Newest Post

Tak Berjudul, Tak Bernada

| Selasa, 31 Juli 2012
Baca selengkapnya »
Pernah kita bergandengan bersama
Di perjalanan yang panjang
Membawa serta mimpi-mimpi kita
Tak berhenti lalu pulang
Bernyanyi kita di sepanjang perjalanan
Menghadapi banyak halangan
Suka duka datang bergantian
Menyertai kita dalam perjalanan

Kini kuberjalan seorang diri
Menghadapi banyak tantangan
Tak mampu kuterus berdiri
Melawan segala serangan
Hampa kurasakan tanpamu
Yang telah menemaniku selama ini
Dimanakah sekarang dirimu
Yang berjanji menggenggam tanganku ini

Percuma saja kala kau kembali
Hancur sudah semua angan-angan
Tak ada lagi rasa percayaku kini
Sudah jauh kutendang semua kenangan
Cukup sudah semua janjimu
Biarlah kita menempuh jalan berbeda
Tak perlulah mengulang masa lalu
Karena kita sudah berbeda

Tak Berjudul, Tak Bernada

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 31 Juli 2012
With 0komentar

Para Pengejar Layangan

| Rabu, 27 Juni 2012
Baca selengkapnya »

Di siang hari yang sangat terik di bulan Juni,

“Wah peugat deui euy. Kenapa sih nih gelasannya? Ngapain atuh sekarang?” sesal Udin.
“Udahlah, beli lagi yang baru. Nanti biar si Amir aja yang ngejar.” Hibur Asep “Mir, udag tah layangannya.”
“Siplah.” Amir pun melengos pergi.
“Eh Din, belinya di Ceu Monah ya. Biar dikasih yang bagus gelasan dan layangannya.” teriak Asep sambil Udin berlari menuju sebuah rumah di pinggir lapangan.

Udin, Asep dan Amir adalah tiga sahabat karib. Mereka masing-masing berumur 12 tahun kecuali Amir yang berumur 14 tahun karena pernah tinggal kelas. Mereka baru mau masuk kelas 6 SD. Saat itu mereka sedang liburan dan kegiatan mereka sehari-hari adalah bermain layangan di lapangan sebelah pekuburan umum. Mereka sangat senang bermain layangan bahkan sampai seharian mereka di luar rumah untuk bermain layangan saja. Jika ada layangan putus, pasti mereka akan mengejarnya hingga mereka mendapatkannya. Mereka juga berlomba dengan anak-anak yang lain yang ikut mengejar layangan. Pernah suatu kali karena mereka sangat senang bermain dan mengejar layangan yang putus, mereka hampir membahayakan diri seperti memanjat pohon, menyempil di antara dua tembok yang rapat dan menyebrangi jalan raya yang sangat padat. Mereka pun sempat beberapa kali dimarahi oleh orangtua mereka karena kebiasaan mereka main sampai seharian dan tidak tahu waktu tapi begitulah mereka para pengejar layangan. Tak pernah bisa dipisahkan dari dunia mereka. Hanya musim yang memisahkan mereka. Kebetulan hari itu musim kemarau dan sedang liburan sehingga mereka dapat bermain dengan sepuasnya.

Tak berapa lama Udin pun kembali ke lapangan menemui Asep dan Amir yang kelelahan setelah mengejar layangan.
Kumaha Mir? Dapet gak layangannya?”
Amir menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah gapapa. Ayo main lagi. Aku dah beli yang baru.” ajak Udin.
Tiba-tiba...
“Heh Udin! Keur naon didieu? Ini teh lahan saya, bukan kamu!” bentak sebuah suara.
Ketika Udin, Amir dan Asep memalingkan muka mereka ke arah suara ternyata yang berbicara adalah Budi Cs.
“Heh! Ngapain kamu ngatur-ngatur saya? Lagian ini teh lapangan umum. Siapa aja bisa make. Apa urusan kamu?” balas Udin.
“Pokoknya mah, kalo saya udah di sini kalian semua kudu pergi termasuk kalian juga. Pergi! Kalo engga babaturan saya bakal ngehajar kamu. Berani kamu?” ledek Budi sambil diiringi tawa sarkas teman-temannya.
“Beuh, wanina keroyokan. Geus lah. Hayulah barudak indit weh.” ucap Asep sambil diiringi kekesalan anak-anak yang lain.
Sebenarnya Udin, Asep, Amir dan anak-anak lain bisa saja melawan Budi, namun Budi kali ini membawa orang-orang yang bertubuh kekar semacam bodyguard. Selain itu jika berkelahi bisa ditindak oleh orangtuanya Budi karena orangtuanya Budi terutama bapaknya adalah pensiunan ABRI jadi mereka memlih mundur dan mengalah.

Kejadian siang itu rupanya diperhatikan oleh seseorang. Dia adalah Mei Ling, anak Thiong Hoa  tulen. Tinggalnya tidak terlalu jauh dari lapangan tempat biasa anak-anak bermain layangan. Mei Ling baru beberapa bulan tinggal di sana. Dia pun belum mengenal anak-anak di daerah itu. Melihat kejadian itu, Mei Ling lalu punya ide. Dia bergegas keluar rumah dan mengejar Udin, Amir dan Asep yang berjalan paling belakang dari rombongan yang kecewa karena surga kecil mereka telah dirampas oleh Budi Cs.

