Newest Post

Salam dari Kematian

| Minggu, 11 Juni 2017
Baca selengkapnya »


Halo semuanya! Kalian pasti belum mengenalku dengan benar tapi aku bisa mengenal kalian satu persatu dengan sangat jelas, bahkan setiap detail kalian pun aku tahu pasti. Aku bukan Tuhan yang harus kau hormati, tapi bukan Iblis yang harus kau takuti dan kau lawan. Aku sudah hidup ribuan tahun, tepat sesaat Adam, manusia pertama keluar dari taman di Eden. Umurku sudah banyak dan mungkin aku akan berakhir ketika Sang Pencipta datang lagi ke dunia ini. Aku tidak punya kuasa pada hidup kalian, tapi aku selalu bersama dengan kalian selalu. Aku selalu berada di sekitar kalian hingga tiba waktu kalian, maka aku baru menunjukkan diriku.

Aku tidak mengerti, banyak orang yang tidak mau membicarakanku, banyak orang yang ketakutan ketika mendengar namaku, bahkan untuk menyebut namaku sekali saja mereka ketakutan padahal seperti yang kubilang barusan, aku tidak punya kekuatan. Bisa diibaratkan aku hanyalah seorang penjaga dan kalian akan menemuiku ketika kalian sudah mencapai waktunya. Kapan itu? Kalian yang tahu waktunya itu sendiri. Aku selalu bersama denganmu, bahkan sejak kalian masih berupa telur dan sperma di dalam perut ibumu, aku bersama denganmu hingga nanti waktumu tiba.

Bagi sebagian orang, aku adalah akhir dari segala hal, tapi bagi yang lain aku adalah seperti tempat peristirahatan, tapi bagi yang lain aku adalah sebuah. Aku memang sebuah awal, awal yang baru sebelum kalian memasuki fase kekekalan. Ketika kalian sudah bertemu denganku, secara alami semua video klip semasa kalian hidup akan berputar dengan sangat jelas. Segala kenangan akan aku munculkan, baik itu kenangan pahit maupun manis. Aku akan menceritakan banyak hal tentang dirimu bahkan detail dirimu yang membuatmu berkesan sesaat sebelum kalian masuk ke dalam kekekalan dan meninggalkan semua kenangan dan memori itu. Memang ada beberapa orang yang ketika bertemu denganku, dia tidak masuk ke masa kekekalan tetapi kembali masuk ke raganya karena tugas atau waktunya belum selesai, tapi ketika kalian bertemu denganku kalian akan merasakan yang namanya kedamaian dan ketenangan. Tidak akan ada gangguan, tidak akan ada suara yang riuh. Kesakitan yang kalian alami akan hilang dan penderitaan akan hilang ketika bersama denganku, tapi aku perlu tekankan, ketika kalian bertemu denganku, itu artinya kalian aku masuk ke satu fase yang baru. Kalian akan bertemu Sang Khalik untuk selanjutnya ditentukan dimanakah masa kekekalan kalian. Bersama Sang Khalik ataukah terpisah jauh dengan Sang Khalik. Lalu bagaimana denganku? Aku akan lenyap setelah kalian bertemu Sang Khalik karena awalnya aku adalah ketiadaan jadi pastinya aku akan menghilang setelah tugasku selesai. Yang ada hanyalah ada

Ohya, ada yang aku lupakan. Ini satu pesanku untuk kalian, jangan pernah menginggalkan Sang Khalik

Salam dariku, Kematian

Salam dari Kematian

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 11 Juni 2017
With 0komentar

Untukmu yang Dipeluk Kegelapan

| Minggu, 07 Mei 2017
Baca selengkapnya »
Untuk dirimu yang sedang dalam kekelaman
Apakah yang kamu jumpai di kedalaman
Adakah secercah cahaya atau harapan
Kau temukankah yang namanya ketenangan
Adakah kau lihat kenangan-kenangan
Apakah yang kamu temui di kegelapan

Suara sedu sedan tak dirimu hiraukan
Jerit rintihan dan tangisan tak dirimu risaukan
Suara kepakan sayap tidak menggusarkan
Reruntuhan bebatuan tidak didengakan

Secercah cahaya lenyap ditelan kegelapan
Sejumput kenangan habis dibabat kekelaman
Semangkuk harapan terbuang ditumpah kehampaan
Yang tetap tinggal hanyalah kegelapan

Untuk apa dirimu berdiam di ujung sana
Untuk apa dirimu terpojok di ujung sana
Tidak ada tombak yang memojokkan raga
Tidak ada senapan yang diarahkan ke kepala
Untuk apa dirimu menutup mata
Tak ada cahaya yang menyilaukan mata
Untuku apa tubuhmu merayap
Kamu hanya ada di ujung sana

Untukmu yang dipeluk kekelaman
Tidakkah kamu rasakan dinginnya pelukan
Tidakkah kamu rasakan kasarnya sentuhan
Tidakkah kamu rasakan pedihnya terluka

Untukmu yang dipeluk kegelapan
Tidakkah kamu sesak nafasmu
Tidakkah kamu pegal kakimu
Tidakkah kamu lelah ragamu

Untukmu yang dipeluk kekelaman
Tidakkah kamu ingin lepas
Tidakkah kamu ingin bebas
Tidakkah kamu ingin terbang
Tidakkah kamu ingin rasakan hembusan lebat
Tidakkah kamu ingin kembali merasakan bebas

Untukmu yang dipeluk kegelapan
Sampai kapan kamu dipeluk kekelaman


Untukmu yang Dipeluk Kegelapan

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 07 Mei 2017
With 0komentar

Siluet dan Senyumannya

| Senin, 06 Maret 2017
Baca selengkapnya »
Di kala senja itu, ketika aku sedang bersemangat, aku melangkahkan kakiku kemana pun ia mau. Aku tidak terlalu memperhatikan kemana kakiku melangkah. Yang aku lihat adalah pemandangan di kanan kiriku yang indah. Aku berjalan dengan bertelanjang kaki. Pasir-pasirnya hangat dan terasa seperti sensasi memijat telapak kakiku.

Selagi aku terus berjalan sambil memandang bolak-balik ke arah kanan dan kiri, tanpa aku sadari aku memasuki hutan. Ketika kuhirup udara di sana, aku langsung terbatuk-batuk karena udara yang sangat lembap. Ketika aku memalingkan mukaku ke belakang, tak terasa ternyata aku sudah berjalan jauh kedalam hutan.  Tak dapat aku lihat lagi hamparan pasir hangat yang memijat telapak kakiku atau semilir angin sejuk yang ditemani irama lautan ombak. Memang aku masih mendengarkan suara gulungan ombak, tapi terdengar sayup-sayup. Samar-samar kulihat bayangan pepohonan yang semakin lama semakin condong menandakan hari semakin senja. Aku melihat ke bawah ternyata selama ini aku berjalan melalui lumpur. Kakiku tenggelam setinggi mata kaki sehingga terasa berat sekarang untuk melangkah. Tak ada seorang pun yang aku lihat berada di sekitar sini.

Mentari semakin condong dan kini saatku bergegas untuk keluar dari hutan ini. Pertama yang kulakukan adalah membebaskan kakiku dari lumpur ini. Ketika aku mencoba untuk menarik kakiku keluar dari lumpur, salah satu kakiku jadi tenggelam lebih dalam. Ketika aku mencoba kaki yang lain kuangkat, ternyata kakiku yang lain malah makin tenggelam. Di dekatku ada dahan yang cukup besar menjulur yang bisa digunakan sebagai penopang, namun jaraknya lumayan jauh. Aku coba meraihnya dengan menggerakkan tubuhku sehingga badanku hampir jatuh untuk meraih cabangnya. Sayang, seribu sayang, cabang yang kuraih itu rupanya sudah lemah, sehingga ketika kupegang dan karena aku hampir jatuh, cabang itu patah sehingga tubuhku jatuh masuk ke dalam lumpur. Aku pun hanya bisa mengerang kesakitan dan mencoba berteriak minta tolong

"Tolong....tolong...."begitulah teriakku

Mentari kini hanya menampakkan sisa-sisa cayanya saja. Warna langit menjadi kejinggaan dan suasana hutan pun menggelap. Karena langit makin memerah, aku pun menjadi panik. Aku cemas dan tak berpikir jernih. Yang kulakukan hanyalah menggerakkan tangan dan kakiku ini. Semakin ku gerakan semakin tenggelamlah diriku. Aku pun kembali berteriak-teriak lirih.

"Hey! Tenanglah"

Sebuah suara terdengar dari arah depan wajahku. Aku tak bisa melihat dengan baik karena badanku nyaris tenggelam. Aku hentikan gerakkanku dan ku berharap suara itu bisa menolongku. Setidaknya dia akan melemparkan tali ke arahku sehingga aku bisa meraihnya dan dia menariknya, begitu pikirku tetapi  yang terjadi bukanlah seperti itu

"Nah sekarang cobalah berenang secara perlahan menuju arah kepalamu menghadap. Nanti aku akan menarikmu"

Hah!? Berenang? Di dalam lumpur ini? begitu pikirku karena menurutku itu adalah tindakan yang mustahil. Dia melihat aku tidak berenang sama sekali lalu dia kembali bersuara

"Ayo lakukan sekarang atau kau mau di dalam lumpur untuk berbaring?"

