Newest Post

Passion of My Life

| Senin, 18 Juni 2012
Baca selengkapnya »
Setelah setahun tak menggambar lagi, dan tadi mencoba menggambar karikatur wajah dan menggambar manga, hasilnya lebih hancur dari awal ketika aku belajar menggambar. Yah memang sih kalau udah lama gak ngasah ilmu jadi hilang juga tuh kemampuan tapi pada dasarnya memang gak bakat sih menggambar, tapi aku cuman suka aja.
Menulis juga sama, aku gak ada bakat. Dalam keluargaku gak ada satupun yang punya darah sebagai penulis apalagi pujangga macam Chairil Anwar. Namun aku suka menulis dan lumayan juga hasil tulisanku makin lama makin membaik walau beberapa bulan ini aku sudah lama tak menulis lagi dan baru sekarang aku kembali menulis.
Sebenarnya ada banyak yang aku tulis. Kalau dikumpulin sejak aku mulai belajar menulis dari SD kelas 4 sampai sekarang ini kuliah, sekitar ribuan baik itu puisi, cerpen, ataupun artikel. Tapi dulu aku gak kepikiran buat mengumpulkannya baru waktu SMA saja aku mengumpulkannya. Sekarang aku menyesal kenapa tak mengumpulkan tulisan-tulisanku dari dulu, tapi sudahlah toh setidaknya aku sekarang sudah dapat mengelola tulisanku dengan lebih baik lagi.
Berbicara soal passion atau gairah, apa sih yang terbersit dalam pikiran teman-teman? Kalo menurut pendapat aku passion itu suatu dorongan yang memampukan seseorang untuk melakukan suatu tindakan melebihi kekuatan yang dimilikinya. Ibarat kata ya kayak orang loncat pakai trampolin gitu deh. Nah, seorang teman pernah berkata padaku, mimpimu berasal dari passionmu terhadap sesuatu. Artinya kebanyakan orang hidup dari hobinya. Gak percaya? Aku juga sebenarnya ragu sih, tapi setelah beberapa lama aku mengerti maksudnya.
Nah temen-temen pasti ada satu cita-cita yaitu pasti pengen sukses. Ya gak sih? Tapi gimana caranya? Sedikit share saja ya. Dulu waktu SD kelas 1 aku pengen jadi astronout karena kayaknya enak gitu liat di teve bisa jalan di udara. Bayangin, orang jalan di udara bukan napak di tanah. Trus kelas 4 SD pengen jadi guru, karena ngeliat jadi guru tuh kayaknya enak juga tinggal ngomong en gaji pun datang trus bisa bikin orang pinter lagi. Kemudian sampe kelas 1 SMP aku pengen jadi ilmuwan karena ngeliat di teve hidup ilmuwan bikin percobaan ratusan kali sampai dapet Nobel dan juga aku juga kepikiran pengen dapet Nobel, ketika SMA aku pengen jadi penulis, setelah aku baca novel-novel bagus dan karena banyak baca novel aku jadi banyak nulis dan itu jadi kegemaranku pastinya. Trus hubungannya dengan sukses apa? Setelah aku bercita-cita menjadi penulis aku jadi belajar banyak kalau sukses itu ternyata bisa dimulai sekarang. Masa sih? Gak percaya? Sukses apa sih? Berhasil kan? Nah aku sekarang ingin sukses bikin orang lain tersenyum. Gak mudah loh membuat orang tersenyum apalagi setiap saat tersenyum tapi itu cita-citaku. Ingin membuat orang lain tersenyum ketika aku ada supaya tak ada lagi tangisan.

Sekarangwhat is your passion of your life?

Passion of My Life

Posted by : Unknown
Date :Senin, 18 Juni 2012
With 0komentar
Tag :

Dua Buah Botol

| Rabu, 30 Mei 2012
Baca selengkapnya »
Malam itu, suasana begitu sunyi senyap. Tak banyak orang yang berlalu lalang. Hanya para penjaga ronda dan satpam yang terlihat sedang berpatroli malam sambil diiringi candaan-candaan kecil. Sementara itu di langit purnama tampak terlihat dengan jelas dan beberapa bintang menunjukkan gugusan rasi bintang biduk, yaitu gugusan bintang yang digunakan pelaut untuk menentukan arah. Jika ada rasi biduk, itu artinya arah timur. Selain itu deburan ombak yang menabrak bibir pantai dan karang, tidak ada lagi suara. Padahal jam baru menunjukkan setengah sembilan. Pohon-pohon kelapa yang bergoyang ditiup angin, atau digoyang oleh ketam kelapa. Lampu-lampu dari rumah-rumah sekitar pantai menyala remang-remang.