“Hei, hei! Tunggu donk!” teriak Mei Ling memanggil Amir dan kawan-kawan.
“Eh, Mir, denger gak ada suara perempuan manggil?” tanya Asep.
“Denger kok. Sahanya? Ayo atuh kita tengok.” Jawab Amir sambil diikuti oleh anggukan kedua temannya.
Ketika mereka menoleh mereka kaget karena ada seorang gadis kecil yang mengejar mereka. Mereka pun sontak berteriak dan kemudian berlari kocar-kacir. Mei Ling pun merasa heran dengan Amir, Udin dan Asep. Dia pun berpikir apa yang salah. Kemudian dia kembali ke rumah dan mencoba cara lain untuk berteman dengan mereka.

Keesokan siangnya, suasana lapangan kembali ramai dipenuhi oleh anak-anak yang ramai bermain lapangan. Tak terkecuali orang dewasa rupanya ikut terkena virus layangan. Ketika Amir, Udin dan Asep sampai di lapangan, rupanya lapangannya ramai sekali sehingga gak ada tempat lagi.
“Yah kabeurangan ini mah Din. Harusnya rada pagian ke sininya biar dapet tempat.” sesal Amir.
Nyageuslah. Urang ngala’an  layangan aja yuk yang putus sembari nungguan tempat kosong.” jawab Udin sambil diiringi anggukan Amir dan Asep.

Tak berapa lama setelah itu, ada sebuah layangan yang putus karena diadu. Amir, Asep dan Udin pun serta merta lalu lari mengejar layangan tersebut. Rupanya layangan tersebut tergeletak di atas atap rumah Mei Ling. Mereka pun berpikir sejenak sebelum masuk ke pekarangan rumahnya.
“Eh Din, apal teu  rumah ini?” tanya Amir sambil sedikit gelisah.
“Engga, emangnya kenapa gitu Mir?” tanya balik Udin.
“Ini teh rumahnya anak yang kemaren ngejar kita. Ingat gak? Aku teh takut nanti kalau kita ke sana teh kita bakal diapa-apain ama anak itu.” Ucap Amir sambil merinding.
Mendadak tiba-tiba Udin dan Asep pun ikut menjadi ketakutan.
“Oh iyaya. Karek apalI. Wah takut juga nih gimana atuh ya?” tanya Asep.
Mereka pun terdiam di depan rumah Mei Ling.

Tak berapa lama kemudian tiba-tiba pundak Asep dipegang oleh seseorang dan orang itu mulai bicara “Sedang ngapain Dek?”
Mereka pun kemudian menoleh ke arah sumber suara dan mereka pun memohon ketakutan “Hampura Pak. Maaf ngga ngapa-ngapain.” Ucap Asep sambil ketakutan.
Bapak itu pun tersenyum lalu berkata “Apa kalian mau ambil layangan yang ada di rumah itu?”
Serempak ketiganya mengangguk.
“Mari masuk dulu ke rumah bapak. Itu rumah bapak. Ayo.” Ajak bapak itu dengan ramahnya.
Ketiganya pun mengikuti bapak itu dari belakang sambil berdebar-debar jantung mereka memikirkan nanti akan bertemu dengan anak perempuan yang kemarin mengejar mereka.
“Nah mari masuk dulu ya. Duduk dulu di sini. Ohya sebentar ya. Mei! Mei! Kemari nak. Ini ada teman-teman barumu.” Ucap bapak tersebut.
Tak berapa lama anak gadis yang kemarin mengejar mereka pun muncul. Amir, Asep dan Udin pun bergidik lemas dan ketakutan bak melihat pocong di siang bolong mereka bertemu lagi. Melihat raut muka di ketiga bocah tadi bapak tersebut kemudian mencoba menjelaskan.
“Ini namanya Mei Ling. Dia baru di sini sekitar dua bulan.  Ayo Mei kenalan dulu.”
Kemudian Mei pun mengulurkan tangan sambil menganyam senyum terbaiknya. Amir, Asep dan Udin mengulurkan tangan mereka sambil masih merasa ketakutan. Kemudian Amir pun berkata
“Kemarin ke,,kenapa kamu ngejar kami?” tanyanya sambil ketakutan.
“Oh kemarin saya mau kenalan ama kalian, tapi kaliannya malah lari. Padahal saya juga suka lho main layangan malah saya punya layangan yang bagus.” Jawab Mei Ling sambil tersenyum yang menimbulkan kekagetan Udin dan kawan-kawan terhadap teman barunya ini.
“Oh jadi kalian sebelumnya sudah pernah bertemu ya. Bagus deh kalau begitu. Oh ya. Bapak masih ada kerjaan. Bapak tinggal dulu ya. Kalian mainnya jangan jauh-jauh ya.’ Ucap bapak Mei Ling diiringi anggukan.