Lalu karena aku ingin segera melepaskan diriku dari lumpur, aku lalu melakukannya. Ketika aku melakukannya, awalnya terasa berat dan tubuhku terasa semakin masuk ke dalam lumpur, tapi aku terus mencoba dan lama-kelamaan aku dapat merasakan tubuhku bergerak maju secara perlahan. Lalu aku teruskan berenang perlahan dan maju terus hingga akhirnya tanganku dipegang oleh seseorang dan kemudian ditarik secara perlahan menuju ketepian kolam lumpur. Setelah kurasakan seluruh tubuhku ada di dataran tanah yang mantap, aku lalu mencoba berdiri. Segera sesudah itu, aku lihat sesosok siluet yang kukenali dengan baik. Siluet yang selama ini selalu mendukungku, bersamaku, menopangku. Siluet yang indah karena caya kemerah-merahan. Siluet yang nyata. Tak menunggu banyak waktu lagi, kuraih tangan dari siluet itu. Tangan yang halus sama seperti tangan yang kukenal

"Hari ini aku kembali diselamatkan oleh orang yang sama. Tangan ini kembali menyapaku. Hai Gadis! Terima kasih!"

Senyum pun merekah dari bibirnya yang merah tipis dan binar matanya yang menunjukkan kegembiraan. Gadis batu karang, kini kita bertemu lagi

Siluet dan Senyumannya

Posted by : Unknown
Date :Senin, 06 Maret 2017
With 0komentar

Terima Kasih Hujan

| Minggu, 05 Maret 2017
Baca selengkapnya »

Hari berganti hari
Perjalanan demi perjalanan
Beban saling menumpuk beban
Kanan yang melengkapi kiri

Di kala senja yang teduh dan tenang
Setelah sepanjang hari terik
Awan-awan kelabu mulai berkumpul
Mereka sedang mengamat-amati permukaan bumi
Mereka berdiskusi sambil bergesek satu dengan yang lain
Gesekkannya awalnya pelan
Namun makin lama semakin cepat
Sehingga mereka menjatuhkan tombak petir

Saat itu mataku sedang menatap ke arah mereka
Hujan akan datang, begitu pikirku
Aku sedang dalam perjalanan
Aku harus bergegas sebelum hujan turun
Pikiranku kacau kala itu
Penuh dengan kegelisahan
Penuh dengan kebingungan
Penuh dengan ketakutan
Penuh dengan keraguan
Penuh dengan kemuakan
Penuh dengan kelelahan
Penuh dengan pikiran negatif

Selang tak berapa lama
Tetes-tetes air hujan jatuh di jalanan
Membuatku berhenti untuk mengenakan mantel hujan
Makin lama makin banyak tetes-tetes air
Tetesan air itu akhirnya menjadi hujan
Hujan yang sangat deras
Disertai angin kencang
Tombak petir yang menghujam permukaan bumi
Kilatnya menyilaukan mataku
Membuat jalanku lambat dan goyah
Hujan membasahi seluruh tubuhku
Dari kepalaku
Meluncur
ke leher
menembus sampai dada
menembus isi kepalaku
mendinginkan kepalaku
mendinginkan dadaku

Dari bawah gerombolan banjir menghadangku
Membasahi sepatuku
Membasahi kakiku
Menembus saraf di kaki
Membasahi celanaku

Tanpa berhenti kulanjutkan jalanku
Tanpa mengeluh aku lanjutkan
Justru aku teringat ketika kecil
Aku menari bersama hujan
Aku bernyanyi bersama suara petir
Aku berposer bersama sambaran kilat
Aku bermain bersama banjir

Hujan membasahi seluruh tubuhku
Mendinginkan tubuhku
Mendinginkan kepalaku
Mendinginkan jiwaku
Hujan mengajakku menari
Mengajakku bernyanyi
Mengajakku berpose
Mengajakku bermain

Terima kasih hujan
Sahabat karibku
Sahabat setiaku

Terima kasih hujan
Untuk kado terindahmu

Terima Kasih Hujan

Posted by : Unknown
Date :Minggu, 05 Maret 2017
With 0komentar

Kebermaknaan Hidup

| Sabtu, 26 November 2016
Baca selengkapnya »
Halo lagi kawan-kawan baca! Bagaimana kabarnya? Di luar biasa, atau biasa di luar? hehehe....
Sudah lama rasanya aku tak menyapa kawan-kawan bacaku. Kalian tahu, aku sangat senang untuk bisa bercakap-cakap yah walau hanya melalui ruang virtual seperti ini (aku jadi teringat sebuah komik nih dengan kata 'ruang virtual')

Selama beberapa waktu, akhir-akhir ini aku kembali menemukan mimpiku yang sempat aku simpan, bukan aku kubur, karena aku perlu sesuatu yang membuatku yakin untuk melakukan mimpiku. Kalian tahu, kawan-kawan bacaku, aku ini ingin menjadi seorang penulis karena aku sangat menikmati ketika aku menulis, aku bisa merasa bebas menjadi diriku sendiri. Tak perlu berkompromi dengan siapapun atau apapun. Apa yang terlintas di kepalaku pasti aku langsung tulis atau kucatat jika itu sesuatu yang menarik bagiku.

Semasa aku masih duduk di bangku kuliah dulu, aku belajar cara mengaktualisasi diri. Mungkin kawan-kawan baca yang mengambil jurusan psikologi kenal dengan tokoh bernama Abraham Maslow. Beliau membuat piramida tentang prinsip kebutuhan, dimulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri, atau bahasa yang aku kenal adalah kebermaknaan hidup. Di buku lain, aku pernah baca bahwa setiap orang punya tujuan, namun terkadang tidak semua orang mencapai tujuannya tersebut. Ada dua cara orang berjalan menuju tujuan tersebut, yang pertama berjalan lurus menuju tujuan itu, ada juga yang berputar menjadi orang lain namun tetap mengarah ke tujuan tersebut. Namun terkadang ketika orang tersebut jalannya berputar, pada akhirnya tidak mencapai tujuan awal tersebut dan hanya berputar-putar seperti marmut yang berputar-putar di sebuah roda. Yah, kalau kalian tahu, aku saat ini sedang berputar menjadi orang lain demi untuk membangun pondasi dimana aku bisa berdiri supaya aku bisa menggapai apa yang aku ingini seperti Einstein ataupun Hitler.

Hidup yang bermakna adalah mimpi yang pernah aku impikan saat aku SMA. Aku pernah bilang kalau aku ingin punya yayasan untuk anak yatim piatu. Aku gak ngerti kenapa aku bilang seperti itu, tapi kini aku ingin mewujudkannya supaya aku punya hidup yang bermakna, yaitu dapat menolong orang-orang lain. Aku juga punya pengalaman berinteraksi dengan anak-anak yatim piatu dan mereka ya sama saja seperti anak-anak pada umumnya, butuh apa yang orang lain punya.

Karena mimpi-mimpiku itu, kepalaku sekarang jadi pening, tapi kini api dalam tubuhku kembali membara dan siap membakar semangat awalku untuk menjadi penulis dan pemilik yayasan. Sebagai langkah awal, aku saat ini sedang membuat semacam project untuk membuat semacam novel. Ternyata sulit juga ya setelah aku lakukan, tapi aku yakin aku bisa melakukannya. Nanti aku ceritakan deh detail perjalananku dalam membuat novel ini bersama dengan temanku karena sampai saat ini masih dalam draft. Jadi nanti saja kau ceritakan jelasnya

Oke, kawan-kawan bacaku, jadilah orang besar, karena orang besar tahu tentang cara menggunakan tangannya, kakinya, mulutnya, matanya dan isi kepalanya. Adios....

Kebermaknaan Hidup

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 26 November 2016
With 0komentar
Tag :

Selamat Jalan, Oma!

| Sabtu, 12 November 2016
Baca selengkapnya »
Susanna
Itulah namanya

Beliau adalah seorang oma bagiku. Biasanya aku memanggilnya Oma Susan, terkadang suka kelupaan manggilnya jadi Tante Susan. Beliau adalah oma dari Jessica atau Jejes. Belakangan ini memang aku suka menemui Oma Susan di rumahnya entah itu karena emang sengaja main ke sana atau karena mengajak main si Jejes main keluar bareng Iyus.