Namun ditengah kesunyian malam itu, tanpa diketahui siapapun, ada sesosok bayangan yang bergerak begitu cepat dari balik batu karang  yang dekat dengan pemukiman warga. Bayangan itu bergerak cepat. Dia berlari dari balik batu karang, lalu melompati pagar rumah Pak Hamid, rumah yang terdekat dari batu karang.Kemudian melemparkan sesuatu ke halaman rumah Pak Hamid. Setelah melakukan itu, bayangan itu kembali lari ke balik batu karang. Tak seorang pun yang memperhatikan tindakan sosok bayangan itu kecuali Simon, keponakan Pak Hamid yang saat itu sedang di atas loteng rumah Pak Hamid. Dia melihat semua yang dilakukan oleh bayangan itu. Karena penasaran, Simon segera turun ke bawah dan lalu segera menuju keluar rumah. Namun belum sempat dia mencapai pintu rumah, dia ditahan oleh Amir, anak Pak Hamid.

"Simon, mau kemana malam-malam begini?" tanya Amir
"Sebentar aku ada perlu." jawabnya sambil tergesa-gesa
"Aku ikut okeh?" tanya Amir
"Tak perlu, sebentar saja kok" balas Simon
"Ayolah, boleh ya?"
"Tidak.."
"Ayo donk Simon, boleh ya?"
"Heeemmm...baiklah, tapi jangan berisik sama sekali."

Kemudian mereka berdua keluar rumah, lalu Simon membungkuk seperti mencari sesuatu. Dia menemukan sesuatu di pinggir pagar rumah Pak Hamid. Sebuah botol berisi selembaran kertas. Kemudian dia kembali berdiri dan mengamati batu karang tempat tadi bayangan tersebut berlari. Kemudian, Simon berlari keluar ke arah batu karang itu. Melihat kelakuan Simon yang aneh, Amir mengejarnya sambil teriak.

"Hei, apa kau sudah gila? Mau kemana?"
"Sudah diam,.ikut saja denganku"

Mereka pun bergerak, namun ketika mereka sudah berada di balik batu karang, apa yang ingin ditemui oleh Simon tak ditemukan. Yang ada hanyalah sebuah botol yang lain. Simon merasa ada suatu misteri malam ini. Dia melihat sekeliling dan tampaknya tanda-tanda dari bayangan yang dia ikuti benar-benar hilang. Satu-satunya petunjuk yang dia punya hanyalah dua buah botol yang dia temui.

"Ayo kita pulang Mir." kata Simon sambil sedikit menyesal
"Hah? Kamu gila ya? Tadi lari-lari keluar gak jelas eh malah mau balik lagi ke rumah. Ada apa sih?" tanya Amir dengan penasaran.
"Nanti aku ceritakan di rumah. Sebaiknya kita pulang dulu."

Mereka pun berjalan pulang, namun tiba-tiba telinga Simon seperti menangkap suatu suara tepat di atas batu karang. Simon pun segera mendongakkan kepalanya ke atas batu karang dan dia melihat bayangan yang sama seperti yang dia lihat pertama kali. Namun anehnya bayangan itu tak bergerak sama sekali. Dia terdiam seperti mengamati Simon juga. Mereka berdua saling terhanyut dalam pandangan mereka. Amir yang tidak tahu apa-apa dibuat bingung oleh tingkah keduanya. Amir pun segera mengguncangkan Simon

"Heh Simon, apa yang kau lakukan? Kau jangan sampai terhipnotis olehnya." Teriak Amir sambil mengguncang badan Simon.

Namun Simon tak bergeming sama sekali. Malahan tersembul senyumnya yang cerah seperti sudah menemukan sesuatu.

"Hai Nick, tak perlulah kau terdiam di sana. Sudah lama juga kita tak bertemu. Turunlah." teriak Simon kepada bayangan itu.

Bayangan itu pun menurut. Dia turun dan melompat menghampiri Simon. Wajahnya pun segera dikenali oleh Simon. Mereka berdua pun saling berpelukan dan meneteskan air mata. Mereka menangis tapi juga tertawa. Seakan-akan seperti sahabat lama saja yang sudah lama tak ketemu saja.

"Amir, kenalkan, ini teman lamaku. Nicky namanya. Dialah bayangan yang sejak tadi sore aku curigai. Kupikir siapa ternyata kau Nick. Sudah lama aku dan dia tak bertemu." ucap Simon sambil mengenalkan Nicky
"Oh Nicky, temanmu yang selalu kau ceritakan itu kan?" jawab Amir dengan muka lega.
"Kau sudah menceritakan apa saja pada dia Simon?" tanya Nicky
"Banyak. Baiklah sebaiknya kita ke rumah dulu. Ayo Amir kita pulang." kata Simon.