Kemudian Mei Ling pun mengajak mereka ke loteng dan menunjukkan koleksi layangan yang dia punyai. Amir, Asep dan Udin berdecak kagum melihat koleksi layangan yang Mei Ling punya. Mereka tak menyangka rupanya ada anak perempuan juga yang suka dengan layangan.
“Apakah kamu suka main layangan Mei?” tanya Udin.
“Tidak, tapi saya suka sekali membuat layangan. Rasanya sangat menyenangkan. Waktu dulu saya di Cina, saya pernah diajari oleh seorang guru dalam membuat layangan dan kini lihatlah koleksi saya. Saya tak mau memainkannya karena saya tak bisa menerbangkannya.” Jelas Mei Ling.
“Wah kamu teh hebat pisan. Bisa ajarin kami gak bikin layangan, nanti kami ajarin cara nerbangin layangan hias kamu? Gimana teman-teman?” tanya Udin sambil diiringi anggukan teman-temannya.
“Oke deh kalau begitu. Ayo aku ajak kalian ke halaman belakang untuk membuat layangan. Di sana semua bahan yang kita perlukan sudah lengkap.” Ajak Mei Ling.

Siang itu mereka menghabiskan waktu di rumah Mei Ling, teman baru mereka, membuat layangan hias. Mereka begitu menikmati kegiatan sore hari itu apalagi mereka akhirnya mendapat teman baru. Ternyata membuat layangan begitu sulit bagi Amir, Asep dan Udin. Mei Ling tersenyum melihat keseriusan mereka dalam membuat layangan. Mereka pun akhirnya berhasil membuatnya walau sudah beberapa kali. Mei Ling pun mengacungkan jempol buat mereka. Matahari kian condong ke barat maka Amir, Udin dan Asep pun pamit pulang dan berjanji akan mengajak Mei Ling bermain layangan besok siang.

Besok siangnya Amir, Udin dan Asep sudah bertandang di rumah Mei Ling. Kemudian Mei Ling pun keluar rumah dan mereka pun berjalan beriringan menuju tanah lapang yang sepi orang dan mulai menerbangkan layangan mereka masing-masing. Mereka menerbangkan layangan hias yang kemarin mereka buat. Layangan Amir berbentuk roket, layangan Udin berbentuk segilima, layangan Asep berbentuk segidelapan, sedangkan layangan Mei Ling berbentuk wajah naga. Mereka asyik menerbangkan layangan hias mereka.
“Wah geunah ogenya main layangan teh gak diadu gini. Aralus deui.” Decak kagum Amir.
“Iya nih, enakeun  gitu. Apa kamu di Cina main layangannya begini?” tanya Udin.
“Iya Udin, kami di Cina memainkan layangan seperti ini. Maksudnya adalah sebagai penolak bala.” Jelas Mei Ling.

Anak-anak lain yang melihat mereka berempat memainkan layangan di tempat lain pun tertarik. Mereka pun segera menuju tempat Amir dan kawan-kawan bermain layangan. Mereka terpana dengan layangan yang diterbangkan.
“Udin, kamu beli layangan di mana?” tanya Deni.
“Oh engga Den. Ini mah bikin sendiri. Buat koleksi weh  ini mah. Bukan aduan.” Jelas Udin
“Ih, kabita da. Din ajarin dong?” pinta Toni sambil diikuti dengan teman-teman yang lain.
“Aku mah gak bisa. Ini nih yang bantuin kami teh. Mei Ling ngaranna teh Kemarin dia yang ngajarin. Kalau mau, minta ajarin Mei Ling aja. Mei Ling mau gak ngajarin yang lain?” tanya Udin. Mei Ling pun mengangguk.

Mereka semua pun senang karena diajak Mei Ling untuk membuat layangan hias. Mereka pun ke rumah Mei Ling. Melihat rombongan anak-anak, bapak Mei Ling kaget dibarengi dengan senyuman. Bapak Mei Ling pun menyambut anak-anak yang datang ke rumahnya. Kemudian beliau pun mendatangi Amir, Asep dan Udin.
“Amir, Asep, Udin makasih ya.” Ucap bapak Mei Ling sambil berlinang air mata.
Melihat ada hal yang kurang beres Asep pun bertanya.
“Kenapa gitu Pak?” tanya Asep penasaran.
“Begini lho anak-anak, Mei Ling itu sebenarnya dia itu susah sekali untuk di ajak bergaul. Dia masih mengalami trauma dengan layangan, tapi sejak dia berteman dengan kalian, dia jadi lebih periang seperti biasanya. Sekarang malah dapat teman yang banyak seperti ini. Bapak sangat berterima kasih sama kalian ya.” Jelas Bapak Mei Ling
“Ah Pak kami justru yang terima kasih karena kami boleh diajarkan membuat layangan. Kami sangat senang bisa bermain dengan Mei Ling.” Ungkap Udin.
“Yah, sama-sama ya. Oh ya kalau ada perlu lagi nanti temui bapak saja ya.” Kata Bapak Mei Ling. Ketiga sahabat itu pun mengangguk dan tersenyum. Mereka terlihat gembira terutama Mei Ling yang gembira mendapat teman-teman baru. Apa yang mereka lakukan jauh lebih berharga dari yang mereka kira yaitu persahabatan. Pada akhirnya Mei Ling pun jadi pengejar layangan bersama Amir, Udin dan Asep.

========================================================================
========================================================================

Buah dari persahabatan selalu lebih besar dari yang kita kira. Apapun yang kita lakukan pada sahabat kita, sadar tidak sadar mempengaruhi kehidupan sahabat dan orang di sekeliling kita. Oleh karena itu berikanlah buah yang baik buat sahabat kita.