Kalau dibilang, hubungan aku dengan Oma Susan bisa dibilang akrab. Aku sudah menganggapnya sebagai omaku sendiri karena dari kecil aku emang gak deket sama oma atau nenek kandungku karena nenekku sudah lama berpulang ketika aku belum tahu apa-apa dan karena itu aku jadi nganggep Oma Susan sebagai omaku sendiri karena sering mengunjunginya. Oma Susan gak pernah mau kalau aku manggil beliau "tante". Katanya itu buat yang masih muda. Aku suka ngobrol bareng oma dari sekedar bercanda atau ngomongin berita di tv bahkan sampai ngegosip juga. Aku kenal dengan Oma Susan sebetulnya sejak kecil karena aku satu gereja sebetulnya dulu tapi baru dekat sekitar tiga tahun lalu.


Terkadang kita gak pernah sadar ya kalau yang namanya kematian pasti menjemput tanpa tendeng eling-eling. Oma Susan yang aku lihat sekitar beberapa minggu lalu masih sehat yah, walaupun mengalami kelemahan tubuh, pada akhirnya drop juga lima hari lalu dan sayangnya aku gak bisa datang untuk menemuinya. Ternyata Tuhan ingin Oma beristirahat dari pergulatannya melawan penyakit dan akhirnya tiga hari lalu Oma selesai juga mengakhiri nafasnya. Aku hanya sempat menyaksikan penguburannya tapi aku merasa sedih karena kehilangan seorang oma yang walaupun bukan oma kandung, tapi aku dekat dengan oma. Aku lihat Opa Hans wajahnya muram dan layu, sepertinya benar-benar terpukul jiwanya dan Jejes juga ada aura sendu. Saat aku menemui Jejes, dengan maksud menghibur aku bilang hey Jejes, " Hey Jejes, jangan sedih ya nanti gw colok matamu kalau masih sedih " yah mungkin aneh juga aku bilang gitu tapi ya maksudku biar gak berlarut-larut

Sekarang sudah pergi, 9 November 2016, itulah tanggal kepergiannya dan 12 November 2016, tanggal berpulang ke tanah. Selamat jalan Oma. Tunggu aku ya Oma di surga sana. Nanti kita ketemu lagi.

Selamat Jalan, Oma!

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 12 November 2016
With 0komentar
Tag :

Aku, Manusia di Persimpangan Jalan

| Senin, 17 Oktober 2016
Baca selengkapnya »















Aku bukanlah mentari pagi
       yang menyapamu di awal hari
Aku bukanlah pelangi sehabis hujan
       yang mengindahkan hari-harimu
Aku bukanlah mentari senja
       yang menyejukkan matamu
Aku bukanlah Cirius
       yang memberi cahaya di gelap malam
Aku bukanlah Purnama
       yang memberi ketenangan di gelap malam

Namun,

Aku juga bukan hujan badai
      yang menghancurkan hari cerahmu
Aku juga bukan petir menggelegar
      yang membuatmu takut memandang langit
Aku juga bukan awan kelabu
      yang membuatmu harus menyiapkan payung
Aku juga bukan ular beracun
      yang membuatmu takut dan pingsan

Aku hanyalah gubuk kayu
      yang kadang ada serat kayu yang bisa melukaimu
Aku hanyalah tanah berbatu
      yang terkadang melukai kakimu saat berjalan
Aku hanyalah tiang lampu jalanan
      yang kadang memunculkan karat karena lapuk
Aku hanyalah seorang manusia
      yang berdiri di persimpangan jalan

Kegundahan dan keresahan
Penyesalan dan pengakuan
Kegembiraan dan kejahilan
Kebodohan dan kebijaksanaan
Ketidakpedulian dan keacuhan
Semuanya berkumpul di dalam diriku

Caraku hidup begitu kompleks
Terkadang membuatmu tertawa
Terkadang membuatmu tersedih
Terkadang membuatmu tersenyum
Terkadang membuatmu cemberut
Terkadang membuatmu bersemangat
Terkadang membuatmu patah arang
Terkadang membuatmu mengerti
Terkadang membuatmu kesal

Aku bukanlah yang sempurna
Aku bukanlah mentari
Aku bukanlah Cirius
Aku bukanlah pelangi
Aku bukanlah Purnama

Tapi aku akan melakukan yang mereka lakukan untuk mu

Aku juga bukan awan kelabu
Aku juga bukan hujan badai
Aku juga bukan petir yang menyambar
Aku juga bukan ular berbisa

Tidak akan kubuat kamu seperti yang mereka lakukan

Aku tak luput dari kesalahan
Mungkin berkali-kali
Namun aku selalu peduli
Peduli padamu

Aku doakan kamu
Aku mengerti keluh kesahmu
Aku mengerti kecemasanmu
Aku mengerti kesulitanmu

Aku menolongmu dengan senang hati
Bahkan tanpa kamu bilang pun aku lakukan

Aku hanyalah manusia di persimpangan jalan
Yang berharap dapat melabuhkan hidupku dalam hidupmu

Aku, Manusia di Persimpangan Jalan

Posted by : Unknown
Date :Senin, 17 Oktober 2016
With 0komentar

Hey, Kamu!

| Selasa, 09 Agustus 2016
Baca selengkapnya »
Hey, kamu
Yang pernah kugenggam erat tangannya
Hey, kamu
Yang pernah mendengar detak jantungku
Hey, kamu
Yang pernah ada dalam hidupku
Hey, kamu
Ya kamu yang pernah di hidupku

Hey, kamu
Yang pernah kuajak bertualang
Hey, kamu
Yang pernah peduli kepadaku
Kini dimanakah kamu
Kini ada apakah dengan dirimu

Kamu yang pernah mengajakku
Bermimpi di angkasa
Menata indahnya bintang gemintang
Kamu yang pernah menuntunku
Memberikan pandangan
Dalam setiap langkahku

Kamu yang selalu kutunggu
Kamu yang selalu kubanggakan
Kamu yang selalu kupikirkan
Kamu yang selalu buatku bahagia

Hey, kamu
Yang kini telah menghilang
Hey, kamu
Yang kini menjauh dariku
Hey, kamu
Yang kini tak dapat kugapai
Kemanakah kamu pergi

Yang pernah berjanji untuk tidak pergi
Sekalipun ada halangan di depan
Yang pernah berjanji untuk tidak berubah
Sekalipun ada yang berubah
Yang pernah berjanji untuk saling menggenggam
Sekalipun jurang memisahkan

Hey, kamu
Ya hanya kamu seorang
Hey, kamu
Ya kamu, kamu seorang
Hey, kamu
Hey, hey, hey kamu
Hey, kamu
Hey kamu, kamu dan kamu


Hey, Kamu!

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 09 Agustus 2016
With 0komentar

Pengorbanan

| Sabtu, 11 Juni 2016
Baca selengkapnya »
Terkadang aku suka berpikir, inikah diriku yang sebenarnya? Setiap kejadian yang aku alami, setiap pengalaman-pengalaman yang terjadi, seperti memberikanku sebuah petunjuk pada sesuatu yang sangat abstrak bagi pemikiranku sekarang ini. Jika aku melihat ke belakang, aku tak tahu apakah aku yang dulu itu adalah yang terbaik, atau aku yang sekarang ini yang terbaik.

Kenapa aku berpikir seperti itu? Entah mengapa aku pun tidak tahu, tapi aku seperti mengalami fase kedua dalam metamorfosis jiwaku. Sebetulnya aku pernah mengalami fase metamorfosis pertama ketika umurku menginjak belasan tahun, sekarang sepertinya aku mengalami fase metamorfosis keduaku. Kali ini aku menghadapinya sendirian. Tak ada siapapun yang secara fisik ada di sampingku. Tak ada seorangpun yang mampu menyelami pemikiranku. Entah, mungkin pemikiranku yang kuno atau  pemikiranku terlalu melampaui pemikiran mereka.

Kalau dikatakan hidupku nikmat, ya jelas nikmat menurutku. Sudah punya penghasilan dan bahkan tabungan sendiri. Tidak bergantung sepenuhnya pada orangtua. Soal ekonomi, keadaan ekonomiku sendiri sangat stabil bahkan bisa menolong dua atau tiga orang lagi. Namun aku perlu sesuatu yang lebih besar dari sekedar harta, dan mungkin tahta.

Aku teringat akan sebuah memori, seorang dosen pernah mengatakan padaku, menjadi pintar itu gampang, menjadi bijak itu sedikit sulit, tapi menjadi bermanfaat bagi segala mahluk itu pengorbanan



P.E.N.G.O.R.B.A.N.A.N

Satu kata yang sangat familiar dan punya tempat tersendiri dalam hatiku. Banyak kisah-kisah soal pengorbanan yang aku pernah tahu seperti salah satunya Bunda Teresa, tokoh biarawati yang terkenal karena pengorbanannya bagi kaum papa di India.

Kisah-kisahnya menginspirasiku secara pribadi tapi sampai saat ini aku hanya tahu sebagai 'kisah pengorbanan' saja, bukan mengalami tindakan pengorbanan. Sebetulnya aku pernah melakukan pelayanan ke yatim piatu tapi aku merasa seperti bukan di sana aku harus bertindak. Pernah aku membayangkan untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, sangat pelosok dan melakukan sesuatu, menjadi bermanfaat bagi orang-orang di pelosok, tapi sekali lagi itu hanya apa yang pernah aku bayangkan.