Lalu mereka bertiga pun segera pulang ke rumah karena malam itu begitu dingin karena habis hujan. Ketika mereka masuk halaman rumah, pintu depan terbuka dan muncullah Pak Hamid, sosok yang tegas. Dengan tangan berkecak pinggang, dia mulai angkat bicara.

"Darimana saja kalian ini keluyuran malam-malam?"
"Eee, anu Pak, ini tadi ada temen Pak." jawab Amir.
"Siapa itu? Eh sebentar sepertinya saya kenal, siapa itu teman kamu Simon?" tanya Pak Ahmad sambil berusaha mengingat sesuatu.
"Dia Nicky Om. Teman saya waktu kecil." jelas Simon.
"Nicky...Nicky..., Nicky pelaut bukan?" tanya Pak Hamid
"Ya Om, saya pelaut." jawab Nicky.
"Oh ya benar, Kamu pelaut itu ya yang pernah diceritakan para nelayan di desa kami. Ayo masuk-masuk. Ngomong-ngomong dimana awak kapalmu?" tanya Pak Hamid sambil mempersilahkan masuk.
"Mereka sedang dalam perjalanan mencari bahan makanan, saya datang sendiri sekalian menemui teman lama saya ini." jawab Nicky.
"Oh kalau begitu kamu tinggal saja dulu di sini sementara waktu ya." ajak Pak Hamid.
"Oh terima kasih."

Setelah berbincang sebentar dengan Pak Hamid, Amir, Simon dan Nicky pun masuk ke rumah sedangkan Pak Hamid pergi ke pos ronda. Nicky saat itu berpenampilan berbeda. Penampilannya ketika melaut dan bukan pelaut jauh berbeda. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang serius sambil diselingi candaan.

"Botol yang tadi kulemparkan dan sengaja aku taruh di batu karang apa masih ada padamu Simon?" tanya Nicky.
"Ini, satu ada padaku, dan satu lagi ada pada Amir. Tumben sekali kau kemari dan ngomong-ngomong dari siapa kau tahu aku ada di sini?"
"Ceritanya panjang. Tapi aku butuh kedua botol itu sekarang. Amir, apa kau ada pembuka botol?"
"Tunggu sebentar ya?" Amir pun masuk ke dapur "Ahh..ini dia. Ini Nick."
"Terima kasih Amir." ucap Nicky sambil mengambil pembuka botol dan membuka penutupnya."Coba aku butuh air panas. "

Amir pun segera berlari ke arah dapur dan mengambil air panas di dalam mangkok. Kemudian Nicky mengeluarkan dua buah surat yang terdapat di dalam botol tersebut. Setelah dikeluarkan, Nicky meletakkan kertas tersebut tepat di atas uap air panas dari mangkok. Tak berapa lama muncul tulisan dan gambar dari kedua kertas itu.

"Aah...tepat seperti dugaanku! " pekik Nicky.
"Apa itu?" tanya Amir dan Simon hampir bersamaan.
"Kemarilah dan lihatlah ini. Apa kau mengenal gambar dan tulisan ini?"
"Oooh..rupanya ini toh. Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Simon penasaran.
"Masa kau tidak ingat? Dulu kan kita pernah membuat ini sebelumnya dan aku mendapatkannya waktu aku ke sekolah lama kita. Lihatlah. Bukankah waktu itu kita membuat tinta lilin dari foto kita dan kita juga membuat tinta lilin dari tanda tangan teman-teman kita. Ternyata selama 15 tahun kedua kertas ini masih ada dan tak terusik sama sekali. Aku jadi sangat rindu untuk bertemu dengan teman-teman kita. Bagaimana keadaan mereka ya?" kenang Nicky.
"Hmm..masa lalu yang indah. Aku ingin kembali ke masa itu sebenarnya. Aku masih ingat dengan jelas waktu kita masuk sekolah sama-sama dulu. Saat itu ada Roger dan Yudas. Selain itu Michael, dan Michelle si kembar itu ya kan kalau aku tidak salah ingat." ungkap Simon.
"Ya selain itu juga ada si gendut Tommy dan si dekil Andy. Ahh masa yang indah." kenang Nicky disertai dengan anggukan Simon. Sementara itu Amir menyibukkan dirinya dengan alat-alat pancing yang ada di kamarnya supaya tak dikira kambing congek.

Begitulah keadaan dua orang sahabat yang akhirnya bertemu di sebuah rumah yang jauh. Persahabatan mereka begitu erat sampai-sampai mereka dapat saling bertemu walaupun terpisah selama 15 tahun dan jarak yang jauh. Kedua botol misterius itu kembali mempertemukan mereka dalam nuansa yang sangat kental.