Para Pengejar Layangan

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 27 Juni 2012
With 0komentar

Betapa (Amat) Lucunya Bangsaku

| Selasa, 26 Juni 2012
Baca selengkapnya »

Seringkali setiap malam menjelang jam 9 malam, seluruh keluargaku-lebih tepatnya ayahku- menyetel sebuah statiun televisi yang dimana suka ada debat politik di acara tersebut. Aku dan adikku menyimaknya-atau lebih tepatnya tak peduli- pada siaran itu. Aku terutama sebenarnya tak suka menontonnya. Entahlah kalau melihat para pejabat tinggi negara yang membahas sebuah masalah pasti bisa lama kelarnya. Gak cuman sekali dua kali, tapi berkali-kali bahkan malah jadi budaya. Sebelum sebuah masalah beres timbul masalah lain yang lebih ‘panas’ yang lebih ‘menarik’ sehingga ‘menglungsurkan’ masalah yang sedang dibahas dan membuat masalah itu ter’abai’kan lengkap dengan keadaan terakhirnya.

Aku suka sedih kalau lihat aktivitas para pejabat sekarang ini di gedung DPR dan MPR dan juga di depan teve. Mereka senang banget bersandiwara. Ada di acara apapun mereka berubah menjadi aktor dan aktris yang mereka anggap hebat sehingga dapat mendapatkan simpati dari yang menonton. Di depan kamre mereka sungguh hebat, tapi di kenyataan benar-benar tanda tanya besar.

Mereka juga punya hobi yang aneh menurutku. Hobi banget bermain dengan politik. Urusan politik diurus sampe benar-benar kurus namun ketika mengurus yang lain entahlah, mereka seperti orang udik seudik-udiknya. Mereka suka heboh seperti kemarin, beli pesawat terbang baru, bikin gedung baru, beli mobil baru. OK lah beli en bikin, tapi siapa yang biayain? Eh ternyata rakyat kecil yang bayarin, udah belinya yang gak tanggung-tanggung lagi mahalnya sampai ngutang kanan kiri, depan belakang. Tapi giliran rakyat minta kesehatan, pendidikan menghilang sudah. Kalaupun dikasih, yah palingan seadanya. Mentang-mentang rakyat hidup sederhana, dikasih yang sederhana.

Ada lagi yang bikin aku suka sedih lagi. Masalah kecil mereka besar-besarin, mereka tumpuk sampai kelihatan. Giliran ada masalah besar kayak kemarin itu, mereka kubur supaya gak tercium lagi busuknya. Aneh bukan? Ah bangsaku lucu banget.

Kalau ingat perjuangan kakek-kakek buyutku, aku jadi sedih. Pengen rasanya membombardir negeri ini sampai benar-benar hancur dan membuat pemerintahan baru, tapi apa daya. Aku hanyalah anak kemarin sore yang baru bisa menulis, membaca dan berhitung. Aku cuman cecunguk kecil yang berlari-lari di padang rumput mengejar layangan seperti mengejar cita-cita yang tak bisa diraih sama sekali. Aku cuman seekor cicak yang sekali digencet langsung mati. Ah betapa sedihnya bangsaku ini. Hidup segan mati tak mau. Bercita-cita masuk surga, tapi kelakuan kayak setan-setan. Ah amat lucunya bangsaku ini.

Betapa (Amat) Lucunya Bangsaku

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 26 Juni 2012
With 0komentar

Passion of My Life

| Senin, 18 Juni 2012
Baca selengkapnya »
Setelah setahun tak menggambar lagi, dan tadi mencoba menggambar karikatur wajah dan menggambar manga, hasilnya lebih hancur dari awal ketika aku belajar menggambar. Yah memang sih kalau udah lama gak ngasah ilmu jadi hilang juga tuh kemampuan tapi pada dasarnya memang gak bakat sih menggambar, tapi aku cuman suka aja.
Menulis juga sama, aku gak ada bakat. Dalam keluargaku gak ada satupun yang punya darah sebagai penulis apalagi pujangga macam Chairil Anwar. Namun aku suka menulis dan lumayan juga hasil tulisanku makin lama makin membaik walau beberapa bulan ini aku sudah lama tak menulis lagi dan baru sekarang aku kembali menulis.
Sebenarnya ada banyak yang aku tulis. Kalau dikumpulin sejak aku mulai belajar menulis dari SD kelas 4 sampai sekarang ini kuliah, sekitar ribuan baik itu puisi, cerpen, ataupun artikel. Tapi dulu aku gak kepikiran buat mengumpulkannya baru waktu SMA saja aku mengumpulkannya. Sekarang aku menyesal kenapa tak mengumpulkan tulisan-tulisanku dari dulu, tapi sudahlah toh setidaknya aku sekarang sudah dapat mengelola tulisanku dengan lebih baik lagi.
Berbicara soal passion atau gairah, apa sih yang terbersit dalam pikiran teman-teman? Kalo menurut pendapat aku passion itu suatu dorongan yang memampukan seseorang untuk melakukan suatu tindakan melebihi kekuatan yang dimilikinya. Ibarat kata ya kayak orang loncat pakai trampolin gitu deh. Nah, seorang teman pernah berkata padaku, mimpimu berasal dari passionmu terhadap sesuatu. Artinya kebanyakan orang hidup dari hobinya. Gak percaya? Aku juga sebenarnya ragu sih, tapi setelah beberapa lama aku mengerti maksudnya.
Nah temen-temen pasti ada satu cita-cita yaitu pasti pengen sukses. Ya gak sih? Tapi gimana caranya? Sedikit share saja ya. Dulu waktu SD kelas 1 aku pengen jadi astronout karena kayaknya enak gitu liat di teve bisa jalan di udara. Bayangin, orang jalan di udara bukan napak di tanah. Trus kelas 4 SD pengen jadi guru, karena ngeliat jadi guru tuh kayaknya enak juga tinggal ngomong en gaji pun datang trus bisa bikin orang pinter lagi. Kemudian sampe kelas 1 SMP aku pengen jadi ilmuwan karena ngeliat di teve hidup ilmuwan bikin percobaan ratusan kali sampai dapet Nobel dan juga aku juga kepikiran pengen dapet Nobel, ketika SMA aku pengen jadi penulis, setelah aku baca novel-novel bagus dan karena banyak baca novel aku jadi banyak nulis dan itu jadi kegemaranku pastinya. Trus hubungannya dengan sukses apa? Setelah aku bercita-cita menjadi penulis aku jadi belajar banyak kalau sukses itu ternyata bisa dimulai sekarang. Masa sih? Gak percaya? Sukses apa sih? Berhasil kan? Nah aku sekarang ingin sukses bikin orang lain tersenyum. Gak mudah loh membuat orang tersenyum apalagi setiap saat tersenyum tapi itu cita-citaku. Ingin membuat orang lain tersenyum ketika aku ada supaya tak ada lagi tangisan.