Kehidupan modern membuatku harus mengikuti (atau tepatnya 'terpaksa') perubahan. Tapi kembali aku berpikir, inikah aku, atau inikah jalan yang harus aku pilih? Pernah aku berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan kepadaku jalan yang mana yang harus aku tempuh, tapi sekali lagi aku masih bertanya-tanya apakah ke sini jalannya Tuhan, kenapa lewat sini. Sampai saat ini aku belum mendapat jawaban harus kemana lagi aku berjalan. Kemana lagi aku akan dibawa. Aku selalu berdoa, Tuhan tunjukkan jalan-Mu kepadaku jadi aku tahu harus lewat mana. Aku belum tahu memang ini jalannya atau bukan tapi aku selalu yakin, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang harus aku lalui untuk dapat menjadi bermanfaat bahkan melakukan pengorbanan yang sejati.

Pengorbanan

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 11 Juni 2016
With 0komentar
Tag :

Uttaran vs. Devil May Cry

| Jumat, 03 Juni 2016
Baca selengkapnya »

Halo kawan-kawan baca semuanya. Apa kabar nih? Sepertinya sudah lama ya diriku tak kembali menulis dan aku yakin dari 10,000 orang yang baca, adalah satu orang yang kangen sama tulisan-tulisanku ini. Nah sebelumnya aku ucapkan selamat menikmati bulan Juni. Tidak terasa sudah memasuki bulan Juni dan artinya sudah masuk pertengahan tahun. Apa saja yang sudah kalian lakukan sekitar 5 bulan ini? Ohya selamat dan sukses buat yang lulus ujiannya dan yang baru selesai ujian. Semoga saja mendapatkan hasil yang diharapkan dan yang terbaik tentunya.

Oke kita masuk saja ke dalam pembahasan kali ini.

Akhir-akhir jagat Indonesia (halah) terutama dikalangan emak-emak lagi dihebohkan dengan sebuah serial drama yang sepertinya tidak akan pernah habis episodenya dan memakan waktu yang sangat-sangat lama. Diriku tak habis pikir apa bagusnya sih dengan serial ini? Sekalipun aku gak suka dan sebal dengan serial ini tapi demi membuat tulisan ini aku sengaja liat beberapa episode, tapi bukan berarti aku hanya duduk diam selama tiga jam. Diriku tak tahan kalau seperti itu apalagi diriku sudah sebal jadi ya cuman sebentar sekali. Ohya kalau ingin tahu apa serial dramanya yaitu seperti yang tertulis di atas dan gambarnya yaitu drama India, secara khusus Uttaran.

Kalian mau tahu kenapa aku melakukan riset ini? Karena 'wabah' Uttaran ini dialami oleh emak-emak di sekitar rumahku termasuk emakku (mamaku). Dalam satu minggu pasti mamaku sudah mantengin depan TV hanya untuk nonton ini. Sekalipun mamaku lagi di dapur atau di kamar, ketika aku ganti channelnya, pasti mamaku akan keluar dan berkata "JANGAN DIPINDAH, LAGI DITONTON" padahal posisinya bukan di depan TV. Pokoknya kalau mamaku sudah nyalain TV dan masuk ke saluran TV yang menayangkan sinema tersebut maka diriku tak bisa berbuat banyak selain mendekam di dalam kamar sambil internetan atau membantu ayahku di bawah.

Beda mamaku, beda dengan diriku. Kalau mamaku sukanya nonton Uttaran, aku sukanya main game dan game yang masih aku gandrungi hingga saat ini adalah Devil May Cry, bahkan aku sampai ikut grup FB yang khusus tentang Devil May Cry untuk dapat trik-trik, bahkan sampai mencari link download gamenya. Ya intinya beda deh antara diriku dan mamaku.

Tapi setelah aku perhatikan beberapa lama ini ternyata baik mamaku maupun diriku sebetulnya sama saja lho sebenarnya. Kami memiliki hobi yang sangat kami senangi, saat ini sih mamaku hobi nonton serial drama Uttaran kalau aku main game Devil May Cry. Kami juga punya kebiasaan kalau lagi asyik melakukan hobi, gak bisa diganggu. Kayak tadi yang aku bahas di atas, mamaku gak bisa biarin channel TV nya dipindahin ketika lagi tayang serial drama India kesayangannya dan aku juga kalau lagi asyik main game ya gak mau diganggu. Selain itu kami pun hapal segala tetek bengeknya tentang hal yang kami sukai.

Jadi sebetulnya yang namanya hobi, kesukaan itu ya bagian dari privasi seseorang. Suatu pilihan, tak bisa dipaksakan. Kayak mamaku, dia gak akan mau dan gak akan bisa kalau aku ajakin main game seperti yang aku mainkan dan aku walaupun bisa mengikuti jalan cerita serial dramanya, tapi karena udah gak suka sejak awal ya aku gak akan tahan untuk duduk diam menontonnya. Melihat hal ini aku juga jadi melihat bangsa ini. Apalagi kalau bukan Bangsa Indonesia.

Sedih kalau aku memperhatikan bangsa ini. Hak setiap orang dijamin dalam hitam di atas putih tapi dalam lapangannya malah tidak ada. Pedang hukum ini hanya digunakan oleh kaum "mayor" atau kaum "beruang" dan kaum "berkuasa". Yang tidak memiliki ketiganya hanya menerima hujaman dari kaum-kaum yang memegang pedangnya. Tak bisa melawan meski melewati jalan yang benar sesuai dengan tracknya. Tapi ya ini lah bangsaku.

Baik buruknya aku cinta
Hebat jeleknya aku simpan
Untung ruginya aku genggam
Halus kasarnya aku peluk

Seperti aku mencintai keluargaku dan kekasihku dulu
Demikianlah cintaku pada bangsa ini
Seutuhnya, sepenuhnya, segenapnya

Bagimu Negri
Jiwa ragaku.

Uttaran vs. Devil May Cry

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 03 Juni 2016
With 0komentar

Untukmu yang Membuatku Gila

| Jumat, 06 Mei 2016
Baca selengkapnya »
Sebuah deretan bilangan asli diawali angka satu
Deretan huruf diawali dengan huruf 'a'
Perhitungan hari diawali dengan pagi
Sebuah garis dimulai dengan sebuah titik
Sebuah buku diawali dengan sampul depan
Barisan dimulai dengan bagian depan
Kehidupan diawali dengan sebuah kelahiran

Jika segala hal dalam hidup ini memiliki sebuah awal
Maka bisa kukatakan kondisiku dimulai dengan melihat
Dimulai dengan mendengar
Dimulai dengan mengenal
Untuk pertama kalinya

Aku selalu percaya
Jika kini aku selalu melihatnya
Jika kini aku selalu memikirnya
Jika kini aku selalu mengharapkannya

Sebetulnya sudah lama
Sudah panjang waktunya
Sudah sejauh ini adanya

Aku berdiri dari jauh
Berdiri untuk mengharap
Berdiri untuk menatap
Berdiri sambil berucap

Sudah terlalu lama
Aku berdiri di sana
Sudah terlalu lama
Aku hanya diam menatap
Sudah terlalu lama
Aku terdiam mengharap

Namun dengan bodohnya,
aku masih berharap
Namun dengan tololnya,
aku masih menatap
Namun dengan dungunya,
aku masih diam tetap
dalam diam

Tak sadarkah kamu
Tak pahamkah kamu
Tak menanggapkah kamu

Kamu membuatku terpaku
Kamu membuatku terbisu
Kamu membuatku hancur luluh
Kamu membuatku penasaran utuh

Bukan aku takut
tapi aku tahu diri
Bukan aku gugup
tapi aku sadar diri

Tak butuh hanya sekadar ucapan
Tak butuh hanya sekadar tindakan
Tak butuh hanya sekadar dana

Ia butuh sesuatu yang lebih besar

Sebuah pengorbanan

Saat ini perasaan ini akan kubiarkan kusimpan
Aku pastikan aku tak mengganggumu
Aku pastikan aku tak melukaimu
Aku pastikan aku tak menjatuhkanmu

Hingga waktu yang tepat datang



Untukmu yang Membuatku Gila

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 06 Mei 2016
With 0komentar

Menjadi Seorang Guru

| Sabtu, 30 April 2016
Baca selengkapnya »
Hai, halo, ciao, hola, hello...

Wuah udah lama ya rupanya diriku tak pernah menulis lagi karena satu dan lain hal, aku sempat terhenti untuk menulis. Lama banget sih dan benar-benar lama sekali. Berhubung ini adalah hari terakhir dalam bulan April, aku jadi sempatkan untuk menulis yah walau sekarang hanya terlihat seperti celoteh atau curcol barangkali, tapi ya semoga dari tulisanku yang perdana (lagi?) ini aku bisa punya bayangan akan seperti apa selanjutnya gaya menulisku.