Persahabatan lebih indah dari emas murni....(Annonymous)

==========================================================
Akhirnya ceritanya selesai digarap juga. Sudah satu minggu aku menggarapnya dan berkutat dengan writer's block. Thank's buat temen-temen yang udah menginspirasi aku banget walau pada gak sadar, tapi seperti peribahasa bilang They are looking what you do

OK tunggu cerita lainnya yaks ^^

Dua Buah Botol

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 30 Mei 2012
With 0komentar

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

| Rabu, 23 Mei 2012
Baca selengkapnya »

Kala itu, aku melihat Tuhan
Ia sedang terlalu sibuk untuk diganggu
Ketika mendengar bunyi langkahku, Ia berpaling
“Kemarilah” ucap-Nya
Aku mendekati-Nya

Aku lihat di meja kerja-Nya
Terdapat sebuah kotak balok
Di dalamnya terdapat dua ekor bayi unggas
Rupa mereka jelek tidak keruan
Mereka sepertinya baru menetas
Mereka tampak kewalahan
Mereka tertidur

“Kau tahu anak-Ku”
“Ini adalah angsa” jelas Tuhan
“Angsa?!”
“Tak mungkin”
“Benar, mereka adalah angsa”
“Tunggulah beberapa saat”

Kemudian Tuhan mengajakku keluar
Ia membawa teh sore itu
Langit sore saat itu teduh nian
Awan-awan kelambu tak menunjukkan hujan
Sore itu indah
Ada sekumpulan burung terbang

Kau lihat burung-burung di sana?
Dengan apa mereka terbang?

Aku menggelengkan kepala
Aku tak mengerti saat itu

Mereka terbang dengan angin

Bukankah justru mereka akan terbawa angin?
Tanyaku

Justru mereka mengendarai angin
Mereka menggunakan sayapnya untuk mengendalikan angin
Jika tak menggunakan angin
Mereka tak mungkin terbang

Aku pun termangu-mangu
Aku baru mengerti hal itu

Kau tahu, sama seperti kehidupan
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa kuat
Tanpa masalah tak mungkin kau bisa berdiri
Tanpa masalah tak mungkin kau hidup
Janganlah lari dari masalah
Tapi gunakan masalah itu seperti angin
Angin yang membawamu terbang
Ke langit biru

Secangkir Teh Untuk Sore Hari

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 23 Mei 2012
With 0komentar

Kaki-Kaki Kecil

| Jumat, 18 Mei 2012
Baca selengkapnya »
Ditengah dinginnya angin yang menusuk tulang
Beberapa pasang kaki kecil melangkah di jalanan
Tak peduli dengan gelapnya langit
Mereka tetap melangkah ke jalanan tempat mereka mengadu nasib
Biar kedinginan
Hari lembab pun
Mereka menggulirkan kaleng-kaleng kecil
Sebagai tempat menyimpan beberapa receh

Umur mereka masih kecil
Namun sudah harus menikmati kejamnya dunia
Umur mereka belumlah seberapa
Namun sudah harus berpeluh laksana orang tua
Sungguh ironis

Di tengah malam
Di tengah angin yang menusuku tulang
Dalam keadaan kelaparan yang sangat
Berpakaian compang camping dan kumal
Tak mengenal apa itu kesenangan
Tak mengenal apa itu kebahagiaan
Berpeluh dengan sangat
Tubuh masih kecil
Belum mampu menanggung tanggung jawab yang besar
Namun dipaksakan menanggungnya
Langkah kecil dari kaki-kaki kecil mereka
Melangkah di jalanan
Demi beberapa koin receh yang tertumpah dari orang yang mendengar dan iba

Kaki-Kaki Kecil

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 18 Mei 2012
With 0komentar

Sebuah Pilihan

| Senin, 23 April 2012
Baca selengkapnya »
Ketika kau dihadapkan pada dua buah pilihan sesungguhnya apa yang membuat teman-teman sulit menentukan pilihan? Kalau pilihannya antara hal yang baik dan hal buruk, sudah pasti kita akan memilih yang baik tanpa perlu berpikir panjang dulu. Namun jika ternyata pilihan itu antara dua hal baik, pastinya akan sangat sulit untuk memilih.

Sebuah kata-kata bijak mengatakan,  
"..Apa yang kita pilih hari ini, menentukan apa yang terjadi di kemudian hari, dan apa yang terjadi hari ini, diakibatkan apa yang kita pilih di waktu yang lampau..".
Seperti yang aku alami di hari Minggu yang cerah dan penuh dengan kejutan-kejutan kecil di dalamnya. Hari ini aku diharuskan untuk memilih diantara dua pilihan yang sebenarnya kedua-duanya baik, dan keduanya memang aku butuhkan. Aku sedikit ragu untuk memilihnya pada awalnya sampai aku menemukan jawaban yang sebenarnya.

