tak mengerti saat itu

Mereka terbang dengan angin

Bukankah justru mereka akan terbawa angin?
Tanyaku

Justru mereka mengendarai angin
Mereka menggunakan sayapnya untuk mengendalikan angin
Jika tak menggunakan angin
Mereka tak mungkin terbang

Aku pun termangu-mangu
Aku baru mengerti hal itu

Kau tahu, sama seperti kehidupan
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa kuat
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa berdiri
Tanpa masalah tak mungkin kau hidup
Janganlah lari dari masalah
Tapi gunakan masalah itu seperti angin
Angin yang membawamu terbang
Ke langit biru

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 23 Mei 2012
With 0komentar
Next Prev
▲Top▲