Akhir-akhir ini aku punya semacam 'kesibukan' baru yaitu mengajar. Bukan mengajar di kelas-kelas privat walau sebetulnya ada keinginan untuk melakukan les privat, tapi sekarang ini aku sedang mengajar dalam kelas sekolah minggu. Itu loh, kelas belajar Alkitab. Saat ini aku mengajar anak-anak kelas Madya yang kalau dilihat dari umurnya itu sekitar anak umur kelas 5 sampai 6 SD. Gaya mengajar mereka itu begitu unik. Mereka baru aktif ketika sudah dipicu oleh gurunya yang aktif. Mereka pendiam sekali. Ditanya ini itu, kadang jawab, kadang tidak. Ini menjadi tantangan sebetulnya bagiku untuk membuat kelas yang penuh dengan interaksi, tapi dengan alat-alat peraga yang sengaja kadang aku ciptakan atau buat sendiri dan games kecil, setidaknya kelas sekolah mingguku sedikit hidup.

Anak-anak di kelasku ada tujuh anak, tiga orang lelaki dan empat orang perempuan, Mereka suka sekali diam, aku perlu bersabar untuk memicu mereka. Aku sendiri sebetulnya sadar kalau aku gak punya kemampuan lebih untuk mengajar, tapi aku memang ingin mengajar karena aku lihat di tayangan televisi anak-anak seumuran mereka cepat dewasa. Maksudnya cepat dewasa tuh ya dalam artian yang negatif, bukan yang positif. Aku ingin berada di antara mereka untuk menunjukkan yang salah dan yang benar. Memang pada akhirnya aku yang harus mengemban tanggung jawab besar tentang proses perkembangan mereka, tapi aku selalu berdoa dan berharap agar apa yang aku ajarkan itu tidak salah dan berharap mereka bisa menentukan tujuan mereka ke depannya. Mungkin di umur mereka yang masih SD ini masih agak terlalu jauh, tapi kalau bukan dari sekarang dituntun, kapan lagi.

Aku selalu berdoa agar apa yang aku ajarkan adalah memang yang benar dan bukan yang salah.

Nah berhubung besok aku mulai mengajar lagi, jadi sampai di sini dulu ya tulisanku. Ohya nanti dalam kesempatan lain, aku akan tunjukkan anak-anak yang aku ajar. Aku sekarang istirahat dulu okay kawan-kawan baca.

Menjadi Seorang Guru

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 30 April 2016
With 0komentar
Tag :

Kisah Tentang Kita

| Selasa, 23 Februari 2016
Baca selengkapnya »
Kisah ini tidak seperti pada novel-novel romance pada umumnya karena memang bukan tentang romance  yang dimaksud oleh kebanyakan orang pahami saat ini. Kisah ini mungkin bisa dibilang seperti kisah klasik atau mungkin kisah yang terlalu 'biasa', tapi bagiku setiap kisah memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri.

Tanpa dirimu, mungkin kisah ini takkan pernah ada. Yap, kisah yang mungkin orang kebanyakan bilang adalah kisah cinta antara dua orang remaja, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Seorang laki-lakinya itu adalah seorang laki-laki yang mungkin biasa saja dan mungkin sangat biasa tak seperti kebanyakn laki-laki yang kamu kenal. Laki-laki yang selalu mencoba mengatasi batas normalnya sehingga bisa menunjukkan siapa dirinya, sedangkan perempuannya adalah seorang perempuan yang penuh dengan mimpi-mimpi tapi terkadang menurunkan standar mimpinya karena pengaruh orang-orang yang ada di lingkungannya, yang selalu banyak berpikir.

Jika diperkirakan dari segala segi, sangat tidak mungkin untuk mereka berdua untuk bertemu. Mereka terpisah lautan, terpisah gunung-gunung, terpisah jarak sejauh kurang lebih 2100 km, terpisah antara suku, dan ras, terpisah antara kebudayaan sehingga jika dihitung secara mekanika kuantum, kemungkinan untuk bertemunya dalam hitungan persen adalah 0,0010275 %. Namun tanpa ada sesuatu yang menggemparkan dunia seperti perang dunia, atau bom bunuh diri, atau pengungsian besar-besaran, atau kunjungan presiden-presiden serikat, tanpa adanya badai petir, tiga tahun lalu kkurang lebih, mereka berdua bertemu di lokasi yang tak pernah mereka perkirakan dan mereka duga. Mereka berdua bertemu tanpa ekspektasi.

Mereka berdua telah bertemu, saling mengisi satu sama lain, saling mencari, saling bercanda, saling tertawa, saling menguatkan hingga akhirnya saling mengasihi. Mereka membuat sebuah janji. Yah walau kisah mereka tak didramatisasi tapi kisah-kisah berikutnya seperti kisah yang unik dan penuh dengan drama. Memang bukan drama kekanak-kanakan seperti pada sinetron-sinetron yang tidak mendidik.

Laki-laki dan perempuan itu selanjutnya disebut dengan sepasang merpati bersayap dua dan bukan empat. Kenapa bersayap dua? Karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka saling menggenggam erat namun bukan saling menguasai. Ketika yang satunya kelelahan mengepakkan sayapnya, maka pasangannya akan berjuang agar sampai di tempat peristirahatan untuk mengendurkan otot-otot sayap mereka. Ketika salah satunya merasa kelaparan, maka keduanya akan turun mencari makan. Mereka tak mungkin berpisah terlalu lama karena mereka tak dapat terbang sendirian.

Mungkin orang-orang melihat mereka sepertinya mereka tidak akur atau kurang cocok karena selalu banyak berantam. Namun mereka yang hanya melihat sekilas tak pernah mengerti bahwa cara itu adalah salah satu cara untuk saling mengenal masing-masing dari mereka. Mereka mungkin bosan oleh sebab itu mereka mengeksplorasi cara-cara yang baru yang membuat mereka bukan hanya senang-senang sesaat saja tapi bisa berbahagia seterusnya. Kisah mereka bukan kisah bocah-bocah bau kencur yang baru mengerti soal cinta, tapi mereka terus berjuang bersama, berlari bersama, menitihkan tetesan keringat bersama.

Mereka bagaikan yin dan yang. Keseimbangan. Mereka bagaikan hitam dan putih. Mereka bagaikan utara dan selatan. Sekalipun mereka benar-benar berbeda, tapi mereka bisa mengisi setiap lubang yang kosong.

Itulah kisah mereka. Dan mereka adalah dirimu dengan diriku.


Kisah Tentang Kita

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 23 Februari 2016
With 0komentar
Tag :

Gua Pertapaan Karmel

| Rabu, 20 Januari 2016
Baca selengkapnya »

Gua Pertapaan Karmel Ordo Carmelitarum Discalceatorum (12:25 WIB//20-01-2016)
Gua Pertapaan Karmel OCD (Ordo Carmelitarum Discalceatorum) adalah salah satu tempat berdoa yang aku ketahui yang berada di Kota Bandung. Tempat ini menjadi tempat yang sangat bersejarah bagiku sejak aku menginjakkan kakiku di sana. Ceritanya sudah sejak 5 tahun lalu, sebenarnya tepatnya sih empat tahun lewat tujuh bulan.

Pertama kali aku mengunjungi Gua Pertapaan Karmel ini adalah pada bulan Juli tahun 2011. Aku diajak oleh Reza (kalau mau tahu siapa dia, klik namanya) dan beberapa otang dari gerejaku untuk ikutan Reureuh (mungkin dalam bahasa Sunda dan artinya Reatret). Kegiatan ini diadakan oleh sebuah lembaga namanya Lembaga Pemahaman dan Penerapan Budaya Sunda atau singkatnya LPPBS. Lembaga ini adalah lembaga yang berkonsentrasi pada budaya Sunda dan banyak karya-karya ayang sudah dikeluarkan oleh lembaganya seperti tembang-tembang dan pupuh Sunda. Aku pernah lihat sanggarnya. Ada di Sarijadi. Nama sanggarnya Sanggar Mekar Asih. Dulu sih suka main ke sana. Ohya kembali lagi ke cerita barusan ya.

Jadi ada reatret untuk Jamaah Kristen Sunda. Aku diajak oleh Reza. Aku baru tahu kenapa Reza mengikuti kegiatan tersebut yaitu di sana ada kekasihnya Reza. Kalau sekarang sih sudah tidak ada hubungan spesial lagi. Kalau cerita soal tentang suasana reatretnya yang pasit penuh dengan suasana Sunda, tapi aku mau fokus pada tempat doanya. Saat aku mengikuti reatret, ketika ada waktu kosong, aku diajak oleh Reza dan Kevin, teman gerejaku untuk ke tempat doa Karmel. Mereka menyebutnya "Bukit Karmel" karena memang letaknya berada di daerah pegunungan dan patahan Lembang jadi disebut bukit. Lokasi tempat doa itu dekat dengan hotel tempat kami melakukan Reureuh jadi ketika ada waktu luang kami menyempatkan diri ke sana.