Sekarangwhat is your passion of your life?

Passion of My Life

Posted by : Unknown
Date :Senin, 18 Juni 2012
With 0komentar
Tag :

Dua Buah Botol

| Rabu, 30 Mei 2012
Baca selengkapnya »
Malam itu, suasana begitu sunyi senyap. Tak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya para penjaga ronda dan satpam yang terlihat sedang berpatroli malam sambil diiringi candaan-candaan kecil. Sementara itu di langit purnama tampak terlihat dengan jelas dan beberapa bintang menunjukkan gugusan rasi bintang biduk, yaitu gugusan bintang yang digunakan pelaut untuk menentukan arah. Jika ada rasi biduk, itu artinya arah timur. Selain itu deburan ombak yang menabrak bibir pantai dan karang, tidak ada lagi suara. Padahal jam baru menunjukkan setengah sembilan. Pohon-pohon kelapa yang bergoyang ditiup angin, atau digoyang oleh ketam kelapa. Lampu-lampu dari rumah-rumah sekitar pantai menyala remang-remang.

Namun ditengah kesunyian malam itu, tanpa diketahui siapapun, ada sesosok bayangan yang bergerak begitu cepat dari balik batu karang  yang dekat dengan pemukiman warga. Bayangan itu bergerak cepat. Dia berlari dari balik batu karang, lalu melompati pagar rumah Pak Hamid, rumah yang terdekat dari batu karang.Kemudian melemparkan sesuatu ke halaman rumah Pak Hamid. Setelah melakukan itu, bayangan itu kembali lari ke balik batu karang. Tak seorang pun yang memperhatikan tindakan sosok bayangan itu kecuali Simon, keponakan Pak Hamid yang saat itu sedang di atas loteng rumah Pak Hamid. Dia melihat semua yang dilakukan oleh bayangan itu. Karena penasaran, Simon segera turun ke bawah dan lalu segera menuju keluar rumah. Namun belum sempat dia mencapai pintu rumah, dia ditahan oleh Amir, anak Pak Hamid.

"Simon, mau kemana malam-malam begini?" tanya Amir
"Sebentar aku ada perlu." jawabnya sambil tergesa-gesa
"Aku ikut okeh?" tanya Amir
"Tak perlu, sebentar saja kok" balas Simon
"Ayolah, boleh ya?"
"Tidak.."
"Ayo donk Simon, boleh ya?"
"Heeemmm...baiklah, tapi jangan berisik sama sekali."

Kemudian mereka berdua keluar rumah, lalu Simon membungkuk seperti mencari sesuatu. Dia menemukan sesuatu di pinggir pagar rumah Pak Hamid. Sebuah botol berisi selembaran kertas. Kemudian dia kembali berdiri dan mengamati batu karang tempat tadi bayangan tersebut berlari. Kemudian, Simon berlari keluar ke arah batu karang itu. Melihat kelakuan Simon yang aneh, Amir mengejarnya sambil teriak.

"Hei, apa kau sudah gila? Mau kemana?"
"Sudah diam,.ikut saja denganku"

Mereka pun bergerak, namun ketika mereka sudah berada di balik batu karang, apa yang ingin ditemui oleh Simon tak ditemukan. Yang ada hanyalah sebuah botol yang lain. Simon merasa ada suatu misteri malam ini. Dia melihat sekeliling dan tampaknya tanda-tanda dari bayangan yang dia ikuti benar-benar hilang. Satu-satunya petunjuk yang dia punya hanyalah dua buah botol yang dia temui.

"Ayo kita pulang Mir." kata Simon sambil sedikit menyesal
"Hah? Kamu gila ya? Tadi lari-lari keluar gak jelas eh malah mau balik lagi ke rumah. Ada apa sih?" tanya Amir dengan penasaran.
"Nanti aku ceritakan di rumah. Sebaiknya kita pulang dulu."