Hari ini ada kegiatan kampus. Yang bikin aku sebel adalah kenapa harus di hari Minggu pagi? Kenapa bukan di Sabtu aja? Atau saat liburan? Trus kenapa juga harus pake judul 'wajib'? Padahal aku sudah memprioritaskan untuk hari Minggu adalah hari untuk TUHAN. Aku gak mau ada hal-hal remeh yang mengganggu. Yah mungkin kau bisa anggap aku idealis namun itulah prinsipku. Hari Minggu adalah satu-satunya hari dimana aku bisa mengetuk pintu rumah TUHAN untuk memulihkan dan menyegarkanku lagi. Parahnya selalu saja ada halangan bagiku supaya aku tidak datang ke gereja.

Sehari sebelum hari Minggu aku berdoa supaya kiranya aku bisa tetap kebaktian walau bukan di gereja tapi tetap kebaktian. Habis berdoa, aku ingat gereja tempat temanku yang dulu pernah aku sukai dan sampai sekarang aku masih suka padanya walau sekarang rasa sukaku hanya sebatas suka pada sahabat. Rasanya nikmat sekali menjadi sahabatnya. OK back to topic. Jadi aku punya rencana untuk izin tidak mengikuti sampai beres.

Keesokkannya di hari Minggu aku sudah berencana untuk cabut di tengah acara. Aku siapkan Alkitab di tas lalu ke kampus. Aku masuk gedung tempat kegiatan itu akan dilaksanakan. Aku pun masuk ke ruangan tempatku. Di muka ruangan, ada temanku. Dia juga mau kabur, lalu terpikir oleh kami untuk pergi aja ke kostan temanku dan keluar lewat pintu belakang. Kami pun mencoba dan ternyata mudah saja, penjaganya tak menyadarinya dan kami pun langsung ke kostan temanku sekalian menunggu jam 10.30 untuk kebaktian di gereja temanku yang cewe yang dulu aku suka. Jadi ketika aku baru sampai dan baru tanda tangan, aku langsung menyelinap kabur. Sekarang aku berpikir bener gak sih yang aku lakuin tadi pagi. Aku merasa gak nyaman. Aku akui itu salah, tapi itu sudah kulakukan dan aku sudah siap menerima konsekuensinya

Namun ada satu hal yang aku syukuri yaitu aku bisa kebaktian apalagi kali ini aku melakukannya bersama orang yang aku sukai. Beda aja rasanya menghabiskan waktu bersama orang yang kita suka apalagi dalam hal yang rohani. Di sana aku belajar untuk selalu siap melayani TUHAN karena tadi ketika aku datang ke sana, tiba-tiba temanku meminta aku mengiringi dia ketika nanti dia mau nyanyi sebagai bentuk kesaksian dia. Aku kaget donk. Belum latihan tiba-tiba diminta untuk main musik. Untung ada keyboard dan ada yang main gitar juga jadi aku bisalah dikit walau gak perfect banget. Tapi dari situ aku belajar untuk mempertanggungjawabkan apa yang aku punya. Itu sepertinya hukuman dari TUHAN yaitu main musik.Namun walaupun begitu, aku tetap menikmatinya.

Selanjutanya seperti biasa, ada kelompok rohani begitu. Kali ini, karena aku hanya sesekali datang, dibimbing oleh seorang native, entah dari mana tapi sudah lama tinggal di Indonesia dan berkeluarga. Yang kami renungkan di hari itu adalah tentang tonggak-tonggak pengingat akan kebaikan TUHAN. Secara detailnya aku tidak begitu ingat, namun kehidupan kita itu sudah ditentukan oleh TUHAN sejak dahulu kala dan seperti apa kita di depan sudah dipersiapkan TUHAN sebelum kita lahir.

Setelah sharing, kebiasaan di gereja temanku itu adalah makan siang. Lumayan, aku lagi laper juga hehehe. Hidangan yang disediakan sebenarnya cukup sederhana, namun entah karena aku mensyukurinya atau karena bersama dia, rasanya jadi enak. Beres makan, kebaktian pun beres. Lalu aku pulang ke rumah.

Kemudian aku merangkaikan kejadian hari ini. Memang, aku salah karena aku bolos tak mengikuti dari awal hanya untuk kebaktian. Kalau kata oranglain sih, itu tindakan bodoh. Tapi bagiku itu tindakan yang penting. Mungkin apa yang aku lakukan ini belum keliatan dampaknya, tapi aku yakin apa yang aku lakukan akan berdampak nanti.