Doa yang pertama kali aku panjatkan di Gua Pertapaan tersebut adalah aku berdoa menggumuli keinginanku untuk bisa kuliah di ITB. Saat itu aku sudah mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi negri dan aku sedang menunggu-nunggu hasilnya apakah aku bisa masuk ITB atau tidak. Jauh sebelum aku berdoa di Gua Pertapaan itu, aku sudah berdoa sejak aku beres melakukan ujiannya dan tanggal  pengumumannya bertepatan dengan ketika aku sedang reatret dan jawaban dari doaku adalah aku berhasil masuk ITB. Setelah mendapatkan pengumuman itu, aku segera ke gua pertapaan itu dan berdoa kembali untuk mengucapkan syukur.

Selanjutnya setelah aku masuk kuliah, aku banyak sekali berdoa untuk beragam macam hal di "Bukit Karmel" seperti saat aku menghadapi UTS dan UAS di perkuliahan, terus waktu aku merasa pertama kalinya aku merasa jatuh cinta, kemudian ketika aku akan melakukan perjalanan jauh, lalu ketika aku akan melakukan operasi, ketika aku menggumuli tempat untuk magang, ketika aku mau membuat tugas akhir dan terakhir ketika aku bergumul untuk mendapatkan pekerjaan. Artinya hampir setiap aku merasa aku perlu berdoa bersungguh-sungguh, aku selalu datang ke tempat ini.

Sebetulnya gak masalah aku berdoa dimanapun, tapi gua pertapaan ini spertinya membuatku berada di dunia lain. Aku merasakan kekuatan ketika aku berdoa dan bertelut dan sekedar duduk di sana. Bahkan di sebelahnya ada kapel Katolik. Ketika aku masuk ke dalamnya, suasananya benar-benar merinding dan aku meraskan kekuatan ketika orang-orang berdoa di sana.

Kini sudah lima tahun aku berdoa di sana dan Gua Pertapaan Karmel menjadi saksi bisuku dalam menghadapi setiap pergumulan. Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk setidaknya meluangkan waktuku sebulan sekali untuk berdoa di sana. Aku mau berperang di sana dan menang.

Gua Pertapaan Karmel

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 20 Januari 2016
With 0komentar
Tag :

Halaman Terakhir di Tahun 2015

| Kamis, 31 Desember 2015
Baca selengkapnya »
Kembali lagi di tanggal 31 Desember. Seperti yang aku pernah bilang sebelumnya, semua tanggal, atau hari itu gak ada yang lebih penting. Setiap waktu itu penting, tapi memang ada beberapa tanggal yang menarik perhatianku salah satunya ya hari ini. Tanggal 31 Desember. Tanggal ini cukup menarik bagiku karena merupakan 'juru kunci' sebelum memasuki tahun yang baru dan pasti selalu ada suara terompet dan kembang api, suara petasan dan juga mercon. Semua orang tampak memiliki semangat yang baru dan bersukacita setelah sekian bulan badannya lunglai, letih, lesu dan tidak berdaya tapi ketika mendekati tanggal ini jadi kembali bersemangat. Sebelumnya aku mau sedikit bicara tentang beberapa pengalamanku terutama masa-masa aku kuliah, masa-masa aku bersenang-senang, masa-masa aku kecapekan dan sibuk.

Cerita yang pertama adalah tentang kuliahku
.Sekarang coba perhatikan lambang dan tulisan di atas. Kalian pasti tahu dong tulisan di atas menunjukkan apa. Aku berkuliah di tempat itu dan buktinya ya map itu. Aku kuliah terbilang cepat sih walau itu hitungannya emang standar anak kuliah. Empat tahun. Gak kurang dan gak lebih. Lulusnya bareng-bareng sama teman-teman satu jurusan. Lulus sidang bulan Juli 2015 dan wisuda Oktober 2015. Kalau aku hanya bilang seperti itu ditambah dengan angka magis yang dikenal dengan sebutan ipk, aku rasa itu tidak menunjukkan kalau aku menikmati perkuliahanku. Tapi aku gak mau cerita tentang prestasi atau apalah itu namanya yang kalau diceritakan membuat orang merasa bangga pada dirinya. Aku sudah bangga dengan diriku bahkan sebelum embel-embel tulisan 'ST' disematkan di belakang namaku, aku sudah bangga dan bahagia bahkan jauh sebelum aku mengecap bangku pendidikan.

Untuk masuk universitas atau dalam hal ini institut di atas sebenarnya terhitung sulit. Kalau diibaratkan sebuah game, maka ini adalah game arcade S class. S di sini menunjuk kata Smokin' (yang pernah main game Devil May Cry atau sejenisnya pasti tahu deh kelas-kelas ini). Kenapa aku bilang kelasnya S-class? Bayangin aja ada berapa 'ekor' manusia yang rela 'buang' waktu bermain mereka dan menggantinya dengan ikut segala macam les privat inilah, les privat itulah. Les di sinilah, les di situlah hanya demi bisa masuk ke institut ini. Sebenarnya aku gak menyalahkan mereka yang emang ngambil les persiapan untuk ujian saringan masuk ini (SNMPTN, kalau sekarang sih namanya SBMPTN). Engga, aku bilang engga salah kalau ambil les ini itu. Justru memang harus benar-benar mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tapi yang aku benar-benar benci adalah kenapa porsi akademis selalu lebih besar dibanding porsi lainnya? 

Dari dulu aku gak suka untuk ikut les ini atau les itu kalau hubungannya sama mata pelajaran di sekolah. Aku bahkan sempat berpikir begini sama mereka yang les mata pelajaran "Hello...,ngapain aja lu di sekolah ampe kudu les segala? Pelajaran sekolah ya belajar di sekolah. Di luar sekolah lakuin hal lainnya brur." Mungkin terlalu naif atau polos dulu tapi apa yang aku katakan memang benar. Kebanyakan sekarang les-les atau kursus itu bukan membuka pikiran untuk melihat satu masalah dari sudut pandang yang berbeda, tapi justru malah membuat pikiran hanya melihat satu masalah dengan satu cara. bukan dengan segala cara yang memungkinkan. Yang diajarkan hanyalah hasil dan bukan proses sehingga kebanyakan sekarang orang maunya serba instant. Sebodo amatlah dengan prosesnya yang penting hasilnya, begitu pikir mereka. Dan kini aku bisa lihat hasilnya. Mungkin kalau aku bisa bilang aku adalah bagian dari sebagian orang yang gak pernah les, gak pernah terlalu memusingkan sisi akademis dan bisa menggapai apa yang orang-orang harapkan. Aku masuk ke institut ini tanpa banyak menghadapi kesulitan dan mematahkan stereotip orang kalau yang masuk ke institut ini kalau gak pintar ya kaya.

Selanjutnya ya aku mulai kuliah di pertengahan tahun 2011 dengan mata kuliah yang sebenarnya terhitung sudah pernah tapi pengalaman mendapatkan materinya dari sudut pandang yang baru. Ini yang aku suka sebetulnya yaitu melihat satu masalah dari sudut pandang yang beragam. Kalau dibilang selama kuliah aku gak terlalu berprestasi amat kok. Aku termasukdalam golongan mahasiswa golongan DEDEMIT. Apa itu DEDEMIT? Diemdan kalem main tidur. Tapi seperti yang kubilang, aku lebih memilih ilmunya yang aku pengin dapat. Aku sempat aktif dulu ikut kelas teater karena dulu selama sekolah aku aktif di teater. Aku belajar akting, belajar menguasai panggung, make up artist and character, belajar jadi sutradara, dan menjadi penyelenggara acara. Tapi aku gak lama di sana dan aku ikut siaran kampus. Aku dulu sempat berpikir kayaknya aku jadi penyiar aja karena aku bisa lancar siaran seperti penyiar umumnya apalagi aku punya suara 'ganteng'-nya penyiar. Kalau waktu senggang kadang nongkrong dulu ama teman kuliah atau teman radio. Baik itu di kantin, di warung pinggir jalan Ganesa, Ganyang, warung deket DU, warung pinggiran UNPAD, kawasan DAGO, atau nongkrong kayak anak gaul di mall sekitar DAGO dan Cihampelas.

Sebetulnya kalau soal main, aku paling gak suka main ke mall dan makanya pas kuliah ketika ada kesempatan main keluar kota aku pasti ikut. NIh beberapa tempat yang aku sempat kunjungi semasa kuliah dulu.
 