Mereka pun berjalan pulang, namun tiba-tiba telinga Simon seperti menangkap suatu suara tepat di atas batu karang. Simon pun segera mendongakkan kepalanya ke atas batu karang dan dia melihat bayangan yang sama seperti yang dia lihat pertama kali. Namun anehnya bayangan itu tak bergerak sama sekali. Dia terdiam seperti mengamati Simon juga. Mereka berdua saling terhanyut dalam pandangan mereka. Amir yang tidak tahu apa-apa dibuat bingung oleh tingkah keduanya. Amir pun segera mengguncangkan Simon

"Heh Simon, apa yang kau lakukan? Kau jangan sampai terhipnotis olehnya." Teriak Amir sambil mengguncang badan Simon.

Namun Simon tak bergeming sama sekali. Malahan tersembul senyumnya yang cerah seperti sudah menemukan sesuatu.

"Hai Nick, tak perlulah kau terdiam di sana. Sudah lama juga kita tak bertemu. Turunlah." teriak Simon kepada bayangan itu.

Bayangan itu pun menurut. Dia turun dan melompat menghampiri Simon. Wajahnya pun segera dikenali oleh Simon. Mereka berdua pun saling berpelukan dan meneteskan air mata. Mereka menangis tapi juga tertawa. Seakan-akan seperti sahabat lama saja yang sudah lama tak ketemu saja.

"Amir, kenalkan, ini teman lamaku. Nicky namanya. Dialah bayangan yang sejak tadi sore aku curigai. Kupikir siapa ternyata kau Nick. Sudah lama aku dan dia tak bertemu." ucap Simon sambil mengenalkan Nicky
"Oh Nicky, temanmu yang selalu kau ceritakan itu kan?" jawab Amir dengan muka lega.
"Kau sudah menceritakan apa saja pada dia Simon?" tanya Nicky
"Banyak. Baiklah sebaiknya kita ke rumah dulu. Ayo Amir kita pulang." kata Simon.

Lalu mereka bertiga pun segera pulang ke rumah karena malam itu begitu dingin karena habis hujan. Ketika mereka masuk halaman rumah, pintu depan terbuka dan muncullah Pak Hamid, sosok yang tegas. Dengan tangan berkecak pinggang, dia mulai angkat bicara.

"Darimana saja kalian ini keluyuran malam-malam?"
"Eee, anu Pak, ini tadi ada temen Pak." jawab Amir.
"Siapa itu? Eh sebentar sepertinya saya kenal, siapa itu teman kamu Simon?" tanya Pak Ahmad sambil berusaha mengingat sesuatu.
"Dia Nicky Om. Teman saya waktu kecil." jelas Simon.
"Nicky...Nicky..., Nicky pelaut bukan?" tanya Pak Hamid
"Ya Om, saya pelaut." jawab Nicky.
"Oh ya benar, Kamu pelaut itu ya yang pernah diceritakan para nelayan di desa kami. Ayo masuk-masuk. Ngomong-ngomong dimana awak kapalmu?" tanya Pak Hamid sambil mempersilahkan masuk.
"Mereka sedang dalam perjalanan mencari bahan makanan, saya datang sendiri sekalian menemui teman lama saya ini." jawab Nicky.
"Oh kalau begitu kamu tinggal saja dulu di sini sementara waktu ya." ajak Pak Hamid.
"Oh terima kasih."

Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hamid, Amir, Simon dan Nicky pun masuk ke rumah sedangkan Pak Hamid pergi ke pos ronda. Nicky saat itu berpenampilan berbeda. Penampilannya ketika melaut dan bukan pelaut jauh berbeda. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius sambil diselingi candaan.

"Botol yang tadi kulemparkan dan sengaja aku taruh di batu karang apa masih ada padamu Simon?" tanya Nicky.
"Ini, satu ada padaku, dan satu lagi ada pada Amir. Tumben sekali kau kemari dan ngomong-ngomong dari siapa kau tahu aku ada di sini?"
"Ceritanya panjang. Tapi aku butuh kedua botol itu sekarang. Amir, apa kau ada pembuka botol?"
"Tunggu sebentar ya?" Amir pun masuk ke dapur "Ahh..ini dia. Ini Nick."
"Terima kasih Amir." ucap Nicky sambil mengambil pembuka botol dan membuka penutupnya."Coba aku butuh air panas. "

Amir pun segera berlari ke arah dapur dan mengambil air panas di dalam mangkok. Kemudian Nicky mengeluarkan dua buah surat yang terdapat di dalam botol tersebut. Setelah dikeluarkan, Nicky meletakkan kertas tersebut tepat di atas uap air panas dari mangkok. Tak berapa lama muncul tulisan dan gambar dari kedua kertas itu.