Sebuah Pilihan

Posted by : Unknown
Date :Senin, 23 April 2012
With 0komentar
Tag :

A Cross for Crossing

| Jumat, 06 April 2012
Baca selengkapnya »
Lusa, hari Minggu, adalah hari Paskah. Di benakku kalau bicara tentang Paskah itu tentang salib, keselamatan dan anugrah baru. Tapi malam ini, jam 9.48 pm, aku belajar sesuatu yang baru tentang Paskah.

Dulu aku pernah belajar sedikit sejarah tentang Paskah. Dulu, duluuuuu baaangeeet, waktu zamannya Musa (Moses) masih hidup dan bangsa Israel masih ditindas di Mesir, Paskah adalah peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Makanya muncul istilah Passover, Pesakh, Pascha dan bangsa Israel merayakan Paskah sebagai sarana mengingat tentang keluarnya bangsa Israel dari penindasan di Mesir. Itu sekitar 2 sampe 3 ribu tahun yang lalu. tapi aku engga tahu waktu pastinya jadi buat temen yang sekolah alkitab atau seminari jangan marah karena ini hanya berdasarkan pengetahuanku saja. Kalau salah ya benerin aja ok.

Trus selanjutnya ketika zaman penjajahan Romawi, makna Paskah pun berbeda karena Paskah di zaman itu adalah peristiwa kebangkitan Yesus Kristus atau Isa Almasih atau Yesua Hamasiah. Istiliah Paskah seperti Passover, Pascha dan Pesakh pun masih di pegang.

Nah tapi apa sih Passover, Pascha, dan Pesakh. Passover itu sebenarnya dua kata yaitu Pass  dan Over. Terjemahan sederhananya adalah melalui atau melewati. Kalau tidak salah ingat, makna Pascha dan Pesakh juga artinya melalui atau melewati atau menyebrang. Satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita adalah makna salib.

Apa makna salib itu? Salib dalam bahasa Inggris adalah cross dan kalian pasti tahu kan arti lain dari Cross adalah menyebrang. Dengan Tuhan terpaku di salib, sesungguh Tuhan membangun "jembatan" untuk kita "menyebrang" dari kegelapan ke dalam terang. Dari kematian kepada kehidupan. Jadi selain Tuhan memberi keselamatan untuk kita, Dia juga memberi kita kekuatan untuk benar-benar berubah 180 derajat dari yang buruk ke yang lebih baik. Mungkin banyak yang belum sadar, tapi inilah makna terpentingnya. MENYEBRANG.

Lalu kenapa muncul pernak-pernik telur dan kelinci? Itu sih bisa-bisanya orang aja buat ngeramein Paskah. Kayak Natal diramein ama Pohon Natal dan Sinterklas, trus kayak orang abis keluar penjara mandi di laut ( Mungkin lagi mau hemat air kali ya?) Itu sih bisa-bisanya orang aja. Tapi sebenarnya yang perlu dihayati itu maknanya bukan simbolnya. Ibaratnya kalau nikah, ada cincin nikah tapi kita juga bisa punya cincin yang lebih mahal dari cincin nikah walau kita belum nikah karena keduanya memilki makna yang berbeda. Cincin hanyalah sebagai simbol sama kayak salib cuman simbol, tapi makna dibaliknya adalah tentang keselmatan, menyebrang dan hubungan manusia (garis horisontal) dan Tuhan (garis vertikal).

Mari di Paskah ini kita bisa mentransformasi diri kita. Kita bisa menyebrang dari kebiasaan buruk ke kebiasaan yang baik. Mungkin gak sekali jadi tapi dengan melewati proses yang cukup panjang namun yakinlah, Tuhan pasti membantu kita dalam kesusahan kita karena Dia sendiri pernah mengalami kesusahan kita.
Happy Passover!

A Cross for Crossing

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 06 April 2012
With 0komentar

Hal-Hal Sederhana dalam Hidup

| Rabu, 04 April 2012
Baca selengkapnya »
Rasanya ingin sekali aku kembali ke SMA hanya sekedar untuk menikmati masa-masa indah itu. Tiga tahun. Bukan waktu yang panjang, bukan pula waktu yang singkat, tapi tiga tahun itu waktu yang sangat aku rindukan sebenarnya. Di sana aku belajar apa arti dari cinta yang sejati. Persahabatan sejati, dan beberapa hal sederhana tapi efeknya bisa aku rasakan sekarang ini.
Hal hal sederhana itulah yang membuatku tetap hidup dan aku pun kini berpikir, tanpa hal-hal sederhana itu, mungkin aku tak mungkin bisa di sini seperti sekarang ini. Kau pasti penasaran kan apa sih hal sederhana itu? Sebetulnya sangat sederhana : TERTAWA, TERSENYUM, MENANGIS, MELIHAT, MENDENGAR, MELANGKAH, MENGEMBUS, dan MELONCAT.