Kalau diurutin dari atas ke bawah adalah yang pertama aku bermain ke Karimun Jawa, itu lho pulau yang ada di Lautan Jawa di sebelah utara Jepara. Si sana banayk spot snorkling yang bagus dan gambar itu pas aku dapetnya pas bagus-bagusnya. Aku pergi ke sana bareng teman-teman di radio kampus itb. Gambar selanjutnya itu ada di Kota Tua Semarang. Nama bangunan yang ada di bealkangnya adalah Gereja Blenduk. Disebut Blenduk karena ada kubang setengah lingkaran di atas bangunannya. Terus gambar terakhir pasti kalian tahu. Ini di Yogyakarta tepatnya di simpang Jalan Malioboro. Tapi ada satu tempat yang paling sering aku kunjungi selama liburan semesteran kampus yaitu Pangandaran.

 

Aku jadi sering ke Pantai Pangandaran. Gambar yang pertama yaitu paling pojok kiri atas itu aku berfoto di  Cagar alam kalau tak salah ingat dua tahun lalu, terus foto yang sebelah kanan itu di Pantai Indah Madasari, foto ke tiga dan keempat juga di lokasi yang sama tapi foto ketiga itu di tebingnya.

Itu kalau bicara soal jalan-jalannya selama kuliah. Aku rasa aku sudah cukup puas kalau main jauhnya tapi aku masih ingin main juga sih. Jiwa petualangku masih semangat. Kalau bicara soal tugas-tugas kuliah bisa dibilang aku bukan tipe anak rajin sih tapi sebelum deadline aku selalu membereskannya. Hampir gak pernah mengalami hambatan yang berarti kecuali ada beberapa yang gak sesuai sasaran sih. Aku sempat mengulang dua mata kuliah penting tapi tidak terlalu berbahaya juga buatku karena aku bisa berjuang dan survive. Buktinya aku lulus sekarang ya walau bukan dengan hasil yang terlalu memuaskan. Tapi dengan hasil seperti itu, aku belajar untuk tetap berjuang dalam hidup dan menatap jauh ke depan. Jangan pernah membiarkan tangan ini berhenti bekerja, tidak membiarkan mata ini berhenti menatap, tidak membiarkan kaki ini berhenti melangkah, tidak membiarkan telinga ini berhenti mendengar, tidak membiarkan jantung ini berhenti berdetak, tidak membiarkan paru-paru ini berhenti bernafas dan tidak membiarkan hati ini berhenti berdoa dan berharap pada Yang Maha Kuasa (ngomong-ngomong mirip kayak film apa gitu ini quote).

Setelah aku lulus di bulan Agustus 2015, bisa dibilang aku sedang menikmati masa-masa istirahatku. Aku belum bekerja. Yang aku kerjakan adalah membuat berbagai macam lamaran kerja dan mengirim ke berbagai perusahaan. Beberapa ada yang lolos administrasi tapi ada yang gak masuk. Tapi ayahku bilang nikmati aja. Jangan takut. Pada akhirnya memang aku gak kerja selama lima bulan dulu. Lalu apa yang aku lakukan selama lima bulan? Gambar ini mungkin menjelaskan lebih baik.



Selama masa menganggurku, aku pergi main ke CIC lagi ke kebun tehnya, terus ke Kampung Gajah naik ATV, habis itu main ke Kawah Putih. Ngomong-ngomong ini pertama kalinya lho ke Kawah Putih padahal udah lama di Bandung tapi baru kesampaian ke Kawah Putihnya.

Nah kado terbaik saat Natal yang aku terima adalah aku bisa mendapat pekerjaan juga akhirnya sebelum tahun 2015 berakhir. Aku bekerja di PT. CPAN, yang bekerja sama dengan Pertamina. Kalau ditanya dimana kantornya, ya di Terminal BBM Pertamina Ujungberung. Pekerjaanku adalah mengawasi bagian gantry, yaitu penyaluran BBM ke mobil tangki. Cukup banyak yang dipelajari tapi kata seniorku, belajarnya sambil lihat masalah jangan teori doang. Begitu katanya.

Ya itulah catatan terakhirku di penghujung tahun 2015. Aku berharap bisa menuliskan lebih banyak lagi tapi sekarang seperti ini dulu. Selamat bersenang-senang.

Selamat Tahun Baru 2016

Halaman Terakhir di Tahun 2015

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 31 Desember 2015
With 0komentar
Tag :

Back To Blogging

| Rabu, 21 Oktober 2015
Baca selengkapnya »
Halo-halo teman baca. Waaah sudah lama ya tak nongol daku nih di blog. Sudah sekitar enam bulan nih daku tak menelurkan kembali hasil tulisanku. Gimana kabar teman-teman baca sekalian? Pasti pada biasa aja ya, ato malah biasa banget? Kalo aku sih luarrrr biasaaaa.... (maksudnya biasa di luar gitu). Rupanya sudah lama juga ya daku tidak menulis blog lagi.. Padahal biasanya daku selalu berceloteh riang walau hanya beberapa ekor saja yang melihat (read : membaca) celotehanku yang tertuang di blog ini.

Kesempatan kali ini daku hanya mau menyapa saja. Tak lebih dan tak kurang karena yang lebih itu dimiliki oleh Mas Tu*ul dan yang kurang itu dimiliki oleh Kang Uhle (bukan nama sebenarnya dong). Kalau teman-teman baca perhatikan kegiatanku selama enam bulan tidak menulis blog itu disibukkan dengan membuat tugas akhir karena kebetulan daku ini mahasiswa tingkat akhir dan selama dua bulan waktuku tersita untuk membereskan baik makalah, proyek, paper buku TA dan dokumen-dokumen kelengkapan untuk persiapan sidang. Wiiidiih, banyak amat ya udah kayak orang penting aja ya. Ya dibilang penting sebenarnya gak juga tapi kalo dibilang gak sebetulnya ya penting sih kalau dipikir-pikir lagi. Jadi inget salah satu acara di teve nama apaan sih ya? Duh lupa daku. Udahlah kan daku sekarang mau ngebahas soal enam bulan yang menghilang dan bukan ngebahas acara-acara teve begituan.

Dua bulan pertama kan tadi udah dibahas ya teman-teman baca kalau daku sibuk ngurusin masa-masa akhirku sebagai manusia terpelajar. Nah setelah dikasih toga dan disidang bulan Agustus kemarin maka aku masuk dalam fasa pengangguran. Tapi aku gak mau disebut sebagai pengangguran sebab daku banyak kegiatannya nih, ya setidaknya sampai saat ini walau tidak banyak juga sih yang daku lakukan. Hehehehe....

Sebetulnya banyak kegiatan tapi karena saking banyaknya gak punya waktu untuk menulis kembali nih teman-teman baca. Selain karena kesibukanku masalah lainnya seperti biasa hal sepele yang membuat daku vakum enam bulan ini adalah karena daku sudah tak pasang akses internet lagi. Huhuhuhuhu.... Ini pun daku sempetin ke warnet hanya sekedar menyapa teman-teman baca lho. Doakan saja ya teman-teman baca kiranya daku dapat suatu pekerjaan jadi bisa main dan bisa menulis lagi dan teman-teman baca dapat hiburan lagi seperti biasanya dari daku nih.

Salam hangat dari daku


Back To Blogging

Posted by : Unknown
Date :Rabu, 21 Oktober 2015
With 0komentar

Ku Genggam Tangan Mu

| Selasa, 20 Oktober 2015
Baca selengkapnya »
Sudah selama ini kita bersama. Melewati banyak suka dan duka. Menghadapi berbagi rintangan dan melalui berbagai perjuangan yang panjang. Tangan kita masih tergenggam erat. Kita memang dari dua dunia yang berbeda. Kita berada di kutub-kutub ekstrem. Tampaknya memang seperti itulah apa yang dilihat orang-orang kebanyakn dari luar. Tapi kita tidak peduli dengan mereka, atau tepatnya kita bilang ‘siapa mereka?’.

Ya. Kamu adalah seseorang yang kini kugenggam tangannya. Tak pernah lelah aku menggenggamnya. Dua puluh empat bulan itu sama dengan dua tahun. Selama itulah aku menggenggam tanganmu, menggenggam hatimu.

Aku tahu segala tangismu, segala sedihmu, segala sukarmu. Aku tahu segala senangmu, kegembiraanmu dan keceriaanmu. Setiap kita berpandangan, aku selalu menatapmu lurus. Menatap ke dalam matamu. Menatap ke dalam isi batok kepalamu. Menatap jauh ke dalam hatimu. Setiap kita bicara, kudengar suaramu dari mulutmu. Kudengar lenguhan nafasmu. Kudengar isakan tangismu. Kudengan nada bicaramu. Kudengar kata demi kata.

Kini tetaplah disampingku. Biarlah aku tetap menggenggammu erat. Penuh dengan kehangatan. Penuh dengan cinta. Penuh dengan kepastian. Aku tak bisa menjamin ke depannya akan lebih mudah, tapi aku bisa menjamin kalau genggaman tangan ini takkan pernah aku lepaskan sekalipun. Bahkan hanya untuk sedetik pun.