"Aah...tepat seperti dugaanku! " pekik Nicky.
"Apa itu?" tanya Amir dan Simon hampir bersamaan.
"Kemarilah dan lihatlah ini. Apa kau mengenal gambar dan tulisan ini?"
"Oooh..rupanya ini toh. Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Simon penasaran.
"Masa kau tidak ingat? Dulu kan kita pernah membuat ini sebelumnya dan aku mendapatkannya waktu aku ke sekolah lama kita. Lihatlah. Bukankah waktu itu kita membuat tinta lilin dari foto kita dan kita juga membuat tinta lilin dari tanda tangan teman-teman kita. Ternyata selama 15 tahun kedua kertas ini masih ada dan tak terusik sama sekali. Aku jadi sangat rindu untuk bertemu dengan teman-teman kita. Bagaimana keadaan mereka ya?" kenang Nicky.
"Hmm..masa lalu yang indah. Aku ingin kembali ke masa itu sebenarnya. Aku masih ingat dengan jelas waktu kita masuk sekolah sama-sama dulu. Saat itu ada Roger dan Yudas. Selain itu Michael, dan Michelle si kembar itu ya kan kalau aku tidak salah ingat." ungkap Simon.
"Ya selain itu juga ada si gendut Tommy dan si dekil Andy. Ahh masa yang indah." kenang Nicky disertai dengan anggukan Simon. Sementara itu Amir menyibukkan dirinya dengan alat-alat pancing yang ada di kamarnya supaya tak dikira kambing congek.

Begitulah keadaan dua orang sahabat yang akhirnya bertemu di sebuah rumah yang jauh. Persahabatan mereka begitu erat sampai-sampai mereka dapat saling bertemu walaupun terpisah selama 15 tahun dan jarak yang jauh. Kedua botol misterius itu kembali mempertemukan mereka dalam nuansa yang sangat kental.

Persahabatan lebih indah dari emas murni....(Annonymous)

==========================================================
Akhirnya ceritanya selesai digarap juga. Sudah satu minggu aku menggarapnya dan berkutat dengan writer's block. Thank's buat temen-temen yang udah menginspirasi aku banget walau pada gak sadar, tapi seperti peribahasa bilang They are looking what you do

OK tunggu cerita lainnya yaks ^^

Dua Buah Botol

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 30 Mei 2012
With 0komentar

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

| Rabu, 23 Mei 2012
Baca selengkapnya »

Kala itu, aku melihat Tuhan
Ia sedang terlalu sibuk untuk diganggu
Ketika mendengar bunyi langkahku, Ia berpaling
“Kemarilah” ucap-Nya
Aku mendekati-Nya

Aku lihat di meja kerja-Nya
Terdapat sebuah kotak balok
Di dalamnya terdapat dua ekor bayi unggas
Rupa mereka jelek tidak keruan
Mereka sepertinya baru menetas
Mereka tampak kewalahan
Mereka tertidur

“Kau tahu anak-Ku”
“Ini adalah angsa” jelas Tuhan
“Angsa?!”
“Tak mungkin”
“Benar, mereka adalah angsa”
“Tunggulah beberapa saat”

Kemudian Tuhan mengajakku keluar
Ia membawa teh sore itu
Langit sore saat itu teduh nian
Awan-awan kelambu tak menunjukkan hujan
Sore itu indah
Ada sekumpulan burung terbang

Kau lihat burung-burung di sana?
Dengan apa mereka terbang?

Aku menggelengkan kepala
Aku tak mengerti saat itu

Mereka terbang dengan angin

Bukankah justru mereka akan terbawa angin?
Tanyaku

Justru mereka mengendarai angin
Mereka menggunakan sayapnya untuk mengendalikan angin
Jika tak menggunakan angin
Mereka tak mungkin terbang

Aku pun termangu-mangu
Aku baru mengerti hal itu

Kau tahu, sama seperti kehidupan
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa kuat
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa berdiri
Tanpa masalah tak mungkin kau hidup
Janganlah lari dari masalah
Tapi gunakan masalah itu seperti angin
Angin yang membawamu terbang
Ke langit biru

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 23 Mei 2012
With 0komentar

Kaki-Kaki Kecil

| Jumat, 18 Mei 2012
Baca selengkapnya »
Ditengah dinginnya angin yang menusuk tulang
Beberapa pasang kaki kecil melangkah di jalanan
Tak peduli dengan gelapnya langit
Mereka tetap melangkah ke jalanan tempat mereka mengadu nasib
Biar kedinginan
Hari lembab pun
Mereka menggulirkan kaleng-kaleng kecil
Sebagai tempat menyimpan beberapa receh

Umur mereka masih kecil
Namun sudah harus menikmati kejamnya dunia
Umur mereka belumlah seberapa
Namun sudah harus berpeluh laksana orang tua
Sungguh ironis

Di tengah malam
Di tengah angin yang menusuku tulang
Dalam keadaan kelaparan yang sangat
Berpakaian compang camping dan kumal
Tak mengenal apa itu kesenangan
Tak mengenal apa itu kebahagiaan
Berpeluh dengan sangat
Tubuh masih kecil
Belum mampu menanggung tanggung jawab yang besar
Namun dipaksakan menanggungnya
Langkah kecil dari kaki-kaki kecil mereka
Melangkah di jalanan
Demi beberapa koin receh yang tertumpah dari orang yang mendengar dan iba

Kaki-Kaki Kecil

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 18 Mei 2012
With 0komentar

Sebuah Pilihan

| Senin, 23 April 2012
Baca selengkapnya »
Ketika kau dihadapkan pada dua buah pilihan sesungguhnya apa yang membuat teman-teman sulit menentukan pilihan? Kalau pilihannya antara hal yang baik dan hal buruk, sudah pasti kita akan memilih yang baik tanpa perlu berpikir panjang dulu. Namun jika ternyata pilihan itu antara dua hal baik, pastinya akan sangat sulit untuk memilih.