TERTAWA, seperti musik bagiku dan ketika aku tak tertawa lagi selama satu hari saja, aku akan merasa seperti diriku sendiri. Tertawa merupakan satu bagian dari hidupku untuk menertawakan nasib yang aku miliki saat ini. Segala hal adalah lelucon bagiku bahkan teorema-teorema Kalkulus, dan Teori Relativitas hanyalah jokes semata untuk membuat kepalaku mendidih. Tertawa juga seperti garam dalam sayuran. Tanpa garam sudah pasti gak enakkan sayuran? Begitulah aku menganalogikannya. Seperti yang temanku katakan : Tertawalah sebelum tertawa itu dimasukkin undang-undang

TERSENYUM, walau hampir sama dengan tertawa, tapi rupanya mereka berbeda. tersenyum itu ibaratnya kalau tertawa adalah nada, maka tersenyum adalah alat musik. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk tersenyum, tapi tertawa hampir kebanyakan sama. Tertawa daoat ditahan, tersenyum jika ditahan akan membuat wajah merah merona. Tersenyum bagiku adalah emosi tenang yang dapat aku keluarkan sehingga aku bisa menularkan pengaruhku pada orang lain.

MENANGIS. Jika seorang lelaki menangis, mungkin kau akan bilang dia cengeng. Namun aku kurang setuju dengan pendapatmu. Justru karena menangislah seseorang dapat menjadi lebih kuat ketimbang dia tidak menangis sama sekali. Ada beberapa hal yang membuatku menangis dan satu hal yang membuatku benar-benar menangis adalah ketika aku ingat bagaimana aku telah berjalan sejauh ini hingga aku sekarang berada pada keadaan yang mungkin hampir banyak orang menginginkannya namun tak daya untuk mencapainya.

MELIHAT. Hal sederhana sebenarnya namun kali ini aku merasa ada yang aneh dengan penglihatanku. Tapi dengan melihat aku bisa memerhatikan hal-hal sederhana lainnya untuk kesejukkan jiwa dan pikiranku. Aku sudah muak untuk melihat tulisan rumus yang berderet panjang. Ingin sekali aku punya sedikit waktu untuk melihat deretan pohon yang tumbuh subur atau sawah yang menguning, atau gunung yang biru, atau sungai yang panjang dan bening sehingga ku bisa menangkap ikannya dengan tangan kosong. Tak perlu juga aku melihat elektron-elektron di dalam tabung kaca atau layar.display. Aku ingin hidup sederhana dengan segala hal yang sederhana agar aku menemukan hal yang lebih besar dari yang diberikan teknologi

MENDENGAR. Sebagai penikmat seni, aku sangat butuh telinga untuk mendengar. Apalagi aku seorang pemain musik. Mungkin ini adalah hal sederhana, namun tanpa mendengar aku tak bisa berbuat banyak. Satu hal yang kupelajari, mendengar dan mendengarkan adalah dua hal yang berbeda. Sekarang ini aku masih terus belajar mendengarkan. Aku tidak mau seperti para politikus yang suara ingin didengar tapi mendengar saja tak mau apalagi mendengarkan.

MENGEMBUS. Kata lainnya bernafas. Hal sederhana, namun jika selama lima belas menit saja tak bernafas, mungkin sudah sekarat hidupku dan merejang. Sederhana namun efeknya sangat besar bagiku.

MELANGKAH. Tak ada kata dan tak ada suara. Jika kau berencana tanpa melangkah, maka rencanamu sia-sia. Begitulah yang aku pelajari dan memang melangkah itu sederhana tapi itu sesungguhnya sulit saat menentukan satu pilihan.

MELONCAT. Bagiku itu adalah ekspresi jiwaku. Tanpa meloncat artinya aku mati.Meloncat itu sebagai nada stacato dalam hidupku dan aku bahagia bila aku meloncati seluruh aspek kehidupan.

Itulah hal-hal sederhana yang membuatku tetap hidup. Tanpa itu semua aku sudah mati rasanya. Aku ingin terbang tinggi ke angkasa luas. Menerjang badai kehidupan yang tak menentu. Mendaki puncak Everst, menapaki Gurun Sahara, melepuh di bakar matahari, Berlayar ke Pantai Gading, dilimbung ombak kebimbangan. Menciut dalam dingin.