Ku Genggam Tangan Mu

Posted by : Unknown
Date :Selasa, 20 Oktober 2015
With 0komentar

Smart Phone and Idiot People

| Jumat, 17 April 2015
Baca selengkapnya »


Luangkan waktumu sejenak untuk melihat video ini. Setelah melihat video ini, lihatlah pada diri sendiri dan renungkanlah, apakah kita seperti itu. Terkadang aku juga berpikir apakah kita sudah berubah?

Aku berpikir akan menulis dalam bentuk tulisan tangan kembali dan sedikit mengurangi menggunakan internet sepertinya.

LEPASKAN SMARTPHONE MU dan JADILAH SMARTPEOPLE


Smart Phone and Idiot People

Posted by : Unknown
Date :Jumat, 17 April 2015
With 0komentar

Belajar Seperti Gunung Api

| Sabtu, 11 April 2015
Baca selengkapnya »
Halo-halo...teman-teman baca semuanya! Apa kabarnya nih? Biasa banget kah atau ya biasa ajalah keadaannya? Kalau aku sih biasa banget di luar tapi luar biasa di dalam. Hahahahaha.....
Tulisanku kali ini akan bercerita tentang gunung api lho. Kalau ada yang takut buat bacanya, boleh kok gak ngelanjutin. Tapi pasti nyesel deh kalo gak ngelanjutin bacanya karena kalian hanya akan menyia-nyiakan waktu kalian untuk mengklik link ini. Jadi saranku sih terusin aja ya bacanya, kalau boleh dishare juga. Hehehehe......(ngarep)


Kalau melihat gambar gunung berapi itu, apa sih yang teman-teman pikirkan pertama kali? Pasti yang pertama adalah bencana alam, lalu selanjutnya awan panas atau orang Jawa bilang wedush gembel dan selanjutnya pasti tentang hujan abu, lahar dingin dan kekeringan. Ya aku bilang benar sih, dan tidak ada yang salah. Tapi, terkadang aku suka berkhayal andai gunung berapi tersebut adalah sesosok manusia, maka manusia seperti apakah dia?

Aku pun mulai berkhayal bahwa gunung berapi itu diibaratkan sesosok manusia. Jika dilihat perilakunya, dia selalu menyemburkan segala sesuatu dari lubang kawahnya. Semuanya dia berikan, baik itu adalah lahar, lava, batuan panas, abu vulkanik, awan panas dan api tentunya. Kalau aku perhatikan maka sifat dari gunung berapi adalah memiliki totalitas dalam tindakannya. Dia selalu memberi dan bahkan memberi semua yang ada dalam isi perutnya. Dari hal ini aku belajar bahwa seharusnya manusia bisa belajar seperti gunung berapi. Belajar apa? Yaitu belajar untuk memberi tanpa menunggu-nunggu, memberi dengan kemampuan maksimal dan dengan sungguh-sungguh. Pernah lihat gak gunung berapi yang udah mau meletus, eh yang keluar cuman awan panas tanpa ada yang lainnya? Gak pernah kan. Sekalipun diawali dengan awan panas, tapi pasti selalu ada rentetan kejadian selanjutnya seperti adanya lahar.

Pelajaran lainnya adalah gunung berapi itu sifatnya selalu memberi dan tak pernah menuntut untuk mendapat balasan. Iya 'kan? Itu artinya sama juga dengan mengasihi dengan tulus, tidak hitung-hitungan untung ruginya. Coba bandingkan dengan kita sendiri deh, apakah kita sudah seperti gunung berapi itu dalam hal memberi? Jangan bilang aku menggurui kalian ya, tapi aku juga belajar kok bareng-bareng ama kalian karena aku juga baru menemukan ini ketika melihat gunung berapi lho.

Pelajaran terakhir yang aku bisa ambil dari gunung berapi adalah selalu menerima tanpa mengeluh. Ketika hujan turun, kawahnya pasti terisi air, dan tidak mungkin gunung berapi mengelaknya. Selain itu ketika ada orang melemparkan sesuatu ke dalam kawahnya, ia hanya bisa menerima dan tidak menolaknya. Pelajaran berikutnya adalah bersabar dalam setiap keadaan. Jangan cepat bereaksi karena lingkungan sekitar. Selain itu jangan mengingat-ingat kesalahan yang dilakukan orang lain hingga akhirnya malah menjadi dendam tetapi biarkanlah itu menjadi 'terbakar' di dalam 'kawah'-mu dan lanjutkanlah hidup.

Itulah tiga buah pelajaran yang aku ambil dari gunung berapi. Mungkin inilah mengapa kita perlu kembali belajar pada alam, karena dari alamlah segala ilmu berasal. Semoga tulisanku kali ini benar-benar berbobot ya buat teman-teman baca semua. Selamat belajar!

Belajar Seperti Gunung Api

Posted by : Unknown
Date :Sabtu, 11 April 2015
With 1 komentar:

Ketika "Deadline" Menghadang....

| Kamis, 02 April 2015
Baca selengkapnya »
Walau badai menghadang....
Ingatlah kukan selalu setia menjagamu....

Aaaah...itukan kata lagu.

Hai...hai...hai...teman-teman baca semua. Sudah sebulan rasanya daku sudah tidak menulis lagi. Kali ini di hari yang baru, daku mau menulis lagi.Sebelum hari ini berlalu, dan sudah masuk ke tanggal yang baru, daku mau mengucapkan....

FOOLS in APRIL
Yah, walau sebetulnya daku pun tidak ikut melaksanakan 'ritual' April Mop sih tapi bolehlah ya daku mengucapkan itu?

Akhir-akhir ini kalau teman-teman baca semua sedang bertanya-tanya kenapa daku tak pernah nongol lagi, ini karena daku sedang dikejar-kejar deadline. Siapa deadline? Anak tetangga mana itu? Tenang, tenang teman-teman bacaku. Deadline itu 'hanya' sebuah istilah. Tapi sekalipun itu sebuah istilah, tapi setiap orang yang dengernya pasti bakal alergi, bakal batuk-batuk, sakit kepala dari yang sakit biasa sampai migrain, terus berujung pada batuk pilek, batuk berdahak dan sesak napas (eeh bentar, kok malah jadi ngomongin penyakit ya? Balik lagi yuk maree....). Jadi ada tugas yang sedang bersiap-siap 'muntah' karena tugasnya harus dikumpulkan besok. Dimulai dari laporan, presentasi hingga pembuatan dokumen.

Beruntung dua diantaranya sudah kelar, bahkan sekarang pun, sebelum daku mulai mencorat-coret laman ini (baca : menulis), sudah beres juga. Nah tadi sambil aku membuat dokumen, dan laporan, kebetulan daku mampir ke suatu kafe. Kafe yang biasa daku kunjungi itu lho, teman-teman baca. Tempat minum kopi dan teh. Dan karena kebetulan aku lagi dikejar deadline, daku jadi sedikit ngelembur di sana sambil ditemani cemilan hangat. Seperti ini nih

Ini Vanilla late dan Salt & Pepper Tofu yang
menemaniku mengejar deadline
Sambil menikmati cemilan dan suguhan latte panas, daku membuat tugas yang deadlinenya besok. Nah kebetulan suasana di kafe lagi ramai dan ramainya bener-bener ramai dengan anak-anak kostan begitu. Soalnya aku lihat mereka datang bergerombol sambil membawa laptop dan mengerjakan sesuatu di sana. Wah, rupanya bukan daku doang ya yang sedang dikejar deadline, begitu pikirku sambil menyomot tofu di atas piring dengan garpu sampai habis tak bersisa dan tersadar kalau tugasku masih belum beres. Hingga akhirnya baru daku bereskan sampai jam sepuluh tadi.

Sebenernya pesan daku dengan tulisan ini adalah, jangan pernah melakukan sistem sks sendirian. Nah lho, apa itu sistem sks? Sks itu bukan artinya satuan kredit semester yang biasa diambil oleh anak-anak kuliahan, tapi maknanya adalah sistem kebut semalam. Nah kalau mau pakai sistem sks jangan sendirian, tapi ramai-ramailah supaya ada yang saling menyemangati dalam melakukan dan menyelesaikan tugas kalian. Kan jadi enak ngerjainnya kalau bareng-bareng. Tul gak? Selain itu sasran lainku, jangan lupakan cemilan untuk menemani dan musik. Cemilan akan membantu kita berpikir dan memberi energi tambahan dan musik akan menolong kita menenangkan jiwa raga asal musik yang dipasang bukan musik sendu macam lagu "Aku Ra Bobo" atau "Sakitnya Tuh Di Jidat". Jangan setel musik itu, soalnya nanti yang ada malah baper deh. Eeh ntar lagi ya. Udahan dulu. Waktunya mengistirahatkan kepalaku dan pikiranku.

Selamat malam dan selamat tidur teman-teman baca.

Ketika "Deadline" Menghadang....

Posted by : Unknown
Date :Kamis, 02 April 2015
With 0komentar
Tag :
Next Prev
▲Top▲