Sebuah kata-kata bijak mengatakan,  
"..Apa yang kita pilih hari ini, menentukan apa yang terjadi di kemudian hari, dan apa yang terjadi hari ini, diakibatkan apa yang kita pilih di waktu yang lampau..".
Seperti yang aku alami di hari Minggu yang cerah dan penuh dengan kejutan-kejutan kecil di dalamnya. Hari ini aku diharuskan untuk memilih diantara dua pilihan yang sebenarnya kedua-duanya baik, dan keduanya memang aku butuhkan. Aku sedikit ragu untuk memilihnya pada awalnya sampai aku menemukan jawaban yang sebenarnya.

Hari ini ada kegiatan kampus. Yang bikin aku sebel adalah kenapa harus di hari Minggu pagi? Kenapa bukan di Sabtu aja? Atau saat liburan? Trus kenapa juga harus pake judul 'wajib'? Padahal aku sudah memprioritaskan untuk hari Minggu adalah hari untuk TUHAN. Aku gak mau ada hal-hal remeh yang mengganggu. Yah mungkin kau bisa anggap aku idealis namun itulah prinsipku. Hari Minggu adalah satu-satunya hari dimana aku bisa mengetuk pintu rumah TUHAN untuk memulihkan dan menyegarkanku lagi. Parahnya selalu saja ada halangan bagiku supaya aku tidak datang ke gereja.

Sehari sebelum hari Minggu aku berdoa supaya kiranya aku bisa tetap kebaktian walau bukan di gereja tapi tetap kebaktian. Habis berdoa, aku ingat gereja tempat temanku yang dulu pernah aku sukai dan sampai sekarang aku masih suka padanya walau sekarang rasa sukaku hanya sebatas suka pada sahabat. Rasanya nikmat sekali menjadi sahabatnya. OK back to topic. Jadi aku punya rencana untuk izin tidak mengikuti sampai beres.

Keesokkannya di hari Minggu aku sudah berencana untuk cabut di tengah acara. Aku siapkan Alkitab di tas lalu ke kampus. Aku masuk gedung tempat kegiatan itu akan dilaksanakan. Aku pun masuk ke ruangan tempatku. Di muka ruangan, ada temanku. Dia juga mau kabur, lalu terpikir oleh kami untuk pergi aja ke kostan temanku dan keluar lewat pintu belakang. Kami pun mencoba dan ternyata mudah saja, penjaganya tak menyadarinya dan kami pun langsung ke kostan temanku sekalian menunggu jam 10.30 untuk kebaktian di gereja temanku yang cewe yang dulu aku suka. Jadi ketika aku baru sampai dan baru tanda tangan, aku langsung menyelinap kabur. Sekarang aku berpikir bener gak sih yang aku lakuin tadi pagi. Aku merasa gak nyaman. Aku akui itu salah, tapi itu sudah kulakukan dan aku sudah siap menerima konsekuensinya

Namun ada satu hal yang aku syukuri yaitu aku bisa kebaktian apalagi kali ini aku melakukannya bersama orang yang aku sukai. Beda aja rasanya menghabiskan waktu bersama orang yang kita suka apalagi dalam hal yang rohani. Di sana aku belajar untuk selalu siap melayani TUHAN karena tadi ketika aku datang ke sana, tiba-tiba temanku meminta aku mengiringi dia ketika nanti dia mau nyanyi sebagai bentuk kesaksian dia. Aku kaget donk. Belum latihan tiba-tiba diminta untuk main musik. Untung ada keyboard dan ada yang main gitar juga jadi aku bisalah dikit walau gak perfect banget. Tapi dari situ aku belajar untuk mempertanggungjawabkan apa yang aku punya. Itu sepertinya hukuman dari TUHAN yaitu main musik.Namun walaupun begitu, aku tetap menikmatinya.

Selanjutanya seperti biasa, ada kelompok rohani begitu. Kali ini, karena aku hanya sesekali datang, dibimbing oleh seorang native, entah dari mana tapi sudah lama tinggal di Indonesia dan berkeluarga. Yang kami renungkan di hari itu adalah tentang tonggak-tonggak pengingat akan kebaikan TUHAN. Secara detailnya aku tidak begitu ingat, namun kehidupan kita itu sudah ditentukan oleh TUHAN sejak dahulu kala dan seperti apa kita di depan sudah dipersiapkan TUHAN sebelum kita lahir.

Setelah sharing, kebiasaan di gereja temanku itu adalah makan siang. Lumayan, aku lagi laper juga hehehe. Hidangan yang disediakan sebenarnya cukup sederhana, namun entah karena aku mensyukurinya atau karena bersama dia, rasanya jadi enak. Beres makan, kebaktian pun beres. Lalu aku pulang ke rumah.

Kemudian aku merangkaikan kejadian hari ini. Memang, aku salah karena aku bolos tak mengikuti dari awal hanya untuk kebaktian. Kalau kata oranglain sih, itu tindakan bodoh. Tapi bagiku itu tindakan yang penting. Mungkin apa yang aku lakukan ini belum keliatan dampaknya, tapi aku yakin apa yang aku lakukan akan berdampak nanti.

Sebuah Pilihan

Posted by : Unknown
Date :Senin, 23 April 2012
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