Aku ingin hidup. Aku ingin merasakan arti hidup. Aku ingin kembali hidup

Hal-Hal Sederhana dalam Hidup

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 04 April 2012
With 0komentar

Surat Untuk Tuan Presiden

| Jumat, 23 Maret 2012
Baca selengkapnya »
Tuan Presiden yang terhormat,
Ini surat dari rakyatmu yang kecil. Kami adalah rakyatmu yang dulu memilihmu untuk menjadi presiden ya Tuan Presiden. Tuan Presiden, sekarang kami mengirimmu sehelai surat. Surat sederhana dari rakyat yang engkau pimpin, Tuan Presiden.

Tuan Presiden, kami tahu kalau Tuan Presiden saat ini sedang pusing memikirkan kelangsungan hidup kami. Tak berbeda jauh dengan kami yang juga pusing bagaimana caranya bertahan hidup dan menafkahi keluarga kami. Penduduk Indonesia ada 200 jutaan, ya samalah dengan kami yang anaknya sampai 12 orang yang semuanya masih kecil-kecil. Kami juga tahu kalau Tuan Presiden sedang memikirkan untuk menaikkan bbm, sama dengan kami yang berpikir untuk mengajar anak-anak kami untuk benar-benar berhemat dan sama juga dengan kondisi negara ini yang sedang penuh dengan demo, keluarga kami pun ikut menolak kalau benar-benar berhemat sehingga anak-anak kami uang jajannya harus dikurangi.

Tuan Presiden, tolong dengarkanlah kami, rakyatmu yang kecil ini. Yang cukup berbangga jika kami pernah tahu ada namanya sekolah untuk belajar. Yang cukup mengerti kalau 1 + 1 = 2. Yang cukup senang jika punya perangko, amplop untuk menulis surat. Yang cukup gembira kalau kami punya kotak berkaca hitam yang terkadang memunculkan gambar, kadang tidak tergantung hari yang kami sebut teve. Yang merasa lebih pintar jika kami punya kalkulator pasar untuk menghitung. Yang merasa kaya jika punya sepeda ontel 2 buah.

Tuan Presiden, kami mungkin tidak mengerti istilah-istilah seperti abiotik dan biotik, atau inflasi dan deflasi, atau geografis dan ekonomis. Mungkin kami tak paham jika kami diajak bicara tentang perpajakkan dan perhitungannya, atau konteksgalasi dan kosmopolitan. Mungkin kami terlihat dungu ketika kami diajarkan komputerisasi atau otomatis. Tapi yang kami tahu hanyalah negara ini sedang bergejolak sama seperti kondisi keluarga kami yang jika mendapat masalah pasti akan bergejolak

Tuan Presidan, tolong lihatlah kami. Kami mungkin tak punya kendaraan yang disebut motor atau mobil. Setiap hari paling sering naik sepeda atau kereta kuda. Pakaian kebanggaan kami hanyalah pakaian yang pertama kami beli di tahun 70an. Alas kaki kami mungkin yang paling bagus adalah yang kami beli tahun 80an.

Tuan Presiden, kami mungkin bisa menuju istanamu, tapi itu memakan waktu yang sangat banyak bagi kami. Itu artinya kami harus meninggalkan keluarga kami yang artinya kami menelantarkan keluarga kami. Kalau kami datang ke sana dengan membawa keluarga kami, masalah akan bertambah runyam mengingat anak kami yang hampir 12 orang itu. Oleh sebab itu kami mengutus orang-orang yang punya waktu lebih banyak untuk menemuimu. Tuan Presiden, tolong dengarkan suara dari penyambung lidah kami. Janganlah Tuan takut terhadap mereka. Mereka bukanlah gajah yang mengamuk sehingga Tuan Presiden perlu menembakinya dengan peluru atau memukulnya hingga mati. Mereka kami utus hanya untuk menemuimu Tuan Presiden

Tuan Presiden, temuilah utusan kami dan dengarkan mereka. Tak perlulah tentara sepuluh kompi untuk menyambut mereka dengan kawat berduri. Yang kami butuhkan hanyalah perhatianmu. Kami tak bermaksud merusak suasana istanamu. Kami hanya ingin didengarkan supaya Tuan Presiden dapat mengambil keputusan yang paling tepat.

Tuan Presiden, tolong lihat kami. Kami tak membawa pisau atau pedang. Senapan atau granat. Kami hanya membawa badan kami yang telah lelah berjalan jauh. Kami hanya ingin didengarkan.
Kami mungkin tak terlalu paham masalah mendasarnya, tapi kami ingin didengarkan dan kami juga ingin dengar suaramu sendiri.

Jadi tolong Tuan Presiden, dengarkanlah kami

Dari rakyatmu yang dulu pernah memilihmu sebagai presiden

Surat Untuk Tuan Presiden

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 23 Maret 2012
With 1 komentar:
Next Prev
▲Top▲